
Di pagi yang cerah, banyak hal yang bisa di lakukan, seperti wanita yang sudah berstatus sebagai istri seorang dokter Frans Aditya itu.
Semenjak pagi ia sudah sibuk mondar mandir di dalam kamarnya untuk mengerjakan banyak hal mulai dari memindahkan beberapa barang yang menurutnya kurang pas di tempatnya juga melakukan hal-hal yang biasa ia lakukan di rumah lamanya.
Ia memang bukan orang yang rajin tapi ia mempunya kebiasannya yang aneh saat moodnya baik, ia akan tiba-tiba berubah menjadi sangat rajin, tapi kalau tiba saat ia benar-benar jadi pemalas, bahkan untuk berpindah dari tempat tidur pun malas.
"Fe ...., kamu ngapain pindah-pindah in barang segala?" tanya suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Lagi pengen Frans!"
"Minta tolong saja pelayan, Fe ....!" jangan angkat-angkat barang sendiri!"
"Jangan Frans ...., ini aku sengaja, biar ada kegiatan!" ucap Felic sambil menyiapkan baju untuk suaminya.
"Memang pekerjaanmu sudah selesai?" tanya dokter Frans.
"Sudah ...!" Felic pun membantu suaminya mengenakan kemeja setelah suaminya memakai celana.
Acara edit novelnya sudah selesai, jadi Felic tidak perlu bolak-balik ke kantor penerbit lagi.
“Ini jaketnya!” ucap Felic sambil menyerahkan jaket suaminya, suaminya itu tidak selalu mengenakan jas. Ia lebih nyaman memakai jaket, bahkan kadang hanya memakai celana pendek.
“terimakasih sayang!”
“Ihhh …, aneh banget kalau kamu panggil sayang gitu!”
"Dasar tukang protes ...!" keluh dokter Frans lalu mendekatkan wajahnya pada istrinya itu. Ia menarik pinggang Felic hingga kini tubuh mereka begitu dekat, membuat Felic sedikit berjinjit.
Cup
Dokter Frans bukannya memakai jaketnya ia malah sibuk menciumi wajah Felic.
“Frans masih pagi ya ....!" ucap Felic sambil berusaha untuk melepaskan pelukan suaminya itu, tapi bukannya melonggarkan tangannya, dokter Frans malah semakin ganas menciuminya.
Kemudian dokter Frans menghentikan ciumannya, ia kembali menatap istrinya itu,
"memang kenapa kalau masih pagi?” tanyanya sambil tersenyum.
"Semalam kan udah!” protes Felic walaupun sebenarnya ia sangat menyukai sentuhan suaminya itu.
“Tapi pagi ini belum!” bisik dokter Frans, sabil menarik tubuh Felic. Hal ini membuat Felic begitu terkejut.
“Frans …!” pekik Felic.
Dokter Frans sudah menggiring tubuh Felic ke tempat tidur, ia mengulang kembali apa yang di lakukan semalam.
Dokter Frans mulai melepas kembali baju yang baru saja selesai ia memakainya. Kini tubuhnya sudah menindih tubuh istrinya, mencumbunya di setiap jengkal tubuh sang istri. Hingga akhirnya mereka benar-benar menyelesaikannya.
“terimakasih sayang …!” ucap dokter Frans setelah menyelesaikan olah raga paginya dan segera bangun kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk kembali mandi.
Felic sudah duduk bersandar di tempat tidur nya dengan selimut yang menutup tubuhnya.
Setelah beberapa menit akhirnya ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya.
"Fe ...., kamu nggak mandi?" tanya dokter Frans saat melihat istrinya itu masih saja duduk di atas tempat tidur dengan selimut yang menutup tubuhnya.
"Capek Frans ....!" keluhnya.
Dokter Frans pun segera menghampiri istrinya itu dan meninggalkan kecupan di keningnya.
__ADS_1
Kemudian ia mengambil baju yang tadi ia lepas kembali dan segera memakai bajunya, ia sudah sangat terlambat.
"Kamu ada acara ya?" tanya Felic saat melihat suaminya itu begitu terburu-buru.
"Iya Fe ...., hari ini ada seminar dan aku di suruh menjadi pemateri!"
Dokter Frans segera menyambar tas kecil yang selalu di bawa kemana-mana itu. Tapi saat hendak keluar kamar, ia kembali menghampiri istrinya dan meninggalkan kecupan di bibirnya.
“Jangan turun, biar bibi yang antar sarapan untukmu!” ucap dokter Frans sebelum meninggalkan kamar.
“tapi Frans …, hari ini aku mau keluar!” teriak Felic saat ia teringat dengan janjinya dengan nyonya Tania.
“Biar Wilson yang mengantar!” ucap Dokter Frans yang terus berjalan.
