Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Jadikan aku duniamu


__ADS_3

Cup


Ia menunduk dan mengecup kening istrinya.


“kenapa duduk di bawah …?” tanyanya pada sang istri.


“Nggak pa pa …, tadi cuma mau beres-beres aja, takut ada barang yang tertinggal di koper!”


Felic pun akan mengakatnya tapi dokter Frans segera meraihnya.


“Biar aku aja!" ucap dokter Frans.


Dokter Frans segera meraih koper yang ada di tangan Felic itu dan meletakkannya di atas lemari yang cukup tinggi.


"Sudah ....!" ucap dokter Frans lagi sambil menepuk-nepuk tangannya menghilangkan debu yang berasal dari koper itu.


"Mandilah biar aku siapkan air hangatnya!" ucap Felic sambil berdiri dari lantai dan meninggalkan suaminya itu.


"Terimakasih!" ucap dokter Frans, ia mulai membuka kaos dan jaketnya, meletakkan begitu saja di atas tempat tidur kemudian duduk dan melepas sepatunya dan kaus kakinya.


Tak berapa lama Felic kembali keluar, ia menyerahkan handuk mandi untuk suaminya.


"Mandilah ....!" ucap Felic, tapi suaminya itu tidak segera mengambil handuknya, ia memilih menatap Felic membuat Felic salah tingkah sendiri, hingga ia bingung harus melakukan apa.


"Kenapa malah menatapku seperti itu?" tanya Felic sambil mengalihkan tatapannya. Ia memilih sibuk menguncir rambutnya.


"Duduklah ....!" perintah dokter Frans sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.


"Ada apa?" tanya Felic lagi.


"Ayo ...., duduklah ....!"


Felic pun akhirnya menurut, ia duduk di samping suaminya itu.


"Ada apa?" tanya Felic lagi. Dokter Frans pun mengusap rambut Felic, menyisipkan anak rambut yang tidak ikut terikat di balik daun telinga Felic.


"Ada yang ingin kamu beritahukan padaku?" tanya dokter Frans sambil terus mengusap pipi Felic.


Apa dia tahu sesuatu ya .....? Atau jangan-jangan dia memata-matai aku ...., batin Felic.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Hanya ingin tahu saja, bagaimana pekerjaanmu hari ini, lancar?” tanya dokter Frans.


"Kamu aneh Frans ...., kenapa tiba-tiba saja jadi perhatian banget, pakek tanya pekerjaan segala?" tanya Felic sambil tersenyum.


"Kamu akan mendapatkan pertanyaan seperti ini setiap hari, jadi selalu siapkan jawabannya ya! Okey ....!" ucapnya sambil menakup kedua pipi Felic.


Cup


Dan tak lupa meninggalkan kecupan singkat di bibir Felic.


"Sudah mengerti kan, jadi sekarang jawab pertanyaanku!"


Felic pun tersenyum, ia memegang kedua tangan suaminya yang masih bertengger di pipinya, mencium tangan itu,


"Pekerjaanku hari ini baik…, lancar, besok sudah bisa cetak, jadi aku punya banyak waktu luang lagi setelah ini!” ucap Felic dengan penuh semangat.


“baguslah, aku ikut senang, tapi pria kumis tipis itu tidak mengganggumu lagi kan?"


Hehhhh ....., Felic menghela nafas kesal. Suaminya jadi sangat cemburuan sekarang. Beda banget sama saat-saat awal menikah, bahkan ia tidak peduli kalau Felic dekat dengan Rangga.


"Dia mas Langit, Frans! Dia itu satu tim sama aku!"


"Tapi…, Aku nggak suka sama dia, apa lagi kalau dekat-dekat sama kamu! Dia tidak berusaha mendekati kamu kan?" tanya dokter Frans.


Gawat nih kalau sampak Frans tahu kalau mas Langit suka sama gue, bisa perang dunia nih ...., jangan katakan yang sebenarnya jika membuat perang ....!!!!


"Enggak Frans, kami hanya sebatas teman satu tim, nggak lebih! Mas Langit juga tidak menggodaku, sungguh .....!!"


