
"Papa mohon, ada beberapa hal yang harus papa bicarakan sama Tisya dan kamu tidak perlu tahu!"
Walaupun berat hati akhirnya Maira pun meninggalkan mereka berdua. Ia masih ingin marah sama adik perempuannya yang terakhir kali ia tahu jika ternyata dia bukan saudara sesungguhnya.
Kini tinggal Tisya dan tuan Bactiar di dalam ruangan itu, Tisya masih terdiam menatap papa nya itu.
"Duduklah ...!" perintah tuan Bactiar.
Tisya pun duduk di kursi bekas tempat duduk Maira tadi. Tuan Bactiar pun berdiri dan duduk di meja yang ada di sebelah kanan Tisya sambil tangannya menarik dagu Tisya hingga Tisya mendongakkan kepalanya menatap papa nya.
"Papa sangat merindukanmu sayang ....!"
"Papa nggak usah basa basi, ada apa?" tanya Tisya kesal sambil menyingkirkan tangan papa nya.
"Wahhhh putri papa ini sekarang semakin cerdas saja ya, tau yang papa mau!"
"Pa Tisya harus segera bekerja, jadi katakan apa yang ingin papa sampaikan sama Tisya!?" keluh Tisya.
"Baiklah ....!"
Tuan Bactiar pun segera berdiri dan berjalan mengitari meja menuju ke kursi kerjanya, ia menyodorkan sebuah berkas pada Tisya.
"Ini apa pa?" tanya Tisya.
"Bacalah ...!"
Tisya pun segera membuka dan membaca berkas itu, ia begitu terkejut saat mengetahui apa isi berkas itu.
"Ini beneran pa, buat Tisya?" tanya Tisya tidak percaya.
"Iya itu semua untuk kamu, papa juga akan mengembalikan semua fasilitas yang dulu kamu miliki, karir mu sebagai model juga akan kembali berkembang!" ucap tuan Bactiar.
"Tapi apa ini hanya cuma-cuma ...? Papa memberikan semua ini sama Tisya!" tanya Tisya yang semakin penasaran, itu bukan sikap papanya yang ia tahu selama ini.
Tuan Bactiar tersenyum tipis, "Kamu semakin pintar ya ternyata ...., papa kira kamu masih putri papa yang sangat manja!"
"Apa maksud papa?"
"Tidak ada yang cuma-cuma sayang ...., papa punya tugas khusus untukmu!" ucap tuan Bactiar membuat Tisya semakin penasaran.
"Apa?"
"Bersikap baiklah pada kakak kandungmu, dokter Frans Aditya!" ucap tuan Bactiar.
"Maksudnya?"
"Beberapa waktu lalu papa lihat dokter Frans mengajakmu bertemu dan kamu menolaknya iya kan?"
"Papa mengawasi ku?" tanya Tisya.
Flashback on
Beberapa hari ini tuan Bactiar tampak terpuruk, ia begitu bingung harus melakukan apa, perusahaan sahamnya semakin turun saja.
"Apa yang harus saya lakukan?!" gumam tyan Bactiar dengan orang kepercayaannya.
"Saya punya rencana tuan!"
"Apa? Katakan?"
"Beberapa hari ini saya melihat jika dokter itu terus berusaha mendekati nona Tisya!"
"Lalu?"
__ADS_1
"Kita bisa memanfaatkan nona Tisya untuk menghancurkan dokter itu!"
"Apakah ini akan berhasil?"
"Kita bisa mencobanya tuan!"
"Baiklah ...., saya setuju! Undang Tisya ke sini dan kita akan membicarakan dengannya!"
"Baik tuan!"
Flashback off
"Iya ...., papa tahu semua yang terjadi pada mu!"
"Cuma itu? Maksudku cuma buat baikan sama kak Frans?"
"Wahhh hebat kamu bahkan sekarang sudah memanggilnya kak? Tapi bukan itu intinya, papa mau setelah itu kamu hancurkan dia dari dalam, kamu faham kan maksud papa? Tapi kamu nggak perlu di jawab sekarang, jangan terburu-buru masih banyak waktu, kamu bisa membawa berkas ini dan jika sudah yakin segera tanda tangani lalu kita bisa bekerja sama!" ucap tuan Bara.
Setelah pembicaraan itu berakhir, Tisya pun segera keluar dari ruangan tuan Bactiar. Ia kembali menggunakan jasa angkutan umum, sepanjang jalan ia masih terus menatap map itu, ia mengingat ucapan papanya.
...****...
Di rumah sakit tanpa dokter Frans begitu telaten menunggu istrinya yang sedang melakukan pemeriksaan kandungan. Beberapa kali tampak dokter Frans begitu antusias dengan bagaimana bayi dalam perut istrinya sudah mulai aktif walaupun masih enam bulan.
