
Zea menggelengkan kepalanya, tapi ternyata cengkeraman mama Rangga begitu kuat, air mata Zea semakin menjadi saat cairan yang ada di dalam botol itu sudah hampir tumpah.
"Berhenti!?"
Pyakkkkk
Teriakan seseorang bersamaan dengan melayangnya botol yang berada di tangan mama Rangga kemudian jatuh ke lantai.
Seakan waktu berhenti berputar sejenak, semua mata terpaku pada botol kaca yang sudah terpecah dan berserakan di lantai beserta cairan berwarna kuning yang membasahi lantai rumah Zea.
"Apa yang bibi lakukan sama Zea?" dia adalah Ersya, dia datang dengan Felic di belakangnya. Ersya sudah menghempaskan tubuh Miska dan menarik tubuh Zea berdiri dalam pelukannya.
Felic yang tersadar dari keterkejutannya segera menghampiri Zea dan Ersya.
"Bi, apa yang sudah bibi lakukan? Kenapa Zea sampai ketakutan seperti ini?" Felic yang belum mengerti situasinya hanya bisa bertanya pada mama nya Rangga.
"Kalian siapa?" Miska yang sempat terhuyung karena tubuhnya di hempaskan oleh Ersya pun segera berdiri kembali dan menatap dua orang asing di depannya.
"Kalian kenapa datang ke sini? Kenapa selalu saja ikut campur urusan kami?" mama Rangga yang merasa kalah hanya bisa mencari pembenaran.
"Bi, bibi jangan macam-macam ya, kalau sampai terjadi apa-apa sama Zea, aku akan mengatakan semuanya pada Rangga!"
Mendengar ancaman Ersya mama Rangga pun segera mundur. Ia tahu siapa Ersya. Saat ini Ersya bukan lagi lawan yang sepadan dengannya.
"Ayo Miska, kita pergi!" ia segera menarik tangan Miska, Miska yang tidak terima pun segera menahan tangannya.
"Nggak, kenapa sih Tante? Kita harus bikin perhitungan sama mereka, siapa mereka?"
"Nanti aku jelasin, sebaiknya sekarang kita pergi dulu!"
Mama Rangga terus menarik paksa Miska agar mau keluar dari rumah Zea.
Setalah sampai di luar rumah barulah Miska menghempaskan tangan mama Rangga hingga terlepas.
"Tante, kita harus bikin perhitungan sama mereka!"
"Iya nanti, bukan sekarang!"
"Mereka itu siapa?"
"Mereka itu istri-istrinya atasan Rangga. Aku nggak mau karena hal ini Rangga kehilangan pekerjaannya, apalagi Ersya sedang hamil. Kalau kita cari masalah dengan mereka kita akan berhadapan dengan suami mereka!"
"Baiklah untuk kali ini aku setuju sama Tante, tapi lain kali kita harus berhasil. Aku nggak mau wanita itu menang!"
"Tante tahu!"
Setelah mereka berdua pergi, di dalam_ Ersya dan Felic pun segera mengajak Zea untuk duduk. Felic dengan cepat mengambilkan minum untuk Zea.
"Minumlah dulu agar lebih tenang!" ucap Felic sambil menyerahkan gelas yang berisi air putih itu untuk Zea.
"Tenanglah, aku akan menghubungi Rangga sekarang!" Ersya segera mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya itu.
Beberapa kali, barulah Rangga bisa menjawab telpon darinya.
"Ada apa sih Sya, gue baru selesai meeting?"
__ADS_1
"Ga, pulanglah. Zea, Ga_!"
"Zea kenapa?"
"Gue nggak bisa jelasin di telpon. Lebih baik Lo pulang sekarang, nanti biar gue yang ngomong sama mas Div!"
"Baiklah, jangan pergi dulu sebelum gue datang!"
"Hmm!"
Ersya segera mematikan telponnya dan kembali fokus pada Zea yang masih terlihat syok tapi sudah lebih baik di bandingkan dengan tadi.
"Apa yang terjadi? Itu cairan apa? Kenapa mamanya Rangga begitu memaksamu untuk meminumnya?"
Zea yang sudah sedikit tenang pun mulai menceritakan semuanya.
"Keterlaluan sih mamanya Rangga!" Felic begitu gemas mendengarkan cerita Zea.
