
Tisya cukup terkejut dengan ucapan suaminya, kalau bukan dari kakeknya lalu dari siapa?
"Maksudnya?"
"Surat perjanjian itu adalah rencana tuan dokter untuk melepaskannya dari jeratan tuan Bactiar!"
"Jadi tidak ada kakek dan pengacara?" tanya Tisya dan Wilson menggelengkan kepalanya.
Kenapa jadi seperti ini ....????
"Jadi kak Frans tahu kalau pernikahan kita pura-pura?" tanya Tisya lagi meyakinkan.
"Tidak ada yang pura-pura!" ucap seseorang tapi Tisya yakin jika itu bukan dari Wilson.
Tiba-tiba seseorang muncul dari balik tirai yang terbuka membuat Tisya menoleh ke arah tirai itu.
Ada dokter Frans, Felic dan mama Tania di meja sebelah yang hanya terpisah oleh tirai berwarna hitam.
"Kalian?"
Tisya begitu terkejut, ia kembali menoleh kepada Wilson.
"Kamu tahu tentang ini?" tanya Tisya lagi.
"Iya ...., aku sengaja mau buat surprise sama kamu, semoga kamu nggak marah sama aku!" ucap Wilson.
Dokter Frans berjalan mendekati mereka.
"Jika mau marah jangan marah sama Wilson, di sini aku yang paling salah!"
"Aku tahu!"
Tisya memang begitu kecewa karena merasa di bohongi oleh semua orang.
"Mama juga tahu?" tanyanya sambil beralih menatap mamanya yang duduk di samping Felic.
"Mama baru tahu sayang, tapi mama suka dengan ide Frans!"
"Mama!!" protes Tisya.
Dokter Frans mendekati adik perempuannya itu lalu memeluknya.
"Maafkan kakak mu ini ya, inilah cara kakak untuk mencintai adiknya jadi mau tidak mau kamu harus mau dan terima!"
"Ihhh kak Frans maksa banget sih!"
"Jadi gimana, mau maafin aku kan?" tanya dokter Frans lagi dan Tisya pun mengangguk.
"Lalu aku?" tanya Wilson membuat Dokter Frans dan Tisya menoleh bersamaan menatap Wilson.
"Dimaafin ya!" ucapnya lagi saat dua orang itu masih saling diam.
"Kak Frans tahu kalau Wilson suka sama Tisya?" tanya Tisya kemudian.
"Baru tahu sih, tapi rencananya memang kakak buat seperti itu, tapi pesona mu sudah membuat pria ini jatuh di pelukanmu lebih cepat!"
"Ittttsssss, kakak!" keluh Tisya melihat kelakuan kakak laki-laki nya itu.
"Kasihan tuh Wilson di anggurin terus!" ucap dokter Frans, Tisya pun melepaskan dokter Frans dan beralih memeluk Wilson.
__ADS_1
"Ya iya lah aku maafin, lagi pula kan aku nggak perlu susah-susah cari uang satu milyar dan bonusnya aku dapat suami sebaik Wilson, apa yang salah coba!"
"Terimakasih sayang!" ucap Wilson.
"Cie cie ....., sayang!" ledek dokter Frans sambil tersenyum senang.
Di sisi lain Felic dan nyonya Tania juga saling berpelukan, begitu bahagia.
"Akhirnya ...., mama senang! Setidaknya sekarang Tisya bersama orang yang tepat!"
"Iya ma!"
Saat memeluk mama mertuanya itu tiba-tiba Felic memekik sambil memegangi perutnya yang besar itu.
"Ada apa sayang?" tanya nyonya Tania.
"Nggak pa pa ma, hanya kontraksi semu saja!"
"Sejak kapan?"
"Sejak pagi ma, tapi tiba-tiba ilang sendiri kok ma!"
Felic terlihat mengusap punggungnya dan beberapa kali menghembuskan nafasnya agar rasa sakit di perutnya sedikit berkurang.
Ia sengaja tidak memberitahu suaminya agar acara hari ini tidak gagal, ia tahu Wilson sangat menunggu moment ini.
"Mama ambilkan minum ya!" nyonya Tania segera mengambilkan air putih untuk Felic.
Felic dengan cepat meneguknya, tapi kini rasa sakitnya tidak mampu tertahan lagi.
