Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Pengalaman pertama yang panjang


__ADS_3

Kini mereka sudah berada kamar mereka dengan pakaian yang tak lagi basah. Felic


begitu canggung untuk memulai bicara begitupun dengan dokter Frans.


Dokter Frans sudah berada di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya sedangkan


Felic sedang sibuk di depan cermin, entah kenapa saat ini ia sangat suka berad


di depan cermin.


Mau berapa lama dia di depan cermin? Segitunya nggak mau deket sama gue ....


Sesekali dokter Frans memperhatikan Felic dari balik ponselnya. Tapi lama kelamaan dokter Frans menjadi tidak sabar, dokter Frans menghela nafas sebelum mulai bicara pada Felic agar istrinya itu tidak marah.


“Fe…, cermin nya entar pecah kalau terus lo pandangi seperti itu!” ucap dokter Frans dengan sedikit bercanda agar sedikit mencairkan suasana.


Felic menatap dokter Frans melalui pantulan cermin di depannya.


“hehhh ..!” ucapan dokter Frans membuat felic menghela nafas, mungkin memang sudah saatnya untuk ia hadapi semuanya.


Lo harus berani Felic ....., hadapi saja nggak ada salahnya juga .....


Felic pun berdiri dan berjalan menghampiri dokter Frans.


Ia duduk di sebelah dokter Frans, tempat tidur itu terlalu luas untuk dua orang jadi tidak perlu se-canggung itu sebenarnya untuk berada di atas tempat tidur yang sama, mereka buat main sepak bola pun masih muat (Heheheh …., sepak bola ranjang maksudnya, othor).


Felic mengambil selimut yang berada di bawah kakinya dan menutup kakinya dengan


selimut.


Dengan begitu ragu Felic menatap dokter Frans yang masih sibuk memperhatikan ponselnya.


Tanya nggak ya ...., tanya nggak ya ....., tanya aja deh ......


“Lo nggak marah sama gue?” tanya Felic kemudian setelah sekian banyak pertimbangan.


Pertanyaan Felic berhasil membuat dokter Frans menjauhkan ponselnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Felic membuat Felic tercengang di buatnya, hampir saja Felic berteriak tapi segera di bungkam mulutnya oleh dokter Frans.


“Suka sekali berteriak!” keluh dokter Frans dengan tangan yang masih membungkam mulut Felic.


“Ummmm, emmm!” Felic berusaha keras melepaskan tangan dokter Frans dari mulutnya. “Engap tahu!” keluh Felic setelah tangan dokter Frans menyingkir dari mulutnya.


"Lagian kenapa teriak?"


"Lo ngagetin gue, siapa suruh deket-deket gitu wajahnya?"


"Biar lo bisa bedain wajah marah sama enggak!"


"Aku kan belum pernah liat lo marah!"


“Apa ada sesuatu yang membuatku harus marah?” tanya dokter Frans.


“Ya…, soalnya, lo nggak dapat jatah lo sebagai seorang suami sejauh ini!”


“Em….., gimana ya? Kalau masalah itu sih sebenarnya sedikit kecewa!”


“Jadi maksudnya lo marah?”


“Kecewa sama marah itu beda! Apa sih yang kita butuhkan dalam sebuah hubungan


pernikahan kalau bukan sebuah hubungan biologis dan menghasilkan keturunan, iya


kan?”

__ADS_1


“Walaupun tanpa cinta?”


“Iya, cinta itu bisa datang belakangan!”


“Kalau sampai tua cinta itu nggak datang bagaimana?”


“Kalau kita tetap ngerasa nyaman dengan pasangan kita kenapa tidak berlanjut, cinta


bukan segalanya, lo sendiri kan yang bilang! Lupa? Apa perlu gue ingetin?"


Ih dokter ini pinter banget kalau


berargumen biar bisa dapet jatah …, gimana nih gue kalah telak nih …., bobol


juga nih kayaknya bentar lagi …


Felic segera menutup tubuhnya dengan selimut hingga tak menyisakan apapun untuk


terlihat.


"Fe …, gue nggak becanda lo!” ucap dokter Frans sambil mendekap tubuh Felic yang


terhalang oleh selimut.


“Frans …, jangan gitu ah geli tahu …!”


Dokter Frans malah semakin mengeratkan pelukannya, berusaha kerasa membuka selimut itu dan sesekali menggelitik tubuh Felic.


“Frans …!”


“Fe …!”