"Baguslah ...., awas saja kalau dia berani menggodamu, aku tidak akan tinggal diam, kalau perlu aku akan buat dia kehilangan pekerjaannya!" ancam dokter Frans sambil melepaskan tangannya dari pipi Felic dan beralih mengambil handuk yang ada di pangkuan Felic.


Sadis .....


"Nggak akan berani!" ucap Felic sambil tersenyum, nggak akan ada yang berani ....


"Ya udah aku mau mandi dulu ....!" ucap dokter Frans sambil berdiri meninggalkan Felic.


Felic pun menghembuskan nafas lega. Tapi belum sampai Felic tersenyum tiba-tiba suaminya berbalik lagi.


"Oh iya ...., kata Wilson kamu tadi pulang lebih dulu tanpa menghubungi Wilson, kenapa?” tanya dokter Frans.


Waduuuh ...., ketahuan ..., kenapa bisa lupa memberi tahu Wilson agar tidak mengatakannya pada Frans ...., jawab apa ya ....


"Kenapa malah diam? Ada yang kamu sembunyiin dari aku?"


“Nggak, nggak ada, bukan apa apa!"


"Lalu ...?"


Alasan apa aku ya ....


" Ah itu tadi aku cuma kurang enak badan aja!” ucap Felic dengan alasan spontannya. Tapi alasannya itu pasti akan menjadi masalah baru, lihat perubahan mukanya, ah ..., aku pasti salah cari alasan.

__ADS_1


Dokter Frans dengan reflek melempar handuknya begitu saja dan kembali menghampiri Felic,


“Lihat …!” ucap dokter Frans sambil memeriksa suhu tubuh Felic, ia menempelkan telapak tangannya di seluruh permukaan kulit Felic, memeriksa denyut nadi Felic.


"Frans ...., sudah! Lepaskan!" ucap Felic sambil menarik tangan suaminya itu agar tidak melanjutkan kegiatannya. Bisa-bisa ia langsung di masukkan ke rumah sakit gara-gara ucapannya.


“Sekarang sudah nggak pa pa Frans!” ucap Felic lagi agar suaminya itu tidak semakin khawatir.


“syukurlah…!" ucap dokter Frans merasa lega.


"Iya ...!" Felic tersenyum merasa bersalah karena telah membohongi suaminya itu.


"Ya sudah aku mandi dulu ya habis ini kita makan malam, katakan padaku jika merasa tidak enak badan ya ...!”


Felic mengangguk. Dokter Frans pun kembali berdiri dan menuju ke kamar mandi.


Hahhhhhh ....., Akhirnya ...., Felic mengusap dadanya merasa lega.


Setelah dokter Frans masuk ke dalam kamar mandi, Felic pun mengambil berkas yang telah masuk ke kolong lemari itu kembali dan dengan cepat memasukkannya ke dalam tasnya agar suaminya tidak sampai melihatnya.


"Ahhh iya ...., ini aku simpan di mana dulu ya!?" gumam Felic saat melihat amplop tebal berwarna coklat itu.


Felic pun segera mengambilnya dan mencari tempat yang aman untuk menyembunyikannya sebelum sempat ia mengembalikannya.


Felic pun akhirnya memutuskan menyimpannya di tumpukan baju miliknya, setelah itu ia juga menyiapkan baju untuk suaminya.


Tak berapa lama, dokter Frans keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar, aroma sabun semerbak memenuhi kamar besar itu.


"Kenapa suamiku tampan sekali ...!" gumam Felic tanpa sadar saat menatap suaminya itu. Dokter Frans tersenyum, ia segera mendekati istrinya itu dan memeluknya.


"Frans ....!" pekik Felic saat sadar jika suaminya itu sudah lebih dulu memeluknya.


"Bagaimana? Mau lebih dari ini ...., sekarang peganglah sepuas mu, ini milikmu ...., semuanya!" ucap dokter Frans sambil meletakkan tangan Felic di atas dadanya.


