Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan selama sepuluh menit akhirnya Tisya sampai juga di depan rumah yang dokter Frans beli untuk Wilson.


"Beneran ini ya rumahnya kang ojek?" tanya Tisya pada tukang ojek yang mengantarnya. Saat ini Tisya sudah turun dari atas motor dan melepaskan helmnya.


"Iya neng Tisya, memang ini rumahnya! Tuh alamatnya sama kan!?" ucap kang ojek sambil menunjukkan nomor rumah yang tertera di pagar rumah dengan nomor yang sama.


"Iya sih kang, ya sudah terimakasih ya kang!" ucap Tisya sambil berlalu hendak meninggalkan kang ojek tapi kang ojek segera memanggilnya.


"Bentar neng!" ucap kang ojek membuat Tisya kembali berbalik sambil mengerutkan keningnya.


"Ada apa kang?" tanya Tisya yang tidak merasa bersalah.


"Ongkosnya neng, mana ...!" ucap kang ojek sambil mengulurkan tangannya memberi isyarat uang pada jari jemarinya.


"Ahhh iya, maaf hampir saja lupa, berapa kang?" Tisya pun kembali mendekat pada kang ojek.


"Sepuluh ribu aja deh neng!"


"Sepuluh ribu ya!? Bentar ya kang! Tisya terlihat merogoh tas besarnya itu, ia mengambil dua lembar uang berwarna kuning dengan gambar pahlawan nasional dr. K. H. Ihdam Chalid.


"Ini kalau aku kasih satu aja gimana kang? Satunya buat aku beli es nanti!" ucap Tisya sambil menarik lagi saru lembarnya.


"Ya jangan dong neng ...., penglaris ini ...!" ucap kang ojek sambil menarik satu lembar lagi dari tangan Tisya yang sempat di tarik kembali tadi.


"Ihh pelit ...!" gerutu Tisya sambil berlalu, tapi kang ojek segera memanggilnya lagi.


"Neng ...., neng ....!"


Hal itu membuat Tisya kembali berbalik.


"Apa lagi kang?" tanyanya kesal.


"Helmnya!" ucap kang ojek sambil menunjuk helm yang masih menggantung di tangannya.


Tisya baru sadar jika helm itu masih menggantung di tangannya, Tisya hanya tersenyum dan kembali menghampiri kang ojek.


"Maaf kang, lupa lagi ...!"


"Neng ..., neng ..., belum juga tua, udah belajar pikun!"


"Kalau pikun sih nggak perlu belajar kan!" ucap Tisya sambil kembali meninggalkan kang ojek. Kang ojek hanya menggelengkan kepalanya sambil mengaitkan helmnya dengan motornya.

__ADS_1


"Ada-ada aja ...., dulu aja sombongnya minta ampun ....!" gumam kang ojek sambil berlalu meninggalkan rumah itu.


Saat sudah memasuki halaman rumah itu, Tisya baru yakin jika itu benar rumahnya karena ada beberapa pekerja yang sedang menunggu kedatangannya.


"Maaf ya mas, lama!" ucap Tisya.


"Iya nggak pa pa mbak Tisya, bagaimana ini? Kita mulai dari mana dulu mbak?" tanya pria yang sepertinya mandor pekerja.


"Bentar mas, lebih baik kita lihat-lihat dulu baru nanti di putuskan memulai dari mana!"


"Baik mbak mari!"


Mereka pun segera masuk dan melihat-lihat isi rumah yang lumayan besar untuk ukuran rumah sederhana. Rumah itu sebenarnya sudah cukup bagus tapi hanya beberapa catnya saja yang sudah minta di ganti.


Rumah itu memiliki desain rumah klasik, kemudian pemiliknya ingin merombaknya menjadi rumah yang sangat modern terlihat dari hasil gambarannya, tapi pemilik rumah juga tidak mau ada perombakan bentuk ruangan, hanya beberapa saja seperti warna cat, motif wallpaper nya. Dapurnya juga ingin di rubah menjadi dapur mini kekoreaan. Dengan meja memanjang yang bisa di gunakan untuk meja makan juga. Tidak mau ada sekat tembok di antara dapur dan ruang makan.


