
...Mungkin dunia tengah tidak bersahabat dengan kita saat ini, tapi percayalah ada rahasia yang mungkin kita akan syukuri di lain waktu, tetap sabar dan berusaha agar semuanya kembali terlihat indah...
...🌺🌺🌺...
Sepanjang malam Zea hanya diam di kamarnya, ia sebenarnya sudah menduga apa yang akan terjadi. Tapi tiba-tiba ada orang yang berna ayah di dalam kehidupannya itu benar-benar di luar keinginan atau rencananya.
"Apa begini rasanya!?" bahkan saat ini Zea sedang berusaha untuk memahami perasaannya, dia tidak senang tapi dia juga tidak membenci pria itu.
Yang ia rasakan saat ini hanya, kenapa baru sekarang? Setelah semua kesulitan yang ia alami dalam hidup ini tanpa siapapun. Bahkan selama ini ia merasa hidupnya seperti terbuang, tidak ada yang menginginkannya ada di dekatnya.
Frans yang begitu ia harapkan dulu nyatanya dunia tidak berpihak padanya, kehidupan telah mengubahnya.
Zea yang ceria berubah menjadi Zea yang begitu tertutup dengan segala masalah yang tidak ingin ia bagi dengan siapapun bahkan dengan kesedihannya.
Jika dia bisa bertanya untuk saat ini. Ia ingin bertanya pada si pemilik kehidupan. Kenapa harus di ciptakan jika tidak ada satupun yang menginginkannya dalam hidup ini?
"Buk sudah malam, tidur ya!" suara seseorang mengalihkannya dari lamunan panjang itu,
Zea menoleh ke sumber suara, ternyata bibi sudah berdiri di depan pintu,
"Nanti dulu bi, Zea masih mau lihat langit. Hati ini langit begitu cerah!"
Zea saat ini tengah berdiri di dekat jendela yang terbuka. Di sini ia bisa melihat bintang yang tampak lebih terang di banding di apartemen karena memang lampu-lampu di sekitarnya yang tidak begitu terang.
"Udara di.luqr sangat dingin, biar bibi Carikan selimut buat ibuk!"
Bibi segera mencari selimut yang masih di lipat rapi di dalam lemari dan memakaikannya pada sang majikan,
"Bibi temani ya buk!"
Bibi akhirnya ikut berdiri di samping Zea, menikmati apa yang tengah di lihat wanita hamil itu.
"Terimakasih untuk semuanya ya bi!" Zea tersenyum pada bibi, ia begitu bersyukur karena di tengah hidupnya yang begitu sulit ini ada bibi yang selalu di sampingnya.
"Bibi senang bisa berguna untuk ibuk dan bapak!"
Akhirnya hingga larut mereka masih berdiri di tempatnya, saling bertukar cerita dan melupakan kegundahan yang sedang di alami oleh Zea.
...***...
__ADS_1
Pagi ini seperti yang sudah di rencanakan oleh tuan Seno, ia pun kembali mengunjungi tempat tinggal Zea. Ia berharap Zea sudah berubah pikirkan terhadap keputusannya.
Dua cangkir teh sudah menemaninya sembari menunggu Zea yang masih berada di kamar mandi.
Seperti biasanya dari pada ikut duduk dengan tuannya, ajudan tuan Seno memilih menunggu di luar, bibi yang sudah mengerti situasinya akhirnya memindahkan satu cangkir teh ke luar.
Setalah setengah jam akhirnya yang di tunggu keluar juga,
"Anda!" Zea sepertinya baru saja selesai mandi, aroma sabun masih menyeruak dari tubuhnya dengan rambut yang sedikit basah.
"Maaf pagi-pagi sudah mengganggumu!" dua pria itu sudah berdiri dan menyambut kedatangan Zea.
Zea terlihat tidak suka dengan kedatangan orang-orang itu,
"Ada apa lagi anda ke sini?"
