
Miska masih belum menyerah, ia tetap tinggal di apartemen Rangga, bukan tanpa alasan dengan ia tinggal di apartemen Rangga ia bisa langsung menemui Rangga jika pria itu kembali.
Pagi ini bahkan Miska sengaja membeli makanan, ia tahu Rangga pasti akan datang ke kantor papanya untuk mengurus pekerjaannya dengan zea. Dan ia juga tahu Zea' tidak masuk hari ini karena baru saja keluar dari rumah sakit.
Ia terus berjaga di dekat pintu masuk agar saat Rangga masuk, ia bisa tahu.
Hingga setengah jam akhirnya yang di tunggu datang juga. Miska dengan cepat menghampiri Rangga dan memeluknya dari belakang.
Rangga awalanya terkejut tapi ia langsung tahu siapa yang tengah memeluknya saat ini, "Miska, lepaskan! Kamu tidak malu apa di lihat banyak orang seperti ini?" Rangga berusaha untuk melepaskan tangan Miska.
Miska pun segera berdiri tepat di depan Rangga, "aku cuma mau kasih ini sama kamu. kita sarapan bareng ya, aku tadi sengaja tidak sarapan."
"Kamu sarapan sendiri saja, aku banyak pekerjaan. Lagi pula aku juga sudah sarapan!"
"Tapi Ga, aku sudah susah-susah bawain kamu makanan, masak nggak mau sih."
"Baiklah, aku terima. Sekarang biarkan aku kerja!" Rangga pun mengambil rantang dari tangan Miska dan meninggalkannya begitu saja.
Miska menatap kesal pada rangga, ia mengepalkan tangannya, "Lihat saja, kamu akan menyesal sudah mengabaikan aku."
Rangga segera menuju ke tempat yang sudah menjadi tempat kerjanya dengan Zea tapi yang beda kali ini tidak ada Zea di sana. Biasanya setiap kali masuk ia langsung bisa melihat senyum Zea dengan mata sendunya.
Hehhhhh .....
Rangga menghela nafas, meletakan tas dan rantang di atas meja, "baru juga sehari, udah kangen aja. Gimana ya keadaan Zea sekarang?"
Walaupun begitu ia tetap harus bekerja agar besok saat Zea masuk, pekerjaannya sudah tidak banyak lagi.
"Semangat Rangga, baiklah kita mulai bekerja." Rangga pun menyemangati dirinya sendiri dan segera mulai bekerja.
Hingga tiba waktu makan siang, tiba-tiba Miska menghampirinya lagi.
"Hai sayang!" sapa Miska, Rangga hanya menatapnya sebentar lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu nggak punya pekerjaan?" tanya Rangga setelah Miska duduk di kursi yang ada di depannya tanpa menatap wanita itu, ia lebih tertarik untuk fokus dengan pekerjaannya.
"Sayang, ini jam makan siang."
"Lalu kenapa di sini? Kenapa tidak ambil jatah makan siangmu di kantin?"
"Sayang, aku bosan dengan makanan di sini. Kita makan siang keluar yukkk!"
"Maaf aku sibuk, lagi pula makanan yang kamu berikan tadi pagi juga masih utuh." Rangga menunjuk pada rantang yang bahkan belum di buka olehnya.
__ADS_1
Yang benar saja ....., Miska hanya bisa mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku lapar Ga, aku nggak mungkin keluar sendiri."
"Buka aja rantangnya dan kamu bisa memakannya sekarang." Rangga sama sekali tidak tertarik untuk menerima tawaran Miska.
"Baiklah!" akhirnya Miska mengambil kembali rantang yang tadi pagi ia berikan dan membukanya, sudah sangat dingin karena seharusnya di makan pas sarapan. "kamu yakin nggak mau makan?"
"Hmmm!"
Miska pun akhirnya memakan sendiri makanannya karena ia memang sangat lapar.
Hingga tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, ternyata Zea di balik pintu itu.
"Zee! Maksudku nona Zee!?" Rangga dengan cepat berdiri melihat kedatangan Zea sedangkan Miska yang asik makan dan masih tersisa makanan di dalam mulutnya sepertinya sulit untuk di telan.
"Selamat siang, ada nona Miska juga ternyata."
"Iya, dia_!" belum sampai Rangga melanjutkan ucapannya, Zea lebih tertarik melihat ke arah Miska.
