
Mendengar jawaban Tisya membuat dokter Frans tersenyum, "Bukan itu!"
"Lalu apa dong?"
"Terimakasih telah memanggilku kak!" ucap dokter Frans sambil tersenyum.
Tisya tersenyum, "Memang itu pantas untukmu kak!" ucap Tisya yang sudah kembali melanjutkan memakan makanannya
"Makanannya enak kak, aku boleh nambah ya!?" ucap Tisya yang piringnya sudah mulai kosong.
"Boleh ...., boleh ...., ambillah lagi sepuasnya!"
"Tapi bukankah kak Frans juga belum makan?!"
"Iya ....., aku pasti akan makan!"
Dokter Frans pun mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan memakan makanannya.
"Oh iya ...., aku belum melihat Wilson, di mana Wilson?" tanya dokter Frans kemudian karena ia sudah punya janji sama Wilson.
"Ohhh iya ...., di mana ya dia!?"
"Tapi dia datang ke sini kan?"
"Iya ...., dia yang ngajak aku ke sini!"
Dokter Frans mempercepat makannya, ia harus segera menemui Wilson.
Dan kebetulan sekali bi Molly melintas di ruang yang ada di sebelah ruang makan.
"Bi ..., bibi ....!" panggil dokter Frans.
Bi Molly yang sedang mengawasi pekerjaan pekerjaan pelayan lainnya segera meninggalkan mereka dan menghampiri dokter Frans.
"Iya tuan ada apa?"
"Apa bibi sudah bertemu Wilson?"
"Iya tuan, Wilson di depan dengan Richard!"
"Minta tolong ya bi, katakan padanya suruh menungguku di ruang kerja!"
"Baik tuan, saya permisi!"
Bi Molly pun segera meninggalkan dokter Frans dan Tisya.
"Kamu makan sendiri tidak pa pa ya, aku temui Wilson dulu!" ucap dokter Frans sambil meminum air putihnya.
"Santai aja kak ....!"
"Baiklah ...., jangan sungkan, makan yang banyak!"
Dokter Frans pun segera berdiri dari duduknya dan membersihkan bibirnya dengan tisu.
"Eh bentar kak!"
Tisya terlihat ingin menanyakan sesuatu tapi tampak ragu.
"Ada apa?"
"Jangan marah ya kak!"
Apa dia mau membicarakan tentang uang satu milyar itu ....., batin dokter Frans.
"Iya ...., katakan saja!"
"Sini!"
Tisya melambaikan tangannya agar dokter Frans mau mendekatkan telinganya.
"Ada apa?" tanya dokter Frans penasaran.
"Sini ....!"
Kini dokter Frans pun mulai mendekatkan telinganya dan Tisya membisikkan sesuatu pada kakaknya itu.
"....."
__ADS_1
Dengan cepat dokter Frans menjauhkan telinganya, ia tampak begitu terkejut.
"Dia bilang seperti itu?" tanya dokter Frans.
"Iya kak!" ucap Tisya sambil menganggukkan kepalanya.
Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu ....., batin dokter Frans.
"Jangan lah kak, masak gajinya nggak nyampek segitu, kan kasian ...., dia setiap hari makannya cuma pakek mie instan lo kak!"
Tisya menggambarkan betapa menderitanya kehidupan Wilson itu.
"Kakak kan tahu dia itu punya banyak cicilan, belum lagi kirim uang ke orang taunya di kampung!"
"Memang kamu tahu kalau orang tuanya di kampung?" tanya dokter Frans sambil memiringkan kepalanya. Adik perempuannya itu sok tahu sekali.
"Ya ...., ya nggak tahu ...., kan nggak sama Wilson, pasti orang tuanya di kampung atau kalau tidak mungkin di luar kota!"
"Issstttttt ....., jangan sok tahu ....!" ucap dokter Frans sambil meninggalkan Tisya.
"Tapi bagaimana kak, jadi di naikkan kan gajinya?!" teriak Tisya.
"Saya pertimbangkan nanti!" ucap dokter Frans sambil terus berlalu meninggalkan Tisya.
Dokter Frans segera menuju ke ruang kerjanya. Jarak ruang makan dengan ruang kerja cukup jauh, ia harus melewati lorong terbuka di antara taman.
Wilson sudah menunggu di dalam ruang kerja dokter Frans. Melihat kedatangan dokter Frans, Wilson pun segera berdiri dan menyambutnya.
"Selamat pagi tuan dokter!" sapa Wilson sambil menundukkan kepalanya.
Plekkkkkk
Sebuah pukulan mendarat di kepala Wilson membuat Wilson dengan reflek mengaduh.
"Aughhhhh ....!" pekik Wilson sambil memegangi kepalanya.
"Kenapa saya di pukul tuan?" tanya Wilson yang tidak tahu kesalahannya.
"Bisa-bisa nya mengatakan sama Tisya kalau gaji kamu nggak nyampek sepuluh juta, mau aku potong gaji kamu segitu!?" ancam dokter Frans.
