
Wilson terus menghubungi Tisya tapi sepertinya hp Tisya sedang tidak aktif.
"Semoga dia tidak apa apa!" gumam Wilson.
Wilson pun teringat dengan tugasnya, ia pun mengambil kopian rekaman perbincangan antara Tisya dan tuan Bactiar kemudian ia memilih untuk menghubungi dokter Frans.
Di desa, Klinik milik dokter Frans
Dokter Frans sedang beristirahat sambil menunggu perkembangan pasiennya.
Dokter Frans terlihat sedang duduk, tapi tangan dan matanya masih sibuk melihat laporan hasil pemeriksaan terhadap pasien.
"Ini bagus ...!" gumamnya.
Bolpoin yang sedari tadi berada di tangannya itu pun terlihat mencoret pada bagian-bagian yang perlu untuk di coret.
Kaca matanya sedari tadi melekat di pangkal hidungnya, bola matanya terus bergerak membaca setiap huruf di berkas-berkas itu, dan menandainya jika ada yang tidak sesuai atau ada yang perlu di tandai.
Ceklek
Seseorang membuka pintu ruangannya,
"Maaf dok, menggangu!" ucap seorang remaja putri.
"Masuk!"
"Saya di suruh bapak buat bawakan kopi untuk dokter!" ucap gadis itu sambil meletakkan secangkir kopi di meja kerjanya.
"Terimakasih ya!"
"Sama-sama dok, kalau begitu saya permisi!"
"Iya silahkan!"
Setelah gadis itu pergi, dokter Frans pun meletakkan berkasnya dan mulai mengangkat cangkirnya, menyeruputnya perlahan.
"Hemmmm, memang ya kopi orang desa lebih nikmat, aromanya khas!" ucap dokter Frans menikmati kopi itu.
Brrrttttt brrrttttt brrrrtttttt
Tiba-tiba ponsel yang sedari tadi ia letakkan di atas meja bergetar, dokter Frans melirik, ternyata itu panggilan dari Wilson.
Dokter Frans pun kembali meletakkan cangkirnya dan beralih mengambil ponselnya. Ia menggeser tombol hijau lalu mendekatkan benda pipih itu di dekat daun telinganya.
"Hallo Wil!"
"Hallo tuan!"
"Ada berita apa?"
"Saya sudah mendapatkan rekaman percakapan Tisya dan tuan Bactiar terkait surat perjanjian itu tuan!"
"Kirim ke saya!"
"Baik tuan!"
Dokter Frans pun segera mematikan sambungan telponnya, ia menunggu sampai ada kiriman rekaman suara itu.
Ting
Tidak berapa lama, sebuah pesan masuk, sebuah rekaman suara dari Wilson.
Dokter Frans mengepalkan tangannya begitu sempurna saat mendengarkan rekaman yang berdurasi dua puluh tiga menit itu.
"Kurang aja si Bactiar, dia mau main-main sama gue ....!" umpat dokter Frans kesal, ia sampai memukul mejanya dan mengusap rambutnya ke belakang.
"Gue harus mikirin cara ....! Apa yang harus gue lakukan!"
"Aku rasa Tisya tidak akan meminta bantuan ku, tapi uang satu milyar rasanya sayang di berikan oleh pria itu dengan cuma-cuma!"
"Aku harus memikirkan ide lain ketimbang memberikan secara langsung pada Tisya!"
"Dia sama keras kepalanya sama gue!"
__ADS_1
Dokter Frans pun mondar-mandir di ruangannya, ia berpikir keras bagaimana cara membebaskan Tisya dari pria jahat itu.
"Iya ...., aku dapat ide!" gumamnya begitu senang.
"Wilson ...., iya Wilson pasti bisa membantuku!"
Dokter Frans pun kembali mencari ponselnya. Ia menghubungi Wilson kembali.
"Hallo, bagaimana tuan?"
"Aku butuh bantuan mu untuk membantu Tisya!"
"Maksud tuan?"
"Nanti kita bicarakan di rumah, aku akan pulang dalam dua hari ini!"
"Baik tuan!"
Dokter Frans kembali mematikan sambungan telponnya, ia masih punya waktu untuk merawat pasiennya.
...***...
Wilson jadi penasaran dengan rencana yang sedang di bicarakan oleh dokter Frans.
Ia cukup tahu jika rencana tuannya itu selalu saja ekstrim, termasuk rencana yang ini, menjaga Tisya dengan cara di jadikan asisten rumah tangga. Sampek harus di belikan rumah baru segala.
Di tempat lain, Tisya sudah keluar dari dalam gedung, terlihat begitu bingung, di terima salah nggak di terima dia yang bakal mati. Benar-benar bagai makan buah simalakama.
