
Satu persatu tamu acara itu meninggalkan pesta, tinggal beberapa saja yang masih bertahan.
"Terimakasih atas kedatangannya!"
"Sama-sama tuan, nyonya ..., kami permisi pulang!"
Tuan dan Nyonya Bactiar itu sedang sibuk menyalami beberapa tamunya yang hendak meninggalkan tempat pesta.
Setelah di rasa tamunya sudah tinggal beberapa orang saja termasuk tamu-tamu Rizal dan Tisya. Tuan dan nyonya Bactiar masuk ke ruang pribadi mereka.
"Nona ...!" Seseorang menghampiri Tisya yang sedang bersama Rizal dan teman-temannya, mereka berencana untuk mengadakan pesta minum.
"Iya ?" Tisya segera menoleh.
"Nona Tisya di panggil tuan di dalam!"
"Saya?"
"Iya nona!"
Ahhhh ...., ini pasti gara-gara insiden yang tadi ....! Benar-benar pembuat masalah ....
"Ya sudah sayang kamu temui papa kamu dulu, biar aku yang temani yang lain!"
"Ya udah ..., bentar ya sayang!"
Tisya pun segera bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke ruangan yang di maksud.
Pengawal itu hanya berhenti sampai di pintu depan dan membiarkan Tisya masuk sendiri.
Tok tok tok
Tisya mengetuk pintu perlahan dengan sedikit ragu.
"Masuk!" terdengar suara papanya dari dalam.
Tisya pun segera membuka pintu itu dan masuk. Ia melihat mama nya juga di sana.
"Pa ...., papa memanggilku ya ...?" tanya tisya.
"Duduklah ....!" ucap tuan Bactiar dengan begitu tegas, menandakan jika dia saat ini sedang marah.
"Ada apa pa? Ma ...., ada apa?" tanya Tisya yang sudah duduk di samping mamanya. Mamanya segera menggenggam tangannya.
“Apa yang kalian lakukan? Kenapa bisa seperti ini? Kalian tahu siapa yang sudah kalian celakai tadi?” tanyanya dengan begitu marah.
"Siapa pa?" tanya Tisya dengan masih begitu arogan.
"Dia itu istri dari pemilik rumah sakit FrAd Hospital dan papa sedang ingin membangun kerjasama dengan mereka, tapi gara-gara ulah kalian mereka pasti tidak akan pernah memberi kesempatan pada perusahan papa untuk itu!"
“Maaf pa, tapi gadis itu dulu yang memulainya!” ucao Tisya yang berusaha membela diri.
"Kamu itu ya ...., bisa nggak sekali saja buat papa bangga, kamu itu memang sungguh berbeda sama kakak kamu, dia itu bisa di andalkan tidak seperti kamu!"
"Pa ...., Tisya nggak suka selalu di banding-bandingkan sama kakak, Tisya nggak sama sama kakak!"
"Kamu itu memang tidak pernah membuat papa bangga!" ucap tuan Bactiar dengan begitu marah.
Tisya sudah berada dalam pelukan mamanya sambil menangis.
"Tisya minta maaf pa!”
"Sudah pergi sana ....!" ucap tuan Bactiar sambil duduk dan memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit.
Tisya pun memilih pergi dari ruangan itu meninggalkan kedua orang tuanya dari pada papanya semakin marah.
"Sudah pa ...., jangan marah-marah nanti jantung papa kumat lagi, minumlah pa!"
Nyonya Tania memberikan segelas air putih pada suaminya.
Tuan Bactiar segera meneguknya dan kembali menyerahkan gelas itu pada istrinya.
Nyonya Tania kembali duduk ia masih kepikiran dengan pria yang bernama Frans itu.
Apa dia benar-benar dia ...., jika ia ..., apa dia akan membenciku?
"Ma ...., setelah ini kita harus cari cara, atau mungkin kita suruh Maira untuk pulang ya ma?" tanya Tuan Bactiar.
Tapi sepertinya wanita itu terlihat tidak fokus. Pikirannya sedang berada di tempat lain.
"Ma …!” panggil tuan Bactiar.
“Ma ….!”
“mama …!”
Tuan Bactiar memanggilnya hingga beberapa kali hingga membuat nyonya Tania tersadar dari lamunannya.
“Iya …! Apa pa?” tanya nyonya Tania.
"apa yang sedang mama pikirkan?”
