Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (68. Rumah lama papa)


__ADS_3

... Di balik kesulitan pasti tersimpan kemudahan tergantung bagaimana kita menyikapinya, mau terus fokus dalam kesulitan itu atau mencari celah untuk menemukan kemudahannya...


...🌺🌺🌺...


Zea terus saja diam, dia tidak tahu papa mertuanya akan membawa dirinya ke mana dan jika pun pergi sendiri ia juga tidak tahu harus ke mana sekarang, untuk kembali ke rumah lamanya jelas tidak mungkin karena sudah di tempati orang lain.


Apa jangan-jangan papa ingin mengajak Zea ke rumahnya? Kalau iya, bukankan malah semakin bermasalah untuk mama mertua .....


Tapi ternyata dugaannya salah, ia melewati jalan yang berbeda menuju jalan ke rumahnya.


Hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah yang tampak sepi, rumah sederhana dengan pagar sebatas perut.


Papa Rangga pun mengajaknya turun.


"Ini rumah siapa pa?"


Sebuah rumah lama yang masih terawat hal itu tampak dari taman yang ada di halaman, tanaman-tanaman itu masih hidup, halamannya juga tampak bersih.


"Mas Beni!?"


Seseorang langsung menyambut kedatangannya, tapi bukan dari dalam rumah. Orang itu dari rumah yang ada di samping rumah itu,


"Iya!"


"Kok datang nggak kaish kabar sih mas!?"


"Iya, tadi soalnya buru-buru, oh iya kenalkan ini menantu saya, Zea!"


Papa Rangga memperkenalkan Zea pada pria yang terlihat lebih muda dari pak Beni.


"Jadi ini istrinya Rangga? Trus Rangga nya mana?"


"Dia ada urusan lain, untuk sementara menantuku ini akan tinggal di sini!"


"Alhamdulillah, akhirnya ada yang menempati rumah ini, jadi nggak bersih-bersih percuma kan!"


Jadi orang yang baru menyapanya adalah orang yang di minta pak Beni untuk merawat rumah itu beserta tanamannya.


"Untuk selanjutnya, saya minta tolong ikut jagain menantu saya!"


"Pasti!"


"Ya udah kami masuk dulu ya!"


Pak Beni pun mengajak Zea dan bibi untuk masuk. Rumah itu tampak bersih dengan perabotan lama yang masih terawat.


"Ini rumah siapa pa?"


"Ini adalah rumah kakek dan nenek Rangga, semenjak mereka meninggal sudah tidak di tempati lagi!"


"Papa nggak punya saudara?"


"Ada, adik papa sekarang sudah tinggal dengan keluarganya di luar Jawa, mereka hanya akan datang ke sini setahun sekali kalau sempat!"


"Gimana kalau mama ke sini pa?"


"Mama Rangga tidak akan menyangka jika kamu berada di sana. Papa juga tidak akan membahas hal ini sama mama kamu, untuk sementara kita diam dulu sampai mendapatkan rencana untuk mengungkap kebusukan Miska! Papa yakin Miska di balik semua ini, selama itu kamu harus hidup baik-baik dengan anak kamu. Bibi juga akan menemanimu kalau masalah gaji, biar papa nanti yang menggaji bibi!"


"Zea sudah banyak merepotkan papa, maafin Zea ya pa!"


"Ini sudah tugas papa buat jagain kamu selagi Rangga masih sakit, jadi jangan khawatirkan yang tidak-tidak! Papa harus segera pergi sebelum mama kamu curiga, kalian tidak pa pa kan di tinggal sendiri?"

__ADS_1


"Iya pa!"


Zea kembali mengantar papa Rangga ke depan, taksi masih menunggunya. Sebelum itu pak Beni juga menyerahkan sejumlah uang untuk Zea,


"Pegang ini dan minta bibi pergi ke pasar untuk belanja!"


"Tapi pa_!"


"Kamu harus menerimanya, ada hak kamu di sini!"


"Terimakasih pa!"


Zea melambaikan tangannya hingga taksi benar-benar menghilang.


Ia bersyukur karena setidaknya dibtengah kesulitan ini masih ada kemudahan untuknya.


Zea kembali lagi masuk dan ternyata bibi sudah mulai menatap kembali barang-barang Zea.


"Ini di sini bagus loh buk!" bibi menunjukan foto pernikahan Zea dengan Rangga dan menggantungnya di dinding kayu yang menghadap ke depan.


"Bagus bi, terimakasih ya Bi!"


