
Pertanyaan Ara menyadarkan felic, ia baru sadar jika belum mengenal pria yang menjadi
suaminya itu, bahkan ia tidak tahu latar belakang suaminya itu, sebelumnya ia
tidak pernah terusik dengan hal itu tapi setelah mendapatkan pertanyaan dari
Ara, entah kenapa ia jadi penasaran.
“Kenapa Frans panggil, mbak Ara kakak ipar?” itu pertanyaan pertama yang pengen Felic
tahu, setahunya pria yang bernama Agra tadi adalah sahabatnya.
Ara tersenyum, “Sebenwrnya aku tidak begitu suka dengan panggilan itu, menurutku terlalu formal sih, tapi akan aku jawab!"
"karena sebenarnya dokter Frans dan suamiku adalah saudara angkat!”
“Saudara angkat?”
“Iya .....!" ucap Ara penuh keyakinan, "Dokter
Frans tidak pernah cerita?” Felic hanya menggeleng, memang bukan sepenuhnya
salah Frans karena dia sendiri tidak pernah menanyakan hal itu, bahkan menanyakan tentang kehidupan suaminya saja tidak.
"Mereka benar-benar sama, suka sekali menyembunyikan identitas!" gumam Ara setelah berdecak kecil sambil menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.
"Identitas?"
"Iya ....., bahkan aku dulu tidak tahu siapa suamiku itu, aku kira hanya CEO biasa!"
"CEO?"
"Ahhhh ...., kamu bahkan tidak tahu itu!"
Apa benar yang di katakan mbak Ara, tapi mereka pas ke acara nikahan naik angkot!!!
"Lalu angkot itu?"
"Hehehe ...., jangan heran mereka bisa jadi apa aja, kadang sopir angkot, tukang panggul, pedagang sayur, pelayan, apa aja bisa di lakukan. Lain kali jangan terkejut lagi!"
"Ceritakan padaku mbak, aku pengen mendengarnya!"
“Baiklah aku akan cerita yang setahuku saja ya!” Felic pun bersiap untuk mendengarkannya, ia begitu semangat untuk mendengarkannya. Sepertinya hatinya sudah bisa mulai terbuka dengan kehidupan suaminya. "Mereka bukan orang-orang yang suka terbuka dengan kehidupan pribadinya, butuh tenaga ekstra untuk mengorek informasi!"
"Maksudnya?"
"Ya rayuan-rayuan sedikit lah ...., mereka paling nggak bisa kalau di rayu sama pasangannya, gampang luluh ....! Tapi lihat situasi juga, jika wajahnya tampak secerah mentari pagi, boleh deh merayu tapi kalau wajahnya tampak awan cumulonimbus, jangan harap dapat jawaban. Di cuekin iya ....!"
"Ihhhh ...., mbak Ara lucu juga, lagi dong mbak!"
“ Sebenarnya kamu beruntung, diantara ketiga orang itu yang paling banyak senyum dan hidupnya sedikit normal ya hanya dokter Frans!"
"Mbak Ara bisa aja! Ceritakan masa lalu mereka dong mbak!"
"Jadi ....., Dokter Frans dan suami saya dulu tinggal di panti asuhan!”
“Panti asuhan?”
“Iya …, mereka tumbuh dan besar di sana. Ibu suamiku mengangkat dokter Frans sebagai
anak karena dokter Frans sudah tidak punya orang tua lagi. Sebenarnya bukan
Cuma mereka berdua, ada Rendi juga!”
Si pria dingin itu? Aku tahu ….
“Ya dia sangat dingin, berbeda dengan mereka berdua! Tapi dia lebih beruntung karena tidak pernah tinggal di panti asuhan!”
"Mbak Ara ini seperti tahu aja apa
yang sedang aku pikirkan!"
"Jadi kamu memikirkan itu?" Felic pun mengangguk, "Siapa yang tidak tahu jika ia begitu dingin, ha ha ha ....!" Ara mengakhiri ucapannya dengan tertawa, menertawakan pria dingin itu.
“Kebetulan Rendi juga menikah dengan adikku Nadin! Mereka tiga sahabat, lebih tepatnya
tiga saudara, walaupun bukan hubungan darah tapi tidak bisa di pungkiri hubungan mereka lebih dekat dari pada hubungan dara yaitu hubungan hati!”
Mendengar cerita singkat tentang suaminya, kekagumannya pada suaminya semakin bertambah saja.
“Kalau boleh tahu, kenapa Frans bisa berada di panti asuhan, kemana orang tua
kandungnya?”
__ADS_1
“Kalau itu mungkin bisa kamu tanyakan langsung nanti pada dokter Frans!”
“Mbak Ara tahu banyak ya tentang mereka?”
“Tidak banyak, tapi sudah semenjak bekerja menjadi karyawan finityGroup hingga menikah
sudah terhitung hampir 12 tahun. Aku merasa persahabatan mereka lah yang paling
hebat!”
Kini pikiran Felic sedang berkelana membayangkan kehidupan Frans sebelumnya tapi sayang ia melupakan satu hal penting yang harusnya ia tanyakan, tentang
finityGroup. Sebenarnya semua kunci dari jawabannya adalah di sana.
Belum sampai Felic kembali bertanya, dua pria itu kembali datang, melihat mereka
saling berangkulan memasuki ruangan itu sudah menggambarkan betapa dekatnya
mereka satu sama lain.
