
Setelah menyelesaikan makan malam, mereka pun kembali lagi ke ruang keluarga tadi, tapi
kali ini nyonya Ratih sudah memilih untuk masuk ke dalam kamar, ia sudah harus
istirahat. Sebenarnya alasan utamanya bukan itu, tapi ia ingin mendekatkan
anak-anaknya, memberi kesempatan pada mereka untuk saling berbincang, jika ada
dia diantara mereka pasti suasananya akan sangat canggung.
Nyonya Ratih memilih melihat mereka dari kamarnya, senyumnya mengembang saat ada
kehangatan dan kerukunan dari mereka, ia selalu berdoa semoga saja semua ini
terus berlanjut dan jikapun ada masalah, anak-anaknya akan mampu menyelesaikan
masalah mereka dengan baik.
“Paman dokter …!” Sanaya sudah menghampiri
dokter Frans yang duduk bersama daddy-nya.
“Iya?”
“Kapan paman dokter menambahkan adik bayi untuk Nay, lihat aunty Nadin saja di
perutnya sudah ada dedek bayi lagi!” ucap Sanaya dengan polosnya.
“Memang mau adek bayi berapa lagi?” tanya dokter Frans.
“Yang banyak, biar Nay tidak Cuma berdua sama Divia, semua curang Gara sudah punya
Abimanyu dan Elan, aku Cuma punya Divia, kan tidak adil!”
“Minta daddy mu untuk membuatkan adik bayi yang banyak!”
“kata Daddy sedang proses, lalu kapan paman dokter prosesnya, bukankah paman seorang
dokter, mom bilang di rumah sakit banyak adek bayi, tapi paman tidak dapat-dapat adek bayi!”
Nggak tahu aja kamu nih paman juga sedang
proses ….
“sudah jangan membuat paman banyak berpikir, nanti kaca mata paman tambah tebel
gara-gara kamu!”
“paman nggak asik!”
Sanaya terpaksa meninggalkan dokter Frans dan daddy-nya dan memilih kembali menghampiri saudara kembarnya yang sedang asik bermain dengan Elan dan Abimanyu.
“Kenapa tertawa?” tanya dokter Frans pada Agra yang sedari tadi tidak berusaha
membantunya menjawab pertanyaan putrinya. Rendi yang juga duduk terpisah dnegan
mereka hanya diam sambil melipat tangannya di depan dada.
“Bagaimana apa sudah proses?” ternyata daddy-nya Sanaya juga menanyakan hal yang sama.
“hehhhh …!”
“jadi belum?” Agra jadi begitu penasaran.
“Kepo!”
“Jangan-jangan tiba-tiba, kamu setop cer seperti Rendi, lihat si pria dingin itu, tiba-tiba
sudah mau dua saja!” ucap Agra sambil melirik Rendi, Rendi yang merasa di bicarakan segera mengangkat bantal kecil di sampingnya dan di lemparkan ke wajah Agra.
“memang istrinya mau lari kemana lagi, matanya tidak beralih sama sekali dari istrinya!”
tambah dokter Frans karena ia menyadari dari tadi tatapan Rendi tidak pernah
beralih dari nadin yang duduk bertiga dengan Ara dan felic.
__ADS_1
Kalau Divta, jangan di tanya lagi. Dia sekarang jadi sedikit gila kerja, bahkan ia
duduk menyendiri di pojok ruangan sedang menyelesaikan pekerjaannya melalui tab
nya.
“Dia terlanjur trauma di tinggal istrinya, ya begitulah kalau balok es!” Agra seperti
memaklumi sahabatnya itu, “lalu sekarang jawab pertanyaanku yang tadi!”
“yang mana?”
“Sudah bobol belum?”
“Jangan tanya lagi, gue dokter nggak bagus kalau nggak praktek ngasih saran sama
pasiennya!”
“Gimana rasanya?”
“Pantas saja kalian uring-uringan kalau jauh dari wanita mu, sekarang gue sudah tahu
rasanya!’
‘Dan lo nggalamin hal yang sama!”
“Tahu aja!!”
“Gue kasih tips ya sama lo, jangan pernah cari masalah sama mereka kalau nggak mau
puasa satu minggu, apalagi kalau masalah yang lo buat semakin besar puasa lo
bakal semakin lama!”
