Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Terlambat tahu


__ADS_3

Dokter Frans terus saja tersenyum melihat Felic tak hentinya mengomel, ia terus saja


marah-marah nggak jelas.


Emang ya dia lebih mirip singa betina kalau seperti itu .....


“Emang mereka angga gue ini siapa? Seenaknya saja mendekati suami orang! Makanya kalau pengen cowok tampan cari cowok sendiri. Lo juga frans, enak saja lembut sama cewek, lupa apa kalau sudah punya istri!”


Dokter Frans hanya bisa tersenyum menanggapi kemarahan istrinya itu, ia baru tahu jika seorang wanita sudah marah ternyata lebih menakutkan dari pada singa, bahkan


kemarahan satu istri bisa mengalahkan lima gadis sekalipun.


Menyeramkan .....


"Kenapa tersenyum seperti itu? ada yang lucu?" akhirnya dokter Frans kena damprak juga.


"Nggak boleh ya?" tanya dokter Frans asal


"Nggak!!!"


"Kenapa?"


“Karena senyummu itu bisa buat cewek-cewek nggak jelas itu Ge eR!” ucap Felic membuat dokter Frans segera menghentikan


senyumnya, ia segera menahan bibirnya agar tidak tersenyum lagi.


“berhenti tebar pesona, atau jangan-jangan lo suka tebar pesona biar cewek-cewek alay


itu mendekat!”


Ihhhh serba salah ya ......


Lagi-lagi dokter Frans hanya bisa terdiam, setiap kali ia ingin membuka mulutnya selalu


saja di dului dengan omelan Felic, ia hanya bisa menggaruk rambutnya yang


gondrong itu. Baru kali ini ia bisa kalah bicara, ia bahkan tidak punya


kesempatan untuk menjawab sepatah katapun.


Menakutkan sekali wanita yang


sedang marah ini ….


“Jangan mengatai ku dalam hati!”


 Tahu aja dia kalau gue ngomel dalam hati …, ya Allah …, bantu hamba-Mu ini lepas dari


amukan singa ini …


“Sudah jadi neng, cilok nya!” untung saja pak man datang tepat waktu, ia memberikan dua


piring cilok untuk dokter frans.


Aahhhhh ....., aman ......


“Kenapa lama sekali sih mang?” akhirnya mang cilok nya yang terkena sengap oleh Felic.


Ehhhhh ......, masih lanjut ternyata .....


“Maaf neng …, banyak banget yang ngantri!”


“Sudah mang, dia lagi PMS!” bisik dokter Frans sambil meminta mang cilok untuk


meninggalkan mereka. Mang tukang cilok pun segera meninggalkan mereka.


Felic segera mengambil piringnya dari tangan dokter Frans, ia masih begitu kesal. Dokter


Frans tak berani bersuara lagi. Setelah cilok di piringnya habis barulah Felic berhenti


mengomel.


‘Minumlah …, lo pasti haus!” ucap dokter Frans sambil menyodorkan sebotol air mineral


yang baru saja ia beli di warung tak jauh dari tempatnya duduk.


Felic pun segera mengambil botol itu setelah di buka segelnya oleh dokter Frans, setelah


menghabiskan minumannya felic terlihat lebih tenang, tapi dokter frans malah

__ADS_1


tercengang di buatnya.


‘kenapa lo habiskan minumannya?”


‘kenapa memangnya?”


“Gue belinya Cuma satu!”


“Pelit amet orang kaya …!”


“Bukannya gitu, tadi gue kira lo nggak akan habis satu botol, emang perut lo nggak begah


apa?”


"Lo nggak liat, gue baru saja teriak-teriak, haus tahu …!”


“Siapa suruh teriak-teriak!” gumam dokter frans tanpa berani berkata keras takut jika


singa betinanya marah kembali.


“Sudah habis, ayo pulang!”


“Boleh minta sesuatu nggak?”


“apa?’


“Bungkus Kan juga buat ayah dan ibu!”


‘tentu saja!”


Dokter Frans pun segera mendekati mang tukang cilok, ia memintanya untuk membungkus kan dua porsi lagi dan menyerahkan selembar uang dan kembali menghampiri felic.


“ayo!” ajak dokter Frans sambil menunjukkan kantong plastik berisi cilok.


"Sekarang cepet, tadi lama banget!"


Dasar wanita ....., cepet salah lama juga salah .....


Dokter Frans memilih untuk tidak menanggapi ucapan istrinya itu, jika terus di tanggapi telinganya bisa kriting tujuh hari tujuh malam.


