
Wilson pun segera meninggalkan kedai bakso itu dan berjalan menyeberangi jalan, nyonya Tania masih terpaku menatap punggung Wilson hingg Wilson masuk ke dalam mobil.
Wilson segera masuk ke dalam mobil, dengan perlahan mobil mulai melaju meninggalkan kedai nyonya Tania.
Sepanjang jalan Wilson terus saja terdiam, sesekali ia menatap bungkusan plastik yang ada di sampingnya itu.
"Nyonya Tania ternyata baik juga ....!" gumamnya saat mengigat betapa perhatiannya ibu dari tuannya itu, padahal kalau di ingat beberapa bulan lalu wanita itu berhati dingin dan tidak berperasaan.
Matahari sudah mulai bersembunyi di ufuk barat menyisakan cahaya orange yang menghiasi langit di ibu kota yang sesak itu.
Mobil Wilson pun akhirnya terparkir di depan teras rumahnya, garasinya belum selesai sepenuhnya, masih butuh pemasangan keramik jadi Wilson terpaksa memarkirkan mobilnya itu di halaman depan.
Ia pun segera keluar dari mobilnya tidak lupa membawa bungkusan tas plastik itu, sebelum meninggalkan mobilnya ia tidak lupa menguncinya lebih dulu karena tidak ada rencana untuk bepergian ke mana-mana.
Wilson segera melakukan panggilan sebelum masuk ke dalam rumah.
"Kalian boleh pergi sekarang, tugas kalian selesai!" ucap Wilson dengan Aerophone yang bertengger di telinganya.
"Baik bos!"
Wilson pun kembali mematikan sambungan telponnya dan mulai membuka pintu.
Ia tidak menemukan siapapun di sama, tidak ada suara apapun di rumahnya.
"Memang si tikus ngapain, apa dia tidak bekerja, kenapa rumahnya sepi sekali!" gumam Wilson sambil berkeliling rumahnya.
Ia begitu terkejut saat melihat Tisya sedang menyapu di ruang makan dengan pakaian yang begitu minim dan transparan hingga setiap lekuk tubuh Tisya terlihat jelas.
Wilson pun segera berbalik dan memegangi jantungnya.
"Astaga ...., dia benar-benar tikus kecil ...!" gumamnya sambil memegangi jantungnya yang bergetar hebat karena ulah Tisya.
Ternyata Tisya menyadari keberadaan Wilson, ia pun tersenyum dan meletakan sapu lantainya.
"Wil...., kamu sudah datang ...., lihat aku sudah membersihkan semua lantai rumah!" ucap Tisya dan hendak berjalan mendekat.
"Stop ...., berhenti di situ!" ucap Wilson masih sambil berdiri membelakangi Tisya.
"Ada apa sih? Kamu kenapa?" tanya Tisya yang tidak mengerti kenapa Wilson sampai membelakanginya.
Wilson pun segera melepaskan jasnya dan meleparkannya ke belakang tepat mengenai wajah Tidya.
"Pakai itu!" ucap Wilson dengan masih berada di posisinya, Tisya hanya bisa mengerutkan keningnya tidak mengerti. Ia pun akhirnya memakai jas itu walaupun tidak mengerti maksudnya. Bahkan jas Wilson lebih panjang dari pada celana pendek Tisya.
"Sudah apa belum?" tanya Wilson lagi.
"Sudah! Kamu kenapa sih?" tanya Tisya, ia tidak mengerti dengan tingkah Wilson itu.
__ADS_1
"Buang bajumu itu!" ucap Wilson
Wilson pun segera membalik tubuhnya dan menghela nafasnya lega.
"Ada apa dengan bajuku, kami mau aku telanjang?" tanya Tisya yang masih tidak mengerti.
Wilson pun kembali berjalan, meletakkan kantong plastik itu di atas meja,.
Ia pun segera duduk di kursi yang ada di samping meja makan kemudian mengambil gelas kosong, menuangkan air putih di dalamnya dan dengan cepat meneguknya, ia benar-benar haus gara-gara ulah Tisya.
Tisya yang masih penasaran segera menghampiri Wilson dan duduk di kursi lainnya.
"Kamu kenapa sih? Kesurupan? Atau kenapa? Datang-datang langsung aneh aja tingkahnya!"
"Jangan pakek baju yang seperti itu lagi di sini apa lagi sampek keluar rumah!" ucap Wilson sambil menunjuk baju yang di kenakan oleh Tisya yang berada di balik jasnya.