"Aku benar-benar bersyukur karena kalian datang tepat waktu, kalau tidak aku sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi denganku dan bayiku!"
"Tadi hanya kebetulan, dan kami senang bisa membantumu!" Ersya mengusap punggung Zea dengan penuh simpati.
"Oh iya, kalian ada apa? Maksudnya kenapa bisa berada di sini?"
"Sebenar kami sengaja ke sini untuk kasih selamat sama kamu, tadi pagi Rangga kasih tahu kalau kamu hamil makanya kami ke sini."
"Terimakasih ya, kalian baik sekali!"
Felic dan Ersya pun akhirnya menemani Zea sampai rangga datang. Mereka membicarakan banyak hal, hal-hal yang dulunya begitu tabu untuk di bicarakan sekarang sudah sangat lumrah.
Hingga akhirnya Rangga datang dan mereka berdua pun berpamitan.
"Hmmm, makasih ya kalian sudah mau peduli dengan keadaan Zea, ini sungguh berarti!"
Felic mengusap bahu Rangga, ini untuk pertama kalinya mereka dalam keadaan yang tidak canggung,
"Jangan sungkan! Kalau kalian butuh bantuan, kami siap untuk membantu!"
Rangga tersenyum dan mengantar kepergian kedua sahabatnya itu.
Setelah mereka pergi, Rangga segera menyusul Zea yang sudah berada di dalam kamar,
"Sayang!"
Rangga segera duduk di samping istrinya dan memeluk sang istri,
"Maafkan aku ya sayang!"
Rangga tidak bertanya pada Zea, ia tidak mau membuat istrinya semakin ketakutan. Ia memilih mendengarkan cerita dari Felic dan Ersya.
Aku sungguh tidak menyangka jika mama bisa sampai berbuat senekat itu .....
Rangga hanya bisa memeluk Zea sepanjang malam sampai Zea bisa benar-benar tertidur.
...***...
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah bangun!?" Rangga datang dengan membawa segelas susu hangat dan meletakkannya di atas meja lipat yang ada di samping tempat tidur.
Zea tersenyum, "Iya, sudah lebih baik!"
"Maafkan mama ya!?"
Zea menggelengkan kepalanya cepat, "Semua yang di lakukan oleh mama memang sudah sewajarnya, aku sudah tidak pa pa, jadi jangan khawatir ya!"
"Terimakasih sayang!" Rangga yang mensyukuri kehadiran Zea dalam hidupnya hanya bisa mengungkapkan dengan pelukan terhangatnya.
"Sudah, di minum dulu ya susunya!" setelah melepas pelukannya, Rangga pun segera mengambil kembali susunya dan menyerahkannya pada Zea.
Zea meneguknya perlahan dan menyisakan setengahnya,
"Maaf ya, aku tidak habis!"
"Nanti lagi ya!" Rangga segera mengambil dan meletakkan kembali di atas meja.
"Ga, kamu nggak kerja?" Zea melirik ke arah jam yang tergantung di dinding, sudah jam delapan malam.
"Sengaja, aku akan mengajakmu pindah!"
"Pindah ke mana?"
"Pindah ke apartemen aku!"
"Memangnya kenapa di sini?"
"Bukan kenapa di sini tapi di sana, lebih banyak pengamanan untukmu. Ada cctv yang langsung terhubung ke ponselku setiap saat. Jadi aku akan merasa lebih tenang meninggalkanmu bekerja!"
"Tapi_!"
"Aku mohon, aku nggak mau kejadian kemarin terulang lagi!"
"Baiklah!"
Akhirnya Zea menyetujui usulan Rangga untuk pindah ke apartemen milik Rangga.
"Apa masih ada yang ingin di bawa?" tanya Rangga yang sudah memasukkan barang-barang Zea ke dalam bagasi mobil miliknya.
"Sudah nggak ada!"
Walaupun begitu tapi Zea terlihat tetap diam di tempatnya, ia begitu berat meninggalkan rumah itu. Tapi demi kebaikan diri dan bayi dalam kandungannya ia harus ikut dengan suaminya.
Bukan tidak mungkin besok atau lusa Miska dan mama Rangga akan datang lagi.
"Ayo!"
Rangga kembali mendekat dan menggandeng tangan Zea. Mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...