
Hari-hari Ersya akhir-akhir ini terasa begitu berat, ia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia terus memandangi undangan itu di balik meja kerjanya.
"Nggak pulang, Sya?" tanya atasannya yang melihat Ersya masih setia duduk di tempatnya walaupun pengecekan ulang sudah selesai.
"Pulang dong pak! Masak mau tidur di sini!"
"Ya sudah ...., aku duluan ya!"
"Baik pak!"
Setelah pria kerempeng itu keluar dari ruangan berpintu kaca itu, Ersya mulai merapikan mejanya dan memasukkan kembali undangan yang sedari tadi berada di tangannya itu ke dalam tas sampingnya khas wanita feminim.
Semenjak Felic sudah tidak lagi bekerja, Ersya jadi merasa kesepian, walaupun posisi pekerjaan mereka berbeda jauh, Ersya tidak pernah memandang hal itu sebagai perbedaan. Mereka sudah terlanjur bersahabat semenjak kecil, bahkan saat orang tuan Ersya meninggal dunia, keluarga Felic lah yang menghiburnya.
Kini ia benar-benar hidup sebatang kara, yang sebelumnya masih punya Rizal sebagai suaminya semenjak orang tuanya meninggal kini tinggal dia seorang di rumah itu.
Setelah memastikan mejanya rapi, Ersya pun segera meninggalkan mejanya itu, berpamitan pada beberapa rekannya yang juga masih belum pulang. Sudah pukul sepuluh malam tapi beberapa dari mereka masih sibuk dengan pekerjaannya.
Ersya berjalan kaki menuju ke bahu jalan, ia tidak langsung berencana untuk pulang. Karena menurutnya rumah sekarang menjadi tempat yang paling menyeramkan di sana, satu persatu keluarganya meninggalkannya tanpa ampun.
Ersya melihat sebuah gedung yang begitu tinggi yang tak jauh dari tempatnya bekerja, sudah beberapa kali ia ke gedung itu di malam hari hanya untuk melihat pemandangan kota pada malam hari melalui atap gedung.
Besok adalah hari pertunangan mantan suaminya. Mungkin saat ini adalah hari paling menyedihkan untuk Ersya. Ia bahkan sampai lupa caranya menangis.
Ia memilih untuk pergi ke sebuah gedung pencakar langit itu, bukan untuk bunuh diri, ia hanya ingin berteriak sekeras-kerasnya agar semua beban dalam hidupnya hilang.
Untung saja si satpam gedung itu sudah sangat mengenal Ersya karena begitu seringnya Ersya meminta ijin untuk naik ke atas gedung.
"Mas ...., pinjam atapnya ya!" ucap Ersya.
"Neng neng ...., hobby kok menyendiri di atap!" ucap pak satpam sambil menggelengkan kepalanya, ia bisa masuk karena di samping pos satpam itu ada sebuah tangga darurat yang langsung terhubung dengan atap bangunan.
"Ya mau gimana lagi pak!" ucap Ersya sambil menyerahkan sebungkus makanan untuk pak satpam.
"Ini apa neng?" tanya pak satpam.
"Itu bukan suap, itu buat temennya pak satpam jaga malam, siapa tahu aku nanti jatuh dari atas sana!"
"Neng ...., kalau ngomong jangan sembarang!"
"Becanda pak ...., ya udah aku naik ya pak!"
Ersya dengan rok selutut nya dan juga kemeja putih serta sepatu hak tingginya itu begitu lincah menaiki tangga.
Gedung itu ada sekitar delapan belas lantai, dan wanita itu seperti tidak punya rasa lelah.
Kini ia sudah berdiri di bagian gedung yang paling atas itu. Ia memegangi lututnya yang sedikit nyeri.
Setelah sudah merasa lebih baik, Ersya pun berjalan menuju ke pinggir balkon atap.
“Aaaaaaaaa ……!” teriak Ersya. Ia sengaja berteriak agar beban di dalam dirinya berkurang.
“Aaaaaaa ….!”
“Aaaaaaaa …..!”
Teriaknya beberapa kali, tapi sialnya ia tidak menyadari jika di sana ada orang lain. Pria itu berdiri tak jauh dari tempatnya, sepertinya ia juga sedang berusaha menyendiri terlihat dari minuman yang ada di tangannya.
“Kenapa teriak-teriak sih?” tanya pria itu karena merasa terganggu dengan teriakan Ersya.
Ersya segera menoleh ke sumber suara dan pria itu sedang berjalan mendekati Ersya. Pria itu berhenti setelah menyisakan jarak satu meter dari tempat Ersya berdiri sekarang.
“Kamu siapa?” tanya Ersya sambil memperhatikan penampilan pria itu yang terlihat rapi lengkap dengan jasnya.
Tapi kenapa dia mabuk? Apa dia juga sedang dalam masalah? batin Ersya sambil mengamati pria yang ada di depannya itu.
