Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Pelunasan Rumah


__ADS_3

Dokter Frans segera duduk di kursi depan, ia merasakan jantungnya mau copot saja. Ia


memegangi letak jantungnya.


“Wah…, gila. Kalau begini tiap hari beneran bisa copot jantung gue …! Pantes aja


dulu Rendi sampai cari dokter spesialis jantung. Jadi begini toh rasanya …


jatuh cinta !”


“Gue benar-benar butuh udara segar ….!”


Dokter Frans merentangkan tangannya mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya.


“Mas lagi ngapain?” tanya tetangga Felic yang kebetulan lewat.


“eeh .., nggak pa pa buk, cuma cari udara segar saja!” jawab dokter Frans kikuk, ia


ketahuan.


“Mana ada udara segar di Jakarta, kalau mau ngadem di bogor mas ganteng!”


“Oh iya makasih buk sarannya!”


Akhirnya tetangga itu berlalu juga, dokter Frans kembali duduk. Tapi ia melihat ayah


mertuanya sedang berbincang dengan seseorang di telpon.


“Maaf pak, besok insyaallah saya ke rumah bapak, tapi maaf nggak bisa bayar penuh


soalnya putri saya barus aja keluar dari rumah sakit!”


“….”


“Iya pak terimakasih atas pengertiannya!”


“…”


“waalaikum salam!”


Dokter Frans tidak berani menghampirinya, terlihat ibu mertuanya juga sedang


menghampiri ayah mertua.


“Dari siapa yah?”


“Pak Komar!”


“jadi besok sudah jatuh tempo pencicilan rumah ya, yah!”


“Iya bu, ayah bingung. Uang ayah belum terkumpul sepenuhnya, sedangkan kalau mau


minta sama Felic, kasian dia kan baru saja pulang dari rumah sakit!”


“Kita pikirkan besok saja yah!”


Mereka berdua pun kembali masuk ke dalam rumah, sepertinya tidak menyadari keberadaan


dokter Frans di sana. Dokter Frans dapat mengerti apa yang sedang mereka


bicarakan. Ia pun memilih untuk mengambil kunci mobilnya dan segera keluar, ada


yang harus ia lakukan.


***


Siang ini Felic hanya di rumah saja, dokter Frans melarangnya untuk pergi bekerja


dulu.


“Ingat hari ini jangan ke mana-mana?”


“Ada apa?”


“Ya pokoknya jangan pergi sampai aku kembali, kalau sampai aku lihat kamu pergi


kerja. Aku akan menjemputmu paksa dan bilang sama bos mu kalau aku melarang mu


untuk bekerja, mengerti!”


“pemaksaan sekali ….!”


“Memang sekali-kali kamu perlu di paksa kayak gitu, ya udah aku berangkat dulu. Mungkin


tidak sampai siang aku akan segera kembali!”


Dokter Frans pun segera meninggalkan kamar sederhana itu, felic hanya bisa


menghembuskan nafas kasarnya.


“Ya sudah lah kalau nggak kerja, berarti aku bisa menyelesaikan naskahku yang sudah

__ADS_1


terhenti selama aku di rumah sakit!”


Walaupun berat akhirnya Felic memilih untuk menurut saja, lagi pulai ia sudah punya uang


banyak cukup untuk membeli rumah tiga kali lipat lebih besar dari rumah yang ia


tinggali sekarang.


Felic pun memilih untuk mengambil laptop bututnya di tempat biasa ia meletakkannya.


“Hah …, ini bukan laptopku!” ucapnya saat mengambil laptop warna pink itu, tapi


hanya ada itu di tempatnya.


‘Mana mungkin Frans memakai laptop warna pink!”


Saat.ia membukanya, terselip kertas di sama, Felic pun meletakkan kembali laptop itu


di atas meja dan membuka kertas itu.


//itu untukmu, gunakan itu saja. Laptop lamamu aku buang//


“hah di buang ….!”


//Jangan kenceng-kenceng teriaknya, aku ganti dengan yang baru//


“tapi kan semua file ku di laptop itu, bagaimana ini?”


//aku sudah menyimpan semua File mu


di flasdisk itu//


“Semuanya???!!!”


Felix menutup mulutnya tidak percaya, pria itu melihat semua file nya termasuk


foto-fotonya dari semenjak bayi.


//Saat kamu kecil, lucu juga ….//


“ahhhh…, dia benar-benar melihatnya ….!”


// semangat ya nulisnya ….//


Felic meletakkan kembali kertas itu di atas meja, ia perlahan membuka laptop barunya


itu, luar biasa laptop keluaran terbaru dengan harga selangit, dengan


kecanggihannya.


