
Dokter Frans segera duduk di kursi depan, ia merasakan jantungnya mau copot saja. Ia
memegangi letak jantungnya.
“Wah…, gila. Kalau begini tiap hari beneran bisa copot jantung gue …! Pantes aja
dulu Rendi sampai cari dokter spesialis jantung. Jadi begini toh rasanya …
jatuh cinta !”
“Gue benar-benar butuh udara segar ….!”
Dokter Frans merentangkan tangannya mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya.
“Mas lagi ngapain?” tanya tetangga Felic yang kebetulan lewat.
“eeh .., nggak pa pa buk, cuma cari udara segar saja!” jawab dokter Frans kikuk, ia
ketahuan.
“Mana ada udara segar di Jakarta, kalau mau ngadem di bogor mas ganteng!”
“Oh iya makasih buk sarannya!”
Akhirnya tetangga itu berlalu juga, dokter Frans kembali duduk. Tapi ia melihat ayah
mertuanya sedang berbincang dengan seseorang di telpon.
“Maaf pak, besok insyaallah saya ke rumah bapak, tapi maaf nggak bisa bayar penuh
soalnya putri saya barus aja keluar dari rumah sakit!”
“….”
“Iya pak terimakasih atas pengertiannya!”
“…”
“waalaikum salam!”
Dokter Frans tidak berani menghampirinya, terlihat ibu mertuanya juga sedang
menghampiri ayah mertua.
“Dari siapa yah?”
“Pak Komar!”
“jadi besok sudah jatuh tempo pencicilan rumah ya, yah!”
“Iya bu, ayah bingung. Uang ayah belum terkumpul sepenuhnya, sedangkan kalau mau
minta sama Felic, kasian dia kan baru saja pulang dari rumah sakit!”
“Kita pikirkan besok saja yah!”
Mereka berdua pun kembali masuk ke dalam rumah, sepertinya tidak menyadari keberadaan
dokter Frans di sana. Dokter Frans dapat mengerti apa yang sedang mereka
bicarakan. Ia pun memilih untuk mengambil kunci mobilnya dan segera keluar, ada
yang harus ia lakukan.
***
Siang ini Felic hanya di rumah saja, dokter Frans melarangnya untuk pergi bekerja
dulu.
“Ingat hari ini jangan ke mana-mana?”
“Ada apa?”
“Ya pokoknya jangan pergi sampai aku kembali, kalau sampai aku lihat kamu pergi
kerja. Aku akan menjemputmu paksa dan bilang sama bos mu kalau aku melarang mu
untuk bekerja, mengerti!”
“pemaksaan sekali ….!”
“Memang sekali-kali kamu perlu di paksa kayak gitu, ya udah aku berangkat dulu. Mungkin
tidak sampai siang aku akan segera kembali!”
Dokter Frans pun segera meninggalkan kamar sederhana itu, felic hanya bisa
menghembuskan nafas kasarnya.
“Ya sudah lah kalau nggak kerja, berarti aku bisa menyelesaikan naskahku yang sudah
__ADS_1
terhenti selama aku di rumah sakit!”
Walaupun berat akhirnya Felic memilih untuk menurut saja, lagi pulai ia sudah punya uang
banyak cukup untuk membeli rumah tiga kali lipat lebih besar dari rumah yang ia
tinggali sekarang.
Felic pun memilih untuk mengambil laptop bututnya di tempat biasa ia meletakkannya.
“Hah …, ini bukan laptopku!” ucapnya saat mengambil laptop warna pink itu, tapi
hanya ada itu di tempatnya.
‘Mana mungkin Frans memakai laptop warna pink!”
Saat.ia membukanya, terselip kertas di sama, Felic pun meletakkan kembali laptop itu
di atas meja dan membuka kertas itu.
//itu untukmu, gunakan itu saja. Laptop lamamu aku buang//
“hah di buang ….!”
//Jangan kenceng-kenceng teriaknya, aku ganti dengan yang baru//
“tapi kan semua file ku di laptop itu, bagaimana ini?”
//aku sudah menyimpan semua File mu
di flasdisk itu//
“Semuanya???!!!”
Felix menutup mulutnya tidak percaya, pria itu melihat semua file nya termasuk
foto-fotonya dari semenjak bayi.
//Saat kamu kecil, lucu juga ….//
“ahhhh…, dia benar-benar melihatnya ….!”
// semangat ya nulisnya ….//
Felic meletakkan kembali kertas itu di atas meja, ia perlahan membuka laptop barunya
itu, luar biasa laptop keluaran terbaru dengan harga selangit, dengan
kecanggihannya.
