
Dokter Frans dan Felic masuk ke dalam kamar mandi bersamaan. Mereka tidak melakukan apa-apa lagi selain mandi. Dokter Frans membantu Felic membersihkan tubuh Felic, mengerami sambutnya.
"Lain kali kalau mau hujan-hujanan kamu harus minum vitamin dulu!" ucap dokter Frans sambil mengusap rambut Felic dengan sampo.
Felic duduk di atas bathub sambil memainkan busa yang ada di dalamnya.
"Mana bisa kayak gitu, keburu hilang dong hujannya!"
"Hehhh ...., nggak ada hujan yang tiba-tiba ilang, emang hujan kayak om jin apa!?"
Dokter Frans segera mengguyur rambut Felic dengan air hangat hingga busa di atas kepalanya perlahan menghilang. Harusnya sabun bercampur aroma terapi membuat suasana kamar mandi menjadi begitu menenangkan.
Dokter Frans segera mengambilkan handuk baju untuk Felic.
"Berdirilah!" ucap dokter Frans sambil membuka handuk baju itu agar Felic tinggal memakainya sedangkan dokter Frans sudah lebih dulu melilitkan handuk di pinggangnya sendiri.
Felic pun menuruti apa yang di perintahkan suaminya, ia berdiri dan suaminya itu segera menutup tubuhnya dengan handuk.
"Ayo ...., biar aku mengeringkan rambutmu!"
Dokter Frans mengajak Felic ke ruang ganti dan memintanya untuk duduk di atas keranjang baju kotor yang tertutup itu.
"Tunggu sebentar ya, aku pakek baju dulu!"
"Biar aku siapkan!" ucap Felic yang hendak kembali berdiri.
"Duduk saja, aku akan mengambilnya sendiri!" ucap dokter Frans dan Felic pun kembali duduk.
Dokter Frans terlihat membuka lemari besarnya, melihat tumpukan kaos dengan berbagai warna yang terlipat begitu rapi, pilihannya jatuh pada kaos berwarna hijau toska.
Ia juga mengambil celana pendek dan juga celana d*lamnya. Felic hanya bisa diam dan melihat apa saja yang di lakukan oleh suaminya.
Setelah memakai semua bajunya, dokter Frans pun kembali dengan membawa handuk kecil yang masih kering.
Dokter Frans pun segera berdiri di belakangnya dan dengan telaten mengeringkan rambut Felic dengan handuk itu.
Haciiiiiinnnnnn haciiiiinnnn haciiiiiiiinnn
Tiba-tiba Felic bersin dengan begitu kuat membuat dokter mengentikan kegiatannya.
"Nah benar kan kamu flu!" ucap dokter Frans yang langsung meletakan handuknya.
"Nggak pa pa sayang!" ucap Felic sambil mengucek hidungnya yang terasa gatal.
"Nggak pa pa gimana, tuh lihat hidung kamu aja merah gitu! Kamu juga bersin-bersin!"
Dokter Frans pun segera mengambilkan baju untuk Felic membantunya memakai bajunya.
Srekkkkk
Dokter Frans dengan cepat mengangkat tubuh Felic dan membawanya atas tempat tidur, dokter Frans pun juga mengambil selimut dan menyelimutkan pada Felic.
"Diam di sini!"
__ADS_1
"Tapi aku tidak pa pa Sayang!" ucap Felic tapi dokter Frans terlihat sibuk menyiapkan peralatan dokternya.
"Semua pasienku juga berkata seperti itu!"
Dokter Frans pun mengambil stetoskop nya dan mengalungkannya di lehernya. Ia duduk kembali di samping Felic.
"Keluarkan lidahmu, aaaa .....!" ucap dokter Frans sambil mencontohkannya pada Felic.
"Tapi sayang ....., sungguh aku tidak pa pa!"
"Jangan banyak bicara! Ayo buka mulutmu!"
Felic pun menuruti permintaan suaminya, ia membuka mulutnya dan menjulurkan lidahnya.
Dokter Frans memeriksa detak jantung Felic dengan stetoskop yang sudah di ambil oleh dokter Frans. Dokter Frans terlihat begitu cermat memeriksa Felic.
"Apa kau akan menyuntik aku?" tanya Felic yang terlihat begitu cemas.
"Kenapa?"
"Kamu kan tahu kalau aku takut jarum suntik, kenapa kau masih menakuti aku!?" ucap Felic begitu kesal.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk membuat dokter Frans mengurungkan niatnya untuk menjahili istrinya itu.
"Ini saya tuan!"
