Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (65. hanya Zea)


__ADS_3

"Sayang, kamu lihat ini foto kamu waktu kecil!" mama Rangga memperlihatkan album foto masa kecil Rangga.


"Rangga sudah tahu ma, Rangga ingat semua!"


Melihat apa yang terjadi papa Rangga pun menemui dokter dan menanyakan keadaan putranya sebenarnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada putra saya? Dia mengingat saya dan istri saya, tapi kenapa tidak mengingat istrinya?"


"Sepertinya efek operasi itu menghilangkan sebagian memori pak Rangga, melihat bagaimana reaksi pak Rangga hal ini tidak akan membutuhkan waktu lama untuk mengingat kembali semuanya!"


Ternyata pembicaraan ini di dengar oleh mama Rangga.


"Tidak, Rangga tidak boleh mengingat si pembawa sial itu!"


"Atau setidaknya Rangga harus menikah dengan Miska dulu baru mengingat si pembawa sial itu!"


Hal itu membuat mama Rangga memanfaatkan kesempatan ini untuk menyingkirkan Zea.


Ia bergegas kembali ke ruangan Rangga, ternyata di sana sudah ada Div dan Ersya.


"Ehhh tuan Div, kapan datang?"


"Baru saja sampai, bagaimana keadaan Rangga?"


"Dia sedikit mengalami hilang ingatan!"


"Boleh kami melihatnya?"


"Silahkan!"


Walaupun Ersya sekarang sudah menjadi nyonya Div, mama Rangga masih engga untuk menyapa Ersya.


Mereka pun masuk ke ruangan Rangga, terlihat Rangga sudah duduk di tempat tidurnya.


"Pak Div! Ersya!"


"Bagaimana kabarmu Ga?"


"Sudah lebih baik! Maaf aku tidak bisa kerja berhari-hari!"


"Jangan khawatir, kamu akan kembali kerja setelah pulang dari sini!"


"Terimakasih atas kebaikan hati pak Div!"


"Jadi kamu masih mengingat kami?"


"Iya!"


Ersya dan Div terlihat heran, sekilas tidak ada yang aneh dengan Rangga.


Mereka pun mengobrol banyak dengan Rangga.


"Beristirahatlah, kami pulang dulu!"


"Terimakasih atas kunjungannya!"


Ersya dan Div pun berpamitan dengan mama Rangga.


"Sepertinya Rangga tidak ada masalah mas?"


"Semoga!"


"Mas, aku ke kamar mandi dulu ya, kebelet pipih. Kamu tunggu di depan aja ya, nggak lama kok!"


"Baiklah, jangan lama-lama!"


"Hmmm!"


Ersya pun kembali masuk, sebenarnya dia sedang tidak ingin ke kamar mandi. Ia menemukan sebuah kejanggalan. Tapi karena suaminya sangat tidak suka ia ikut campur masalah orang lain dan bermasalah dengan mamanya Rangga, ia pun tidak memberitahui kecurigaannya pada Div.

__ADS_1


Ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Zea, hal itu yang membuat Ersya bertanya-tanya.


Beruntung ia bertemu dengan papa Rangga,


"Paman!" panggilnya membuat pria paruh baya itu mengurungkan niatnya untuk masuk ke dala ruangan Rangga.


"Ersya, apa ada yang ketinggalan di dalam?"


"Bukan, sebenarnya Ersya kembali sengaja ingin bicara sama paman, bisa kan kita bicara sebentar?"


"Iya ayo!"


"Kita ke sana saja!" Ersya mengajak papa Rangga ke lorong yang sepi.


"Sebenarnya saya heran kenapa saya sama sekali tidak melihat Zea, apa Zea baik-baik saja?"


Akhirnya papa Rangga pun menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Ersya.


"Kasihan sekali Zea!"


"Saya juga tidak mengerti dengan cara berpikir mamanya Rangga!"


"Yang sabar ya paman, lambat laun pasti Tante akan luluh hatinya!"


"Terimakasih ya!"


Setelah mengetahui keadaan rangga yang sebenarnya, Ersya pun segera menyusul suaminya,


Benar saja suaminya itu sudah melipat kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan bokongnya di samping mobil itu tandanya dia sedang dalam mode marah,


"Mas ...!" Ersya datang dengan senyum yang di buat semanis mungkin.


