
Setelah hari itu, Felic lebih bisa terbuka dengan hatinya. Ia tidak mau terlalu egois
dengan terus memaksa suaminya untuk mengakui perasaannya.
Perhatian yang di berikan suaminya ia sudah menganggap cukup. Karena banyak waktu luang yang ia punya setelah tidak menjadi office girl lagi, kini Felic lebih fokus menulis.
Walaupun tidak terlalu nyaman dengan laptop barunya, tapi ia harus tetap menggunakannya
karena suaminya sudah terlanjur menyimpan laptop lamanya.
“Hari ini mau aku bawain apa?” tanya dokter Frans sambil memeluk istrinya itu sebelum
berangkat kerja.
“Harus ada oleh-oleh ya?” Felic malah bingung, ia memiringkan tubuhnya berusaha
menjangkau wajah suaminya yang memeluknya dari belakang.
“Ya kali …, kan kata bi Molly akhir-akhir ini kamu mintanya aneh-aneh!” ucap dokter Frans sambil menundukkan wajahnya saat melihat istrinya berusaha menatap wajahnya.
“Sekarang sedang nggak ingin apa-apa, tapi nggak tahu nanti!”
“Kalau aku pikir-pikir, kamu kok kayak orang hamil sih …!” dokter Frans terkejut
sendiri dengan ucapannya, pasalnya ia juga tidak pernah tahu pakan Felic datang
bulannya.
Dokter Frans membalik tubuh Felic hingga menghadap padanya, memegang kedua lengan
Felic dan mengamati tubuhnya, “Jangan-jangan kamu beneran hamil ya?”
Felic malah bingung sendiri, “hahh …, masak sih?”
“Atau kamu ikut aku ke rumah sakit aja biar dokter Sifa meriksa kamu!”
“Jangan sekarang deh!”
“Kenapa?”
“Aku ada janji sama editor aku!”
“Editor?”
“Iya aku belum cerita ya?"
"Belum…!"
"jadi gini ceritanya, kemarin ada salah satu penerbit buku telpon aku, katanya mau nerbitin karya aku yang udah tamat tapi aku harus hubungi editor yang di tunjuk penerbit itu, sekalian ngomongin langkah selanjutnya, gitu!”
“Oh …, gitu! Sayang banget ya!”
“Nggak pa pa ya, lain waktu deh janji! Ini beneran nggak nyangka aku mau di bukuin karya aku!”
“Ya udah selamat ya, kalau gitu aku berangkat ya!” ucap dokter Frans sambil mengecup kening Felic sebelum berangkat.
“Iya makasih, hati-hati!”
“Jangan capek-capek! Aku takut nanti kalau ada Frans junior di sini, dia kesakitan
gara-gara bundanya kecapekan!”
Dokter Frans berbalik kembali sambil mengelus perut rata Felic.
Setelah dokter Frans pergi, Felic malah tersipu sendiri sambil mengelus perutnya yang
masih rata, ia menatap pantulan dirinya di cermin.
“Gimana ya rasanya kalau aku hamil? Perutku bakalan buncit …! Pasti beruntung banget
aku …!”
***
__ADS_1
Saat ini Felic sudah berada di dalam sebuah kafe, matanya mengedar ke seluruh
penjuru kafe mencari sesosok orang yang ciri-cirinya ada dalam foto yang ada di
ponselnya.
Setelah sekian menit akhirnya ia bisa melihat seorang wanita berhijab warna abu-abu
sedang duduk sendiri si dekat jendela. Felic pun mempercepat langkahnya,
“Mbak Mia ya?” tanya Felic setelah sampai di depan wanita berhijab itu, wanita itu
tersenyum dan berdiri menyambut kedatangan Felic.
“Mbak Felic Daryl?”
“Iya mbak!”
Setelah saling berkenalan, mereka pun akhirnya melakukan meeting seperti yang di
rencanakan jika mbak Mia ini yang akan menjadi editor novelnya sebelum masuk ke
tahap percetakan.
Ternyata banyak sekali kata-kata atau kalimat yang harus di ganti, butuh waktu yang cukup
lama hanya untuk membahas satu bab saja dalam novelnya. Hingga butuh waktu sampai hampir sore hanya untuk membahas
beberapa bab saja.
“Makasih ya mbak atas ilmunya hari ini!”