“Nggak usah, aku akan pergi sendiri!” ucap Felic tetap dengan pendiriannya.
Dokter Frans menghentikan langkahnya. Ia kembali menoleh pada istrinya itu.
“Aku nggak nyaman Frans kemana-mana di antar, nggak pa pa ya? Kamu aja nggak di antar, kenapa kemana-mana aku selalu di antar!”
"baiklah …, tapi hati-hati ya!”
“Iya …!”
Akhirnya dokter Frans mengijinkan Felic untuk pergi sendiri.
Dokter Frans segera turun dan menemui Wilson.
"Iya tuan!"
"Nanti hubungi saya jika Felic keluar rumah, kamu nggak usah ikuti dia!"
"Baik tuan!"
Selama seminar, ia terus memperhatikan ponselnya, jika sewaktu-waktu Wilson menghubunginya. Ia harus segera mengetahui apa yang di lakukan oleh suaminya.
...***...
Siang ini Felic sudah siap dengan dress selutut dengan motif bunga kecil itu.
Tidak lupa ia juga mengambil bungkusan coklat yang sempat ia simpan di tumpukan bajunya, ia juga tidak lupa untuk menghitungnya kembali.
"Masih utuh, tapi aku rasa kenapa tempatnya berpindah ya!?" gumam Felic. Ia pun segera memasukkan bungkusan coklat itu ke dalam tas nya.
Setelah merasa sudah tidak ada yang ketinggalan, ia pun segera memesan ojek online.
"Nyonya mau ke mana?" tanya Wilson saat melihat Felic keluar dari rumah.
"Saya mau keluar sebentar, bukankah Frans sudah memberitahumu?"
"Iya nyonya!"
"Ya udah ..., jangan menggangguku!" ucap Felic sambil duduk di teras sambil menunggu ojek online nya di depan rumah besar itu.
Dan tidak berapa lama, ojek online pun datang, penjaga membukakan pintu gerbang untuknya dan mempersilahkan masuk setelah mendapat laporan dari Wilson agar membukakan pintu juga ada driver ojek online.
“Dengan mbak Felic?” tanya driver ojol saat sudah berada di depan rumah besar itu.
“Iya …!”
__ADS_1
"Silahkan pakek helmnya mbak!"
Felic pun segera memakai helm itu dan naik ke motor.
Akhirnya Felic meluncur ke kafe tepatnya janjian dengan nyonya Tania.
"Makasih ya mas!" ucap Felic sambil menyerahkan helm dan uang.
"Sama-sama mbak!"
Felic pun segera masuk ke dalam kafe, kafe terlihat sepi jadi ia bisa memperhatikan siapa saja yang ada di sana, mungkin ia lebih dulu sampai karena yang di cari belum ada.
Felic pun akhirnya memilih duduk di tempat yang menurutnya strategis dan nyaman.
"Hah ...., dia belum datang!" ucapnya sambil menatap ke arah pintu masuk.
“Mbak mau pesan apa?" tanya pelayan yang menghampirinya. Felic pun segera mendongakkan kepalanya.
“dua orange jus ya mbak!” ucap Felic.
"Baik mbak!"
Pelayan itu pun meninggalkan Felic dan tidak berapa lama datang kembali dengan membawa dua gelas orange jus.
"Silahkan mbak!"
"Terimakasih!"
Sudah hampir setengah jam Felic menunggu hingga akhirnya yang di tunggu datang juga.
Nyonya Tania yang melihat keberadaan Felic segera menghampirinya. Felic pun segera berdiri dan mempersilahkan nyonya Tania untuk duduk.
“Silahkan duduk nyonya!” ucap Felic sambil berdiri.
Nyonya Tania pun segera duduk dan meletakkan tas nya di bangku kosong di sebelahnya.
“Bagaimana?" tanya nyonya Tania to the point.
"Minumlah dulu nyonya, mungkin nyonya haus!" ucap Felic dengan begitu tenang.
Nyonya Tania tidak segera meminumnya walaupun ia sangat haus hari ini karena udara di luar sangat panas.
"Tidak usah khawatir nyonya, saya tidak memasukkan apapun ke dalam minuman anda, apa perlu saya meminumnya dulu agar nyonya yakin?"
"Tidak perlu!" ucap nyonya Tania, akhirnya ia pun menyeruput minumannya.
"Bagaimana keputusanmu?"
“Seperti yang saya katakan kemarin di telpon, saya akan menanyakan beberapa pertanyaan terlebih dulu pada anda!” ucap Felic dengan masih begitu tenang.
“Baiklah …, tanyakan!”
...Dingin ini tidak akan mampu membekukan tubuhku, tapi cintamu yang dingin akan dengan mudah membekukan hatiku. Aku bukan orang yang bisa tertawa saat aku harus menangis, tapi aku bisa menangis saat aku seharusnya tertawa~DTIS...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