"Tisya tunggu!" suara seseorang menghentikan langkahnya. Tisya kembali berbalik ke belakang, ternyata ada Maira.
"Kak Maira!"
"Tisya ....!"
Maira segera memeluk Tisya, ia telah membenci orang yang salah.
"Maafkan aku Tisya!" ucap Maira dalam pelukannya.
"Kak Maira nggak perlu minta maaf, memang kak Maira kan nggak tahu!"
"Makasih ya, kamu sekarang udah jadi anak baik!"
"Tisya dari dulu juga baik kak, kakaknya aja yang nggak tau!"
"Aku mau ketemu sama mama, temani aku ya!"
"Ngapain kak?"
"Aku mau minta maaf, kan kakak udah benci mama juga!"
"Baiklah ...., sekalian nanti traktir Tisya bakso ya kak!"
"Baiklah ...., ayo ...!"
Maira dan Tisya menuju ke tempat mobilnya yang terparkir.
"Ayo masuk!" ucap Maira saat Tisya masih berdiri di tempatnya.
"Tapi kata papa, Tisya nggak boleh pakek Fasilitas pemberian papa!"
"Tapi kan ini fasilitas aku, bukan punya kamu! Sudah jangan banyak mikir, ayo cepetan masuk keburu sore!"
Tisya pun akhirnya masuk ke dalam mobil Maira. Mobil itu pun mulai melaju meninggalkan gedung itu.
"Tisya!" ucap Maira saat mobil sedang berhenti di lampu merah.
"Iya?"
"Apa kamu sudah punya cara buat cari uang sebanyak itu?" tanya Maira.
Hehhhhhh
Tisya menghela nafas dalamnya, saat membicarakan masalah itu, dadanya kembali sesak.
__ADS_1
"Belum kak! Tapi Tisya yakin pasti ada cara untuk mendapatkannya!"
"Hanya satu bulan loh Tisya!"
"Aku pasti bisa kak! Kak Maira tenang aja, oh iya kak, jangan katakan apapun pada mama ya kak, Tisya mohon!"
"Baiklah ...., kakak bisa pegang janji kok!"
Akhirnya mobil mereka sampai juha di seberang jalan depan kedai bakso tempat nyonya Tania bekerja.
Seperti yang lainnya, mereka juga perlu menyeberang untuk ke kedai itu karena di depan kedai tidak ada tempat parkirnya.
"Selamat siang ma!" sapa Tisya.
Nyonya Tania yang sedang sibuk membersihkan meja yang baru di tinggalkan pengunjungnya pun segera menoleh.
"Tisya!"
"Lihat ma ...., siapa yang Tisya bawa!"
"Siapa?"
Maira pun muncul dari balik penyekat kayu yang ada di samping pintu.
Nyonya Tania begitu terkejut sampai ia menjatuhkan lap yang ada di tangannya.
"Maira!"
"Selamat siang ma, Bagaimana kabar mama!"
"Aku baik!" ucap nyonya Tania yang masih tidak percaya jika Maira datang ke tempatnya.
"Duduklah kalian, ayo duduk!"
"Ayo kak duduk!" Tisya pun menarik tangan maira dan mengajaknya duduk di salah saru bangku.
"Ma ...., bakso spesialnya dua ya!" ucap Tisya.
"Tentu sayang ...., mama akan buatkan spesial untuk kalian!"
Nyonya Tania begitu bahagia melihat Maira, ia sudah sangat bersalah dengan gadis itu. Ia sudah memisahkan mereka berdua, memisahkannya dengan papanya.
Tidak berapa lama nyonya Tania datang dengan dua mangkuk bakso spesial.
"Makanlah ...!" ucap nyonya Tania sambil menyodorkan dua mangkuk bakso itu di depan Tisya dan Maira.
"Makasih ya ma!" ucap Maira.
"Ini enak loh kak, cepetan cobain!"
Maira pun mulai menyantap baksonya tanpa bumbu, ia memang tidak terlalu suka menggunakan saus dan kecap.
"Bagaimana kak, enak kan?"
"Enak banget!"
Maira dan Tisya melahap baksonya, nyonya Tania hanya sibuk memandangi mereka berdua.
"Ma ...., maafkan Maira ya!" ucap Maira kemudian.
"Maira!" ucap nyonya Tania yang begitu merasa bersalah, "Seharusnya mama yang minta maaf, karena mama sudah tidak adil sama Maira!"
"Nggak ma, mama kan memang mengirim Maira ke luar negri untuk berobat, lihat Maira sekarang sehat, Maira juga malah jadi lulus luar negri kan ma, Maira juga bisa dekat sama ibu kandung Maira! Jadi nggak ada yang jahat ma!"
"Tapi niat mama yang jahat!"
"Cuma niat, tapi hasilnya baik kan ma!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