
Felic melihat suaminya dari dalam mobil, kaca mobilnya berembun karena di luar hujan, ia pun mengusap kaca mobil dengan tangannya agar dapat melihat suaminya dengan jelas.
Tanpa sengaja ia melihat sosok wanita yang sedang bersama suaminya itu, walaupun wanita itu berdiri membelakangi suaminya, Felic masih bisa mengenalinya.
"Bukankah itu nyonya Tania?!"
"Iya benar ...., itu ibunya Frans!"
Felic pun memutuskan untuk turun dari mobil, ia dengan hati-hati menyusul suaminya karena terlihat jalanan itu basah oleh hujan.
Ia bisa melihat suaminya sudah hendak meninggalkan kedai itu, untung saja ia sampai tepat waktu.
"Frans ....!"
"Fe ...., sudah ku bilang, jangan turun! Ayo pergi!" ucap dokter Frans sambil menarik tangan Felic. Tapi Felic memilih bergeming di tempatnya.
"Fe ...., jangan membuatku memaksa!" ucap dokter Frans kesal.
Walaupun dokter Frans mengajak Felic pergi, tapi Felic memilih tinggal.
Felic menatap nyonya Tania yang menatap suaminya itu dengan tatapan penuh luka. Ada rona penyesalan di wajah nyonya Tania.
“Saya mau satu bakso iganya!” ucap Felic tidak kalah keras kepalanya dengan suaminya.
"Fe .....!" dokter Frans tetap tidak setuju.
"Tapi aku sangat lapar Frans, ini hujan tidak akan ada yang buka lagi!" ucap Felic dengan wajah memelasnya.
"Duduklah ...., aku akan membuatkan bakso untukmu!" ucap nyonya Tania dengan begitu senang. Nyonya Tania segera kembali ke gerobak baksonya dan membuatkan satu porsi untuk Felic.
Felic sudah menarik tangan dokter Frans untuk duduk di salah satu bangku kosong yang ada di dalam kedai itu, udara begitu dingin karena di luar masih hujan.
Mereka hanya saling diam. Dokter Frans masih terlihat marah. Nyonya Tania sudah kembali datang dengan membawa semangkuk bakso itu.
"Makanlah ...., mumpung masih hangat!" ucap nyonya Tania.
"Terimakasih bu ...!" ucap Felic membuat nyonya Tania tercengang, dokter Frans pun juga sama.
"Duduklah bu, temani aku makan!" ucap Felic sambil menepuk bangku kosong yang ada di antara Felic dan dokter Frans.
Nyonya Tania hanya bisa diam, ia tidak mungkin duduk tanpa persetujuan dari dokter Frans. Tapi saat melihat putranya itu tetap diam, nyonya Tania pun akhirnya ikut duduk.
__ADS_1
"Emmmm ..., ini enak sekali!" ucap Felic sambil memulai memakan bakso yang masih mengepul itu.
Dokter Frans hanya diam begitupun dengan nyonya Tania. Felic terus berkomentar selama makan. Sesekali ia juga bertanya pada nyonya Tania.
"Bagaimana kabar ibu?" tanya Felic di sela-sela makannya.
"Saya baik!" ucap nyonya Tania, ia berbeda seratus delapan puluh derajat dengan nyonya Tania yang pernah Felic temui, sekarang nyonya Tania lebih bersahaja dan sederhana.
"Tisya ....? Apa dia juga baik?" tanya Felic lagi, ia mencoba sok akrab.
"Tisya sekarang juga sudah bekerja, pertunangannya juga di batalkan!" ucap nyonya Tania hal itu berhasil membuat Felic menghentikan makannya dan menatap ibu mertuanya itu.
"Di batalkan? Kenapa?" tanya Felic.
"Rizal bukan yang terbaik untuk Tisya!"
Walaupun dokter Frans tetap diam, ternyata ia juga memperhatikan pembicaraan mereka. Terlihat dari alisnya yang saling menaut saat mendengarkan pembicaraan itu.
Felic pun akhirnya menyelesaikan makannya. Dokter Frans segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan satu lembar uang lima puluh ribuan dan ia letakkan di atas meja.
"Ayo Fe ...!" ucap dokter Frans sambil menarik tangan Felic.
"Frans ....!" ucap nyonya Tania tiba-tiba membuat dokter Frans sedikit tersentak dan menoleh pada ibu kandungnya itu. Membuat dokter Frans kembali melepaskan tangan Felic.
