Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (71. Tes DNA)


__ADS_3

Zea melihat lokasi yang di kirim, ia tahu tempat itu. Ia tidak perlu memesan apapun untuk ke sana karena di tempuh dengan jalan kaki saja sudah bisa.


Ia juga harus berhemat, sekalian olah raga sekalian berhemat.


Walaupun ia tahu lokasinya, ia tidak pernah masuk ke restauran itu. Itu adalah restauran yang terkenal mahal, hanya orang-orang elit saja yang datang ke sana.


Kedatangan Zea langsung di sambut oleh pelayan,


"Apa ada janji nona?"


"Iya, saya sedang menunggu seseorang!"


"Apa anda nona Zea?"


"Iya!"


"Kalau begitu mari ikut saya!"


Zea pun akhirnya mengikuti pelayan itu, hingga mereka sampai juga di sebuah ruangan VVIP, hanya ada satu meja di sana.


"Silahkan duduk nona!"


Prok prok prok


Pelayan itu menepukkan tangannya tiga kali dan beberapa pelayan datang dengan membawa berbagai makanan.


"Silahkan duduk nona!" pelayan itu juga menggeserkan kursi untuknya. Ia benar-benar di buat bingung dengan perlakuan mereka terhadap dirinya,


"Mbak, tapi saya tidak memesan makanan sebanyak ini!?"


"Tuan Seno yang memesan untuk anda, silahkan anda makan dulu sambil menunggu beliau datang!"


"Tapi_!"


"Kalau membutuhkan sesuatu, silahkan panggil kami, kami ada di sana!"


Pelayan itu menunjuk ke arah samping dan benar saja beberapa pelayan terlihat stand by di tempatnya.


"Tidak terimakasih!"


Zea menatap makanan-makanan itu, begitu banyak,


"Memang siapa saja yang akan datang ke sini? Kenapa makanannya begitu banyak?"


Sebenarnya perutnya sedang lapar sekarang, tapi ia tidak mungkin makan sendiri sebanyak ini.


Hingga suara langkah kaki membuatnya menoleh ke belakang, semua pelayan menundukkan kepalanya,


Sebenarnya aku sedang berhadapan dengan orang yang seperti apa?


Zea pun ikut berdiri dan menyambut kedatangan mereka,


"Duduklah!"


"Iya!" Zea pun kembali duduk setelah mendapatkan ijin.

__ADS_1


"Kenapa tidak makan?"


"Aku_!"


"Baiklah aku akan menemanimu makan, mari!"


Seorang pelayan mendekat dan membukakan piring pak Seno. Zea bahkan baru sadar jika piringnya sudah terbuka dari tadi.


"Ambilah semua yang kamu mau!"


Zea terlihat malu-malu, ia hanya mengambil secukupnya. Terlihat ajudannya hanya berdiri tidak jauh dari mereka hal itu membuat Zea segan.


Akhirnya acara makan siang pun berakhir, semua makanan itu langsung di pindahkan.


Kini meja sudah kembali bersih, ajudan pak Seno tampak kembali mendekat dan menyerahkan sebuah map pada Zea.


"Tapi saya belum mengatakan maksud saya ingin bertemu dengan anda!"


"Kami sudah tahu maksudnya, jika kamu setuju silahkan tanda tangan dan kita bisa segera melakukan tes DNA!"


Zea pun mulai membuka berkas itu dan membacanya dengan seksama.


"Apa tes ini bisa di lakukan sekarang juga?"


Pikir Zea, semakin cepat akan semakin baik. Ia juga tidak terlalu nyaman selalu bertemu dengan mereka.


"Tentu! Kami akan menstranfer uangnya langsung ke rekening kamu setelah pengambilan sempel!"


Terlihat ajudan menghubungi dokter yang akan melakukan tes DNA. Dan ternyata hari ini bisa di lakukan.


"Iya!"


Akhirnya mereka pun meninggalkan restauran. Zea ikut bersama mereka, ia duduk di belakang di samping pak Seno.


"Bagaimana kabar kamu? Saya dengar kamu baru saja mengalami kecelakaan?"


"Seperti yang anda lihat, saya sudah baik-baik saja!"


