
Zea menatap sekeliling ruangan yang sudah cukup lama ia tinggalkan itu, rasanya baru kemarin ia melihat Miska yang memakai tempat tidur itu,
Nyatanya masih sakit ...., berkali-kali Zea mencoba untuk melupakan kejadian kemarin, saat wanita itu dengan terang-terangan mengusirnya dari rumahnya sendiri, mengambil suaminya.
"Sayang!" panggilan lembut disertai dengan usapan lembut di kepalanya membuatnya tersadar,
"Jika tidak mudah, katakan saja. Aku tahu gimana rasanya!"
Dan nyatanya apa yang di katakan Rangga benar, hatinya tidak setegar itu, melihat tubuh Zea yang mulai bergetar Rangga pun segera menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.
Tok tok tok
Zea segera melepaskan diri dari pelukan Rangga dan menghapus air matanya. Ia ikut melihat ke sumber suara, ternyata ajudan papanya masih di sana.
"Tuan, maaf menggangu!"
"Tidak pa pa, ada apa?"
"Karyawan furniture ada di depan."
"Oh, mereka sudah datang. Bagus, suruh mereka masuk dan mengganti semuanya!"
"Baik tuan!"
Setelah ajudan tuan Seno pergi, Zea menatap Rangga,
"Jadi_?"
"Iya, maaf ya. Seharusnya aku melakukannya dari kemarin!"
"Tapi kamu setuju untuk tidak menggantinya kan?"
"Uangku tidak lebih penting dari air matamu!"
Akhirnya rangga pun meminta Zea untuk keluar selagi orang-orang dari furniture mengganti semua perabot yang ada di dalam.
Saat Zea kembali masuk, semuanya sudah berubah. Bahkan Rangga juga meminta orang untuk mengganti gorden dan tata letak perabotan hingga menghilangkan kesan lama.
"Gimana, kamu suka yang ini?"
"Iya, tapi_!"
"Kamu segalanya, tidak peduli seberapa banyak uang yang harus aku korbankan untuk kebahagiaanmu, aku rela!"
"Kamu baik sekali!"
"Tapi aku mau menagihnya sekarang!"
"Apa?" Zea memang melupakan sesuatu, janjinya pada Rangga.
Rangga mencubit hidung Zea hingga membuat Zea meringis, "Jangan pura-pura lupa ya!"
"Aku serius, hidungku jadi merah kan!?" keluh Zea sambil mengusap hidungnya yang merah.
"Setelah ini bukan hanya hidungmu yang merah, bahkan seluruh tubuhmu akan merah!"
"Hahhh?" belum sampai Zea selesai dengan rasa penasarannya, ia kembali di kejutkan dengan ulah Rangga.
Rangga langsung meraih tubuh Zea, menggendongnya dan menurunkannya di atas tempat tidur, Rangga berada di atas tubuh Zea dengan bertumpu pada kedua tangannya agar tidak menindih tubuh Zea.
Rangga mendekatkan bibirnya, tapi dengan cepat Zea menghindar setelah ingat sesuatu.
"Ga!"
__ADS_1
"Sekarang apa lagi?" tampak wajah Rangga kesal, ia sudah benar-benar tidak sabar.
"Orang-orang _!" Zea teringat dengan orang-orang yang ada di rumahnya, bukankah masih ada ajudan papanya, sopir sekaligus bodyguard nya dan para karyawan furniture itu.
"Aku sudah memintanya pergi,"
Sejak kapan? bahkan Zea tidak menyadari jika Rangga sudah menyuruh orang-orang itu meninggalkan apartemennya.
"Jadi bagaimana sekarang?"
Dan Zea pun mengangukkan kepalanya dengan begitu yakin, hal itu membuat Rangga tersenyum penuh kemenangan dengan bibir yang tidak bisa di kondisikan, tangannya juga sudah mulai bergerilya, membuka satu per satu kancing baju Zea.
Tapi saat baju itu hampir saja lepas, Zea kembali menahan tangan Rangga lagi membuat Rangga menghentikan kegiaatannya.
"Ga!" Rangga mengerutkan keningnya, ia menghela nafas dalam menunggu alasan Zea lagi.
"Apa lagi?"
Zea menatap para perut besarnya yang sudah terbuka karena kancing bajunya sudah hampir lepas semuanya.
"Apa kamu yakin ini akan aman?"
Rangga pun ikut menatap perut buncit Zea, seketika Rangga menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur tepat di samping Zea. Seakan dia tidak punya harapan lagi.