"Semua sehat dokter ...., bu Felic pasti banyak makan makanan sehat!" ucap dokter Sifa.
"Tentu ....., dia harus makan yang banyak! Oh iya dok kalau untuk perjalanan jauh apakah bisa?" tanya dokter Frans kemudian, ia tidak yakin dengan dirinya sendiri jika mengenai kesehatan istri dan bayinya.
"Tidak pa pa dokter, asalkan tetap istirahat yang cukup agar tidak mempengaruhi bayinya!"
Akhirnya Felic pun menyelesaikan pemeriksaan. Felic ikut dokter Frans ke dalam ruangannya.
Dokter Frans menyiapkan tempat untuk Felic, sofa yang biasanya sudah di ganti dengan sofa yang bisa di rubah untuk menselonjorkan kakinya hanya dengan menekan sebuah tombol.
"Ini sofanya keren banget Frans, kayak sofanya Raffi Ahmad!"
"Memang saya minta yang sama persis Fe, biar kamu nyaman!"
"Lebih baik di kamar kita juga di pasan sofa yang seperti ini Frans!"
"Enggak!"
"Kenapa?"
"Nanti kalau kamu ngambek, kamu bakalan memilih tidur di sofa, jadi kalau di kamar sofanya yang kecil aja biar kamu nggak bisa gunakan buat tidur!"
"Issstttttt .....!"
"Sekarang makanlah ...., kasihan bi Molly sudah menyiapkan semuanya, jadi harus di makan!" ucap dokter Frans sambil membukakan tas bekal yang tadi di siapkan oleh bi Molly.
Ada bermacam-macam potongan buah dengan kotak yang berbeda-beda. Ada susu dan juga tremos kecilnya.
"Banyak banget Frans!"
"Nggak pa pa ntar aku yang bantu habisin!" ucap dokter Frans sambil membuka semua kotak makan itu.
Dokter Frans pun segera menyuapkan makanan ke dalam mulut istrinya dan juga untuk dirinya sendiri.
"Kamu nggak kerja lagi?" tanya Felic karena sedari pagi hanya menemaninya saja.
"Masih jam makan siang Fe ...! Dokter juga butuh makan siang!" ucap dokter Frans sambil terus memakan makanan yang seharusnya menjadi makanan Felic.
Dokter Frans segera menghentikan kunyahannya saat sadar jika istrinya hanya diam.
__ADS_1
"Kamu nggak makan?" tanya dokter Frans.
"Gimana mau makan, sendoknya aja kamu yang bawa!"
"Oh iya ...., maaf! Lupa ....!" dokter Frans tersenyum, dan menyuapkan potongan buah mangga pada Felic tapi belum sempat potongan buah itu sampai di mulutnya ....
Brrrttttt brrrrtttttt brrrrtttttt
Tiba-tiba ponsel dokter Frans kembali berdering, dokter Frans kembali meletakkan sendok garpu itu di atas kotak membuat Felic mendengus kesal dan mengambil kembali garpunya, menyuapkan sendiri ke dalam mulutnya.
"Siapa?" tanya Felic sambil mengunyah buah-buahan itu.
"Bentar ....!" ucap dokter Frans sambil melihatnya, "Rendi ...!"
"Ya udah angkat, siapa tahu penting!"
Dokter Frans pun segera mengangkat telponnya.
"Iya hallo Rend ada apa?" tanya dokter Frans.
"Frans ...., siapkan tempat ..., kami sedang berada di perjalanan menuju rumah sakit!" ucap Rendi terdengar panik.
"Ada apa?" tanya dokter Frans.
"Nadin mau melahirkan!"
"Melahirkan?"
"Iya sudah jangan banyak tanya cepetan kamu siapkan semuanya!" ucap Rendi kemudian mematikan sambungan telponnya.
"Ye dimatiin ...., ada-ada aja nih si balok es, bisa-bisanya nyuruh-nyuruh dokter ...!" gerutu dokter Frans.
"Apaan sih Frans? Siapa yang melahirkan?" tanya Felic yang ikut penasaran.
"Nadin mau melahirkan!"
"Wahhh ...., Nadin cepet banget!"
"Emang udah waktunya Fe, ya udah kamu nggak pa pa kan aku tinggal ya buat nanganin Nadin!"
"Iya ....! Semangat ya ....!"
"Emang aku mau perang apa?"
"Perang dengan perasaan!" ucap Felic sambil tersenyum.
Cup
Seperti biasa dokter Frans meninggalkan kecupan di bibir Felic sebelum pergi membuat Felic terkejut.
"Kebiasaan deh nggak bilang-bilang!"
"Buat saku Fe ...., biar kuat!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1