Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (67. Mengusir Zea)


__ADS_3

"Tante, apa tidak sebaiknya sekarang Pumpung Rangga belum pulang, kita minta wanita itu keluar dari apartemen Rangga, Miska cuma takut nanti jika Rangga ngelihat Zea di sana ia jadi keinget sama dia!"


"Kamu benar juga!"


"Ya udah kalau begitu Miska anter Tante, tapi jangan sampai om tahu!"


"Iya!"


Mama Rangga pun segera berpamitan pada suaminya,


"Pa, aku keluar bentar sama Miska ya, kamu jangan kemana-mana, jangan tinggalin Rangga!"


"Mama mau ke mana?"


"Mama mau belanja keperluan Rangga!"


Papa Rangga tidak curiga, ia pun mengijinkan istrinya untuk pergi.


"Baiklah, jangan lama!"


"Iya pa!"


Mama Rangga dan Miska pun bergegas pergi sebelum pak Beni curiga.


"Kamu bawa mobil kan?"


"Iya Tante, bentar aku ambil mobilnya dulu!"


...***...


"Ibuk lagi nyariin apa di surat kabar itu?"


"Aku harus cari kerja kan bi, nggak mungkin aku nganggur terus lagi pula tabungan aku udah nipis banget! Zea takut nggak bisa gaji bibi!"


"Ya Allah buk, jangan pikirin bibi. Bibi nggak pa pa, bibi bisa cari sampingan selain temenin ibuk!"


"Ya nggak bisa bi, keluarga bibi di kampung pasti lagi nungguin kiriman dari bibi!"


"Mereka bisa mengerti kok buk!"


"Enggak, pokoknya Zea harus kerja. Bibi bantuin cari kerjaan di toko atau cleaning servis ya bi, soalnya ijasah aku cuma bisa buat itu!"


"Iya buk!"


Mereka terlihat sibuk memilah-milah surat kabar yang ada lowongan pekerjaannya dan memberi tanda.


Selain dari surat kabar, Zea juga sudah mengirimkan CV nya ke layanan pekerjaan yang ada di internet.


Ting Ting Ting tong


Suara bel di pencet dengan tidak sabar menghentikan kegiatan mereka.


"Ya Allah siapa sih yang nggak sabaran begitu?!" keluh Zea.


"Biar bibi yang buka buk!"


"Makasih ya bi!"


Zea pun segera membereskan surat kabar itu, melipatnya kembali hingga rapi.


Bibi yang sudah berada di depan pintu segera membukanya.


"Nyonya!"


"Mana wanita itu?" Mama rangga dan Miska langsung menerobos tubuh bibi.

__ADS_1


"Nyonya mau apa lagi?"


Mendengar keributan itu, Zea pun langsung menghampiri,


"Mama!"


"Miska!"


"Enak banget ya kamu tinggal di sini, nikmati semua fasilitas yang Rangga miliki!"


"Maksud mama apa?"


"Maksud saya, kamu harus pergi dari sini!"


"Tapi kenapa?"


"Apartemen ini akan di tinggali Rangga dan Miska, dalam waktu dekat mereka akan menikah!"


"Ma, mama jangan berbuat tidak adil sama Rangga seperti itu. Jangan lakukan apapun selama Rangga belum mengingatnya. Jika nanti Rangga ingat dan memilih Miska, Zea iklas ma, tapi jangan lakukan apapun yang tidak di sadari oleh Rangga!"


"Apa hak kamu melarang-larang saya, sekarang juga angkat kaki dari sini dan bawa semua barang-barang kamu. Aku nggak mau sampai ada barang kamu yang tertinggal di sini!"


"Tapi ma!"


"Cepat atau aku akan mengusir paksa kamu dari sini tanpa membawa apapun!"


Zea pasrah, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi,


"Bantu Zea bi!"


Zea pun kembali masuk ke dalam kamar, ia mengambil semua bajunya dan memasukkan ke dalam tas. Tidak lupa ia juga membawa serta berkas-berkas yang sudah di siapkan Rangga waktu itu.


"Ibuk, ibuk mau pergi ke mana?"


"Aku tidak pa pa, tetaplah di sini dan jaga Rangga!"


"Bi, aku tidak akan bisa menggaji bibi, bahkan untuk tinggal aja aku nggak ada, kalau bibi ikut bibi akan tinggal di mana?"


"Kita cari kontrakan sama-sama, nanti kita cari kerjaan sama-sama juga!"


Bibi pun langsung pergi dan mengemasi barang-barangnya, ia juga menghubungi papa Rangga dan mengatakan kekacauan yang terjadi di rumah ini.


