
Hehhh ….
Felic menghela nafas dalam, ia harus bisa mengendalikan emosinya sendiri demi
kandungannya,
“Mudah bagiku memaafkan Ze, tapi tidak mudah untuk melupakan …,
sakit ini sudah terlalu dalam! Kaca yang terlanjur retak tidak bisa diperbaiki
dan utuh kembali, begitu juga dengan hatiku!”
“Baiklah …, jika memang kita tidak bisa berteman, setidaknya maafkan aku dan aku bisa pergi dengan kaki yang lebih lapang!”
Felic beralih menatap suaminya, ia tahu sedari tadi suaminya itu memperhatikan wanita
di depannya itu. Itu bentuk cinta atau simpati, keduanya seperti dua sisi mata uang yang bahkan tidak bisa ditemukan perbedaannya.
“Frans!”
ucap Felic, dokter Frans pun mengusap kepala Felic dan meninggalkan kecupan di
keningnya. Zea yang menyaksikan betapa manisnya perlakuan dokter Frans pada
Felic segera memalingkan mukanya,
hatinya tidak sekuat itu.
“Apa?”
“Semua keputusan aku serahkan padamu, memilih menjauh atau kalian dengan hubungan
kalian! Aku tidak akan menghalanginya lagi!” ucap Felic tanpa ekspresi sama
sekali, sakitnya sudah begitu dalam, bahkan air matanya sudah tidak lagi keluar karena begitu sakit.
“Fe …!” terlihat sekali dokter Frans ikut terluka dnegan ucapan Felic.
“Aku serius, aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku! Air mataku terlalu berharga
untuk menangisi hubungan kalian!”
***
Semenjak kedatangan Zea, sikap Felic semakin dingin saja dengan dokter Frans. Ia bahkan
tidak mau di periksa langsung oleh dokter Frans, tidur tidak mau di temani
dokter Frans.
“Fe …, jangan gitu dong …! Zea kan kesini mau minta maaf, jadi ya sudah lah …, aku
sam Zea juga nggak nglakuin apa-apa! Sudah nggak ada cinta lagi!”
“Bohong banget …!”
“Ya nggak sepenuhnya bohong, hanya saja memang tidak seperti dulu …!
Okey fine …,
gue sama zea emang salah …, tapi kita sudah sama-sama dewasa, selama tidak ada
hubungan gelap antara aku dan Zea, itu berarti aku nggak hianati kamu, aku
nggak pernah tidur juga sama Zea!” ucap dokter Frans dengan entengnya sambil
duduk di depan Felic dan ikut menyuapkan potongan buah ke dalam mulutnya sendiri.
“Makan aja habiskan …!” ucap felic dengan kesal sambil menggeser piring buah itu
menjauh dari dirinya.
“Baiklah …, aku habiskan …!” ucap dokter Frans dengan entengnya sambil mengangkat piring
__ADS_1
berisi potongan buah yang tinggal separoh itu.
Dasar …, nggak peka banget jadi orang! Kalau ada orang marah itu di rayu kek, ini
malah dicuekin …
Felic semakin kesal saja dengan ulah dokter Frans.
Drrrttttt drrrrrttttt drrrrrttttt
Tiba-tiba terdengar getaran dari ponselnya yang ia letakkan dia atas nakas, felic segera
menyambarnya.
“Mbak Mia!”
Felic segera menggeser tombol hijau hingga telpon itu tersambung.
Bukankah Mia itu editornya Felic ….? Batin dokter Frans.
“Iya hallo mba Mia …!”
“hallo mbak Fe …, gimana ini jadi ke kantornya kapan? Udah tiga hari loh, tapi mbak Fe
nggak ke kantor …!”
“Maaf mbak karena terjadi sedikit masalah jadi belum bisa ke kantor!”
“kalau besok bisa nggak mbak Fe ke kantor?”
“Besok ya?”
Dokter Frans yang mengerti arah pembicaraan mereka, segera menaruh kembali piringnya
dan menyambar ponsel milik Felic.
“hallo mbak Mia!”