"Sama-sama buk, setelah ini bibi pergi ke pasar ya buk, ternyata di belakang tidak ada bahan makanan sama sekali, nanti keburu gelap!"


"Iya bi, ini uangnya!" Zea menyerahkan uang yang Barus aja di berikan oleh papa mertuanya.


"Jangan buk, bibi masih punya uang!"


"Jangan pakek uang bibi!"


"Bukan buk, ini uang belanja bulanan yang bapak kasih. Kan kemarin kita belum sempat belakang jadi uangnya masih ada!"


"Syukurlah!"


Zea mulai berkeliling rumah itu, rumahnya cukup asri dengan halaman di sisi kanan kiri dan juga depan belakang yang cukup luas, tanamannya juga beragam. Ada tanaman empon-emoon, Bungan dan tanaman buah.


"Udaranya segar sekali, berenda dengan di apartemen!"


Walaupun tidak jauh dari pusat kota, tapi ini perkampungan yang masih asri. Kalau mau ke kota ia hanya butuh waktu lima belas menit, tapi suara bising kendaraan tidak terdengar dari sana.


...***...


Hingga dua Minggu kemudian barulah Rangga di perbolehkan pulang,


Miska pun ikut menjemputnya, ia juga sudah membawa barang-barang nya ke apartemen Rangga agar terlihat meyakinkan kalau memang dia sudah tinggak lama di apartemen itu.


Tidak lupa ia juga memajang foto lama dirinya dengan Rangga agar Rangga bisa yakin tentang kedekatannya.


"Kamu langsung ke apartemen kan sayang?"


"Terserah mama saja!"


"Nggak, papa nggak setuju. Rangga harus pulang ke rumah! Di sana siapa yang akan jagain!"


"Miska om yang jagain Rangga!" Miska langsung ikut bicara.


"Nggak boleh, kalian bukan siapa-siapa. Tidak papa nggak akan setuju!"


"Tapi pa, Miska ini akan segera menjadi istri Rangga, ia kan Rangga?" mama Rangga langsung memotong pembicaraan suaminya, ia tidak mau sampai suaminya itu menggagalkan rencananya.


Rangga hanya bisa menganguk.

__ADS_1


Sesampai di apartemen, Miska mendorong kursi roda Rangga masuk ke dalam kamar,


"Tunggu bentar ya sayang, aku keluar dulu!"


Miska segara menghampiri papa dan mama Rangga,


Aku harus menyingkirkan dua penggangu itu dulu ....


"Sebaiknya sekarang om sama Tante pulang dulu deh!"


"Kenapa?" protes mama Rangga.


"Ya gini deh Tante sama om bayangin, Rangga baru aja pulang dari rumah sakit, ia butuh istirahat jangan sampai dia drop lagi gara-gara kalian!"


"Miska benar pa, sebaiknya kita pulang sekarang! Ya udah kami pamit dulu sama Rangga!"


"Nggak perlu Tante, Rangga udah aku suruh tidur tadi, jadi jangan khawatir!"


Miska pun benar-benar menyuruh mereka pergi, setelah kedua orang tua Rangga pergi, Miska kembali menghampiri Rangga.


"Mama sama papa kemana?"


"Oh mereka, udah pulang baru aja!"


"Pulang kok nggak pamit sama Rangga!"


"Lagi ada urusan mendadak katanya, mereka suruh kamu istirahat!"


"Sini aku bantu ke tempat tidur!"


"Aku bisa sendiri!"


Kaki Rangga tidak bermasalah, ia bisa berpindah ke tempat tidur sendiri,


Miska pun segera mendekati Rangga, mencondongkan tubuhnya pada Rangga, tangannya perlahan membuka kancing kemeja Rangga satu per satu.


Meskipun begitu dekat, bahkan Rangga dengan sengaja menatap mata Miska, tapi ia tidak merasakan getaran itu.


"Stop!" Rangga segera mencegah tangan Miska,


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Sayang, kita sudah lama tidak lakuin ini, aku kangen sama kamu!"


"Saya malah tidak yakin pernah melakukan ini, biarkan saya istirahat. Tubuh saya capek!"


Meski kesal akhirnya Miska menjauhkan tubuhnya, masih banyak waktu untuk merayu Rangga.


"Baiklah istirahatlah, aku akan pergi sebentar tidak pa pa kan?"


"Hmm!"


Rangga bahkan tidak peduli wanita itu pergi ke mana, ia segera merebahkan tubuhnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2