"Eghhhhhhhhhhh ...., ma ....!" tanyanya mencengkeram erat taplak meja berwarna putih itu, keringatnya sudah memenuhi keningnya.
"Ma ...., air ....!"
"Nggak ma ...., ini air!"
Nyonya Tania terlihat panik, ia pun melihat ke bawah dan ternyata air ketuban Felic sudah pecah.
"Frans ...., Felic mau melahirkan!" teriak nya membuat ketiga orang yang berada cukup jauh itu menoleh padanya.
"Fe ....!"
Dokter Frans tercengang di tempatnya, ia terlalu syok.
"Kak ...., kak Fe mau melahirkan!"
Tisya menarik tangan dokter Frans dan mereka pun berlari ke arah Felic, kini Felic sudah tidak lagi duduk di atas, ia sudah duduk di lantai dengan punggung yang di sanggah oleh nyonya Tania.
"Sakit banget ma ....! Sakit ....!"
"Sabar ya sayang ....!"
Nyonya Tania beralih menatap putranya yang masih diam di depan istrinya,
"Frans ini bagaimana?" tanya nyonya Tania, tangannya sudah di genggam begitu erat oleh Felic.
"Kita ke rumah sakit ya?" ucap dokter Frans.
"Jangan di sini saja, kayaknya sudah mau keluar!" ucap Felic yang merasakan kepala anaknya sudah akan muncul.
__ADS_1
"Ya udah Frans lakukan di sini saja, kamu kan dokter! Biar Wilson yang memanggil ambulan dan tenaga medis lainnya! Kamu tangani Felic di sini biar mama bantu!"
Pihak restauran yang mengetahui jika akan ada yang melahirkan di dalam restauran nya segera mencari bantuan.
"Jangan khawatir pak di dalam sudah ada dokter!" ucap Wilson menenangkan pihak restauran.
"Tapi saya minta pihak restauran menutup sementara restauran ini selama proses persalinan!"
"Baik pak!"
Di dalam hanya ada Tisya, nyonya Tania dan dokter Frans yang membantu.
Dokter Frans segera melepas jasnya, menyingsing kemejanya.
"Kita pasti bisa Fe!"
"Sakit banget Frans ...., ma ...., sakit ....!" Felic terus mencengkeram tangan mertuanya.
Dokter Frans mulai melepas ****** ***** Felic yang sudah basah, memposisikan kakinya agar menekuk.
Wilson juga sudah meminta pihak restauran untuk mematikan cctv untuk sementara.
Tisya yang bertugas membantu apa saja yang di butuhkan oleh kakaknya itu.
"Kita mulai ya sayang ....!" ucap dokter Frans , sesekali dokter Frans mengecup kening istrinya saat istrinya hendak mengejang.
"Tarik nafas Fe ...., keluarkan! Ayo sayang kamu pasti bisa ...!"
Setelah mendapat arahan dari suaminya, Felic pun mulai bersiap-siap untuk mengejang kembali,
"Uhhhh hahhhhh ....., uhhhhh ahhhhhhh .....!"
"Lagi sayang, kepala nya sudah kelihatan sayang! Ayo kamu pasti bisa! Mengejang yang kuat ya, ayo satu dua tiga ...!"
"Egggggghhhhhhhh ....., hehhehh ....!"
"Ayo sedikit lagi sayang, sekarang yang lebih kuat lagi!"
"Egggggghhhhhhhh ......!"
Oeeek oeeeek oeeeek .....
Terdengar suara bayi, bayi itu sudah langsung berada di tangan dokter Frans.
"Alhamdulillah ....!" ucap semua yang ada di tempat itu. Felic tersenyum melihat bayi mungil yang masih penuh dengan darah berada di tangan suaminya, ia sudah benar-benar menjadi seorang ibu sekarang.
Tangan dokter Frans terlihat sekali bergetar saat mengendong bayi itu,
"Putra kita sayang!" ucap nya dengan penuh syukur dan haru, air mata dokter Frans bahkan tidak mampu tertahan lagi.
Dokter Frans pun menyerahkan putranya itu pada Tisya, ia kembali fokus pada Felic.
"Kita mengejang sekali lagi sayang, biar ari-arinya keluar!"
Dengan aba-aba dari dokter Frans, Felic pun mengejang sekali lagi dan benar saja ari-arinya keluar.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249