Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Semakin di persalahkan


__ADS_3

Setelah Tisya meninggalkannya, nyonya Tania terlihat begitu cemas. Ia tahu bagaimana mantan suaminya itu, ia tidak mau sampai mantan suaminya itu akan mempengaruhi putrinya tapi dia juga tidka bisa berbuat apa-apa.


"Semoga tidak terjadi apa-apa!" gumam nyonya Tania, ia kembali merapikan meja makannya menutup makanan yang tidak jadi di makan dengan tudung saja yang terbuat dari rotan itu.


Nyonya Tania pun memutuskan untuk tidak sarapan, ia segera bersiap-siap untuk pergi ke kedai baksonya.


Tisya yang sudah berjalan menyusuri gang, ia masih bingung memutuskan akan menggunakan jasa transportasi apa yang menurutnya paling hemat.


"Pagi neng Tisya!" sapa tukang ojek yang biasa mangkal di ujung gang itu.


"Pagi kang ojek!" sapa balik Tisya.


"Tumben neng siangan, nggak di marahi sama bos nih kalau berangkatnya jam segini?" tanya tukang ojek itu.


"Nggak pak! oh iya pak, kira-kira hemat naik angkot apa naik bus?" tanya Tisya.


"Memang mau ke mana neng?"


"Mau ke perusahaan Bactiar Group!"


"Ngapain neng, mau ngelamar kerja di sana? Kalau saran saya jangan deh neng!" ucap tukang ojek itu membuat Tisya begitu penasaran.


"Soalnya gara-gara kasus nya kemarin, beberapa hari yang lalu beritanya banyak karyawan yang terpaksa di berhentikan karena pengurangan karyawan!"


"Benarkah seperti itu?" tanya Tisya, ia bahkan tidak tahu tentang itu. Ia sudah banyak ketinggalan info.


"Iya neng ...., tapi kasihan sekali neng pemiliknya!"


"Kenapa?" tanya Tisya, ia sampai lupa tujuan awalnya bertanya karena begitu penasaran dengan kabar papa nya, walau bagaimana pun dulu tuan Bactiar sudah sangat memanjakannya.


"Gara-gara kasusnya yang kemarin, keluarganya malah meninggalkannya! Begitu banget ya hidup orang kaya, kalau sudah jatuh tiba-tiba orang-orang dekatnya meninggalkannya gara-gara tidak bisa hidup susah!"


Begitu banget gosipnya, papa yang mengusir kami bukan kami yang ingin pergi, kenapa jadi kami yang terlihat buruk ...??? Papa benar-benar keterlaluan ...., batin Tisya kesal. Ia tidak menyangka jika papa nya akan memutar balikkan keadaan seolah-olah mama dan dia begitu jahat. Meninggalkan saat terpuruk, itu benar-benar tuduhan yang paling jahat.


Akhirnya sebuah angkot lewat di depan Tisya, tanpa pikir panjang lagi Tisya segera menghentikan angkot itu. Ia menutup wajahnya dengan masker agar tidak ada yang mengenalinya, mau bagaimana pun Tisya adalah seorang model, pasti banyak yang mengenalinya walaupun dia bukan model terkenal.


Bagaimana caranya ya buat turun nanti ...., batin Tisya bingung, ini untuk pertama kalinya Tisya naik angkot.


"Mas ....!" panggil Tisya pada kenek angkot itu.


"Iya mbak, ada yang bisa saya bantu?"


"Apa angkot ini nanti lewat depan gedung Bactiar group ya?" tanya Tisya.


"Maaf mbak kalau depannya enggak, tapi nanti mbak bisa turun di jalan yang ada di seberang gedung itu nanti!"

__ADS_1


"Baiklah ...., kalau begitu turunkan saya di sana ya mas nanti!"


"Baik mbak!"


Setelah lima belas menit akhirnya angkot itu berhenti juga di seberang gedung Bactiar Group.


"Berapa mas?" tanya Tisya.


"Lima ribu mbak!"


Tisya begitu terkejut, "Serius?"


"Iya mbak, tarif nya memang segitu, kalau anak sekolah baru bisa bayar dua rebu!" ucap mas kenek itu.


Bukan itu maksudku ...., lima ribu bukankah itu terlalu murah? batin Tisya.


Tisya pun segera mengeluarkan uang lima ribuan miliknya.


"Terimakasih ya mas!" ucap Tisya sambil turun dari angkot itu.


Tisya terus tersenyum sambil memandangi angkot yang semakin menjauh darinya itu.


"Ihhhh ...., benar-benar amazing ...., baru tahu aku kalau biaya angkutan umum itu semurah ini, kalau aku naik taksi pasti aku harus mengeluarkan uang lima puluh ribu!" gumam Tisya.