"Frans ...., aku belum mandi ya!" ucap Felic sambil menarik tangannya kembali.


"Pantas saja ....!" ucap dokter Frans.


"Pantas apa? Aku bau ya ...? Lepasin ...., aku pasti bau keringat!" ucap Felic sambil berusaha melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.


"Iya ...., tapi bikin aku nggak bisa lepas dari kamu!" ucap dokter Frans sambil menyusupkan wajahnya ke leher istrinya.


"Frans ...., jangan gitu, aku belum mandi!" ucap Felic dan akhirnya berhasil melepaskan tangan suaminya itu dan berlari menuju ke kamar mandi.


Dokter Frans tersenyum menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup kembali.


...***...


Mereka pun akhirnya makan malam berdua, ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama.


"Makasih bi!" ucap Felic saat bi Molly meletakkan semua makanan di bantu anak buahnya.


"Sama-sama nyonya ..., kami permisi!" ucap bi Molly dan dokter Frans pun menganggukkan kepalanya.


Kini ruang makan itu tidak ada siapapun lagi kecuali mereka berdua.


Dokter Frans segera mengambil piring Felic.


"Frans kenapa piringku di ambil?" tanya Felic.


"Karena ini makan malam yang romantis, jadi harus sepiring berdua, ok ...!"


Dokter Frans pun segera mengisi piring yang ada di depannya dengan berbagai makanan lalu menggeser kursinya hingga begitu dekat dengan Felic.


"Aaaaa .....!" ucap dokter Frans saat sudah menyendok makanan itu dan menyuapkan ke Felic. Felic pun tersenyum dan segera membuka mulutnya.


"Ambil ini ...!" ucap dokter Frans sambil menyerahkan sendok lain pada Felic.


"Untuk apa?" tanya Felic bingung.


"Aku juga mau makan Felicia Daryl, jadi suapi aku juga!" ucap dokter Frans.


Felic pun segera mengambil sendok itu dan menyuapkan makanan ke suaminya juga.


Kini mereka saling bersuap-suapan.


"makan yang banyak ya …!” ucap dokter Frans.


“Agar apa?"


"Ya agar kuat…!”


Maksudnya kuat di sini apa ya ...., Felic menelan makanannya dengan susah payah saat mendengar ucapan suaminya itu.


Mereka pun segera menyelesaikan makannya. Setelah makan, mereka melanjutkan ke ruang keluarga untuk menonton film kesukaan mereka.


"Frans ...., kemana semua pelayan?" tanya Felic saat menyadari jika rumah besarnya itu tiba-tiba sepi tidak ada siapapun yang menemani mereka.


"Aku suruh istirahat!" ucap dokter Frans sambil sibuk mencomoti kripik singkong yang ada di tangan Felic sambil terus menonton film itu.


"Kenapa? Ini kan masih sore?"


"Ya biar kita punya waktu berdua saat kita ingin ciuman!"

__ADS_1


mendengar ucapan suaminya itu, Felic segera mencubit pinggang suaminya itu.


"Aughhh ...., sakit Fe!" keluh dokter Frans sambil mengusap pinggangnya yang terasa ngilu.


"Habis kamu ngomongnya gitu ....!"


Cup


Cup


Cup


Tiba-tiba kecupan mendarat bertubi-tubi pada wajah Felic membuat Felic terdiam.


"Ihhhhhh .....!" Felic mendorong wajah suaminya itu agar tidak melahapnya.


“Ada apa?” tanya dokter Frans.


“Nggak pa pa!” jawab Felic sambil mencomot keripik yang ada di tangannya itu dan segera memakannya.


"Apa ada masalah?” tanya dokter Frans tiba-tiba, membuat Felic menoleh padanya.


“Enggak!”


"kamu masih marah ya soal kemarin, maafkan aku!” ucap dokter Frans.


"tidak, sungguh, bukan itu ...!”


Kenapa jadi begini ....? Felic merasa bersalah sama suaminya itu.


“lalu?” tanya dokter Frans lagi.


“Nggak pa pa, serius!” ucap Felic sambil mengusap pipi suaminya.


