Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Prahara pernikahan Lisa


__ADS_3

...Flashback...


Beberapa hari ini Lisa benar-benar geram karena semenjak kekasihnya mengajaknya untuk menikah, orang tuanya selalu saja menolaknya karena alasan yang sama. Mereka


menginginkan kakaknya menikah terlebih dulu.


Lisa sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus di kantor, calon suaminya juga. Mereka


sudah ingin cepat menikah tapi orang tuanya selalu meminta mereka menikah


setelah kakak perempuannya.


“Bagaimana kak Felic akan menikah, punya pacar saja tidak!” gerutu Lisa pada orang tuanya.


Bahkan sampai detik ini kakak perempuannya itu tidak terlihat dekat dengan


seorang pria manapun.


“Sabarlah Lisa, kita tunggu beberapa waktu sampai kakakmu mendapatkan jodohnya!” ucap sang ayah. Ayahnya begitu tahu kenapa felic sampai tidak memikirkan dirinya sendiri,


ia terlalu sibuk memikirkan keluarganya. Bahkan felic lah yang membantu membiayai


kuliah adiknya.


Lisa menatap kakak perempuannya yang tak bergeming sama sekali, Felic terlihat


begitu santai menanggapi perdebatan keluarganya.


“Kak Felic bagaimana? Kenapa diam saja?”


Felic benar-benar santai, ia tidak tertarik sama sekali dengan obrolan itu. Ia dengan


santainya mencomoti makanan yang ada di piring membuat Lisa semakin geram.


‘kakaaaaak ….!” Teriak Lisa sambil menajamkan matanya. Lisa berdiri dan berkacak pinggang.


Ia sudah sangat kesal pada kakak perempuannya itu.


“Lisa…, bicara yang sopan pada kakakmu!” hardik ayahnya. Lisa pun segera menurunkan


pandangannya, ia kembali duduk dan menatap kakaknya.


“Terus aku harus bagaimana? Aku belum tertarik untuk menikah, jika kalian mau menikah, menikah saja, apa susahnya sih ….!” Felic benar-benar tidak mau terlalu memikirkan masalah itu. Ia begitu menikmati kesendirian dan kebebasannya.


“Kakak egois banget sih, Bima kasihan kalau nunggu terlalu lama …, bagaimana kalau


Bima keburu di comot orang?” tanya Lisa dengan nada marah, ia benar-benar mengkhawatirkan nasib hubungannya dengan pacarnya.


“Ya itu berarti Bima bukan cowok yang tepat untukmu!” ucap felic dengan santainya. Memang benar, jika ia benar-benar mencintai ia pasti sanggup menunggu sampai kapan pun.


“Kakaaaak …!” lagi-lagi ucapan Felic membuat Lisa kesal.


"Lisa rendahkan suaramu, itu tidak baik!" hardik ayahnya membuat Lisa segera menurunkan tatapannya.


“Begini saja, ibu punya tugas buat Lisa!” ibu yang sedari tadi hanya menjadi pendengar


di antara perdebatan kedua putrinya itu akhirnya ikut angkat bicara. Ia tidak mau memihak salah satu dari putrinya.


“Apa?” Tanya Lisa, ia tidak sabar mendengar penuturan dari ibunya.


“Tunggu sampai satu tahun, carikan calon untuk kakak kamu, jika sampai tiba saat itu


kakakmu tak dapat jodoh juga, ibu dan ayah menyerah. Lisa boleh menikah!”

__ADS_1


“Satu tahun?” Tanya Lisa tak percaya, ibu dan ayahnya mengangguk.


“Itu terlalu lama bu….!” Keluh Lisa.


“Terserah, itu syaratnya! Mau atau tidak Lisa harus nurut. Lagi pula ini juga sebagai cara


ngetes kesungguhan si Bima itu kan!”


“Bagaimana kak Felic?” Tanya Lisa meminta persetujuan kakaknya.


“terserah kalian saja!”


“Asal kak Felic tidak sengaja aja menunda menikah ….!” Keluh Lisa. ia menatap sinis pada kakak perempuannya.


Setelah obrolan itu, Lisa dan Bima benar-benar berusaha keras untuk mencarikan jodoh


untuk Felic. Mereka sampai memasang iklan di surat kabar, mengenalkan Felic


dengan teman sekantornya, dengan tukang sayur yang biasa mangkal di perempatan


kompleksnya, teman sekolah Felic. Semuanya tidak membuahkan hasil.