Dokter Frans tampak menghela nafas, memang begitu banyak yang ingin ia tanyakan. Banyak sekali, ia kembali duduk begitupun dengan Felic.
“Kenapa dulu anda meninggalkan saya?” tanya dokter Frans, itu adalah pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan dari kecil, kenapa ibunya meninggalkannya, kenapa ia tidak di cintai.
Dan nyonya Tania terlihat terdiam.
"Anda tidak bisa menjawabnya kan? Jadi jangan memberi saya harapan yang bahkan tidak bisa anda wujudkan!" ucap dokter Frans yang sudah hampir berdiri tapi segera ia urungkan saat nyonya Tania menahan tangannya.
“Karena Tisya!” ucap nyonya Tania. Ia tidak berniat untuk memberitahu siapa Tisya sebenarnya, tapi mungkin memang sekarang sudah waktunya. Dokter Frans tampak mengerutkan keningnya.
“Kenapa dengannya?” tanya dokter Frans, walaupun ia tahu jika Tisya adik kandung satu ayah dengan nya, tapi ia juga ingin tahu alasan sebenarnya, jika pun ada Tisya bukankan ia juga bisa mengajaknya juga untuk tinggal bersama.
“Dia tidak mungkin lahir tanpa papa, Frans! Dia butuh status!” ucap nyonya Tania. Bahkan saat itu kandungannya masih sangat muda, ayahnya juga tidak tahu kalau ia sedang hamil.
“Tapi anda melupakan saya!” dokter Frans merasa dirinya telah di abaikan begitu lama. Jika ibunya bisa melakukan banyak hal untuk adik perempuannya bukankah seharusnya ibunya juga bisa melakukan banyak hal untuk dirinya.
"Maafkan aku, itu kesalahan terbesar ibu! Ibu kira dengan memalsukan identitas Tisya, Tisya akan di akui dunia. Tapi ibu lupa, ibu masih punya kamu yang harus ibu jaga!"
__ADS_1
"Hehhhh ....., aku tahu penyesalan memang selalu datang di akhir, dan anda tidak akan bisa memperbaikinya!"
"Ayo Fe ...., kita pergi!" ucap dokter Frans lagi sambil menarik tangan Felic meninggalkan nyonya Tania yang masih terduduk.
Di luar terlihat hujan juga sudah reda, tinggal rintik-rintik kecil yang membuat udara semakin dingin.
Saat dokter Frans dan Felic sudah sampai di pintu keluar nyonya Tania segera berdiri.
"Frans ....!"
Dokter Frans menghentikan langkahnya tapi ia tidak membalik badannya.
"Frans kamu boleh membenci ibu, tapi ibu mohon jangan benci Tisya juga, dia sama halnya denganmu, dia tidak tahu apa-apa, dia adik perempuan kamu, anak dari ayahmu juga!"
Dokter Frans kembali melanjutkan langkahnya setelah mendengar penjelasan dari ibu kandungnya itu.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan dokter Frans hanya diam.
Semua kata-kata nyonya Tania masih terngiang di telinganya. Ia ternyata mempunyai saudara perempuan yang beberapa waktu lalu sempat sangat ia benci bahkan ia sampai mengutuki nya agar tidak pernah hidup bahagia.
Tapi ternyata kenyataan mengatakan hal lain, ia seakan menyesal dengan ucapannya dulu. Ia tidak mungkin tega membiarkan saudarinya hidup susah. Mau bagaimanapun dia adalah adiknya yang seharusnya ia jaga dan ia sayangi.
***
Sesampai di rumah dokter Frans hanya terus diam, ia belum percaya dengan apa yang di katakan oleh nyonya Tania. Tapi saat mengingat wajah Tisya, ia seperti melihat bayangan dirinya sendiri, bayangan ayahnya di sana.
"Frans ...., kamu tidak pa pa?" tanya Felic yang merasa khawatir dengan suaminya itu.
Dokter Frans segera menoleh pada istrinya itu, "Tidak ...., cepat ganti baju dan keringkan rambutnya! Aku akan membuatkan susu untukmu!" ucap dokter Frans sambil membantu melepas jaket istrinya itu.
"Hemmmm!"
Felic pun segera menuju ke dalam kamar ganti, ia mengganti bajunya yang sedikit basah dengan baju tidurnya.
Dokter Frans kembali turun ke dapur untuk membuatkan susu ibu hamil untuk Felic.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