"Mama jadi bohong sama aku!?" rahang pak Beni mengeras, ia sampai mengepalkan tangannya.


"Pa, ada apa? Apa ada masalah?" tanya Rangga yang heran dengan tingkah papanya.


"Ga, kamu nggak pa pa kan di sini sendiri, papa ada urusan sebentar!"


"Iya pa, tapi ada masalah apa?"


"Mama kamu bikin ulah lagi, papa pergi dulu!"


Papa Rangga segera keluar dari ruangan Rangga dan kembali menghubungi bibi.


"Iya tuan!"


"Sebisa mungkin tahan dia jangan sampai pergi jauh. Saya akan menyusul kalian!"


"Baik tuan!"


Zea sudah selesai mengemas barang-barangnya dan keluar dari kamar. Walaupun berat tapi ia harus pergi, ia harus menghindari orang-orang seperti mereka.


Tidak lupa Zea mengambil fotonya yang ada di samping meja tv, foto masa kecilnya dan juga foto pernikahan mereka.


"Aku pergi ma, titip Rangga!"

__ADS_1


"Lebih cepat kamu pergi akan lebih baik!"


Awalnya mama Rangga dan Miska kesulitan untuk masuk ke dalam apartemennya tapi kemudian ia menghubungi Rangga dan mengatakan ingin mengambil sesuatu di apartemen Rangga, ia pun meminta Rangga untuk bicara pada penjaga agar di perbolehkan masuk.


Saat menelpon Rangga, papa Rangga tengah keluar sebentar jadi dia tidak tahu jika istrinya telah sampai di apartemen.


Zea pun akhirnya benar-benar meninggalkan apartemen, bibi mengikutinya di belakang.


Mereka berjalan menyusuri trotoar, tidak tahu kemana harus pergi.


Bibi terus mengirimkan pesan pada papa Rangga, menginformasikan tentang lokasi mereka.


Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah halte,


"Kita istirahat dulu buk, ibuk pasti capek!"


"Iya bi!"


Mereka pun duduk di halte, Zea terlihat mulai menghapus keringatnya,


"Minum dulu buk!" bibi menyerahkan sebotol minuman yang ia bawa dari apartemen.


"Terimakasih ya Bi!"


Zea segera meneguk minumannya, tenggorokannya yang kering sedikit terobati,


"Bibi pergilah, atau kembali ke apartemen! Pasti akan sulit ikut sama Zea!"


" Sesulit apapun itu, bibi rela!"


"Zea nggak tahu kebaikan apa yang udah Rangga perbuat hingga tercipta orang-orang seperti bibi!?"


"Saya sudah kerja sama tuan dan nyonya sejak sepuluh tahun yang lalu, saat itu bapak masih kuliah tapi di sela kuliahnya ia masih bisa menabung, dan tabungan itu tidak untuk dirinya sendiri. Ia selalu menanyai bibi, bagaimana anak-anak bibi, apa sekolahnya lancar? Setiap bibi pamit buat nengokin keluarga, bapak yang selalu ngasih bibi uang saku lebih katanya buat jajan anak-anak. Tapi ternyata uang itu tidak hanya cukup buat jajan anak-anak bibi, uang itu cukup untuk membayar sekolah anak-anak bibi!"


Zea baru tahu jika ada kebaikan Rangga yang selama ini tidak ia ketahui,


"Sampai sekarang pun bapak juga masih menyisihkan sebagian uangnya, ia selalu menitipkan pada bibi untuk bibi salurkan ke orang-orang yang benar-benar membutuhkan!"


"Padahal bibi sudah lama pulang kampung, tapi kemarin pas bapak udah nikah, bapak masih nyari bibi buat jagain ibuk, ini amanat bapak buat bibi. Bibi yakin memang ini yang bapak mau dari bibi!"


Cerita dari bibi pun berakhir saat sebuah taksi berhenti di depan mereka, Zea langsung mengenali siapa yang keluar dari taksi itu.


"Papa!"


"Ayo ikut papa!"


"Kemana pa?"


"Masukkan barang-barang Zea bi!"


Pak Beni tidak menjawab pertanyaan Zea, ia malah meminta bibi untuk memasukkan barang-barang mereka.


"Masuklah!"


Zea pun akhirnya masuk, bibi juga. Pak Beni memilih duduk di depan di samping sopir.


Taksi pun mulai melaju meninggalkan halte, Zea hanya bisa menerka-nerka kemana papa mertuanya itu akan membawa dirinya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2