Pernah beberapa kali sempat bertahan, tapi tidak sampai satu bulan hubungan mereka


selalu kandas, bukan karena cowok yang menolaknya. Tapi Felic selalu saja


mencari alasan untuk melepaskan diri dari pria pria itu. Felic tidak pernah


merasa cocok dengan pilihan adik dan calon adik iparnya itu.


Hingga waktu yang di tentukan telah habis, satu tahun sudah. Lisa tidak berhasil


menemukan pasangan untuk kakaknya.


" Ini sudah waktunya! Satu tahun sudah berlalu dan kakak selalu saja membuat masalah dengan pria-pria itu! Jelas saja dia nggak juga dapet jodoh!” ucap Lisa kemudian pada


ibunya, ia sudah bersusah payah selama ini untuk mendapatkan restu dari kedua


orang tuanya.


“Apa boleh buat, kakakmu tak juga mendapatkan jodohnya!” ucap ibunya. Ia sudah


jengah dengan putri sulungnya yang tak juga mendapatkan pasangan.


“Terimakasih ibu …!” Lisa berhamburun memeluk ibunya.


Felic sudah cukup merasa bersalah dengan adiknya. Ia tidak mungkin menghalangi


kebahagiaan adiknya karena keegoisannya.


Pernikahan Lisa benar-benar terjadi, lagi-lagi pernikahan itu menjadi bahan gossip karena


seorang adik melangkahi kakak perempuannya. Di masyarakat kebiasaan yang selalu


menjadi tolak ukur. Hingga masalah pribadi seseorang pun kerap kali menjadi


sorotan publik. Apa yang benar menurut kita belum tentu baik untuk masyarakat.


Bersikap baik dan tidak bersikap keras menjadi senjata jitu untuk di anggap


baik dalam pergaulan.


“Lisa …, maafkan kakakmu ini ya karena selalu menyusahkan mu!”

__ADS_1


“Kakak …, seharusnya bukan kakak yang minta maaf, tapi aku. Maaf karena tidak sabar


menunggu kakak! Tapi kakak emang lama sih dapat jodohnya, bisa lumutan Lisa


nunggu kakak!”


“Ini hak mu untuk bahagia, jadi berbahagialah dengan suamimu, aku tidak pa pa!”


Kakak beradik itu hanya bisa saling berpelukan. Setelah ini pasti hubungan mereka


akan berbeda, adiknya sudah punya kehidupan sendiri, dia bukan Cuma seorang


adik dari seorang kakak, atau seorang putri dari seorang ayah dan ibu. Tapi dia


adalah seorang istri dari seorang suami, dan dalam waktu singkat statusnya akan


bertambah lagi menjadi seorang ibu.


Hingga satu tahun berlalu, Lisa mengandung putra pertamanya. Tapi status Felic masih


sama, usianya sudah mendekati angka tiga puluh tapi jodoh masih enggan mendekat


padanya. Parasnya sebenarnya juga tidak jelek, dia manis. Walaupun usianya


sudah mendekati angka tiga tapi wajahnya yang baby face membuatnya tetap tampak


muda, masih seperti usia dua puluh tahunan.


Bahkan hingga adiknya melahirkan seorang putra, status Felic semakin menghebohkan


seluruh kampung. Dari ujung ke ujung topic yang di bicarakan masih sama dan


semakin memanas saja. Ayahnya sudah memperkenalkan ke banyak pria, tapi taka da


satupun yang  berhasil meluluhkan hati


Felic.


Ibunya bahkan sampai menawarkan Felic ke seluruh ibu-ibu pengajian, mengobral Felic


seperti gadis yang benar-benar tidak laku. Tapi banyak dari mereka menolaknya


dengan alasan macam-macam, inilah …, itulah …., beginilah …, begitulah …., hal


itu membuat Felic semakin malas untuk keluar rumah selain bekerja. Untung saja


pekerjaannya tidak menuntutnya untuk bertemu banyak orang, jadi ia cukup nyaman


karena tidak mendengarkan mereka membicarakan kehidupannya.


Apa yang kita rencanakan terkadang tak sesuai dengan apa yang kita hasilkan, tetap


sabar …, karena kesabaran adalah kunci dari semua masalah yang rumit itu


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2