“Tidak pa pa, pa! mama hanya sedang capek saja, mama istirahat dulu ya pa!”
Nyonya Tania pun segera pergi ke kamar yang khusus untuk keluarga Bactiar, karena hotel itu adalah milik Bactiar Group.
Tisya kembali menghampiri Rizal dan teman-temannya. Ia kembali dengan wajah murungnya.
"Sayang ...., ada apa?" tanya Rizal sambil meminta Tisya untuk duduk.
Rizal pun menyarahkan segelas air minum untuk tunangannya itu.
"Minumlah ...!"
Hiks hiks hiks ....
Tisya berhambur memeluk tunangannya itu.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Tenanglah ...!"
"Papa marah sama aku mas ...., aku nggak suka kalau papa selaku saja banding-bandingin aku sama kak Meira, kak Maira lebih segala-galanya menurut papa, aku nggak suka!"
"Sabar sayang ...., kamu juga luar biasa sayang! Jangan khawatir aku selalu ada buat kamu!"
"Makasih ya mas ....!"
"Sudah jangan nangis, kita lanjutkan pestanya sayang ....!"
***
Di dalam mobil itu, Dokter Frans terus saja mengusap Felic, mengusap punggung dan perutnya agar Felic tidak terlalu sakit.
“Fe …, apa yang kamu rasakan?" tanya dokter Frans dengan wajah paniknya melihat istrinya terus memegangi perutnya.
“Nggak pa pa Frans …!” ucap Felic sambil menggigit bibir bawahnya menahan sakit.
“Nggak pa pa gimana?!” protes dokter Frans karena melihat wajah pucat istrinya itu.
“Sakit banget Frans ...., sakitttt ....!” ucap Felic dengan terus mencengkeram lengan jas dokter Frans, keringat dingin sudah mengucur deras di lawahnya. Tampak sekali jika ia begitu kesakitan.
"Sudah ku bilang jangan datang ...., masih juga nekat datang, gini kan jadinya ....!"
"Maaf ....!" ucap Felic yang sudah mulai kehilangan kesadarannya.
"Fe ...., Fe ...., tahan Fe ...., tahan ...!" ucap dokter Frans sambil terus menepuk pipi Felic berusaha untuk tetap menyadarkan Felic.
"A ...ku nggak kuat Frans ...!"
"Tahan, sebentar lagi kita akan sampai!"
"Ayo Wil ...., percepat jalannya!"
"Baik tuan!"
Sebenarnya ia sudah terlalu cepat memacu mobilnya, ia tidak mungkin menambah kecepatan lagi. Ia hanya tidak ingin membuat tuannya semakin panik saja.
Tidak berapa lama akhirnya mobil mereka sampai juga di depan rumah sakit.
Wison segera membukakan pintu mobil untuk dokter Frans dan dengan begitu cepat dokter Frans segera membawa Felic ke IGD dengan tangannya sendiri.
"Dokter ...., dokter ...., siapkan tempat!" teriak dokter Frans sambil membawa tubuh Felic ke ruangan IGD itu.
Untung saja hari ini dokter Sifa menadapat jatah jaga malam, ia pun segera menghampiri Dokter Frans.
“Ada apa dengan bu Felicia, dok?” tanya dokter Sifa sambil membawa tempat tidur dorong untuk Felic. Dokter Frans pun segera merebahkan tubuh Felic di sana. Ada darah yang keluar dari balik gaun Felic.
“Tadi perutnya terbentur cukup keras!” ucap dokter Frans dengan begitu panik.
“Dokter mau di luar apa di dalam?” tanya dokter Sifa. Dokter Frans terdiam, tapi di sisa-sisa kekuatan Felic, ia segera meraih tangan dokter Frans agar tidak meninggalkan.
"Ja-ngan per-gi ...!" ucap Felic yang sudah tidak mampu lagi membuka matanya, hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.
“Saya tetap di dalam!”
Beberapa perawat menyiapkan peralatan USG, dan peralatan lainnya yang biasa di gunakan untuk memeriksa kehamilan.
Dokter Frans sudah tahu apa yang terjadi, tapi ia tetap berpikir positif, ia ingin mendengarkan dari dokter Sifa.
"Dokter Frans ...., pendarahan bu Felicia sangat parah!" ucap dokter Sifa.
"Bagaimana dengan bayinya?" tanya dokter Frans memastikan. Ia belum bisa menerima kenyataan itu.