“Pemilik gedung ini!" ucap pria itu sambil menatap ke langit, " kenapa teriak-teriak? Berisik tahu!”
“Bukan urusanmu!”
"Akan jadi urusanku karena kamu teriaknya di atas gedung ku, atau jangan-jangan kamu mau bunuh diri ya?"
"Enak aja ....., gue nggak seputus asa itu ya, gue masih cantik nggak ada ceritanya bunuh diri gara-gara cowok!"
"Oh ...., jadi semua ini gara-gara cowok, hingga membuatmu teriak-teriak seperti orang gila!"
"Dia bukan cuma cowok, tapi dia suamiku! Dia mantan suami ku, dan kamu tahu apa yang paling parah, barus saja minggu lalu aku dapat surat cerainya dan besok dia sudah mai tunangan dengan pacarnya!"
"Menyedihkan sekali sih hidupmu!"
"Jangan mengasihani ku!"
__ADS_1
Pria itu pun mendekati Ersya, “Mau minum?”
Pria itu menyodorkan botol minumannya pada Ersya.
Ersya mengerutkan keningnya, baguslah kalau dia mabuk, aku berarti cerita ke orang yang nggak akan ingat sama pembicaraanku,
“Kamu mabuk ya?” tanya Ersya untuk memastikannya.
“kalau aku mabuk, aku nggak mungkin bicara seperti ini sama kamu!” ucap pria itu dengan pasti.
memang ya kalau orang mabuk itu nggak sadar kalau dia sedang mabuk ....
Ersya tersenyum sambil menunjuk botol yang di bawa pria itu, ia memiliki ide gila, “Tapi itu minuman kan?”
“Memang, tapi aku nggak mabuk, ini biasa aku lakukan kalau aku lagi sedih!”
“Boleh coba nggak?”
“Kalau nggak pernah minum nggak usah coba-coba!” ucap pria itu.
Tapi tanpa permisi Ersya malam menyambar botol itu dan meminumnya begitu saja, ia
menggelengkan kepalanya beberapa kali setelah meneguk habis semua isi botol itu. Ia merasa di sekitarnya menjadi berputar-putar.
“Kenapa kepala gue jadi puyeng ya?” tanya Ersya sambil memegangi kepalanya dan tampak kalau dia sudah kehilangan keseimbangannya.
“Kamu mabuk ya?” tanya pria itu, tapi tetap saja Ersya tidak menjawabnya.
“Wah beneran nih mabuk ni cewek!” gumam pria itu.
Bug
Tiba-tiba saja Ersya kehilangan keseimbangannya dan untungnya pria itu dengan sigap menangkap tubuh Ersya.
"Sial ....!" umpat pria itu.
"Kamu tahu ...., aku sakit banget ...., aku pengen menangis tapi air mataku sudah terlanjur mengering!"
"Kamu ....!" rancau Ersya sambil menunjuk hidung mancung pria itu, "Kamu tahu ...., dia itu tidak tampan seperti mu, dia juga tidak punya gedung seperti mu, tapi dia bermimpi punya gedung tinggi, sangat tinggi!" ucap Ersya sambil menggerak-gerakkan tangannya memberi isyarat betapa tingginya gedung itu.
"Dia pasti tidak mencintai gadis itu ...., dia itu cuma cinta padaku! Kau tahu ...., dia pasti mau menikah dengan wanita itu karena hartanya ....!"
"Mas Rizal ...., kamu jahat mas ...!"
"Mas Rizal ....!"
"Mas Rizal ....!"
Selama dalam lift, Ersya terus saja memanggil nama Rizal.
"Aku bukan mas Rizal mu! Merepotkan sekali ....!" ucap pria itu kesal.
“Rumah kamu di mana?” tanya pria itu, tapi tetap saja Ersya tidak menjawabnya. Mulutnya terlalu sibuk memanggil-manggil nama Rizal.
“Merepotkan saja!”
Pria itu kemudian melakukan panggilan, ia menempelkan aerophonenya di telinga sebelahnya dan mulai melakukan panggilan.
"Hallo tuan!"
"Siapkan mobil di depan!"
"Baik tuan!"
Pria itu kembali melepas aerophonenya.
Hingga akhirnya pintu lift terbuka, mereka sudah berada di lantai dasar. Anak buah pria itu sudah bersiap di sana lengkap dengan mobilnya.
Anak buahnya segera membuka pintu belakang saat melihat tuannya itu membopong seorang wanita.
Pria itu segera memasukkan Ersya ke dalam mobil dan diam pun duduk di sampingnya.
Anak buahnya pun ikut masuk ke dalam mobil dengan duduk di balik kemudi.
"Apa kita pulang, tuan?" tanya anak buahnya.