“Apa sudah selesai curhatnya?” tanya Agra yang dengan cepatnya menghampiri Arad an
memeluknya dari belakang.
“Bby …, jangan gitu ah, malu!” wajah ara memerah karena malu telah di perhatikan
oleh Felic, Felic hanya bisa tersenyum masam. Dokter Frans pun segera melakukan
hal yang sama, itulah bedanya dokter frans dari sahabatnya, ia paling bisa
menutupi masalah dalam hidupnya. Hubungan yang sebenarnya tidak baik-baik saja
akan terasa baik-baik saja. Felic yang mendapat pelukan dari dokter Frans tak
mampu mengelak, ia hanya bisa tersenyum canggung.
“Cepat sekali kalian pulang!” ucap Frans sambil menempelkan dagunya di bahu Felic
dengan tangan yang menempel sempurna di perut Felic.
“Kamu kan tahu sendiri bagaimana ibu, dia akan marah jika makan malam kita tidak di
rumah!”
“Felicia …, cepat sembuh ya! Kami tunggu kunjungan kalian ke rumah kami!”
“Iya terimakasih!”
Agra pun segera melepas pelukannya pada Ara, ia menoleh anak-anak mereka yangs edang
asik dengan mainannya.
“Sayang …, ayo berpamitan sama aunty Felicia!”
“baik mom!”
Mereka segera meninggalkan mainannya dan menghampiri para orang tua. Dengan sangat
manis mereka mencium tangan Felic.
“Aku antar mereka dulu ya!” pamit dokter Frans pada Felic, dan Felic hanya
mengangguk.
Dokter Frans mengantar mereka hingga ke luar rumah sakit,
“Sampai kapan akan menyembunyikan semuanya?” tanya Agra di sela langkah pastinya.
“Aku nggak berusaha menyembunyikan semuanya, tapi aku ingin Felic sendiri yang
menyadarinya tanpa harus aku katakan! Itu tidak penting!”
“Menurutmu tidak penting …, tapi bagi Felic itu pasti penting!”
Dokter Frans hanya menghela nafasnya, ia tidak tahu apakah sebuah keharusan mengatakan semuanya pada Felic, karena selama ini felic sama sekali tidak menanyakannya. Seandainya saja Felic bertanya, ia pasti akan mengatakannya.
Agra kembali berbalik saat langkahnya hampir mencapai mobil, ia kembali menatap
dokter Frans yang masih berdiri di tempatnya.
“Oh iya …, Frans bulan depan kami akan berkunjung ke panti, apa kau mau ikut?”
“Panti …?” entah kenapa saat mengingat panti, ia jadi teringat pada seseorang yang
__ADS_1
sudah begitu lama ia lupakan.
“Ayo pap!” kepala Sanaya muncul di balik kaca mobil dan berteriak dengan suara
cemprengnya membuat Agra segera masuk.
“kabari aku jika kau bisa!”
Dokter Frans menatap mobil yang telah melaju itu, hatinya menekannya untuk kembali ke
masa lalu tapi pikirannya berpacu pada kehidupan masa kininya. Dokter Frans
menutup matanya mencoba melepaskan semuanya, ia ingin hidupnya berlalu seperti
air tanpa menatap masa lalu.
Langkahnya tidak selebar tadi, ia kembali ke kamar Felic. Ia berharap hanya tempat itu,
hanya wanita itulah tujuannya saat ini. Tapi hatinya seakan minta berperang
untuk sesaat.
Matanya menatap wanita yang sedang duduk di atas tempat tidur itu, tanpa menyapa dokter
frans terus menatapnya, ia bahkan tidak tahu apa yangs edang ia pikirkan saat
ini.
“Frans!”
ucap Felic saat menyadari dokter Frans sudah berdiri menatapnya dengan tatapan
yang sulit di artikan.
Dokter Frans pun kembali melangkahkan kakinya menghampiri wanita itu, ia duduk tepat
di depan Felic hingga membuat wanita itu melipat kakinya, duduk bersila.
Mengamati wajah pria itu, tidak biasanya ia memasang wajah seperti itu.
Kenapa dengannya …
“Apa ada masalah?”
“Tidak …, apa kau baik-baik saja?” dokter frans malah balik bertanya, ia mengusap
pipi Felic membuat felic terpaku.
Sentuhannya …, kenapa sentuhannya
mengandung sengatan listrik …..kenapa dengan matamu? Aku tidak bisa beralih
dari mata itu!
“Frans aku tidak pa pa!”
Aku ….
Felic tercengang sendiri dengan ucapannya, sejak kapan ia menggunakan bahasa itu pada
pria di depannya, aku …?
“Maaf …!” ucap dokter Frans tiba-tiba lalu menyingkirkan tangannya dari pipi Felic,
“Gue pergi dulu ada yang harus di kerjakan!” ucap dokter frans tanpa menatap Felic lagi, ia memilih berlalu dan meninggalkan ruangan itu menuju ke ruangannya.
Setelah dokter Frans meninggalkannya, Felic segera memegangi letak jantungnya yang
berdegup begitu kencang seolah-olah telinganya mampu mendengar degupan itu.
Spesial visual dr Frans
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘❤️
__ADS_1