"Maaf dok, tapi sudah tidak ada detak nya lagi, kita harus segera melakukan kuret dok dan menghentikan pendarahannya bu Felicia!"
"Tidak mungkin ....!" ucap dokter Frans lirih, ia masih belum bisa percaya, padahal baru kemarin ia bisa mendengarkan detak jantung anaknya dan hari ini detak jantung itu hilang begitu saja.
"Dok ...., kuatkan diri dokter demi bu Felicia ...!" ucap Dokter Sifa. Ia tidak mungkin melakukan tindakan jika dokter Frans masih begitu syok seperti itu.
"Anakku ....! Tidak mungkin ....!" Dokter Frans merasakan kakinya seketika lemas tak berdaya, ia melihat di layar monitor itu, memang benar tidak ada suara kehidupan lagi di sana, darah yang keluar juga begitu banyak.
"Sabar dok ....!" ucap dokter Sifa mencoba menenangkan dokter Frans.
Dokter Frans menghapus air matanya, ia harus kuat saat ini, "Lakukan yang terbaik dokter, aku akan tetap di sini!"
"Apa dokter yakin?"
"Iya ..., saya yakin!"
"Baik dok!"
Dokter Sifa pun melakukan proses kuret di bantu oleh beberapa perawat lainnya. Begitupun dengan Dokter Frans ia tidak bisa hanya duduk dan menyaksikannya saja, walaupun ia sudah tidak punya tenaga lagi tapi ia tetap berusaha untuk membantu dokter Sifa.
***
Di tempat lain, Ersya sedang duduk sendiri di depan gedung yang menjadi tempat pesta itu. Ia sudah memisahkan diri dari Divta semenjak acara itu di mulai.
Karena sibuk dengan dirinya sendiri, ia sampai tidak menyadari jika ada keributan di tempat lain, setelah memisahkan diri dari Divta, Ersya memilin duduk di balkon, untuk menyendiri.
Karena balkon cukup jauh dari keributan itu, tidak semua orang melihatnya tadi kejadian itu terlalu cepat, bahkan ia juga tidak melihat kedatangan dokter Frans.
Divta sebenarnya sudah ingin pulang, tapi melihat Ersya yang masih setia di tempatnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk pulang lebih dulu.
Saat terjadi keributan itu, Divta sedang menerima telpon sehingga ia memilih mencari tempat yang tenang, saat ia kembali ke tempat perta ia hanya bisa melihat dari belakang kalau ada seseorang yang sedang membopong seorang wanita menuju ke mobil. Karena merasa tidak mengenalnya, jadi Divta mengabaikannya.
“Nungguin siapa?” tanya Divta, ia ikut duduk di samping Ersya.
“Kamu lagi .....! Saya lagi nungguin temen aku!” ucap Ersya tanpa menoleh pada pria yang telah membantunya itu. Ia memilih tetap fokus pada pintu keluar agar tidak terlewatkan siapapun.
Divta pun ikut menunggu, mereka di tempat itu hingga hampir satu jam.
"Kenapa nggak ada yang keluar lagi?" gumam Ersya sambil sesekali menepuk nyamuk yang hinggap di kulitnya.
"Sudah pulang kali dia!" ucap Divta sambil ikut mengamati apa yang di lihat Ersya sedari tadi. Memang sudah tidak begitu banyak yang keluar, hanya beberapa menit sekali, itupun yang keluar hanya satu atau dua orang.
"Ah nggak mungkin dia pulang sendiri tanpa nungguin aku! Dia juga nggak ngasih tahu!"
__ADS_1
"Yakin banget ....!" ucap Divta sambil menertawakan keyakinan Ersya.
"Karena dia sahabat aku, jadi kamu jangan protes! Aku yang lebih tahu sama sabahat aku!"
“Kamu nggak tahu yang namanya teknologi telpon? Kenapa nggak telpon aja dia dari pada digigiti nyamuk kayak gini!” ucap Divta memberi saran.
“Ahhh iya …, kenapa aku nggak kepikiran ya!” ucao Ersya senang.
Ersya pun segera merogoh tas tangan kecil berwarna silver itu, ia mencari kontak nomor milik Felic dan melakukan sambungan telpon.
Hingga beberapa kali Ersya melakukannya tapi tidak juga tersambung. Dan akhirnya setelah telponnya yang ke sekian kali akhirnya tersambung juga.