Itu suara bi Molly, "Masuklah bi, tidak di kunci!"
"Tuan ...., kami membawakan teh jahe untuk tuan dan nyonya agar tubuhnya lebih hangat!"
Bi Molly pun meletakkan dua gelas itu di atas meja,
"Terimakasih ya bi!"
"Nyonya kenapa tuan?" tanya bi Molly melihat tuannya membawa stetoskopnya.
"Felic sedikit demam karena air hujan!" ucap dokter Frans.
"Apa serius tuan? Kenapa tidak ke rumah sakit saja!?" tanya bi Molly yang tidak kalah khawatirnya.
Bahaya nih ...., kalau sampai Frans mengikuti permintaan bi Molly bagaimana ....., batin Felic yang melihat reaksi dua orang di depannya sangat berlebihan.
"Ahhhh tidak bibi, kenapa aku harus ke rumah sakit kalau di rumah saja ada dokter terbaik di rumah sakit itu ....., apa yang lebih baik dari menjadi pasien utama dari dokter terbaikku ini ....!" ucap Felic dan menatap suaminya itu.
"Iya kau benar ...., jika di rumah sakit aku tidak bisa mengurusi mu sepanjang hari tapi jika di rumah waktuku cuma untukmu!" ucap dokter Frans.
Dokter Frans pun akhirnya mengurus istrinya sendiri, ia bahkan terjaga sepanjang malam untuk memastikan suhu tubuh istrinya tidak bertambah panas.
Hoahhhhhhh
Beberapa kali dokter Frans terlihat menguap, tapi ia enggan memejamkan matanya takut jika sewaktu-waktu istrinya terbangun.
__ADS_1
...*****...
Pagi ini Felic merasakan tubuhnya sudah lebih segara walaupun kepalanya masih terasa pusing, Felic merenggangkan tubuhnya mulai membuka matanya yang masih terasa berat.
Tangannya yang tertutup selimut segera ia keluarkan karena ia merasakan tangannya yang sebelah kiri di genggam oleh seseorang, ia yakin itu tangan suaminya.
"Ehhhhhh ....! Pusing sekali!" gumam Felic saat tangan kanannya sudah berada di keningnya dan sedikit memberi pijatan.
Tapi kemudian ia teringat jika biasanya suaminya berada di sebelah kanannya tapi saat ia meraba sebelah kanannya tidak ada siapa pun, tapi tangan kirinya di genggam seseorang.
Felic pun segera beralih ke kiri dan ternyata suaminya itu tertidur di sebelah kirinya dengan posisi duduk simpuh di bawah sedangkan kepalanya bersandar di atas tempat tidur dan tangan yang masih menggenggam tangan Felic.
"Jadi Frans semalaman terjaga gara-gara jagain aku!?" gumam Felic, tangan kanannya mengusap rambut dokter Frans.
"Terimakasih ya sayang ....!" ucapnya lagi.
Dokter Frans yang merasakan sentuhan di kepalanya pun terbangun, ia segera mengusap matanya dan melihat ke arah Felic dan melihat senyum Felic.
"Fe ...., kamu sudah bangun?" tanya dokter Frans dan tangannya dengan otomatis memegang kening Felic.
"Masih panas ....!" gumamnya setelah merasakan suhu tubuh istrinya masih sangat panas.
"Aku sudah tidak pa pa sayang!" ucap Felic.
"Tidak pa pa bagaimana, suhu tubuh kamu masih panas gini, lain kali nggak usah main hujan-hujanan lagi!"
Felic melengus kesal saat dokter Frans berdiri meninggalkan Felic. Ia mengambil ponselnya yang semalam ia biarkan tergeletak begitu saja dan melakukan panggilan pada seseorang.
"Hallo Wil ...!"
"Iya tuan!"
"Kamu bisa datang ke sini saja kan untuk membicarakan rencana kita, Felic sakit jadi aku harus menjaganya di rumah!"
"Baik tuan! Tapi nyonya Felic sakit apa?"
"Felic demam, kemarin main hujan-hujanan!"
Dokter Frans segera mengakhiri sambungan telponnya dan kembali menghampiri Felic dan duduk di sampingnya.
"Apa yang di rasakan?"
"Kepalaku cuma pusing aja sayang!"
"Biar aku ambilkan air putih ya, kamu tidur aja!"
Bersambung
...Kamu adalah pikiran terakhir dalam pikiranku sebelum aku tertidur dan pikiran pertama ketika aku bangun setiap pagi, tapi aku tidak suka tidur karena kenyataan di depanku lebih indah dari mimpiku karena mencintaimu...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