
Dokter Frans meminta sopir untuk menjemput kedua orang tua Felic, ia sengaja tidak memberitahu sejak semalam agar mereka tidak panik.
Kini kedua orang tuanya sudah sampai, mereka segera menemui putrinya itu.
"Fe ....!"
"Ayah ...., ibu ....!"
Kedua orang tuan Felic begitu bersemangat melihat cucu keduanya itu.
"Ya Allah yah ...., anak ini lucu sekali!" ucap ibu Felic.
"Iya, lebih mirip sama siapa ya bu?"
"Kayaknya mirip ke bapak nya yah ....!"
Hehhhh, Felic mendengus kesal karena kedua orang tuanya mengabaikannya.
"Ayah sama ibu nggak tanya nih gimana keadaan Felic?"
Ibu Felic menoleh padanya, "Ibu sudah tahu rasanya, ibu sudah sua kali!" ucapnya dengan enteng.
"Ayah sama ibu nggak nanya nih, yakin? Di mana Felic lahirannya!" ucap Felic yang tidak sabar ingin membagi pengalaman luar biasanya.
"Ya pasti di rumah sakit lah Fe, ayah juga tahu itu Fe, wong suamimu pemilik rumah sakit sebesar ini, nggak mungkin di klinik!"
"Ayah salah ....!" ucap dokter Frans yang tiba-tiba datang membuat kedua mertuanya menoleh padanya.
Dokter Frans segera menghampiri dan mencium tangan kedua mertuanya.
"Dimana?"
"Si baby keluarnya di restauran!"
"Hahhhh?"
"Hahhh?"
Kedua mertuanya itu begitu terkejut lalu menoleh pada Felic bersamaan.
"Kok bisa sih?"
"Panjang yah ceritanya!"
Akhirnya Felic pun menceritakan semuanya yang terjadi pada kedua orang tuanya.
"Wah yah gawat nih!" ucap ibu Felic.
"Kenapa?"
"Kayaknya cucu kita bakal pecicilan kayak menantu!" ucap ibu Felic tanpa berani menatap dokter Frans, dokter Frans yang di maksud hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Felic hanya tersenyum melihat bagaimana suaminya itu salah tingkah di depan mertuanya.
"Permisi ....!" suara seseorang membuat mereka menoleh ke arah pintu, ada Rendi, Agra, Ara dan Nadin di sana.
"Kalian! Masuklah ....!" ucap dokter Frans.
Mereka pun masuk dan menghampiri Felic, memberi selamat pada Felic dan dokter Frans.
Ayah Dul, dia segera menjauh saat tahu jika salah satu dari mereka adalah bos besar di kompleks tempatnya bekerja.
"Pak Dul, di sini saja nggak pa pa!" ucap Rendi.
"Nggak pa pa, saya sudah dari tadi, biar saya duduk di sofa!"
Ternyata bukannya mengindahkan ucapan ayah Dul, Rendi dan Agra malah menyusul atau Dul duduk di sofa membiarkan para wanita itu saling mengobrol dan para laki-laki pun melakukan hal yang sama.
Dokter Frans juga ikut bersama mereka.
"Frans ...., kamu serius punya adik perempuan?" tanya Agra, sepertinya Rendi sudah bercerita pada Agra.
__ADS_1
"Hmmm!"
"Serius? Sejak kapan?"
"Ya sejak aku menemukannya! Ingat kan anak perempuan yang sudah di buang oleh tuan Bactiar?"
"Yang sempat buat masalah sama istri kamu?"
"Iya! Dia ternyata adik kandungku!"
"Serius?"
"Serius!"
"Berarti dia sepupuku dong?" tanya Agra lagi dan dokter Frans menganggukkan kepalanya, "Pantas saja!"
"Kenapa?"
"Mirip sih sama kamu!"
Mereka di rumah sakit hanya sampai sebelum jam makan siang karena Nadin tidak mungkin meninggalkan bayinya terlalu lama, sedangkan Ara harus menjemput Sanaya di sekolah.
"Tunggu!" dokter Frans menghentikan langkah Rendi di lobby rumah sakit.
"Kamu duluan ke mobil, biar aku bicara dulu sama Frans!"
"Iya mas!"
Setelah Nadin meninggalkan mereka, dokter Frans pun mendekat.
"Bagaimana dengan pria itu?"
"Tenang saja, sebelum aku bawa ke kantor polisi dia sudah aku kasih pelajaran!"
