Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (96. pesta 1)


__ADS_3

Akhirnya mereka pun segara menghiampir pak Seno, setelah beramah tamah sebentar mereka pun di persilahkan masuk.


Wanita itu tengah menggandeng tangan suaminya dengan mata yang yang berkedip cepat, "Ya ampun pa, bahkan tamunya orang-orang penting semua!" mama Rangga benar-benar mengagumi semua hal yang ada di pesta itu, konsep, para tamu dan makanannya.


"Membuat pria yang berstatus suaminya itu sedikit mendekat tangannya pada lengan sang istri, "Jangan ribut ma, biasa saja!" ucapnya tanpa mengubah ekspresi.


Tapi pria tua itu juga tengah mencari seseorang yang mungkin bisa ia temui di pesta itu, berdasarkan informasi yang ia dapat dari menantunya, "Rangga!" gumamnya lirih saat ekor matanya mampu menangkap sosok yang begitu ia rindukan, putra satu-satunya yang beberapa hari lalu ia temui.


Pria muda dengan setelan jas warna navy dan sepatu fantofel membuatnya terlihat luar biasa, rupanya wanita yang juga menatap ke arah di mana suaminya menatap, senyum sumringah juga terlihat dari bibir wanita itu,


"Itu Rangga pa!"


Seperti tanpa mengindahkan ucapan istrinya, pria tua dengan tubuh tambun itu memilih melangkahkan kakinya, "Aku tahu!" ucapnya sambil terus berjalan.


Ternyata Rangga menyadari kedatangan orang tuanya, hingga ia harus benar-benar memastikan lagi jika itu orang tuanya. Ini untuk pertama kalinya mereka bertemu dalam sebuah pesta perusahaan. "Bukankah itu papa dan mama?" gumamnya pelan membuatnya melupakan percakapannya dengan beberapa rekannya.


Divta yang awalnya fokus dengan percapanan anak buahnya itu terpancing untuk melihat ke arah Rangga yang terlihat terkejut,


"Ada apa?" tanyanya tanpa mengubah ekspresi wajahnya.


"Pak Div, saya permisi dulu. Itu ada orang tua saya!" Rangga menunjuk pada sepasang suami istri yang tengah berjalan menghampirinya. Hanya tinggal beberapa meter lagi dan mereka bisa saling menyapa.


"Iya!"


Setelah mendapat persetujuan dari bosnya, dengan langkah cepat ia segera berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang terlihat serasi dengan baju kebaya dan jas.


"Ma ..., pa ...., kalian di sini juga?" sapanya setelah jarak mereka tinggal beberapa jengkal saja, tapi wanita paruh baya itu segera mengikis jarak di antara mereka dan memeluknya dengan begitu erat.

__ADS_1


"Iya Ga, kami juga dapat undangan dari pemilik pesta ini, awalnya papa tidak percaya tapi setelah tahu siapa pemilik pesta ini, papa jadi tahu sebabnya!"


Setelah mamanya melepaskan pelukan, Rangga pun mengajak mereka untuk duduk. "Minumlah pa, ma, kalian pasti haus!" ucapnya sambil menyerahkan dua gelas minuman untuk kedua orang tuanya.


"Siapa yang memberi kalian undangan? Apa tuan Seno sendiri?" Rangga cukup heran karena walaupun keluarga mereka cukup dekat tapi hampir tidak pernah orang tua Miska mengundang mereka dalam sebuah pesta apalagi menurutnya ini adalah pesta perusahaan.


Pak Beni yang memang merahasiakan siapa pengantar undangan itu jadi bertanya-tanya, 'Lalu apa hubungan Zea dengan pak Seno. Bukan Miska yang mengantar kenapa malah Zea?' Pak Beni malah semakin berpikir keras untuk mencari jawabannya.


"Papa kamu yang dapat!" ucapan sang istri semakin menyudutkannya, ia jelas tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kalau Zea yang sudah memberikan undangan itu.