“Sama-sama mbak Fe, senang bisa bertukar pemikiran sama mbak Fe, orangnya asik!”
“Mbak Mia juga!”
“Oh iya …, untuk selanjutnya mbak Fe langsung datang ke tempat kami saja ya!”
“Iya mbak pasti!”
Akhirnya ibu satu anak itu meninggalkan Felic. Mia adalah single parent, tapi tampak
sekali dia begitu bahagia menjalani hidupnya. Diam-diam Felic mengangumi sosok
Dea walau baru bertemu satu kali, sikap keibuan dan terbuka untuk menerima
pendapat orang lain dan pastinya punya karisma tersendiri.
“Inscure sendiri liat yang begitu …, gue mah nggak ada apa-apanya, tapi dikit-dikit
ngeluh!” gumam Felic sambil sibuk mengemas barang-barang bawaannya termasuk
laptop barunya.
Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya, jarum jam sudah menunjuk
ke angka tiga, mungkin sebentar lagi suaminya juga akan pulang. tapi mengingat
suaminya, ia jadi ingat dengan kata-kata suaminya sebelum berangkat kerja.
“Apa aku mampir ke apotik aja ya, aku coba beli testpack deh …!”
***
Dokter Frans melakukan pekerjaannya seperti biasa, walaupun tidak full seperti dokter
yang lainnya, tapi dokter Frans selalu di libatkan dalam operasi-operasi besar
karena bagaimanapun dokter Frans adalah tetap menjadi dokter terbaik di rumah
sakit itu, bahkan ia jika menjadi guru bagi dokter-dokter baru. Ia juga sering
di undang dalam berbagai seminar kedokteran untuk menjadi pembicara.
__ADS_1
Dokter tampan itu hari ini pulang sedikit lebih sore, biasanya ia hanya berada di
rumah sakit sampai setengah hari saja dan melakukan pekerjaan lain setelahnya,
karena hari ini jadwal operasinya sedikit padat jadi ia pulang sedikit terlambat.
Terlihat sekali dari wajah lelahnya, ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit dan
menuju ke tempat mobilnya terparkir,
“Dokter …!”
Seseorang sepertinya memanggilnya, hingga ia menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam mobil, dari arah lain ia melihat seorang pria berjalan padanya.
“Rangga …!”
“Maaf mengganggumu, bisa kita bicara sebentar!”
Akhirnya dokter Frans mengurungkan langkahnya untuk masuk ke mobil, kini mereka duduk di sebuah bangku yang memang di sediakan di lahan parkir yang luas itu.
“Ada apa?”
“Sebenarnya saya ada urusan sedikit dengan Felic, mau nyerahin ini saja sekalian nitip sama
Ersya! Dia sulit sekali aku hubungi, dia juga tidak menjawab pesanku!”
Pria tampan itu meyerahkan dua lembar undangan pertunangan, tapi bukan atas nama
dirinya tapi orang lain. Berarti itu menandakan jika undangan pernikahan itu
bukan miliknya tapi milik orang lain.
“Baguslah …! Berarti dia tahu kalau udah jadi istri orang!”
“Terimakasih karena bersedia memberikan padanya!”
“Kenapa yang punya Ersya tidak kamu berikan sendiri? Kenapa harus melalui Felic?!”
Sebenarnya dokter Frans cuma mau ngomong, kamu modus ya, pengen ketemu istri aku aja ya? Padahal kan nitip Ersya juga bisa.
“Felic yang paling tahu, undangan ini sebenarnya pantas untuk di berikan pada Ersya
atau tidak!”
Rangga pun berdiri dan meninggalkan dokter Frans yang masih terbengong dengan ucapan
pria itu, ia kembali menatap undangan itu, bukan undangan pernikahan tapi
undangan pertunangan.
Ia membaca kembali nama yang tertera dalam undangan pertunangan itu, “Rizaldi Ananta dan Tisya Bactiar!”
“Tisya!”
gumam dokter Frans sambil terus menatap undangan itu, ia melihat tanggal dan
bulan yang tertera, dua minggu lagi.
Dokter Frans ikut berdiri dan memakai kaca mata hitamnya.
“Kenapa juga aku pikiran, bukan urusanku juga …!” gumam dokter Frans sambil berjalan
menuju ke mobilnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