"Bagaimana ini?" tanya Rangga dengan begitu frustasi. Ia ingin melakukannya tapi yaang terpenting ia tidak ingin menyakiti bayi dalam kandungan Zea.
"Aku juga tidak tahu, aku kan belum pernah melakukannya!" ucap Zea pasrah. "Kalau masih trimester pertama, dokter mengatakan tidak boleh dulu, tapi kalau sekarang aku tidak tahu."
Kemudian sepertinya Rangga mendapat ide, ia memiringkan tubuhnya dengan tangan kanan yang menyanggah kepalanya,
"Apa aku perlu tanya seseorang?" tanya Rangga dengan begitu antusias.
Zea pun tidak mau kalah, ia juga memiringkan tubuhnya menghadap rangga.
"Pak Div, atau Ersya? Ersya kan juga hamil!"
Ahhhh, membayangkan saja malu ...., Zea langsung memejamkan matanya, memikirkan betapa malunya dia nanti. Pasti pak Div atau Ersya akan menertawakannya.
"Bagaimana? Ya, setuju ya?" lagi-lagi Rangga terus membujuknya.
"Tapi malu, Ga!"
"Biar aku yang tanya!"
"Iya deh!"
Akhirnya setelah mendapatkan persetujuan dari Zea, Rangga pun kembali bangun. Ia mencari ponselnya yang tadi ia letakkan begitu saja, ternyata berada di meja kecil dekat lemari.
Rangga berjalan cepat menghampiri zea kembali, ia melakukan panggilan pada sahabatnya itu dan sengaja ia loundspeaker agar Zea juga bisa mendengarkannya.
Hanya sekali panggilan dan telpon langsung tersambung,
"Hallo Ga, udah sembuh Lo? tumben telpon, ada apa?"
"Iya, sebenarnya ada sedikit masalah!"
"Biasanya masalah Lo banyak, ngapain sekarang cuma sedikit!"
"Gue serius, Sya!"
"Gue juga serius, Lo kira gue becanda apa!?"
chhhkkk, Rangga hanya bisa berdecak. Tidak ada hari tanpa debat kalau berhadapan dengan Ersya membuatnya harus ekstra sabar.
__ADS_1
"Baiklah, gue nyerah. Okey! Bisa gue mulai sekarang kan ceritanya?"
"Iya, silahkan tuan Rangga!"
"Lo tahu kan kalau gue sama Zea sekarang sudah_!"
"Tahu!" Ersya dengan cepat memotong ucapan Rangga.
"Tahu apa?"
"Lo sama Zea udah baikan, Lo sudah inget kan sama Zea, inget waktu itu, gue gedek sama Lo, pengen gue jedotin aja pala Lo ke tembok!"
"Lo mau bantu atau ngatain sih?"
"Iya, sabar bapak. Trus apa lagi sekarang masalahnya?"
"Zea hamil, perutnya besar. Tapi Lo tahu sendiri kan, gue dan Zea sudah lama tidak_, tidak_!"
"Tidak apa?"
"Tidak melakukan itu, tapi apa menurutmu aman jika aku melakukan sekarang?"
Ha ha ha
Malah terdengar tawa lepas di seberang sana membuat wajah Zea semakin memerah karena malu.
"Isssttt, sudah ketawanya?" Rangga sengaja menunggu hingga Ersya selesai tertawa, kali ini ia benar-benar butuh penjelasan Ersya kalau tidak mungkin ia sudah mematikan sambungan telponnya dari tadi.
"Okey, okey, jadi ceritanya sudah ngebet banget nih. Baiklah, sebagai teman yang baik gue bakal kasih tips aman berhubungan suami istri, pertama boleh_!"
"Jadi boleh?" Rangga dengan cepat memotong ucapan Ersya.
"Tunggu dulu, bapak!"
"Baiklah gue dengerin!"
"Tapi tetep kira-kira, cari posisi yang aman buat janin, maksudnya jangan sampai menindihnya okey. Dan lagi, jangan langsung di gas ya, takutnya kaget!"
Belum sampai seberang sana selesai bicara, rangga dengan cepat mematikan sambungan telponnya.
"Kok di matiin?"
"Kamu mau dengerin dia ceramah?"
Zea menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Jadi bagaimana? sudah siap sekarang?"
"Hmmm!" Zea mengangukkan kepalanya cepat!" dan secepat itu juga Rangga menyambar tubuh Zea.
Mereka benar-benar seperti pengantin baru, rasa rindunya terlupa begitu sempurna di malam itu.
******* nafas senada dengan peluh yang saling bercucuran di antara mereka, seakan seisi ruangan menjadi saksi betapa mereka saling merindu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1