"Apa kamu juga sedang hamil?"


Pertanyaan pak Seno berhasil membuat Zea menoleh padanya, pak Seno sekarang sudah tahu hubungan Zea dengan Rangga dan ia juga tahu apa yang tengah di lakukan putrinya sekarang untuk membuat Rangga berpisah dengan Zea. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Iya!"


Seketika pikiran tentang hubungan masa lalu dengan wanita yang sangat ia cintai kembali muncul, hal yang di lakukan Miska sama persis seperti apa yang di lakukan mamanya waktu itu.


"Apa yang membuatmu berubah pikiran akhirnya?"


Zea kembali menatap pak Seno, pak Seno selalu merasa tidak asing setiap kali Zea menatapnya. Tatapan itu terlihat begitu sama, walaupun tidak di lakukan tes DNA pak Seno sudah sangat yakin jika Zea ini adalah putrinya. Wajahnya mengingatkan nya pada wanita yang sangat ia cintai itu.


"Saya ingin uang itu!" ucap Zea yakin dan kembali menatap ke depan.


"Tidak adakan keinginan buat kamu, buat berharap jika saya adalah ayah kamu?"


"Itu sudah tidak penting bagi saya, akan tidak ada bedanya nanti hasilnya positif atau negatif!"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Ada atau tidaknya anda dalam hidup saya tidak akan berpengaruh besar bagi kehidupan saya!"


Mendengar ucapan Zea, hari pak Seno terasa begitu sakit. Ia tidak menyangka jika Zea sangat tidak mengharapkan kehadirannya dalam hidupnya.


Tapi pak Seno bisa memakluminya karena memang dia sudah sangat terlambat untuk menemukannya. Untuk selanjutnya ia akan berbuat sebaik mungkin agar putrinya itu bisa memaafkannya dan bisa berbuat manis terhadapnya.


Akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah sakit swasta, seorang dokter langsung menyambut kedatangan mereka.


Dokter itu mengambil sampel darah dari Zea dan pak Seno.


Prosesnya begitu cepat tapi mereka harus menunggu dua Minggu lagi untuk mendapatkan hasilnya.


"Kami sudah menstranfer uangnya ke rekening nona Zea!" ucap ajudan pak Seno.


"Terimakasih, kalau begitu saya permisi!"


Zea memilih berpisah, ia memesan taksi dan langsung pulang. Ia juga sudah mengecek ponselnya, melihat notifikasi dan benar saja bukan dua puluh tapi lima puluh juta.


"Hahhh kenapa lima puluh?"


Baru saja ia bertanya-tanya tiba-tiba sebuah pesan muncul di ponselnya dari nomor yang sama,


//Nona Zea, tuan Seno sengaja menstranfer lebih karena ucapan terima kasih taun Seno atas kesanggupan nona Zea melakukan. tes DNA, jadi nona jangan merasa sungkan//


Zea hanya membaca pesan itu dan Tidka berniat untuk membalasnya.


Baginya uang dua puluh juta cukup untuk menopang hidupnya selama beberapa bulan ke depan. Tapi sekarang ia punya lima puluh juta, jauh lebih cukup dari yang ia harapkan.


Miska sepertinya terlalu fokus untuk mengambil hati Rangga sampai tidak sadar dengan apa yang di lakukan oleh Zea dan tuan Seno.


Sebelumnya ia selalu mengawasi pergerakan pak Seno dan ajudannya tapi akhir-akhir ini ia sedang sibuk mencari cara agar Rangga jatuh ke dalam pelukannya.


"Sayang, kenapa kamu cuek terus sih sama aku?" Miska tengah menggelayut manja di pangkuan Rangga.


"Miska, turunlah. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku!"


"Malam ini kita tidur dalam satu kamar ya, aku punya kejutan buat kamu!"


"Jangan macam-macam!"


"Kamu gitu banget sih sama aku!?"


Rangga bahkan peduli jika Miska marah padanya, tapi saat ini pikirannya malah tertuju pada wanita yang ia temui tadi pagi.


Rasa penasarannya begitu besar untuk mengetahui siapa wanita itu. Ia berharap bisa bertemu lagi dengan wanita itu nanti.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2