Tikuuuuus .,.., pakek ngadu lagi, kan cuma buat kerjain dia aja ...., batin Wilson.
"Lagian ...., pakek ngomong gitu segala! Di kira aku suka makan tenaga orang nih dengan gaji rendah ....!"
"Maaf tuan!"
Wilson tahu tuannya tidak akan setega itu,
Hehhhhhh
Dokter Frans menghela nafas, ia pun berjalan mengitari mejanya dan duduk di kursi yang ada di balik meja.
"Duduk!" perintah dokter Frans.
Wilson pun segera duduk di kursi yang tadi sudah ia duduki.
"Ada rencana apa tuan?" tanya Wilson.
"Tisya tidak akan meminta bantuan ku kan?" tanya dokter Frans.
"Sepertinya tidak tuan!"
"Baiklah ...., kita buat rencana ke dua, saya sudah menyiapkan semuanya dan kamu tinggal.menjalankannya saja!"
Dokter Frans pun menyodorkan beberapa berkas ke arah Wilson.
"Ini apa tuan?" tanya Wilson.
"Baca sendiri baru bertanya!"
"Baik tuan!"
Wilson pun segera mengambil beberapa berkas itu dan membacanya satu per satu. Matanya beberapa kali berkedip saat membaca beberapa yang membuatnya bingung.
"Ini maksudnya bagaimana tuan!?" Wilson terlihat begitu bingung, ia tidak mungkin melakukan apa yang seperti yang dokter Frans inginkan.
"Nggak usah banyak bertanya, mau atau tidak?" ucap dokter Frans.
__ADS_1
"Tapi Tisya tidak mungkin mau tuan!"
"Wong belum kamu coba, kenapa bisa bilang kayak gitu ....! Intinya kamu mau apa tidak?"
"Boleh saya memikirkan nya dulu tuan, ini masalahnya ....!"
"Apa? Soal hati ...., kalau nggak mau kejebak ya jangan pakek hati!"
Ahhhh tuan ini ...., mudah banget ngomongnya ....., mana ada bekerja yang nggak pekek hati ...., batin Wilson bingung.
"Begini saja deh ...., gue kasih waktu satu minggu untuk memikirkannya, begitupun dengan Tisya!"
"Baik tuan, tapi uang satu milyar nya, saya dapat dari mana?"
"Itu sudah menjadi urusanku, jadi jangan bertanya lagi, mengerti ....???"
"Baiklah ...!"
...*****...
Tisya yang sudah menyelesaikan makannya masih duduk terdiam, bi Molly ternyata sedari tadi memperhatikan tingkah Tisya.
"Nona Tisya ...., nona tidak pa pa?" tanya bi Molly kemudian.
"Bi ...., duduklah!" ucap Tisya sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Biar saya berdiri saja nona!" ucap bi Molly.
"Baiklah ...., tapi jangan salahkan saya kalau kakimu kesemutan ya, saya sudah menawari mu untuk duduk!"
"Iya nona!"
"Bi ...., bagaimana Fe?" tanya Tisya, "Ehhh maksud saya bagaimana kak Fe, apa dia pernah menceritakan tentang saya sama bibi?"
"Menceritakan apa nona?"
"Ya apa aja ....! Saya kan pernah berkelahi sama kak Fe!"
Mendengar ucapan Tisya, bi Molly malah terlihat terkejut.
"Jadi nona Tisya yang sudah membuat kandung_!?" ucapan bi Molly menggantung karena tidak sanggup lagi melanjutkannya.
"Husssshttt!" ucap Tisya sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri.
"Jangan keras-keras bi, nanti ada yang dengar!" keluh Tisya.
Bi Molly pun akhirnya memilih untuk duduk di tempat kosong yang di tunjuk Tisya tadi.
"Kenapa nona jahat sekali .....!?" keluh bi Molly yang masih tidak percaya.
Hehhhhhhh
Tisya menghela nafas nya begitu dalam, kesalahannya sangat besar dan mungkin memang tidak pantas di maafkan.
"Jadi bibi juga menganggapku seperti itu ya ....?" tanya Tisya.
"Pasti kak Fe juga seperti itu ....!" gumamnya lagi penuh dengan penyesalan.
Bi Molly pun kemudian mengusap punggung Tisya saat mengetahui jika gadis di depannya juga sangat terluka.
"Bibi tahu itu jahat ...., tapi saya yakin nyonya Felic tidak sejahat itu untuk tidak memaafkan keluarganya sendiri!"
Mendengar ucapan bi Molly, Tisya pun kembali tersenyum, "Apa yang bibi katakan itu sungguh benar?"
Bi Molly pun mengangguk, "Iya nona!"
Spesial visual Tisya
Bersambung
...Dia memang jahat, tapi akan lebih jahat orang yang tidak mau memaafkan orang jahat yang sudah benar-benar berubah menjadi baik~Indahnya memaafkan...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