"Kenapa dengan bajuku, ini enak banget di pakek nya, adem!" ucap Tisya dengan entengnya sambil kembali membuka jasnya hingga memperlihatkan belahan dada Tisya dengan kulit mulusnya. Ia benar-benar tidak tahu jika pria di depannya sampai harus menahan nafas gara-gara ulahnya.
"Tutup ....!" ucap Wilson dengan penuh penekanan.
"Kenapa?"
Wilson pun segera menarik ke atas jasnya agar menutupi tubuh Tisya, "Cepetan tutup ...!"
"Issstttttt ...., iya iya ...!" keluh Tisya sambil kembali mengatupkan jas itu ke tubuhnya.
"Baju itu tidak baik untuk di pakai, ganti bajumu!"
"Nggak mau ...., baju ku santai semuanya seperti ini, lagian kenapa sih? Nggak masalah kan? Mama juga nggak pernah protes tentang baju aku, kenapa kamu malah sewot ...?"
"Karena aku laki-laki!" ucap Wilson.
"Papa ku juga laki-laki, dia juga nggak pernah protes!"
"Terserah ....! Besok kita beli baju ....!" ucap Wilson.
"Kenapa dengan bajuku? Atau jangan-jangan kamu tertarik ya dengan indahnya tubuhku?!" goda Tisya membuat Wilson salah tingkah sendiri.
"Apanya ...., tubuh kerempeng aja siapa juga yang suka!" ucap Wilson sambil berdiri dari duduknya.
"Ehhhh ...., ehhh ...., mau ke mana?" tanya Tisya.
"Aku mau mandi dulu setelah itu kita makan!" ucap Wilson sambil terus berjalan.
"Jas mu?"
"Pakai saja, jangan di lepas!"
__ADS_1
"Ini apa?" tanya Tisya lagi sambil menunjukkan kantong plastik yang tadi di bawa Wilson dan sekarang teronggok begitu saja di atas meja.
"Itu ...., itu bakso ...., panasi dan pindah ke mangkok!" ucap Wilson yang sudah mencapai pintu kamarnya tapi ia segera berbalik menatap Tisya.
Jangan sampai dia membakar dapurku ...., batin Wilson mengingat terakhir kali Tisya hampir membakar dapurnya gara-gara pegang kompor.
"Jangan ....!" teriak Wilson tiba-tiba membuat Tisya mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya menyatu.
"Hahhh?" tanya Tisya yang tidak mengerti.
"Jangan di panasi, langsung taruh aja di dalam mangkuk, dan ingat jangan di lepas jasnya!"
"Iya ...., bawel!"
Wilson pun sekarang benar-benar masuk ke dalam kamar, ia mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi dengan masih terus menggerutu.
"Kerempeng saja pakek baju begituan ...., biar aku tertarik apa? Dia benar-benar mau menguji imanku ...!" gerutu Wilson sambil mulai melepas bajunya, menghidupkan kran air dan mengguyur tubuhnya yang sudah terasa lengket.
Tisya pun melakukan seperti apa yang di suruh oleh Wilson, ia juga tidak melepas jas nya.
"Ini kayak bakso tempat mama kerja, apa tadi Wilson menemui mama?" gumam Tisya sambil menuangkan dua bungkus bakso itu ke dalam dua buah mangkok tanpa memanasinya.
Tidak berapa lama Wilson sudah keluar dengan pakaian yang lebih santai celana kolor panjang dan kaos tipisnya dengan tubuh yang lebih segar bahkan aroma sabun menyeruak ke hidup membuat siapa saja yang berada di sampingnya ikut merasakan kesegaran nya.
Kalau di lihat-lihat dia tampan juga ya ...., tapi sayang dia aneh banget, orangnya juga tegaan ...., nggak ada lembut-lembutnya ....., batin Tisya sambil terus menatap Wilson hingga ia tidak menyadari jika Wilson sudah duduk di depannya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Wilson sambil mulai mencampurkan saus dan kecap ke mangkuk baksonya.
"Ahhh e ...., enggak! Siapa juga yang liatin!"
"Bagus lah ...., makanlah, ini tadi titipan dari mama kamu!"
"Mama? Maksudnya mama Tania?"
"Memang siapa lagi mama kamu selain dia?!"
"Bukan gitu ...., aku cuma ngerasa surprise aja di kirimi bakso sama mama!"
"Kalau gitu cepat di makan dan jangan di sisakan!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