
Miska begitu kesal karena segara cara sudah ia lakukan untuk memisahkan Rangga dengan Zea gagal.
Tangannya mengepal gelas yang masih berisi setengah minuman. Entah itu sudah gelas yang ke berapa hingga seseorang menahan tangannya.
"Mau sampai kapan begini?"
Miska menatap seseorang yang tengah bicara padanya, ia tersenyum smirt,
"Hehhh, kita sama kan?!"
Pria itu segera duduk di samping Miska,
"Begitukah menurutmu?"
Dia adalah Rizal, "Setidaknya aku masih berpikir waras, tidak seperti kamu!"
"Karena kamu tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku!"
Ha ha ha ....
"Kamu jangan terlalu naif, aku tahu kamu hanya ingin menguasai Rangga bukan untuk mencintainya. Kamu hanya membutuhkan menjadi pemenang untuk itu!"
Miska terdiam, apa yang di katakan oleh Rizal tidak sepenuhnya salah. Walaupun dia juga menyukai Rangga tapi ia tidak bisa memungkiri jika ia masih menyukai pria yang masih dan memanjakannya.
"Tapi aku tidak akan membiarkan perempuan itu menang, Miska tidak akan pernah kalah dari siapapun!"
"Jangan khawatir, aku punya rencana untuk itu!" ucap Rizal sambil tersenyum dan meneguk minuman yang ada di tangan Miska, "Bagaimana kalau kita bersenang-senang saja?"
Miska menatap Rizal dan ternyata tangan pria itu sudah bergerak cepat mengusap bibir Miska dengan tatapan yang menggoda.
Jelas Rizal yang tidak bisa mengabaikan wanita cantik nan seksi di depannya, jiwa kelelakiannya tiba-tiba kembali muncul.
Miska yang juga sedang menginginkan sentuhan dari seorang pria pun akhirnya setuju.
"Kita ke apartemen aku!" ajak Miska.
"Baiklah, siapa takut!"
Mereka pun segara meninggalkan klub dan menuju ke apartemen Miska. Mereka menghabiskan malam di sana.
...***...
Suara bel menggema di seluruh ruangan, Miska yang masih berada di balik selimut tanpa busana sehelai pun segera membuka matanya karena merasa perutnya begitu berat karena tangan seseorang.
"Pusing sekali, siapa sih yang pagi-pagi sudah bertamu?" Miska memegangi kepalanya yang masih sangat pusing.
Ia melihat ke sampingnya, temannya semalam masih tertidur pulas seakan suara bel tidak menggangu tidurnya.
Miska segera mengambil baju tidur seadanya dan berjalan menghampiri pintu sebelum bel nya meledak karena terus di pencet.
"Siapa sih datang pagi-pagi?" gerutunya sambil membuka pintu dan ternyata seorang wanita paruh baya sedang berdiri menatap Miska dengan tatapan kesal, wanita itu menyilangkan kedua tangannya di atas perut.
Mama!!! Ngapain mama ke sini? Di dalam ada Rizal lagi, Miska seketika pucat pasi. Ia harus memiliki cara untuk meminta mamanya pergi dari apartemennya.
"Mama!"
__ADS_1
"Nyenyak tidurmu?"
"Mama, kenapa ke sini?"
Wanita yang di panggil mama oleh Miska itu segera menerobos masuk ke dalam apartemen Miska.
"Ma, ma, tunggu! Lebih baik kita bicara di tempat lain aja!"
"Kenapa kamu menyembunyikan apa di sini? Bau alkohol lagi!" wanita itu menutup hidungnya saat menyadari anaknya bai alkohol.
"Kamu tahu, papa marah sama mama gara-gara kamu menghilangkan beberapa lembar berkas yang seharusnya sudah di tanda tangani pihak Divtagroup! Dan kamu malah enak-enakan di sini!" Mama Miska tetap saja berjalan hingga sampailah di depan pintu kamar. Miska dengan cepat menghadang di depan pintu.
"Ma, ma, jangan masuk ke kamar, please jangan masuk!?"