“Kayak sudah jago aja lo jadi suami!”
“Jangan salah, gue sudah delapan tahun menikah!”
“Sudah tua aja lo …!’
Rendi yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan sahabatnya itu ikut tersenyum,
ia mengingat betapa lamanya kemarin ia puasa untung akhirnya bisa buka puasa.
“Rend, bagaimana acaranya?” tanya dokter Frans tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
“Maksudnya?”
“Ya lo sama Nadin pengennya acara yang bagaimana untuk acara empat bulanan lo?”
tanya dokter Frans sedikit jengkel dengan sahabatnya itu.
“Kita buat sederhana saja, karena acaranya bersamaan dengan acara peresmian taman
bermain, jadi kita bisa mengundang anak-anak yatin piatu dan memberikan kebahagiaan sedikit untuk mereka, acaranya di adakan di taman bermain juga, akan ada banyak makanan dan permainan!” ucap Rendi panjang lebar membuat dua sahabatnya tercengang.
“Dasar …., ini nih kalau otak batu, kalau di suruh mikir masalah pekerjaan cepet
banget ngomongnya juga banyak!”
“Nggak penting ngomong banyak untuk hal yang tidak penting!” ucap Rendi lagi begitu
dingin menanggapi ucapan sahabatnya yang sudah sangat menggebu.
“Ya udah kalau gitu kita lanjut saja bahas rencananya, gimana kalau kita mengundang
anak-anak yang ada di panti asuhan kita dulu, di panti asuhan kasih bunda!”
Agra ikut memberi saran, tapi saran dari Agra itu berhasil membuat dokter Frans
tercengang, lagi-lagi mengingat tentang panti asuhan ada kenangan indah
sekaligus buruk di sana.
“Aku setuju saja!” ucap rendi menanggapi usulan dari Agra.
__ADS_1
“baguslah, itu semua nanti aku serahkan sama Frans dan istrinya! Mungkin dengan begitu
mereka bisa lebih dekat lagi!”
“Jadi cuma gue? Lalu lo, kalian berdua?” tanya dokter Frans tidak percaya, dua sahabatnya
itu terkesan mengerjainya.
“Aku sama Rendi yang melanjutkan acara pembangunannya, dan lo yang ngurus acaranya, masih ada waktu satu minggu juga kan!”
“Emang kalian mau ikut ngangkat karung semen sama batu apa?!” gerutu dokter Frans dan hanya mendapat tanggapan senyuman dari kedua sahabatnya itu.
Di tengah perbincangan hangat mereka tiba-tiba divta ikut bergabung, ia sepertinya
sudah menyelesaikan pekerjaannya.
“Wah …, kayaknya asik nih pembicaraannya!” ucap Divta lalu ikut duduk di samping
Rendi yang masih kosong.
“Sudah selesai bang kerjanya? Jangan terlalu memforsir kerjanya, jaga kesehatan juga,
cari pasangan juga!” ucap agra sambil menatap abangnya itu.
“Aku masih pengen menikmati masa mudaku!”
“Sudah nggak muda lagi kali bang …!” dokter Frans ikut menanggapi ucapan Divta.
Ha ha ha
Semua tertawa lepas, memang mereka sudah tidak muda lagi, usia mereka sudah l;ebih
dari tiga puluh tahun, bahkan Divta sudah tiga puluh enam, sudah sangat matang
untuk menikah.
“Oh iya Frans!”
“Ada apa bang?”
“kemarin karyawan ku ada yang nanyain kamu!”
“Aku?”
“Iya …, dia namanya Rangga. Dia pengen tahu tentang kamu!”
“Lalu apa yang abang katakan?”
“Aku suruh cari sendiri di internet, aku heran saja Rangga yang biasanya tidak
pernah membicarakan selain pekerjaan tiba-tiba saja menemui ku di ruangan dan
menanyakan tentangmu!”
Dia benar-benar penasaran tentang
gue ….
Dokter Frans hanya tersenyum menanggapi ucapan Divta, tapi Rendi dan Agra begitu penasaran dengan pria yang bernama Rangga ini.
“Dia siapa? Apa rival mu?” tanya Agra penasaran.
“Dia mantan pacar Felic!” jawab dokter Frans singkat.
“Sudah ku duga!” ucap Divta santai sambil mengambil segelas minuman.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘❤️
__ADS_1