“laptop merek apel” betapa terkejutnya Felic saat melihat harga yang tertera di


pencarian itu dengan model persis dengan yang ia pegang saat ini.


“Harganya …, lebih dari lima puluh juta ….!”


Felic.malah hanya memandangi laptop itu tanpa berani menggunakannya. Lima puluh


juga, sudah dapat berapa saja jika di belikan dengan laptopnya sebelumnya, beli


baru pun masih dapat banyak dengan uang sebanyak itu.


“kalau.di belikan laptop lamaku, bisa dapat dua puluh laptop kan!”


Felic mengurungkan niatnya untuk menulis, ia memilih menyimpan kembali laptop itu ke


dalam lacinya. Buyar sudah imajinasi nya buat nulis setelah melihat harga


laptop semahal itu.


Felic pun memilih turun dan menemui ayah dan ibunya. Felic melihat ayah Dul yang


terlihat kusut.


“Ayah kenapa? Lisa sudah pulang ya?” Felic pun ikut duduk di samping ayahnya. Ayah


memegangi catatan di tangannya.


“Iya, Lisa di jemput suaminya pagi-pagi sekali tadi sebelum kamu bangun!”


“Ohhh…!” Felic mengambil remote dan menyalakan TV, tidak ada acara yang bagus,


pikirannya masih tertuju pada laptop itu.


“Ayah tahu nggak kalau Frans belikan laptop baru untukku?’ tanya Felic pada ayahnya.


“Iya sih kemarin sempet cerita! Ada apa?”


“Laptop itu mahal banget yah …!”


“mahal …?"

__ADS_1


"Iya!"


“Semahal apa?’


“Semahal seperempat dari harga rumah ini!”


Bukannya antusias ayah Dul malah terlihat lesu.


“Ayah kenapa?”


“Sebenarnya ayah tidak enak ngomongnya sama kamu!”


“ada apa yah …?”


“Fe …, kamu tahu kan hari ini pemilik rumah ini akan datang, sudah jatuh tempo


untuk pembayaran!”


“Astaga …, Fe lupa yah ….!”


“Maafkan ayah ya, ayah selalu saja membebankan urusan ini padamu!”


“Tidak pa pa yah ...., Fe masih punya uang simpanan. Cukup kok yah untuk bayar satu bulan ini!”


Belum sampai pembicaraan mereka selesai, terlihat dari jendela ada sebuah mobil yang


berhenti di halaman rumahnya..


“Itu siapa Fe?” tanya Ayah Dul sambil memperhatikan mobil itu.


“Itu sepertinya mobil Rangga, yah!”


Benar saja, seorang pria paruh baya keluar dari mobil itu. Itu adalah ayah Rangga dan


ibunya, paman Deni dan bibi Moi. Ayah Dul segera menyambut mereka, ayah Dul


sangat senang mereka masih mau datang ke rumahnya.


“Aku senang sekali kalian masih mau berkunjung ke sini!” ucap ayah Dul.


“Mana mungkin aku bisa melupakan persahabatan kita, Abi pun sepertinya sudah berbesar hati untuk menerima semuanya, iya kan nak?”


Rangga juga ada bersama mereka hanya bisa menjawab sebisanya, “Iya ayah!”


Felic kembali dari dalam dengan membawa senampan minuman dan juga kue buatan ibu


Felic sendiri.


“Silahkan paman, bibi, Rangga!”


“terimakasih nak! Duduklah …, kami ke sini untuk menjenguk mu!”


Felic pun ikut duduk bersama mereka, ia duduk di samping ayahnya. Rangga menatapnya


masih dengan tatapan yang sama, felic hanya bisa mengalihkan tatapannya. Ia


tidak mau terlalu dekat lagi dengan Rangga, itu obat untuk bisa melupakannya, ia


sudah punya Frans sekarang, tidak baik memikirkan orang lain.


“Kemana suamimu?” tanya bibi Moi.


“Frans sedang ke rumah sakit, ada yang harus dia kerjakan. Tapi tidak sampai sore dia


akan kembali!”


“Pasti dia bekerja keras sekali, kata Abi ruang perawatan mu begitu mewah, ia pasti


menghabiskan banyak uang untuk itu!”


“Tidak begitu, katanya itu hanya fasilitas yang di berikan untuk karyawan yang bekerja


di rumah sakit itu!” ucap ayah Dul mencoba menjelaskan pada istri sahabatnya


itu.


“tapi sepengetahuanku, fasilitas itu hanya untuk sampai ruang VIP saja, itu pun hanya


untuk dokter senior, kalau VVIP sepertinya suamimu sudah membayar banyak untuk


itu!”


“benarkah seperti itu?”


“Mungkin saja!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘


__ADS_2