Mereka pun kembali menghampiri sepeda mereka yang berada di ujung, dokter Frans


Seperti sebelumnya, dokter Frans membonceng Felic, baru beberapa meter mereka mengayuh sepedanya, sepedanya kembali terhenti karena sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti di samping sepeda mereka.


Felic tetap terdiam di atas sepeda sedangkan dokter frans menurunkan satu kakinya,


mereka tahu itu mobil siapa.


“Fe …!” panggil seseorang setelah ia turun dari dalam mobil itu.


“Ga …!”


“kita harus bicara!” ucap rangga sambil menarik tangan felic. Felic pun terpaksa


harus turun dari sepeda.


“Ada apa?’ tanya Felicia sambil mengibaskan tangan Rangga, tapi sepertinya Rangga


terlalu kuat menggenggam tangan Felic.


“Ga …, lepasin!”


“Aku nggak akan lepasin kamu sebelum kamu tahu kenyataannya!”


“kenyataan yang mana?”


“Kenyataan jika suami kamu bukan seperti yang kamu kenal!”


“maksudnya dia bukan dokter magang?’


“Iya!”


“Dia ternyata seorang dokter spesialis?”


“Iya!”


“Dia ternyata pemilik rumah sakit besar itu?”


“Kamu tahu semua itu?”

__ADS_1


“Iya!”


“Kamu nggak marah?”


“Kenapa mesti marah, seharusnya aku senang dong ternyata dia lebih segala-galanya dari


yang aku kira sebelumnya, iya kan!”


“Fe …?!”


“Dengar Ga …, gue memang bukan gadis materialis, tapi gue juga nggak bisa ngingkari


kalau hidup itu butuh uang, dulu gue hanya butuh cinta tapi cinta ternyata


nggak buat gue kenyang!”


Rangga benar-benar tercengang mendengarkan penuturan dari Felic, ia tidak menyangka jika Felicia, seorang Felicia akan mengatakan hal itu. Yang ia tahu dulu Felicia


adalah gadis dengan segala kesederhanaannya, tapi ia ternyata bisa mengatakan hal itu juga.


"Fe ....., aku nggak nyangka!"


"Mulai sekarang kamu harus terima, ya udah gue buru-buru, ayo Frans!"


dokter Frans yang juga menyaksikan tingkah Felic hanya bisa tersenyum, ternyata bisa juga gadis polos ini berlaku seperti itu.


Dokter Frans kembali mengayuh sepedanya meninggalkan Rangga dan mobilnya.


Felic melingkarkan tangannya di pinggang dokter Frans, begitu mesra, membuat Rangga terbakar cemburu, tapi walau bagaimanapun ia tidak bisa berbuat apa-apa, dokter Frans lebih segala-galanya dari dia.


"Frans!"


"Hehhh?"


"Lo nggak takut gue matre?"


"Emang sematre apa lo?"


"Misalnya gue minta lo traktir makan setiap hari, belanja di mall saat ada diskon atau beli es krim sesukaku!"


Ha ha ha


Mendengarkan ucapan Felic dokter Frans hanya tertawa. Ternyata kadar kematreannya cuma sebatas itu.


"Kenapa malah ketawa? Memang ada yang lucu?"


"Memang nggak ada permintaan lain yang lebih bonafit gitu, misalnya minta sebuah resort atau lo minta sebuah apartemen mewah?"


"Memang boleh kayak gitu?"


Felic jadi membayangkan gudang uang yang di miliki suaminya itu. Dokter Frans hanya tersenyum.


"Seberapa banyak uang yang lo miliki? Apa satu gedung besar penuh dengan uang?"


"Nggak gitu juga Fe!"


"Lalu?"


"Memang seberapa banyak uang yang jadi mahar di pernikahan kita?"


Sekarang Felic baru sadar jika ia begitu bodoh dengan membayangkan segudang uang di salah satu ruangan di rumah dokter Frans.


"Sudah faham sekarang?" tanya dokter Frans sambil tersenyum lagi.


"Iya ...., berarti sekarang gue harus ngitung seberapa banyak angka nol di belakang, pasti sudah kayak kereta api!"


Sepanjang jalan Felic sibuk menghayal hingga ia tidak sadar jika sudah sampai saja di depan rumahnya.


Bersambung


Maaf ya reader ter love ku, nih authornya sedang tidak fit karena habis vaksin jadi upnya jadi motor-motor kayak karet setrengan🙏🙏🙏


insyaallah nanti kalau sudah sehat lagi, bakal up tepat waktu ya


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰😘❤️❤️


__ADS_2