
"Makan dulu ya!"
Wilson sudah menghabiskan lebih dulu minumannya dan membuang botol plastik itu ke dalam tempat sampah yang ada di samping mobilnya.
"Tumben baik!"
"Ya sudah deh nggak jadi!"
"Ya jangan dong!"
Wilson berjalan lebih dulu meninggalkan Tisya menuju ke sebuah food court yang tidak jauh dari supermarket itu.
"Kebiasaan ....!" gerutu Tisya sambil mengejar Wilson yang langkahnya dua kali lebih lebar dari langkah Tisya.
Suasana food court saat itu terlihat lebih ramai dari biasanya, Wilson harus mengedarkan pandangannya mencari tempat kosong.
Akhirnya matanya menemukan tempat kosong yang ada di sudut. Wilson pun segera menarik tangan Tisya,
"Wow ....!" Tisya begitu terkejut, mereka harus melewati beberapa meja yang sudah di penuhi oleh pengunjung.
Bug
Seseorang tiba-tiba menabrak bahu Tisya hingga membuat tangannya terlepas dari tangan Wilson.
"Wilson!" teriak nya, Wilson pun segera menoleh padanya.
Tapi seseorang yanga sangat di kenal oleh Tisya berdiri di depannya. Sungguh pertemuan yang tidak terduga.
"Tisya!"
Pekik Pria itu, seperti nya dia juga tidak menyangka akan bertemu dengan Tisya di tempat itu.
"Mas Rizal!"
Wilson masih berdiri di belakang pria yang pernah menjadi tunangan wanita yang kini menjadi istrinya itu.
"Tisya, kamu di sini? Sama siapa?" tanya Rizal, tampak wajahnya begitu senang bertemu dengan Tisya lagi setelah sekian lama setelah mereka memutuskan untuk membatalkan pertunangan.
"Aku_!" Tisya menatap Wilson yang berada tepat di belakang Rizal.
"Kalau kamu sendiri, kita bisa bicara sebentar, ayo ...!"
Rizal hendak menarik tangan Tisya tapi segera di tepis dari belakangnya.
Wilson segera menerobos tubuh Rizal dan berdiri di samping Tisya membuat Tisya mendongak mencoba menggapai wajah Wilson.
Ia ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh pria di sampingnya itu.
"Tisya bersamaku!" ucap Wilson.
Rizal tampak terkejut, ia tidak begitu mengenali pria yang berada di samping Tisya.
Tapi setelah di ingat-ingat lagi, mereka di sadari atau tidak sudah beberapa kali bertemu.
"Kamu_, kalau tidak salah kamu itu bukannya yang selalu bersama Felic?"
"Iya, kenalkan saya Wilson!" ucap Wilson sambil mengulurkan tangannya tapi Rizal tidak juga menyambut tangannya.
Wilson pun menarik kembali tangannya dan melingkarkan tangannya itu di pinggang Tisya.
Pandangan Rizal secara otomatis mengarah ke tangan Wilson yang sudah melingkar sempurna di pinggang Tisya.
"Saya adalah suami Tisya!"
"Suami?"
Rizal begitu terkejut mendengar pengakuan dari Wilson. Secepat itu padahal mereka baru memutuskan pertunangan mereka dua bulan yang lalu.
Sepertinya karma itu memang berlaku, ia meninggalkan istrinya untuk wanita lain dan sekarang wanita lain itu menikah dengan orang lain.
"Jadi jangan mengganggu Tisya lagi karena setelah itu anda akan berhubungan dengan saya!"
__ADS_1
Wilson pun segera mengajak Tisya meninggalkan Rizal, mereka melewati Rizal begitu saja dan mencari tempat duduk yang kosong.
Rizal memilih untuk pergi dari tempat itu.
Wilson memanggil pelayang untuk memesan makanan.
Tisya masih terdiam, ia cukup terkejut dengan pertemuan yang tidak terduga itu.
Mereka sudah berhubungan selama dua tahun dan ternyata ia harus menikah dengan orang lain.
Tisya memang tipe penyuka pria kaya dan keren, tapi ia juga kalau sudah cinta sama satu pria akan berusaha keras untuk mempertahankannya, tidak peduli jika itu suami orang, itu kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan.
"Masih sakit ketemu dia?"
Pertanyaan tiba-tiba dari Wilson berhasil membuat Tisya mengalihkan perhatiannya dari menatap minuman dingin miliknya.
"Jangan meledek!"
Tisya cukup kesal karena hatinya sedang tidak baik-baik saja tapi pria di depannya malah meledek.
"Bukan meledek, tapi sayang saja, wanita sepertimu pernah menjadi orang ke tiga dalam rumah tangga orang lain, cukup kejam!"
"Itu bukan salahku ya, aku tidak pernah meminta jadi orang ke tiga, memangnya apa salahnya jika aku cinta sama seseorang!"
"Yang salah bukan cintanya, tapi waktunya yang salah! Kamu tahu kalau pria itu punya istri dan kau melanjutkan untuk merebutnya, itu yang salah!"