"Dari mana saja?"


"Sudah aku bilang kan, aku dari kamar mandi mas, maklum lah lama. Kalau wanita hamil itu suka sering ke kamar mandi dan nggak bisa cepat-cepat kan kamu sendiri yang bilang aku nggak boleh jalan terlalu cepat, perutnya besar!?"


"Hingga satu jam lamanya?" Div sambil menatap jam tangannya.


"Nggak sebesar rumah sakit milik Frans juga!"


Ahhhh mulai nih sombongnya .....


"Tapi di rumah sakit sana, aku sudah hafal seluk beluknya, di sini kan belum!"


"Bisa aja jawabnya, cepetan masuk sebelum kamu pengen pergi ke kamar mandi lagi!"


"Iya, iya!"


Ersya pun dengan kesal masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan keras membuat Div sampai terkejut di buatnya,


"Seharusnya aku yang marah, kenapa jadi dia?"


Ia berjalan dengan bingung mengitari mobil dan membuka pintu lain.


Zea tidak bisa melakukan apapun selain menangis di dalam kamarnya, hal itu semakin membuat bibi khawatir.


"Buk, makan ya!"


"Belum lapar bi!"


"Sedikit saja, kasihan sama bayinya!"


"Nanti aja bi!"


Zea terus menolak apapun yang di berikan oleh bibi,


Hingga hal itu membuat tubuhnya lemah hingga ia kembali di larikan ke klinik terdekat,


"Bagaimana bisa begini?" terlihat dokter kandungan sedang memeriksa Zea.

__ADS_1


"Ibuk nggak mau makan dari kemarin, buk!"


"Beruntung bibi segera membawanya ke sini, terlambat sedikit saja, bisa berbahaya untuk bayinya!"


Zea menyesali perbuatannya, dengan dia menyiksa dirinya sendiri ia juga menyiksa bayi dalam kandungannya.


"Maafkan mama nak, mama tidak akan berbuat bodoh lagi, mama.janji!"


Bibi hanya bisa mengusap tangan Zea dan ikut memberi semangat.


"Ibuk pasti bisa melalui semuanya!"


"Terimakasih ya Bi sudah sangat peduli sama Zea!"


...***...


"Tante, benar Rangga sudah sadar?" Miska yang baru saja datang terlihat heboh.


"Iya benar, tapi dia kehilangan sebagian ingatannya!"


"Bagus dong berarti Tante, ia tidak ingat kan kalau udah nikah sama Zea?"


"Tidak!"


"Miska bisa masuk dan mengaku sebagai tunangannya!"


"Kamu benar, kenapa aku tidak kepikiran!"


Mereka pun segera masuk ke kamar Rangga.


Di dalam ruangan itu sudah ada papa Rangga.


"Nggak coba lihat mama bawa siapa?"


Rangga menatap lama pada Miska tapi ia tidak berhasil mengingatnya,


"Dia siapa ma?"


"Sia tunangan kamu?"


"Tunangan?" Rangga terlihat bingung.


"Ma, apa yang mama lakukan?" papa Rangga segera bangkit tapi mamanya langsung menarik tangan suaminya keluar,


"Kita bicara di luar!"


Mereka pun meninggalkan Rangga dan Miska sendiri,


"Apa-apaan ini ma, mama benar-benar keterlaluan. Mama mengusir Zea dan malah memperkenalkan wanita itu sebagai tunangan Rangga. Kegilaan macam apa yang telah mama perbuat!"


"Karena mama tidak pernah menganggap wanita pembawa sial itu sebagai menantu mama!"


"Ingat ma, Zea sekarang sedang hamil anak Rangga cucu kita!"


"Aku tidak butuh cucu dari wanita pembawa sial itu. Lagian hubungan mereka belum tercatat di dokumen negara, mama.tidak yakin itu anaknya Rangga!"


"Ma!"


"Papa jangan ikut campur apapun yang mama lakukan dan lagi jangan pernah membahas perempuan pembawa sial itu di depan Rangga, mengerti! Sebaiknya kita pergi dan biarkan mereka berdua!"


Mama Rangga kembali membawa suaminya itu menjauh dari ruangan Rangga agar Miska dan Rangga dapat bicara berdua.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2