Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Apa aku harus melepasmu?


__ADS_3

“Mau jalan-jalan!” tanya dokter Frans yang sudah berada di atas motor itu dengan


lengan Felic yang sudah melingkar di perutnya.


“hahhh …, kita jalan-jalan?” Felic benar-benar tidak percaya jika suaminya itu akan


mengajaknya jalan-jalan.


“Mau tidak …? Katanya mau jalan-jalan pakek motor?!”


“Mau banget …!”


“Pegangan yang erat ya …!”


Seperti perintah dokter frans, Felic pun semakin mengeratkan pegangannya. Mereka


memecah keramaian kota dengan sepeda motor bebeknya dan menuju ke pedesaan


sambil menikmati pemandangan yang jarang sekali mereka temui di kota.


Bukan motor besar yang di pilih dokter Frans, jika bersama Felic ia lebih suka dengan


kesederhanaannya, menikmati perannya sebagai orang biasa tanpa banyak


peraturan yang mengikat.


Mungkin memang itulah alasan terbesar kenapa pria gondrong itu memilih Felic sebagai


istrinya, karena di depan felic ia bisa menjadi dirinya sendiri. Felic juga tidak pernah memperlakukan suaminya itu berbeda setelah tahu siapa sebenarnya suaminya itu.


Akhirnya dokter Frans menghentikan motornya di jalan dekat pematang sawah, “ayo turun!”


Felic pun tanpa membatah segera turun dari motornya dan hendak melepaskan helmnya,


tapi dengan cepat dokter Frans meraihnya dan membantu melepaskan helm milik Felic.


“Makasih!” ucap Felic saat helm terlepas dari kepalanya.


“Bukan itu balasan yang pantas untuk ini!”


“he?”


Cup


Tiba-tiba tangan dokter Frans meraih kepala Felic dan mencium puncak kepala Felic, tubuh


Felic terpaku dan membeku karena ulah manis suaminya itu.


“kenapa tegang begini? Emang ini ciuman pertamamu?” ucap dokter Frans dengan senyum menggoda seperti biasanya setelah menjauhkan bibirnya dari puncak kepala Felic.


Brugh


Felic segera memukul dokter Frans kesal, tapi ia suka dengan suaminya yang suka


menggoda itu. Dengan dokter Frans ia bisa merasakan tertawa yang benar-benar


tertawa bukan karena ingin di lihat orang bahagia.


“Auhgggg…, sakit banget, suka banget mukul suami! Ini namanya kekerasan dalam rumah


tangga!” ucap dokter Frans sambil memegangi lengannya yang di pukul Felic.


“lembek banget jadi cowok!”


“Nggak pa pa sekarang lembek, tapi keras pas di butuhin!”


“Jangan mulai ya!”


Ha ha ha ….


Dokter Frans paling suka menggoda istrinya seperti ini, rasanya ada kepuasan tersendiri saat melihat istrinya itu salah tingkah dan tersipu malu.


Felic memilih berjalan meninggalkan dokter Frans, ia berjalan melewati pematang sawah. Dokter Fans segera mengejarnya.


‘Ngambek ya?” tanya dokter Frans dengan wajah bingunya. 😕


“jangan dong …!”


Felic masih terus berjalan meninggalkan dokter Frans.


“Udah dong ngambeknya!”

__ADS_1


 Tapi Felic masih tetap tidak peduli, ia


semakin mempercepat langkahnya. Membuat dokter Frans memikirkan cara agar felic


tidak meninggalkannya.


“aughhh …, aughhhh ….!”


Tiba-tiba dokter Frans menjatuhkan tubuhnya membuat Felic menoleh padanya. Melihat


suaminya kesakitan  Felic jadi goyah.


“Fe …, kaki ku Fe …, kakiku di gigit ular!”


“Ular?” Felic begitu terkejut saat  suaminya


mengatakan jika di gigit ular,  Felic


kembali berlari menghampiri suaminya dan berhenti tepat di depannya.


“Mana yang di gigit, mana?” felic segera memeriksa kaki dokter Frans dan memastikan


jika suaminya itu baik-baik saja.


“Hatiku yang sakit Fe, saat kamu ninggalin aku!”


“ihhhhh ….!” Felic memukul berkali-kali tubuh dokter Frans, “suka banget sih ngerjain


orang!”


Bukannya menangkis pukulan Felic, dokter Frans malah menarik tubuh felic ke dalam


pelukannya,


“Lain kali kalau mau pergi kasih tahu! Pasti si Wilson ketakutan setengah mati nyariin kamu!”