"Pa?" Rangga sampai mengerutkan keningnya penasaran, sejak kapan mereka memikirkan keluarganya atau memang ini bukan sebuah pesta perusahaan melainkan pesta untuk meresmikan hubungannya dengan Miska, kalau benar jelas ia belum siap menerimanya. Walaupun Miska berkali-kali mengatakan kalau mereka memiliki hubungan spesial dan begitu dekat tapi rasanya hatinya benar-benar tidak yakin karena ia tidak merasakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Miska.


"Apa Miska?" pertanyaannya sebenarnya hanya ingin memperkuat dugaannya saja, jika benar itu dari Miska bisa jadi apa yang ia pikirkan itu benar dan dia harus bersiap-siap memikirkan jawaban yang tepat agar tidak melukai siapapun.


"Bukan," jawab pak Beni dengan begitu yakin. Jangankan untuk menerima sesuatu dari Miska, menatapnya saja rasanya enggan, "Ini dari ajudan tuan Seno." bagaimana pun ia harus tetap berbohong dan menanyakan langsung hal ini pada Zea. Jika Zea yang mengantarkan undangan itu padanya kemungkinan besar menantunya itu juga datang di pesta ini.


"Baiklah, jika kamu masih ingin mengobrol dengan teman-teman mu, sana biar papa dan mama menikmati pestanya dari sini!" pak Beni sengaja meminta Rangga untuk pergi agar nanti saat menemukan Zea ia bisa bicara dengan leluasa pada Zea.


"Om, Tante, bagaimana kalian bisa di sini?" Miska terlihat terkejut dengan keberadaan kedua orang tuan Rangga. 'Apa mungkin ini surprise dari papa, papa ingin mengumumkan hubunganku dengan Rangga di depan orang tua Rangga juga?' Miska benar-benar berpikir positif tentang rencana papanya.


"Kami mendapat undangan khusus dari papa kamu!" seperti biasa wanita paruh baya itu begitu senang saat Miska mendekatinya, ia merasa semua yang hadir akan juga menghormati mereka seperti mereka menghormati putri tunggal pemilik pesta ini.


"Ini sungguh luar biasa!" Miska semakin berbinar, tidak biasanya ia suka dengan kehadiran mereka berdua tapi sepertinya kali ini beda. Ia benar-benar menyukai kedatangan mereka berdua seolah-olah pesta ini benar-benar miliknya malam ini.


'Jadi benar, Miska juga tidak tahu ..., sebenarnya ada rencana apa tuan Seno?' Rangga masih saja berpikir keras begitu juga dengan pak Beni, bukan mengenai kenapa Miska sampai tidak tahu tapi kenapa Zea yang memberi undangan itu apa ini ada hubungannya dengan penampilan Zea yang terlihat berubah.


Pak Beni terus mengedarkan pandangannya, ia sedang mencari Zea berharap akan segera mendapatkan jawabannya.

__ADS_1


Bari saja Miska bergabung, ia kembali berdiri saat melihat wanita paruh baya yang terlihat begitu cantik dan elegan memasuki ruang pesta, "itu mama, aku ke sana dulu ya." pamitnya hanya pada Rangga.


Tanpa menunggu persetujuan dari Rangga, ia sudah berlalu begitu saja menghampiri sang mama. Sepatu hak tingginya seolah menyatu dengan lantai hingga menciptakan irama yang indah saat perempuan itu berjalan,


"Miska!"


"Mama baru datang?"


"Hmm, mana papa kamu?"


"Papa di depan ma!"


"Tidak ada?"


Miska terpancing untuk melihat ke arah pintu masuk, "Benarkan?" dan ingin memastikan jika yang di katakan mamanya itu benar.


"Iya tidak ada." nyonya Widya meyakinkan kembali putrinya itu.


"Mungkin sudah masuk ma, kan pestanya sudah mau mulai."


"Baiklah, sekarang bantu mama buat cari papa kamu!" nyonya Widya pun menarik lengan putrinya dan berkeliling mencari suaminya, ia tidak mungkin bertanya pada tamu lain karena bisa jadi mereka akan curiga dengan hubungan yang tidak baik di dalam keluarga itu. Nyonya Widya selalu berhasil mengemas potret keluarga yang ideal dan bahagia di depan umum, walaupun saat di rumah mereka hanya seperti orang asing yang jarang bertukar sapa.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2