"Ini akan membutuhkan waktu yang banyak untuk pekerjaannya!" ucap Tisya sambil terus berkeliling melihat-lihat rumah itu. Bahkan ia juga belum sempat untuk melihat taman belakang yang akan di rombak juga.


"Tidak pa pa mbak, kata bos orang yang punya rumah ini mau membayar tinggi untuk pengerjaannya!"


"Benarkah?"


"Iya mbak, bahkan uang mukanya dua kali lipat dari uang muka yang biasanya bos dapat!"


"Ya sudah mbak, saya melihat-lihat dulu dan mencatat beberapa barang yang perlu di belanjakan!" ucap mandor itu.


"Baik mas, sambil nunggu pemiliknya datang aku mau lihat-lihat lagi dulu!"


Tisya pun akhirnya berjalan mengelilingi rumah itu, melihat dapur dan mencatat semua yang perlu di ganti, melihat kamar mandinya,


"Kamar mandinya besar tapi ini butuh bathtub karena cukup untuk kamar mandi yang ini!" gumam Tisya sambil mencatat beberapa yang mungkin di butuhkan oleh pemilik rumah, jiak di setujui maka pihak perusahaan akan membelanjakannya.


"Sekarang kamarnya!"


Tisya melihat ada tiga kamar di rumah itu, ia berpikir mungkin yang butuh di rubah lebih dulu pasti kamar utamanya, ia melihat kamar yang paling luar di banding dengan kamar lainnya. Tisya pun memasuki kamar itu.


"Ahhhh ini benar-benar rumah baru, bahkan barang-barang nya saja belum di keluarkan dari kardus!" gumam Tisya saat melihat tumpukan kardus yang ada di lantai kamar itu.


"Kamarnya besar, pemilik rumah pengen kamarnya di ganti menjadi lebih menly, berarti warna catnya juga harus di ganti putih dan sebuah wallpaper dengan motif garis atau pentagon kayaknya bagus!"


"Coba deh aku liat kamar mandinya yang di dalam!" gumam Tisya, ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Wilson yang sudah kembali begitu terkejut saat melihat seorang pria lengkap dengan helm kerjanya dan sebuah kertas di datangnya.


Apa ini artinya hari ini tidak harus berurusan dengan gadis manja itu? batin Wilson senang.


Ia segera menyapa mandor pekerja yang sedang sibuk melihat area halaman depan, karena yang mungkin akan di rubah dulu bagian depannya.


"Pagi mas! Saya pemilik rumah ini!" ucap Wilson.


"Mas Wilson ya?"


"Iya ...!"


"Arsiteknya ada di dalam mas, nanti mas Wilson bisa langsung membicarakan pada kami! Tapi sebentar saya terima telpon dulu!" ucap pak mandor saat ponselnya berdering.


Wilson pun segera masuk ke dalam rumah, ia memeriksa ruangan tapi tidak menemukan orang yang pak mandor itu katakan.


"Tidak ada siapa-siapa!" gumam Wilson, "Lebih baik ganti baju dulu aja, nggak enak di rumah pakek kemeja dan jas!"


Wilson pun segera masuk ke dalam kamar, ia mengambil baju gantinya yang masih berada di dalam koper itu, ia memilih baju santai, kaos putih dan celana pendeknya.


Ia meletakkan baju itu di atas tempat tidur, Wilson pun segera melepaskan jas dan kemejanya hingga terlihat otot-otot perut Wilson yang saling menonjolkan diri itu, saat hendak melepaskan celananya tiba-tiba pintu kamar mandinya terbuka.


Ceklek


Dengan cepat Wilson berbalik, ada Tisya di sana.


"Aaaaaaa .....!"


"Aaaaaaa .....!"


Teriak Wilson dan Tisya, mereka sama-sama terkejut, Tisya segera menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, begitu juga dengan Wilson yang segera menutupi tubuhnya dengan tangannya.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Tisya.


"Seharusnya saya yang tanya, kenapa kamu di kamar saya?" tanya Wilson yang tidak mau kalah.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2