“Ini siapa ya?” mungkin terdengar suara pria membuat mbak Mia bertanya.
dokter memintanya agar bedtres sementara waktu, jadi bagaimana kalau saya kirim
drafnya saja trus mbak edit sendiri selama istri saya bedtres, bisa kan mbak?”
“Oh gitu, selamat ya mas! Ya udah nggak pa pa, tapi tolong di kirim drafnya ya!”
“Iya makasih atas kerja samanya!”
“Sama-sama!”
Felic hanya bisa bengong karena suaminya itu tiba-tiba mengambil keputusan tanpa bertanya
padanya terlebih dulu.
“Frans lo apa-apaan sih …!” protes felic stelah
sambungan telpon terputus, dokter Frans segera menyerahkan kembali ponselnya
pada Felic.
“Apapun yang terjadi sama kamu, itu tanggung jawab aku! Jadi jangan suka membatah perintah suami!”
“Bisa aja ngelesnya ….! Jadi cuma gara-gara tanggung jawab lo perhatian sama gue? Emang nggak pernah ada cinta ya buat gue ...!”
Ahhhh ...., salah ngomong lagi kan aku ....., Batin dokter Frans. Dari pada terus berdebat ia memilih untuk diam saja.
Hingga dokter Frans meninggalkan Felic di kamarnya sendiri, setelah menyelesaikan tugasnya dokter Frans kembali lagi ke kamar Felic karena ada yang harus di bicarakan lagi sama istrinya itu.
“Besok kamu sudah bisa pulang, tapi ingat nggak usah banyak gerak. Aku bakal nyuruh
pelayan khusus buat jaga kamu selama aku nggak di rumah!”
“Gue nggak mau!”
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Gue mau pulang ke rumah ayah!”
“kenapa?”
“Gue beri waktu kamu buat berfikir, jika kamu sudah benar-benar yakin cinta sama
gue! Lo baru boleh temui gue! Kalau belum yakin nggak usah berani-berani temui
gue!”
“tapi Fe …!”
“Gue nggak mau debat lagi ya, sudah cukup semuanya!”
***
Pagi ini Felic benar-benar sudah di ijinkan untuk pulang, setelah mendengarkan ucapan
Felic kemarin. Ia jadi sedikit menyesal karena telah memberitahu jika Felic
sudah di ijinkan pulang. jika di rumah sakit setidaknya ia masih bisa bertemu
dnegan felic setiap hari, tapi kalau di rumah mertuanya pasti akan sulit.
Apalagi jika mertuanya sampai tahu masalah mereka, orang tua Felic mungkin akan
mencegahnya untuk menemui putri mereka sebelum putrinya benar-benar
memaafkannya.
“Kamu serius Fe? Nggak pulang ke rumah saja?”
“jangan ngrayu gue Frans, nggak bakal mempan!”
“Emang susah ya ngalahin emak yang lagi marah …!” ucap dokter Frans sambil menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur yang sudah rapi siap di tinggalkan oleh penghuninya.
***
Kini Felic sudah berada di atas kursi rodanya, walaupun sudah diijinkan untuk pulang
tapi tetap saja ia tidak diperbolehkan berjalan terlalu lama atau berdiri
terlalu lama.
Dokter Frans sudah mendorong kursi roda itu hingga ke depan rumah sakit didampingi
oleh Wilson.
Sesampai di depan rumah sakit, Wilson dengan cepat membukakan pintu mobil sedangkan
dokter Frans sudah membopong tubuh Felic masuk ke dalam mobil. Bohong jika
Felic tidak menyukai perlakuan dokter Frans yang begitu perhatian padanya itu,
tapi ia harus memberi jarak pada pria itu agar bisa menentukan sikap, ia ingin
memastikan apa dia sudah mencintainya atau belum.
Mereka sudah duduk di kursi belakang sedangkan Wilson duduk di depan sendiri di balik kemudi,
“Nggak usah ngebut-ngebut, Wil!” ucap dokter Frans memberi peringatan pada Wilson.
“Baik tuan!”
Kini mobil mulai meninggalkan rumah sakit yang sudah empat hari ini Felic tinggali
tanpa dijenguk oleh siapapun karena ia dan dokter Frans sengaja menyembunyikannya dari siapapun karena keadaan Felic yang masih tidak baik.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