Mama Miska malah semakin curiga, "Kamu menyembunyikan sesuatu dari mama?"
"Bukan hal yang serius ma!"
"Ya udah sekarang biarkan mama masuk!"
"Jangan ma!"
"Ada apa sih?"
Mama Miska langsung mendorong tubuhmisk agar minggir dan tangan mamanya dengan cepat menarik handle pintu.
"Astaga Miska!"
Mama Miska kembali menutup pintunya,
"Temen Miska ma, maaf!"
"Kamu keterlaluan, cepat suruh temen kamu buat keluar! Mama tunggu di sana!"
Mama Miska memilih untuk duduk di sofa sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Miska pun kembali masuk ke dalam kamar dan meminta rizal bangun.
Tidur apa mati sih, sudah tahu ribut begitu di luar masih bisa-bisanya dia tidur nyenyak .....
"Bangun, cepetan bangun!"
"Ada apa honey, kenapa membangunkanku pagi-pagi?" Rizal masih merasa malas untuk bangun.
"Sudah jangan banyak bicara, cepetan bangun dan pergi dari sini. Di luar ada mamaku!"
"Mama kamu?" Rizal dengan cepat terduduk, matanya langsung terbuka lebar.
"Iya, cepetan! Jangan sampai mama marah!"
"Baiklah, aku pakai pakaianku dulu."
"Cepetan!"
Selang beberapa menit mereka pun keluar.
__ADS_1
"Aku pergi dulu ya, kabari aku kalau ada masalah!"
Adanya kamu di sini sudah jadi masalah ...., Miska hanya tersenyum getir dan membiarkan Rizal pergi tanpa berpamitan dulu dengan mamanya.
Setelah Rizal pergi, Miska segera menghampiri sang mama.
"Di mana dia?"
"Sudah aku suruh pergi, ma!"
"Nggak sopan sekali dia, kayak gitu apa yang mau di banggakan! Dan kamu malah tidur dengan laki-laki seperti dia, jangan sampai_!"
"Sudah lah ma jangan bahas dia, nggak penting juga. Lagian kami cuma main-main!" Miska dengan cepat memotong ucapan mamanya.
"Mama cuma nggak mau Miska, apa yang terjadi sama mama terjadi juga sama kamu. Beruntung papa berbaik hati sama mama! Kamu tahu kan untuk hal ini mama sudah melakukan banyak hal agar kamu tetap di anggap sebagai anak kandung papa kamu, jangan sampai apa yang mama usahakan berakhir dengan sia-sia!"
"Cukup ma, Miska nggak suka kalau mama terus bicara seperti itu. Miska adalah anak kandung papa, titik!"
"Miska, mulai saat ini kamu harus bisa jaga sikap. Kamu tahu, beberapa bulan ini papa kamu tengah mencari anak kandungnya. Jangan sampai apa yang kamu lakukan bisa membuat papa berubah setelah menemukan anak kandungnya!"
"Aku tidak akan membiarkan papa menemukan anak itu, kalau sudah hilang ya sudah hilang saja!"
...***...
Sebuah mobil tengah berhenti di depan sebuah apartemen. Pria muda itu berjalan mendekati mobil yang tengah terparkir itu dan di dalamnya sudah ada seseorang yang menunggunya.
"Masuklah!"
Pria itu segera duduk di samping sopir yang duduk di depan.
"Bagaimana?"
"Sepertinya agak sulit tuan untuk menemui nona Zea, ada penjagaan khusus di apartemen itu untuk nona Zea!"
"Siapa yang ada di belakangnya?"
"Seseorang kepercayaan dari tuan Divta!"
"Kalau tidak salah dia sudah bertemu dengan gadis yang bernama Anha, kita bisa meminta bantuan gadis itu!"
"Baik tuan, saya akan menghubungi nona Anha!"
Siapa yang berada di balik gadis itu? Divta? Atau mungkin Rangga?
Tuan Seno tanpa mengingat bagaimana wajah Zea kembali, ia memang seperti sudah pernah melihat gadis itu.
Tapi di mana?
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...