Felic segera menjauhkan tubuhnya dari dokter Frans dan mendongakkan kepalanya mencoba


menggapai wajah suaminya, “memang kamu belum ngasih kabar ya sama dia?”


“belum!”


“Jahat banget sih sama anak buah!”


Mereka pun memilih untuk duduk di sebuah gubuk yang sengaja di bangun petani untuk


menunggui sawahnya, sambil menikmati hijaunya padi yang yang baru saja di tanam,


sesekali angin semilir menerpa wajah mereka.


“Frans!”


“hemmm?”


“Haruskah aku melepas mu?”


Mendapatkan pertanyaan itu dari felic membuat dokter Frans begitu terkejut, ia segera menoleh pada istrinya itu dan mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan


pemikiran istrinya itu.


“Jika kebahagiaanmu bukan denganku tapi dengan zea, bagaimana aku bisa terus bertahan dan membiarkanmu membohongi perasaanmu sendiri, Frans!”


“Segitunya ya ingin lepas dariku? Tidak bisakah bertahan sebentar lagi saja dan aku akan


meyakinkanmu!”


“Tapi Frans …, dia orang yang kamu cintai! Berarti bahagia mu dengannya bukan


denganku!”


“Mudah sekali ya buat kamu menyimpulkan sesuatu!”


Dokter Frans sebenarnya begitu kesal saat harus berdebat seperti ini, ia berdiri dan


maju dua langkah ke depan meninggalkan Felic yang masih duduk.


“Suatu ketika aku merasa jika kamu benar-benar mencintaiku Frans, tapi di waktu yang lain kau begitu mencintai orang lain, sikapmu itu membuatku sulit untuk


bertahan Frans!”


***

__ADS_1


Perjalan pulang mereka menjadi begitu dingin, mereka hanya saling diam. Saling merenungi


ucapan masing-masing. Hingga sampai di rumah pun mereka masih saling diam.


‘Nyonya ….!”kedatangan mereka langsung di sambut kehebohan seluruh rumah karena mereka masih mengira nyonya nya itu menghilang, “Nyonya tidak pa pa?”


Bi Molly benar-benar terlihat khawatir, ia terus bertanya sambil memeriksa seluruh


tubuh Felic, dokter Frans hanya tersenyum seperlunya. “Dia tidak pa pa, bi!”


“Nyonya kemana saja?”


Kali ini Felic menatap dokter Frans meminta pendapatnya.


‘kami jalan-jalan, bi!”


“Kami?”


bi Molly menatap mereka bergantian, “Jadi sama tuan juga?”


Felic hanya mengangguk, membuat bi Molly melepaskan tangannya dari tubuh Felic.


Seharusnya dia sudah mengiranya, kenapa dia bisa lupa jika tuannya itu punya


kebiasaan jahil.


“saya permisi tuan, nyonya!” bi Molly segera berlalu begitu saja.


“Bi Molly marah ya?” tanya Felic pada suaminya itu.


“Biar aku yang mengurusnya!” dokter Frans pun segera mengejar bi Molly dan meminta


maaf. Ia tahu apa yang dilakukannya begitu salah, sebegitu sayangnya bi Molly


pada dirinya hingga membuatnya begitu khawatir.


Dokter Frans memeluk tubuh bi Molly dari belakang dan melingkarkan tangannya di perut


wanita paruh baya itu,


“Bi …, maafkan kami!” ucap dokter Frans sambil


menyandarkan dagunya di bahu bi Molly.


“Tuan ….! Astaga …, apa yang tuan lakukan? Jangan seperti ini!” bi Molly begitu


terkejut, ia berusaha melepaskan pelukan tuannya itu, ia merasa tidak pantas di


peluk tuannya seperti itu apalagi di depan pelayan yang lain.


“Maafkan kami dulu baru aku lepaskan!” dokter frans merengek persis seperti anak yang


merengek pada ibunya.


“Iya tuan …, saya tidak marah! Lepaskan, jangan seperti ini!”


Dokter Frans pun segera melepaskan pelukannya pada bi Molly. Bi Molly pun segera


membalik badannya menghadap tuannya itu.


“Kau benar-benar membuatku malu tuan! Lain kali jangan lakukan itu lagi!” bisik bi


Molly yang terlihat malu-malu.


“Siap bibi …!” ucap dokter Frans sambil mencubit kedua pipi bi Molly lalu pergi


begitu saja.


Bi Molly yang masih tersipu memegangi pipinya, juniornya yang melihat semua itu senyum-senyum sambil saling berbisik memuji betapa dekatnya hubungan tuan dan bi Molly itu, tidak heran jika bi Molly begitu di segani


karena dokter Frans sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri bahkan ia tidak


pernah menganggap ibunya ada.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2