"Tidak, kita antar dia dulu!" ucap pria tampan itu. Walaupun sudah terlihat begitu matang, tapi pria itu semakin tampan saja.
“Kita antar ke mana tuan, nyonya itu?” tanya anak buahnya lagi.
"Sebentar, aku cari KTP-nya dulu!” ucap pria itu. Ia mencari sesuatu di tas Ersya.
__ADS_1
"Undangan?!" ucap pria itu, ia melihat undangan itu dan ternyata ada nama Rizal di sana.
"Kasihan sekali dia ...., jadi ceritanya di tinggal nikah!"
Pria tampan itu kembali memasukkan undangan itu ke dalam tas, ua merogoh benda kecil yang biasanya di gunakan untuk menyimpan kartu tanda penduduk dan kartu-kartu penting lainnya, ya benda itu adalah dompet. Sebuah dompet bentuk kotak warna merah tua dengan motif Teddy bear itu. Pria itu segera mencari apa yangs senang ia cari, kartu nama.
"Ersya, kerja di bank swasta, lumayan!" ucap pria itu setelah membaca kartu nama Ersya.
“Kita ke alamat rumah ini!” ucap pria itu sabil menyerahkan sebuah kartu nama kepada anak buahnya.
“Baik, tuan!”
Sepanjang perjalanan, Ersya masih saja terus merancau, ia juga bergalayut manja pada pria itu.
"Mas Rizal ...., ah bukan kamu bukan mas Rizal! Kenapa bibir kamu seksi sekali?!" ucap Ersya sambil mengusap-usap bibir tebal pria itu.
"Astaga ...., dia benar-benar menguji kesabaran ku!" gumam pria itu, dia sebagai pria normal pasti tergoda saat di gerayangi seperti itu.
Anak buah pria itu hanya bisa menahan senyum melihat betapa paniknya pria itu saat ia bingung harus menghindar bagaimana apalagi beberapa kali Ersya meninggalkan ciuman di bibirnya.
"Dia benar-benar agresif ....!"
Setelah perjalanan panjang yang menguji kesabaran pria itu akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah rumah yang tidak besar tapi terlihat begitu asri dengan banyaknya bunga di halaman.
"Cari kunci rumahnya di tas itu!” perintah pria itu pada anak buahnya saat sudah membawa Ersya turun dari dalam mobilnya.
“Baik tuan!”
****
Di tempat lain Felic dan dokter Frans yang sudah selesai dengan kencannya, mereka pun pulang.
"Aku nginep di sini aja ya!"
"Kenapa?"
"Sudah malam, pacar! Masak kamu tega sih biarin aku pulang!"
"Biarin ...., pulanglah! Besok kita kan ketemu lagi!"
"Baiklah ...., tapi kasih aku upah untuk hari ini!"
"Upah ....?" tanya Felic bingung, "Upah apa?"
"Sini mendekatlah ....!" ucap dokter Frans membuat Felic yang sudah duduk di atas tepat tidurnya segera mendekat.
"Apa?"
Cup
Tiba-tiba bibir dokter Frans mendarat di atas bibir Felic membuat Felic terkejut di buatnya. Ia seperti merasakan ciuman pertamanya. Rasanya begitu menggetarkan jantungnya.
Karena tidak mendapat penolakan dari Felic, dokter Frans memanfaatkan kesempatan itu untuk memperdalam ciumannya. Hingga ciuman itu berubah menjadi panas.
Felic pun merasakan kenikmatan yang selama ini telah hilang, sudah sangat lama ia mendambakan sentuhan-sentuhan lembut dari suaminya itu.
Karena gairah yang semakin besar itu, mereka lupa jika saat ini Felic masih dalam masa bedtres. Mereka melakukannya.
Saat akan memulainya, hampir saja dokter Frans menghentikannya karena teringat dengan keadaan Felic, tapi Felic memintanya untuk melanjutkannya.
Dokter Frans pun akhirnya melanjutkannya dengan begitu hati-hati.
"Aku tetap harus pulang nih?" tanya dokter Frans lagi saat sudah selesai membersihkan badannya, ia memastikan tidak keluar darah, hal itu sudah cukup membuatnya lega.
"Iya Frans ....! aku nggak mau kalau kamu dekat-dekat sama aku, nanti kebablasan lagi!"
"Baiklah ...., aku pulang ya! Sampai jumpa besok pagi! Telpon aku jika terjadi sesuatu!"
"Iya!"
Cup
Dokter Frans kembali meninggalkan kecupannya sebelum meninggalkan kamar Felic. Akhirnya setelah puasa begitu lama, ia bisa berbuka juga walaupun dengan perasaan was-was karena takut terjadi apa-apa dengan kandungan Felic.
...Rindu itu berat, tapi yang paling berat itu bukan rindu. Yang paling berat mencintai tapi tidak di rindukan, rindunya buat orang lain~DTIS...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1