
Zea sudah mulai bisa beraktifitas seperti biasa, tapi bibi tetap setia menemaninya.
"Bi, biar Zea aja yang masak!"
"Jangan dong buk!"
"Nggak pa pa, kalau enggak bibi bisa bantu Zea lipatin baju aja!"
"Baiklah, bibi tinggal ya kalau gitu!"
"Iya bi!"
Zea pun melanjutkan proses memasaknya, semejak tidak ada Rangga zea hanya masak untuk mereka berdua.
Hingga akhirnya ponselnya berdering, Zea dengan cepat mematikan kompornya setelah memastikan masakannya matang.
Zea menghampiri ponselnya yang tergeletak di atas meja makan,
"Papa!?"
Melihat telpon dari papa mertuanya, Zea begitu bahagia. Itu artinya ia bisa melihat Rangga.
"Hallo pa!"
"Hallo nak, ada kabar gembira!"
"Kabar gembira apa pa?"
"Rangga sudah sadarkan diri!"
"Alhamdulillah ....!" sebuah kabar mengatakan kalau Rangga sudah sadarkan diri adalah kabar yang paling di tunggu oleh Zea selama dua Minggu ini.
"Zea sekarang harus apa pa?" Zea malah bingung apa yang akan dia lakukan.
"Kamu ke rumah sakit ya!"
"Mama?"
"Nanti biar papa yang urus mama!"
"Iya pa, Zea akan segera siap-siap!"
Zea segera menutup telponnya, bibirnya tidak pernah berhenti bersyukur.
"Bi ....., bibi ....., kemari bi!"
Zea sampai teriak-teriak seperti orang gila, ia begitu senang sampai tidak bisa menguasai perasaannya.
Bibi yang terkejut segera menghampiri Zea, ia mengira Zea sedang ada masalah.
"Ada apa buk? Ada apa?" bibi datang dengan panik. Tapi Zea malah menarik tangan bibi mengajaknya berputar-putar.
"Buk, ini ada apa sebenarnya?"
"Ayo bi, cepetan siap-siap!"
"Siap-siap buat apa buk?"
"Kita harus segera ke rumah sakit! Rangga sudah sadar bi!"
"Benar buk?" Bibi begitu senang, ia sampai menutup mulutnya yang terbuka.
"Iya!"
"Ya Allah, syukur Alhamdulillah bibi ikut seneng!"
"Ya udah kita ke rumah sakit sekarang aja bi, Zea siap-siap dulu!"
"Iya buk!"
Zea dengan cepat masuk ke kamar, ia memilih baju untuknya.
__ADS_1
"Aku pakek baju apa? Rangga pasti surprize lihat perut aku!"
Zea mengelus perutnya yang sudah semakin buncit,
"Pakek ini saja, Rangga paling suka kalah aku pakek ini!"
Zea pun. langsung mengganti bajunya, menyisir rambutnya dan mengikat satu di belakang. Menambahkan make up tipis agar wajahnya tidak terlihat kusam tidak lupa ia juga menambahkan lipstik tipis biar tidak pucat.
"Ayo bi!"
"Iya buk, bibi ambil tas dulu!"
Mereka pun bergegas ke rumah sakit.
"Buk jangan lari!"
"Aku sudah nggak sabar bi!"
"Tapi kasihan bayinya!"
Zea sampai lupa kalah ia sedang hamil saking pengen cepat ketemu sama Rangga.
Papa dan mama Rangga sedang mondar mandir di depan ruangan Rangga. Pintu ruangan itu masih tertutup rapat.
Melihat kedatangan Zea, mama rangga segera menghampiri Zea dan menarik tangannya,
"Kamu kenapa ke sini? Buat apa?"
"Ma, Zea pengen ketemu sama Rangga ma, Zea mohon ijinkan Zea ketemu sama dia!"
Papa Rangga segera menarik tangan istrinya,
"Mama ini apa-apaan sih, suka sekali bikin keributan di rumah sakit!"
"Pa, mama nggak akan biarin dia menemui Rangga!"
"Zea berhak bertemu dengan Rangga, jadi untuk kali ini saja. Mama jangan keras kepala!"
Pak Beni segera menghampiri Zea,
"Kamu tidak pa pa kan?"