“laptop merek apel” betapa terkejutnya Felic saat melihat harga yang tertera di
pencarian itu dengan model persis dengan yang ia pegang saat ini.
“Harganya …, lebih dari lima puluh juta ….!”
Felic.malah hanya memandangi laptop itu tanpa berani menggunakannya. Lima puluh
juga, sudah dapat berapa saja jika di belikan dengan laptopnya sebelumnya, beli
baru pun masih dapat banyak dengan uang sebanyak itu.
“kalau.di belikan laptop lamaku, bisa dapat dua puluh laptop kan!”
Felic mengurungkan niatnya untuk menulis, ia memilih menyimpan kembali laptop itu ke
dalam lacinya. Buyar sudah imajinasi nya buat nulis setelah melihat harga
laptop semahal itu.
Felic pun memilih turun dan menemui ayah dan ibunya. Felic melihat ayah Dul yang
terlihat kusut.
“Ayah kenapa? Lisa sudah pulang ya?” Felic pun ikut duduk di samping ayahnya. Ayah
memegangi catatan di tangannya.
“Iya, Lisa di jemput suaminya pagi-pagi sekali tadi sebelum kamu bangun!”
“Ohhh…!” Felic mengambil remote dan menyalakan TV, tidak ada acara yang bagus,
pikirannya masih tertuju pada laptop itu.
“Ayah tahu nggak kalau Frans belikan laptop baru untukku?’ tanya Felic pada ayahnya.
“Iya sih kemarin sempet cerita! Ada apa?”
“Laptop itu mahal banget yah …!”
“mahal …?"
__ADS_1
"Iya!"
“Semahal apa?’
“Semahal seperempat dari harga rumah ini!”
Bukannya antusias ayah Dul malah terlihat lesu.
“Ayah kenapa?”
“Sebenarnya ayah tidak enak ngomongnya sama kamu!”
“ada apa yah …?”
“Fe …, kamu tahu kan hari ini pemilik rumah ini akan datang, sudah jatuh tempo
untuk pembayaran!”
“Astaga …, Fe lupa yah ….!”
“Maafkan ayah ya, ayah selalu saja membebankan urusan ini padamu!”
“Tidak pa pa yah ...., Fe masih punya uang simpanan. Cukup kok yah untuk bayar satu bulan ini!”
Belum sampai pembicaraan mereka selesai, terlihat dari jendela ada sebuah mobil yang
berhenti di halaman rumahnya..
“Itu siapa Fe?” tanya Ayah Dul sambil memperhatikan mobil itu.
“Itu sepertinya mobil Rangga, yah!”
Benar saja, seorang pria paruh baya keluar dari mobil itu. Itu adalah ayah Rangga dan
ibunya, paman Deni dan bibi Moi. Ayah Dul segera menyambut mereka, ayah Dul
sangat senang mereka masih mau datang ke rumahnya.
“Aku senang sekali kalian masih mau berkunjung ke sini!” ucap ayah Dul.
“Mana mungkin aku bisa melupakan persahabatan kita, Abi pun sepertinya sudah berbesar hati untuk menerima semuanya, iya kan nak?”
Rangga juga ada bersama mereka hanya bisa menjawab sebisanya, “Iya ayah!”
Felic kembali dari dalam dengan membawa senampan minuman dan juga kue buatan ibu
Felic sendiri.
“Silahkan paman, bibi, Rangga!”
“terimakasih nak! Duduklah …, kami ke sini untuk menjenguk mu!”
Felic pun ikut duduk bersama mereka, ia duduk di samping ayahnya. Rangga menatapnya
masih dengan tatapan yang sama, felic hanya bisa mengalihkan tatapannya. Ia
tidak mau terlalu dekat lagi dengan Rangga, itu obat untuk bisa melupakannya, ia
sudah punya Frans sekarang, tidak baik memikirkan orang lain.
“Kemana suamimu?” tanya bibi Moi.
“Frans sedang ke rumah sakit, ada yang harus dia kerjakan. Tapi tidak sampai sore dia
akan kembali!”
“Pasti dia bekerja keras sekali, kata Abi ruang perawatan mu begitu mewah, ia pasti
menghabiskan banyak uang untuk itu!”
“Tidak begitu, katanya itu hanya fasilitas yang di berikan untuk karyawan yang bekerja
di rumah sakit itu!” ucap ayah Dul mencoba menjelaskan pada istri sahabatnya
itu.
“tapi sepengetahuanku, fasilitas itu hanya untuk sampai ruang VIP saja, itu pun hanya
untuk dokter senior, kalau VVIP sepertinya suamimu sudah membayar banyak untuk
itu!”
“benarkah seperti itu?”
“Mungkin saja!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