"Tau gitu dari dulu aja aku naik angkot, nggak mahal! uang sepuluh ribu udah bisa pulang pergi!"


Tisya pun memantapkan diri untuk menyeberangi jalan itu, menunggu hingga jalan terlihat lengang, baru jam sepuluh pagi tapi mobil sudah terlihat memadati jalanan, padahal biasanya jalan itu akan padat jika jam-jam istirahat makan siang atau jam pulang kantor.


Sesekali Tisya tampak menghentikan langkahnya saat beberapa mobil melintas di depannya, ia tidak punya pengalaman untuk menyeberang jalan, bahkan dulu untuk membuka pintu mobil saja ia membutuhkan bantuan sopir. Jika turun dari mobil langsung di depan gedung.


Setelah beberapa kali terhenti di tengah jalan, akhirnya ia sampai juga di depan gedung itu. Ia menatap gedung yang dulu membesarkan namanya, sekarang menjadi terasa asing.


Mata-mata yang melihatnya penuh dengan cibiran, penuh dengan intimidasi. Rasanya sangat tidak nyaman, orang-orang yang dulu saat ia datang selalu memberi hormat sekarang saling berbisik membicarakannya di belakang.


Tisya segera masuk ke dalam lift, ia tidak mau berlama-lama di tempat itu. Dulu tempat itu begitu nyaman untuk di kunjungi bahkan ia mendapat kehormatan di sana, sekarang menjadi sangat mengerikan.


Pintu lift kembali terbuka, ia sampai di lantai ruangan pemilik gedung itu. Di luar ruangan itu ada seorang wanita dengan pakaian seksinya, dia adalah sekretaris tuan Bactiar.


"Selamat pagi sekretaris Rena!" sapa Tisya, wanita itu pun segera berdiri dan menyambutnya.


"Selamat pagi nona Tisya, anda sudah di tunggu di dalam oleh tuan Bactiar!"


"Silahkan masuk nona!" ucap sekretaris itu sambil membukakan pintu.


Tisya pun segera masuk ke dalam ruangan itu, ia melihat orang yang sudah menjelma menjadi papa nya beberapa tahun ini sedang duduk di kursi kerjanya, tapi ada yang aneh ada seorang wanita di depan meja kerja papa nya itu, ia merasa tidak asing dengan wanita itu.

__ADS_1


"Kak Meira!" sapa Tisya, gadis yang di sapa Meira itu segera menoleh.


Tisya tidak salah, ia begitu senang melihat gadis itu, Tisya segera menghampiri gadis itu dan memeluknya. Tapi gadis itu tidak membalas pelukan Tisya.


"Kak Meira, aku merindukanmu!" ucap Tisya, tapi Meira malah melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya.


"Kak ...., kenapa?" tanya Tisya.


"Jangan pura-pura baik ya sama kakak ....!" ucap Meira.


"Maksud kakak apa?" tanya Tisya tidak mengerti.


"Aku tahu semuanya, kamu sama mama kamu udah jahat ya sama papa, tega sekali papa itu udah hidupin kamu dari lahir meski kamu bukan anak kandung papa, tapi tega-teganya meninggalkan papa dalam keadaan terpuruk!"


"Kakak salah paham, nggak gitu ceritanya kak, papa yang sudah membuat cerita menjadi semakin buruk!"


"Iiissstttt ...., masih berani ya kamu nyalahin papa, sudah jelas-jelas mama kamu yang sudah menipu papa mentah-mentah, dan kamu masih menyalahkan papa!"


Tisya pun menatap papanya yang masih diam dan tersenyum tipis menatap Tisya, ia tidak menyangka jika papa nya itu akan setega itu sama dia dan mamanya.


"Pa ...., papa jahat banget sih sama Tisya, salah Tisya apa? Kenapa papa melimpahkan semua kesalahan sama Tisya dan mama?"


"Stop Tisya ...., jangan menyalahkan papa lagi, papa sudah banyak menderita gara-gara kamu sama mama Tania!"


"Kakak nggak tahu apa yang terjadi ...., jadi jangan ikut campur kak!"


"Kamu bilang apa? Ikut campur? Ini keluarga kakak juga, jadi bagaimana aku tidak ikut campur!"


"Tapi yang papa ceritakan sama kakak itu tidak sesuai kenyataannya!" ucap Tisya tidak mau kalah.


"Sudah sudah ...., kalian jangan bertengkar! Maira kamu keluar sebentar biar papa ngomong sama Tisya!" ucap tuan Bactiar menghentikan perdebatan mereka.


"Tapi pa ....!" ucap Maira keberatan.


"Papa mohon, ada beberapa hal yang harus papa bicarakan sama Tisya dan kamu tidak perlu tahu!"


Walaupun berat hati akhirnya Maira pun meninggalkan mereka berdua.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy reading 🥰😘😘😘😘


__ADS_2