Hehhhhhhh
Tisya menghela nafas, ia tetap merasa tidak salah. Tapi ia juga menyesal.
"Kalau dia minta kembali, apa itu berarti kau masih mau kembali dengan pria itu?"
"Mungkin!"
"Segitu cintanya sama pria yang tidak punya pendirian itu!"
"Mau bagaimana lagi!"
Wilson enggan melanjutkan percakapannya. Ia memilih untuk segera menyantap makanannya karena ia sudah sangat lapar. Hanya saja rasanya aneh saat seseorang yang sudah berstatus sebagai istrinya masih mencintai pria lain.
Setelah menyelesaikan makannya mereka kembali ke mobil. Tidak ada lagi percakapan antara mereka.
Sepertinya Tisya masih sibuk memikirkan pertemuannya dengan pria tadi.
"Ambil ini!" ucap Wilson tiba-tiba sambil menyerahkan sebuah kartu yang tadi sempat ia gunakan untuk belanja.
Tisya mengerutkan keningnya, matanya tiba-tiba berbinar. Barus saja hatinya melow karena bertemu mantan tapi saat melihat kartu ATM itu, matanya jadi berkilau kembali.
"Ini buatku?"
Wilson segera menarik kembali kartu itu.
"Bukan untuk mu, tapi untuk kita! Kartu ini nafkah lahir, jadi aku akan mengisi kartu ini tujuh juta per bulan, pergunakan dengan baik, jangan boros!"
Belum sampai Wilson menyelesaikan ucapannya, Tisya dengan cepat merebut kartu itu dan menciumnya dengan kegirangan.
Ini lebih dari gaji ku satu bulan .....,
"Aku tahu!"
"Issstttttt, dasar!"
Wilson pun segera menghidupkan mesin mobilnya.
Setelah melakukan perjalanan selama lima belas menit akhirnya mereka sampai juga di rumah.
Rumah masih terlihat gelap karena lampunya belum ada yang di nyalakan.
"Kenapa mengekor padaku, buka pintunya dan aku akan membawa belanjaannya!"
Tanya Wilson pada Tisya yang terus mengikutinya.
__ADS_1
"Nggak mau, di sana gelap!"
"Hehhh, penakut sekali!"
"Ayolah, temani aku dulu!"
Wilson pun terpaksa menemani Tisya membuka pintu. Tisya terus menarik jas Wilson.
"Lepaskan, aku sulit bergerak!" keluh Wilson karena Tisya terus menarik jas nya hingga ia sulit untuk berjalan.
"aku takut, cepat cari saklar nya!"
"Berisik!"
Wilson meraba dinding tempat di mana saklar nya berada.
"Cepetan!"
Tisya terus memejamkan matanya, ia benar-benar takut dengan kegelapan.
"Kalau takut peluk aja!"
Srekkkkk
Tanpa pikir panjang, Tisya pun segera memeluk tubuh Wilson. Hal itu malah membuat Wilson terdiam tangannya sudah tepat di atas saklar itu tapi ia urungkan untuk menekannya,
Ia malah tertarik untuk menatap wajah cantik Tisya yang ketakutan itu.
Kenapa dia cantik sekali ....
Samar-samar terlihat karena ada cahaya yang masuk melalui celah-celah gorden, wajah ketakutan Tisya dengan beberapa anak rambut yang menutupinya.
"Masih belum ketemu ya?"
Pertanyaan Tisya membuyarkan lamunan Wilson, tangannya segera menekan tombol itu.
Rumah itu menjadi terang, saat lampu satu persatu mulai menyala, tapi mata Wilson masih belum beralih menatap wajah Tisya.
Perlahan Tisya mendongakkan kepalanya menatap ke arah Wilson.
"Sudah, bisakah lepaskan tanganmu!"
Wilson tersadar jika tangannya masih melingkar di pinggang Tisya, Wilson pun segera menarik tangannya.
"Akhirnya, terang juga! Aku mandi dulu ya!"
Tisya hendak meninggalkan Wilson tapi lagi-lagi Wilson menahan kerah kemeja belakangnya membuat Tisya sedikit berjinjit
"Ada apa sih? Lepasin!"
"Enak banget mau mandi, belanjaannya masih di luar!"
"Tapi aku capek!" rengek Tisya.
"Nggak ada, ayo bantu aku! atau kamu mau di hantui sama penunggu rumah ini?"
Wilson segera meninggalkan Tisya yang masih bergidik ngeri, ia sudah membayangkan yang tidak-tidak.
"Willll, aku ikut ...!"
Tisya pun segera berlari menyusul Wilson yang sudah ada di luar rumah hendak mengeluarkan barang-barang belanjaannya.
Wilson tersenyum tipis melihat wajah ketakutan Tisya, ada hal baru yang ia tahu sekarang jika istrinya itu begitu takut dengan kegelapan.
Bersambung
...Kita memang tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta, tapi kita bisa memilih untuk tidak berdiri di atas luka orang lain...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