"Baiklah ...., aku percaya!”


Mereka melanjutkan nonton acara kesukaan dokter Frans, film romantis. Beberapa adegan dalam film romantis itu cukup membuat mereka salah tingkah sendiri.


"Mau ke kamar?!" tanya dokter Frans sambil berbisik di telinga Felic. Felic pun mengangguk, baru kali ini ia menonton film romantis dan membuat jantungnya ikut dag dig dug, bahkan rasanya darahnya seperti tertarik ke atas dan siap mengucur.


Dokter Frans pun segera berdiri dan meraih remote tv untuk menekan tombol off.


Dokter Frans segera menarik tangan Felic dan mengajaknya ke dalam kamar.


Setelah sampai di kamar, dokter Frans pun segera menutup dan mengunci kamarnya, ia tidak mau sampai ada orang lain yang menggangunya lagi.


Felic masih berdiri tidak jauh dari pintu, dokter Frans pun segera memeluk tubuh Felic dari belakang. Membuat darah Felic semakin terasa mengalir deras, jantungnya bahkan semakin berdegup kencang.


“Aku merindukanmu!” bisik dokter Frans, dengan ujung jarinya sudah meraba di bagian sensitif Felic di sekitar telinganya.


"Frans …!” Felic mendesah tanpa sadar, ia merasakan sentuhan suaminya itu seperti sebuah sengatan listrik.


Kini bibir dokter Frans sudah mulai melancarkan aksinya dengan menciumi daerah-daerah sensitif Felic terutama di bagian leher dan belakang telinga Felic.


Dokter Frans mulai meninggalkan jejaknya di leher jenjang felic.


Ia segera membalik tubuh Felic hingga kini mereka saling berhadapan. Ia menarik tangan Felic agar mengalung di lehernya, menempelkan bibirnya di atas bibir Felic. Mulai ******* dan menggigitnya di sana, mengabsen setiap jengkal mulut Felic, ciuman itu semakin lama semakin memanas, Felic pun mulai mengimbanginya.


Tangannya dokter Frans juga mulai nakal, tangannya sudah menyingkap baju Felic, mengusap perut rata Felic dan menyusupkan ke balik celana Felic, bermain di sana hingga membuat Felic serasa melayang, ia begitu menikmati permainan suaminya itu.


Dokter Frans menggiring tubuh Felic ke tempat tidur, hingga tanpa terasa kini tubuh Felic sudah mendarat di sana, dokter Frans begitu lincah menjelajahi tubuh Felic, menyingkap baju tidur felic, meremas


gundukan itu hingga membuat felic menggigit bibir bawahnya, ia tidak mau mengeluarkan suaranya yang menurutnya begitu memalukan itu.


“Jangan di tahan sayang …, keluarkan saja!” bisik dokter Frans sambil terus bermain di area sensitif Felic.


"Frans…!” desahnya.


Dokter Frans begitu senang mendengar Felic memanggil namanya dengan suara seperti itu, ia merasa begitu istimewa malam ini


ia semakin bersemangat saja.


Ia mulai menanggalkan pakaiannya, begitupun dengan pakaian Felic.


Dokter Frans kembali mengabsen setiap inci tubuh Felic dnegan bibirnya, tangannya sibuk menyentuh bagian inti Felic hingga membuat tubuh Felic tidak terkendali,


Felic hanya bisa mencengkeram punggung dan rambut suaminya, menikmati setiap detik yang di lakukan suaminya.


Hingga akhirnya sampai di intinya, dokter Frans melakukannya dengan penuh cinta tidak ada lagi perlakuan kasar seperti kemarin.


“terimakasih sayang …!” bisik dokter Frans saat benih-benih itu sudah menyembur ke rahim Felic, ia meninggalkan kecupan di seluruh wajah Felic.


Menutup kembali tubuh Felic dnegan selimut. Akhirnya mereka pun tidur saling berpelukan.


...Jadikanlah aku sebagai duniamu, maka akan aku bawakan duniaku padamu tanpa syarat~dr. Frans...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2