“Frans …, Frans …., Frans …..!” teriak Felic yang sudah merasa geli karena ulah


suaminya itu, dokter Frans terus saja menggoda Felic, hingga Felic terpaksa


“Ha ha ha …., nyerah juga kan akhirnya lo!” dokter Frans tertawa puas melihat Felic


manyun.


“Frans gue mau tidur!” ucap Felic sambil berusaha menarik selimutnya kembali tapi kalah cepat dengan dokter Frans, dokter Frans lebih dulu menarik selimut itu dan menjauhkan dari Felic.


"Frans ...., selimutnya!"


Kali ini Dokter Frans tidak lagi tersenyum, ia juga tidak memberikan selimutnya.


“kenapa buru-buru sekali sih!?” dokter Frans menunjukkan wajah kecewanya.


Dokter Frans tak lagi bicara dan juga tidak menatap Felic, ia memilih mengambil kembali ponselnya dan juga kaca matanya, Felic merasa terabaikan oleh sikap dokter Frans.


"Frans!" dokter Frans tidak juga merespon panggilan dari Felic. Hal itu membuat Felic merasa bersalah, memang mungkin sudah waktunya untuk dia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


“Frans!” ucap Felic sambil mengusap-usap kaki suaminya itu dengan kakinya, memainkan bulu-bulu yang tumbuh di kaki suaminya itu.


Dia sengaja sekali menggodaku ....


Karena tetap dengan tingkahnya benar-benar membuat dokter Frans tidak mampu bertahan.


“Apa?" tanya dokter Frans pura-pura marah.


“Sini!” ucap Felic sambil melambaikan tangannya agar suaminya itu mendekat padanya.


Dokter Frans pun mendekatkan diri ke wajah Felic.

__ADS_1


Cup


Sebuah kecupan mendarat di bibir dokter Frans cukup lama, tapi dokter Frans terlalu


terkejut hingga ia tidak membalasnya. Felic pun menjauhkan kembali bibirnya. Tapi


belum sampai benar-benar menjauh tangan dokter Frans sudah lebih dulu menarik


tubuh Felic hingga ia mendekat lagi, kini bibir mereka kembali bertemu.


Kecupan kedua terasa semakin panas saja, Frans mulai mengabsen setiap jengkal mulut


Felic, ********** dengan begitu rakus, tangannya tak hanya diam di tempat. Tangannya mulai menjelajah ke seluruh tubuh Felic.


Kaca mata yang dokter Frans entah sudah terlepas ke mana hingga ia melupakan semuanya, ia hanya punya satu tujuan malam ini, membuat Felic menjadi miliknya seutuhnya.


Tangan Felic mencengkeram erat kaos tipis yang di kenakan oleh dokter Frans. Mulai menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh dokter Frans.


Hingga tanpa terasa baju mereka entah sudah terlepas kemana, banyak sekali tanda yang telah di tinggalkan oleh dokter Frans di sana.


Saat menginjak ke intinya, dokter Frans berhenti sejenak, ia menatap wajah Felic


yang sudah penuh dengan peluh itu, begitu basah di sana.


“Lakukan Frans ….!” Ucap Felic dengan suara yang tertahan di sana, lebih terdengar


seperti sebuah desahan. Karena Felic sudah menyetujuinya, dokter Frans tidak


ragu lagi untuk melakukannya. Ia dengan perlahan memusatkan pada satu tempat


itu, dengan pelan dan penuh kelembutan ia menancapkan nya. Mengecup dengan


lembut di kening Felic saat air mata Felic mulai menetes, menghapusnya dnegan


bibirnya.


“Maaf ya, ini akan sedikit sakit, tapi nanti tidak lagi! Tahan ya!”


Dengan perlahan dokter Frans menarik dan melakukan nya beberapa kali hingga mereka


berdua larut dalam kenikmatan yang mereka rasakan untuk pertama kali itu. Peluh sudah


membasahi tubuh mereka, banyak sekali goresan di punggung dokter Frans akibat


cengkeraman dari Felic.


Desahan demi desahan menjadi irama yang menghanyutkan malam mereka, hingga mereka lupa waktu. Malam yang sudah berganti menjadi pagi tak terbaca lagi.


“terimakasih!”


bisik dokter frans setelah benih-benih itu ia tumpahkan ke dalam Rahim Felic,


sebuah usapan lembut ia akhirkan untuk Felic yang sudah terkulai lemah itu,


dokter Frans memeluk tubuh Felic yang lemah itu tanpa sehelai benang pun.


Bersambung dulu ya


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


**boleh juga loh kasih hadiah secangkir kopi atau sekuntum bunga buat author biar nggak ngantuk nih nulisnya.


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰 i**


__ADS_2