Pria itu masih bisa tersenyum dengan bersahaja, tampak bagaimana pria itu sudah banyak menghadapi orang,
"Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu!"
Walaupun tidak suka, tapi Zea juga tidak bisa berbuat sebegitu tidak sopan pada tamu yang datang ke rumahnya, "Silahkan duduk kembali!"
"Zea, putriku! Maaf jika ini sangat terlambat tapi sungguh aku Sudja begitu lama mencarimu!"
Zea masih bergeming di tempatnya, tidak ingin menimpali ucapan pria yang secara fakta adalah ayahnya. Ia masih ingin mendengar apa yang ingi pria itu katakan selanjutnya.
"Aku akan memberikan semua hak mu, semuanya! Maafkan papa karena papa nggak bisa jadi papa yang baik buat kamu!" mata pak Seno sudah mulai berkaca-kaca apalagi dengan sikap dingin Zea terhadapnya saat ini.
Zea tidak seperti anak-anak lain yang pasti akan tergiur dengan harta yang banyak dari pria tua itu.
Sakit hatinya masih mengalahkan semuanya, untuk saat ini yang sedang Zea fikirkan bukanlah tentang hidupnya saja tapi juga anak dalam kandungannya dan bagaimana bisa kembali mengambil suaminya.
Melihat Zea masih bergeming seolah tidak terpengaruh dengan apa yang di katakan pak Seno, pak Seno pun memberi isyarat pada ajudannya untuk menyerahkan sesuatu.
Sebuah map besar dan terlihat tebal,
"Zea, ini semua properti dan sejumlah saham yang akan kamu miliki, kamu tinggal membubuhkan tanda tangan di sini!"
"Maaf, tapi saya belum butuh ini, sebaiknya anda simpan saja. Siapa tahu suatu saat saya akan berubah pikiran tapi tidak sekarang."
__ADS_1
Zea berdiri dari duduknya, "Maaf, saya harus segera sarapan. Anak dalam kandungan saya butuh banyak nutrisi. Tidak mengurangi rasa hormat saya pada anda, saya mohon tinggalkan saya sendiri!"
Walaupun dengan wajah kecewa tapi pak Seno tetap tidak menyalahkan Zea atas sikapnya. Ini memang sudah sepantasnya ia dapatkan untuk segala kepayahan yang ia berikan selama ini untuk putrinya.
"Baiklah, papa pergi ya! Kalau kamu sudah siap hubungi papa, papa pasti datang!"
Pak Seno dan ajudannya pun segera berdiri dan meninggalkan Zea.
"Kami pergi!"
Zea masih tetap diam seolah tidak peduli dengan apa yang di lakukan oleh pria yang berstatus sebagai papanya itu.
Pak Seno pergi dengan wajah kecewa, tepat saat ia hendak masuk ke dalam mobil, sebuah mobil lain datang membuat langkah pak Seno terhenti. Begitu juga dengan Zea yang hendak masuk ke dalam rumah.
Mereka Sama-sama penasaran dengan siapa yang datang. Seorang sopir terlebih dulu membukakan pintu untuk seseorang.
Seorang wanita yang hamil sekitar tujuh bulanan tengah turun dari mobil itu, dia adalah Ersya.
Langkah Ersya terhenti saat melihat pria yang sudah hampir memasuki mobil itu. Ia merasa cukup kenal dengan pria itu karena tanpa sengaja mereka di pertemukan beberapa kali dalam acara perusahaan.
"Nyonya Div!?" sapa pak Seno.
"Tuan Seno, apa kabar?" Ersya tidak merasa curiga dengan pria itu tapi ia siapa pria itu. Dengan datang ke rumah Zea, sudah menimbulkan pemikiran negatif dari Ersya.
"Baik, baiklah saya permisi nyonya Div!"
"Silahkan!"
Pak Seno sepertinya memilih untuk tidak ambil pusing dengan kedatangan Ersya ke rumah Zea, ia memilih meninggalkan tempat itu dan melakukan pekerjaan lainnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1