"Tidak pa pa, Pa, gimana keadaan Rangga?"
"Dokter masih memeriksanya, kita berdoa saja semua akan baik-baik saja!"
Hingga akhirnya setelah satu jam, dokter yang memeriksa Rangga pun keluar.
Mereka langsung mendekati dokter,
"Bagaimana dok keadaan anak saya?"
"Sebaiknya seluruh keluarga masuk untuk bisa mengetahui ada masalah atau tidak dengan ingatan pak Rangga!"
"Maksudnya anak saya kemungkinan kehilangan ingatannya?"
"Berdasarkan beberapa pertanyaan yang kami ajukan, sepertinya begitu!"
Mereka pun langsung menerobos masuk masuk begitupun dengan Zea.
Tapi Zea tidak berani mendekat karena mama rangga terus menghalanginya,
"Sayang, ini mama. Kamu ingat kan sama mama?"
Rangga hanya menganggukkan kepalanya,
"Ini papa, kamu juga ingat kan sama papa?"
Papa Rangga juga ikut menjauh dan memegang tangan Rangga, lagi Rangga menganggukkan kepalanya.
Papa Rangga kembali berdiri, ia menarik tangan Zea agar mendekat,
__ADS_1
"Kamu ingat kan ini siapa?"
Rangga terdiam dan mengamati wajah Zea, tapi sejurus kemudian Rangga menggelengkan kepalanya,
"Dia siapa?"
"Kamu benar tidak ingat?"
Rangga kembali menggelengkan kepalanya,
"Aughhhh!" Rangga mulai merasakan pusing di kepalanya.
"Maaf pak, sebaiknya pak Rangga jangan di minta untuk berpikir terlalu keras dulu.
Zea hanya bisa terpaku, ia bahkan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun hanya air mata yang tengah mewakili perasaannya kini.
Srekkkk
Tiba-tiba tangan mama Rangga sudah menarik tangannya dan membawanya keluar ruangan.
"Kamu sudah lihat sendiri kan, bahkan Rangga saja tidak mau mengingat kamu, kalau kamu masih punya harga diri sekarang juga pergi dari sini!"
"Tapi ma_!"
"Siapa yang memberi kamu hak memanggilku mama?!"
"Biarkan Zea menemani rangga Tante, Rangga pasti akan segera mengingat Zea lagi!"
"Sudah bagus Rangga tidak mengingat kamu, jadi saya tidak perlu susah payah buat nyingkirkan kamu dari kehidupan Rangga!"
"Tapi tante_!"
"Pergi dari sini, pergi!"
"Mohon jangan buat keributan di sini!" seorang perawat langsung memberi peringatan.
"Tolong minta satpam untuk mengusir dia, dia ingin membuat keributan di kamar putra saya!" ucap mama Rangga lali pergi begitu saja meninggalkan Zea.
"Tante ...!"
Zea menangis dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Mama rangga yang masuk membuat pak Beni segera ingin keluar menyusul Zea tapi istrinya itu segera menahan tangannya dengan emnatapnya tajam.
"Sekali saja papa keluar dari sini untuk menemui si pembawa sial itu, mama bersumpah tidak akan pernah membiarkan papa kembali menemui Rangga!" ucap mama Rangga pelan tapi penuh penekanan.
Pak Beni pun akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perkataan istrinya. Ia berfikir mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk menemui Zea.
Walaupun hatinya juga terluka tapi demi putranya ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Bibi segera memeluk tubuh Zea yang terus bergetar karena menangis,
"Ibu yang sabar ya, pasti bapak akan segera mengenali ibuk!"
"Hati Zea hancur bi, harapan Zea seakan hancur!"
"Tidak Bu, jika bapak sadar dan kembali sehat itu tandanya ibuk masih mempunyai banyak kesempatan!"
Mendengarkan ucapan yakin dari bibi, Zea pun langsung menghampus air matanya. Benar sekali yang di katakan bibi, ia seharusnya bersyukur karena suaminya masih bangun. Cinta yang akan membuatnya kembali mengingat dirinya.
"Bibi benar, aku nggak boleh lemah. Rangga pasti akan segera mengingatku!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1