“Hallo …, lo di mana kenapa nggak muncul-muncul dari dalam, padahal gue udah di luar sejak tadi?” ucap Ersya panjang lebar sebelum mendengar ucapan dari seberang sana.
“Maaf nona Ersya, ini saya!” ucap di seberang sana, Ersya kembali melihat layar ponselnya dan memastikan jika ia menelpon nomor yang benar.
"Wil ...., kamu? Ini beneran nomor Felic kan? Felic nya di mana?" tanya Ersya, ia mengenali suara siapa yang menjawab telponnya.
"Iya benar nona ..., ini memang nomor nyonya Felic!"
"Lalu orangnya di mana?"
"Nyonya Felic di rumah sakit, nona!"
“Rumah sakit, kenapa?” tanya Ersya begitu terkejut.
“Nyonya Felic terjebak perkelahian hingga perutnya terbentur, jadi nyonya di bawa ke rumah sakit oleh tuan dokter!”
“Astaga ...., kenapa nggak bilang? Ya udah aku akan ke sana!” ucap Ersya.
Ersya pun segera menutup panggilan telponnya. Wajahnya yang panik membuat Divta begitu penasaran.
“Gimana? Ada apa?"
“dia sekarang ada di rumah sakit!” ucap Ersya. Ia terlihat bingung hendak memesan ojek online.
“Udah deh nggak usah pesen ojek, ayo aku antar aja!” ucap Divta sambil menyambar ponsel Ersya.
“Nggak ah …!” Ersya merebut kembali ponselnya.
“Nggak usah gengsi, ayo ...!” Divta pun segera menarik tangan Ersya dan membawanya ke dalam mobilnya ya g memang sudah siap di depan.
"Masuklah ...!" ucao Divta sambil membukakan pintu untuk Ersya.
"Udah ..., nggak usah ragu, aku bukan orang jahat!"
Ersya sebenarnya memang masih ragu, ia belum yakin kalai pria itu baik tapi ia juga butuh tumpangan sekarang. Ia harus segera menemui Felic dan melihat keadaannya.
Setelah memastikan Ersya masuk, Divta pun segera masuk melalui pi tu lainnya dan duduk di balik kemudi.
Mobil Divta bergerak meninggalkan tempat pesta. Untung saja jalannya tidak terlalu padat.
"Kita ke mana sekarang?" tanya Divta.
"Ke rumah sakit!"
"Iya ...., aku tahu kalau orang sakit di bawa ke rumah sakit, tapi rumah sakitnya rumah sakit mana?"
"Kenapa jadi kamu sih yang bawel!"
"Terserah lah ...., mau mu gimana! Atau jangan-jangan kamu nggak tanya rumah sakitnya mana, iya kan?"
"FrAd Hospital!"
"Yakin banget kalau di sana!"
"Gimana nggak yakin, wong suaminya kerjanya di sana!"
Akhirnya Divta pun memutuskan u tuk menuju ke rumah sakit yang di tunjuk oleh Ersya.
"Ini gara-gara aku, coba aja kalau aku nggak ngajak Fe ke acara itu, pasti semua ini nggak akan terjadi ....!"
"Sudah jangan nyalahin diri sendiri, ini musibah!"
"Tapi aku yang ngotot pengen dia ikut datang ....!"
Akhirnya mereka sampai juga di depan gedung rumah sakit itu. Ersya segera turun dari mobil dan di ikuti oleh Divta. Mereka menuju ke IGD.
Ia bisa melihat Wilson di depan ruang IGD.
"Wil ...., gimana Felic?" tanya Ersya.
"Nyonya masih di tangani di dalam, tuan juga di dalam!"
Divta yang mengenali Wilson segera terpaku.
"Wilson?"
"Tuan Div!"
"Jadi ..., Fe itu ...?"
"Istri tuan dokter, tuan!"
...Detak lembut jantungnya mampu menggetarkan duniaku, lalu bagaimana hanya dalam sekejap saja detak itu hilang dari hidupku, seperti angin yang datang begitu sebentar dan menyejukkan lalu pergi lagi tanpa mengucapkan selamat tinggal....
...***...
...Kita hanya di ajari bagaimana cara mengucapkan selamat tinggal tapi kita tidak di ajari bagaimana cara untuk melupakan, dan di tinggalkan tanpa terluka~DTIS...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
...Setelah ini Divta dan Ersya cuma aku munculkan sedikit di sini ya, tunggu kisah mereka selanjutnya aja di judul yang berbeda setelah DTIS berakhir ya...
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