"Jadi lagi makan siang ya, sayang sekali. Padahal aku ke sini mau nganter makan siang."
"Makan siang?" Rangga menatap Miska yang kesal.
"Iya, aku merasa bersalah karena tidak bisa ikut bekerja hari ini jadi aku sengaja bawakan makan siang sebagai ucapan maaf."
"Tidak kok, kebetulan aku juga belum makan!" Rangga segara melepaskan kaitan tangan Miska dan berjalan mendekati Zea, mengambil rantang yang di bawa Zea, "Aku makan ya!"
Zea menganggukkan kepalanya, dan Rangga pun segera membawa ke meja, ia tampak antusias membuka satu per satu rantang itu berenda dengan makanan yang di bawakan Miska, untuk melihat saja ia malas.
Rangga dengan cepat melahapnya, Zea melirik pada Miska dan tersenyum melihat wajah kesal Miska.
Semua akan kembali pada tempatnya ....
Zea benar-benar berhasil membuat Miska merasa kalah, ia tidak tahu harus melakukan apa lagi sekarang. Ia pun memilih meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal. Ia sengaja menabrak bahu Zea saat berpapasan dengannya dengan tatapan penuh permusuhan, dan Zea hanya tersenyum membuat Miska semakin kesal.
Miska berharap Rangga akan mengejarnya, tapi Rangga tidak peduli, jika Miska mengira Rangga mengejarnya dan meminta maaf, maka ia salah besar.
Setalah Miska meninggalkan tempat itu, Zea pun segera duduk di depan Rangga yang terlihat lahap menyantap makanannya. Ia menyanggah dagunya dengan kedua tangannya,
Dia masih sama, selalu saja seperti ini jika makan masakanku ...
"Kenapa menatapku seperti itu?" Rangga ternyata menyadari jika saat ini Zea tengah memperhatikannya.
"Tidak pa pa, hanya ingin saja!" Zea pun segara mengalihkan tatapannya, ia melihat rantang Miska yang hampir kosong, "Makanannya, bukankan lebih enak yang di bawa oleh Miska?" bahkan makanan yang di bawa Miska terlihat lebih mewah tidak seperti masakannya yang hanya sayur terong, ikan pindang dan juga semur jengkol.
__ADS_1
Rangga tersenyum, "Tidak berarti semua yang mewah itu lebih enak. Yang paling nikmat dan enak itu makanan yang di masak dengan bumbu cinta, bukan makanan yang di beli dari restoran bintang lima."
Zea tersenyum, ia begitu senang dengan apa yang di katakan oleh Rangga. Tapi kemudian Zea kembali teringat dengan kejadian kemarin.
"Ga!?"
"Hmmm?"
"Apa mama kamu punya hubungan khusus dengan mamanya Miska?"
"Maksudnya nyonya Widya?"
"Iya!"
"Kalau kata mama, mereka teman satu SMP dulu. Tapi lama tidak bertemu, mereka ketemu lagi di acara arisan."
"Ohhhh, apa mama kamu punya_, semacam hutang Budi sama nyonya Widya?"
Rangga menghentikan kunyahannya membiarkan mulutnya yang penuh makanan. Ia menatap Zea dengan tatapan penuh tanda tanya,
"Sebenarnya kemarin aku tidak sengaja mendengar percakapan antara mama kamu dan nyonya Widya."
Awalnya ia pikir tidak perlu menceritakan hal itu pada Rangga tapi setelah di pikir-pikir lagi mungkin memang Rangga butuh tahu, "maksud kamu?"
"Nyonya Widya mengancam mama kamu, kalau sampai pernikahan kamu sana Miska tidak terjadi, makan mama kamu harus membayar hutangnya plus bunganya juga."
"Kamu serius?"
Dan Zea pun menganggukkan kepalanya.
Jadi apa ini alasan kenapa mama begitu getol ingin menjodohkan aku dengan Miska meskipun dia tahu kalau aku sudah menikah dengan Zea?
"Maaf ya Ga, aku tidak bermaksud ingin membuat hubungan kamu sama mama kamu jadi Rengga. Tapi aku pikir kamu berhak tahu semuanya!"
"Tidak, aku sama sekali tidak menyalahkan kamu. Justru aku berterimakasih karena kamu mau ngasih tahu aku!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...