"Bagus! Gue suka kerja lo!"
"Nggak gratis!"
Rendi hanya mencebirkan bibirnya, "Bagaimana asisten dan adikmu?"
"Mereka sudah baik-baik saja, mungkin hanya sedikit trauma saja yang perlu di sembuhkan karena ini tidak mudah baginya!"
"Ya kau benar, ya sudah aku duluan ya!"
Rendi pun meninggalkan dokter Frans. Sebelum dokter Frans kembali ke dalam langkahnya kembali terhenti karena dari arah lain terlihat dua orang yang yang baru beberapa bulan ini menikah berjalan menghampirinya.
"Bang Div!"
"Hai bapak baru, gimana kabarnya nih?"
"Baik bang, abang sama Ersya gimana? Udah ada calon adiknya Iyya belum?"
"Kamu tuh ada-ada aja, ayo antar kami ke kamar istri kamu!"
"Ayo-ayo ...., kebetulan di sama ada mertua aku juga!"
"Bagus dong!"
Mereka terus mengobrol sambil berjalan menuju ke kamar Felic, sedangkan Ersya hanya terus menjadi pendengar mereka berdua.
Tapi kemudian ia mendengar ada nama Tisya di sebut di sela-sela perbincangan mereka.
Tisya ...., wanita itu ....
Akhirnya mereka sampai juga di ruangan Felic, Ersya dengan cepat memeluk sahabatnya itu.
"Selamat ya Fe ...!"
"Terimakasih Sya!"
Ersya mengedarkan pandangannya, karena seingatnya dokter Frans mengatakan kalau ada orang tua Felic juga tapi ia tidak menemukan siapapun kecuali Felic dan bayi nya.
__ADS_1
"Katanya tante sama om Dul di sini, mana?"
"Ibu ribet banget tadi, tiba-tiba kepikiran buat cari makan siang yang cocok buat gue, padahal mah di rumah sakit juga udah di sediain!"
Ha ha ha ha ....
Ersya tertawa mendengar ucapan Felic, memang orang tua sahabatnya itu sangat unik.
"Di mana Iyya? Dia nggak ikut?" tanya Felic karena tidak melihatnya bersama Ersya dan Div.
"Nggak ikut Fe, sebenarnya di sekolahnya sedang ada camping! jadi Iyya ikut!"
"Ohhhh ....!"
"Siapa namanya nih? Cakep banget!"
"Belum tahu nih belum kepikiran namanya!"
Dokter Frans tiba-tiba menghampiri mereka yang sebelumnya mengobrol bersama Div di sofa.
"Kalian ngobrol dulu ya, aku sama bang Div mau keluar dulu!"
"Iya!"
Setelah hanya tinggal Ersya dan Felic, kini Ersya pun mendekatkan kursinya dan menunjukkan wajah seriusnya.
"Sya, ada apa?"
"Tadi aku mendengar soal Tisya! Memang ada yang belum kamu ceritakan sama aku ya?"
Felic menghela nafas, ia mulai mengumpulkan keberaniannya.
"Sya ..., maafin gue ya!"
"Iya ada apa?"
"Sebenarnya Tisya adalah adik kandung Frans!"
Ersya tampak begitu terkejut, "Maksudnya?"
"Iya Sya, tapi Tisya sudah berubah Sya, dia udah nikah sama Wilson!"
"Jadi yang kamu yang kamu maksud istri Wilson itu Tisya?"
"Iya Sya!"
"Boleh nggak aku ketemu sama dia, aku mau menanyakan sesuatu!"
"Kamu yakin?"
"Lo kenal gue Fe, gue memang keras, bar bar, tapi gue tidak akan menyerang orang yang sedang sakit!"
"Gue percaya sama lo!"
Felic pun akhirnya memberitahu ruangan tempat Tisya di rawat.
(Untuk obrolan Tisya sama Ersya, nanti ya akan aku tulis detailnya di episode nya di jaka rasa duda , jadi jangan tanya di sini, okey😏)
Banyak sekali hal yang ingin di tanyakan oleh wanita yang suaminya telah di rebut oleh Tisya, tapi ternyata tidak ada yang bersama nya.
Bersambung
...Untuk jadi yang terbaik itu butuh yang terjelek, jangan remehkan yang jelek karena tanpa yang jelek, kebaikanmu tidak ada yang mengakuinya...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1