
Felic mempercepat langkahnya dan berhenti di belakang mereka,
“hey .., kalian!” teriak Felic membuat dua orang itu menoleh pada felic dan dengan
cepat air yang berada di dalam gelas beralih ke wajah mereka.
Byuuuuuuurrrrrrr
Seorang wanita paruh baya yang sepertinya seorang sosialita dengan barang-barang
branded yang melekat di tubuhnya begitu terkejut dengan kedatangan Felic dan
ikut berdiri. Apa lagi dengan kedatangan Felic yang tiba-tiba saja mengguyur
dengan segelas minuman dingin.
“Kamu siapa? Kenapa tiba-tiba nglakukan ini sama kami?” tanya seorang wanita muda,
wajahnya sedikit mengingatkannya pada seseorang. Mirip siapa gitu pokoknya
kalau kata Felic.
Si pria masih terdiam dengan kedatangan Felic, ia sangat mengenal Felic tentunya makanya dia diam.
“Mas, bisa jelasin kan sama aku dan sama mama! Siapa dia?” Wanita muda itu beralih menatap pria itu.
"Mas Rizal ini apa? Jelasin sama Fe!" ucap Felic yang tak mau kalah. Ia meminta jawaban pada pria yang bernama Rizal itu.
“Honey…, siapa dia? Kenapa menyerang kita!” tanya wanita muda itu lagi.
“Bukan siapa-siapa, sayang …!” ucap pria bernama Rizal itu sambil mengusap wajah
wanita cantik itu karena basah oleh air minum Felic.
“Sayang …?” Felic seperti kehilangan kata-kata, dia kenal baik pria di depannya itu, dan dia memanggil wanita itu sayang, kembuat Felic serasa pingin muntah saja.
“Heh heh heh …!”
Felic hanya bisa memegangi dadanya yang terasa penuh, ingin sekali rasanya mencakar
wajah pria di depannya itu saat ia memanggil sayang pada wanita itu.
“Jelaskan pada kami, Rizal! Siapa dia?” wanita paruh baya itu pun ikut bicara.
Sejenak Felic menatap wanita itu. Ia benar-benar seperti pernah melihat wanita itu, dia punya kemiripan dengan seseorang.
Mata nya itu begitu sama, tapi siapa? Gadis
di depannya juga memiliki mata yang sama.
“Dia teman mantan istri saya, tante!”
“benarkah? Dia teman mantan istrimu?” nyonya itu, maksudnya wanita paruh baya itu mendekat
pada Felic dan memperhatikan penampilan Felic.
“Mantan???”
Felic benar-benar terkejut dengan kata mantan, sejak kapan? Kenapa sahabatnya itu tidak cerita?
“Siapa nama kamu?” tanya wanita paruh baya itu, “Oh iya kenalkan dulu, saya Tania Bactiar
dan ini putri saya Tisya Bactiar pemilik perusahaan Bactiargroup!”
“Saya Felic tante, saya sahabatnya Ersya!”
ucap Felic pada wanita yang mengaku namanya Tania itu. Felic berusaha lebih
sopan dengan wanita itu karena lebih tua, bukan karena jabatan atau sosialnya.
“Pantas saja …, jadi kayak gini nih ya temennya wanita itu, pantas saja sama!” ucap
wanita muda yang bernama Tisya dengan mata yang menatap hina pada Felic.
__ADS_1
“Memangnya kenapa denganku? Kenapa dengan sahabatku?” tanya Felic dengan berkacak pinggang.
“Dekil…, kampungan …, urakan …. Dan yang pasti nggak tau diri! Sudah tahu suaminya
nggak suka masih aja kirim sahabatnya buat nglabrak saya, merasa nggak mampu nyaingin aku pasti dia!”
“Jaga ucapan lo ya …!” teriak Felic.
“Anda yang mestinya di jaga mulutnya itu nggak tahu apa sedang berhadapan dengan siapa, dasar kampungan!”
“Dasar perebut suami orang!”
Perdebatan yang mulanya hanya lewat mulut saja sekarang mereka sudah cakar-cakaran khas cewek kalau sedang berantem.
Awalnya saat melihat felic masih menang, Wilson masih bisa diam. Tapi saat nyonya nya
sudah di sakiti, ia segera berlari melindungi nyonya-nya itu.
“Hentikan …!” ucap Wilson sambil menarik tangan wanita muda itu saat tangannya hendak
menjambak rambut Felic.
“Siapa kamu?” tanya Tisya.
“Anda akan berurusan dengan saya jika menyakiti nyonya Felic!” ucap Wilson dengan
mata yang begitu tajam penuh permusuhan pada ketiga orang yang sudah melawan
Felic.
"Ha ha ha ...., nyonya ....? nyonya dari mana? Kalian sedang main teater ya di sini!?" ucap Tisya sambil memandang rendah ke Felic membuat Felic tersulut kembali emosinya.
Felic hendak menyerang Tisya kembali tapi Rizal segera memegangi Felic.
"Lepaskan tangan anda dari tubuh nyonya Felic, atau mau saya patahkan tangan anda!" ucap Wilson saat melihat Rizal menahan tubuh Felic.
"Kamu juga memegang calon istriku!"
Tapi sepertinya Tania mengingat siapa Wilson walaupun baru beberapa kali melihatnya,
tapi juga belum yakin. Karena bukan dia yang jadi pusat perhatiannya saat itu.
“Anda siapa?” tanya Tania sambil memperhatikan penampilan Wilson yang sangat kontras dengan penampilan Felic.
Wilson dengan pakaian rapinya dengan jas hitam dan kemeja putihnya sedangkan Felic. Dia benar-benar tidak menggambarkan penampilan wanita sosialita yang membutuhkan bodyguard kemana-mana.
“Saya orang yang bertugas melindungi nyonya Felic!”
“Memang dia anak presiden harus di jaga? Dasar wanita simpanan om om ya, makanya
perlu di jaga …!” ucap Tisya dengan memandang remeh pada Felic.
“Jaga mulut lo ya …, pedes banget punya mulut! jangan sampek tangan gue merobeknya …!” Felic sudah bersiap menyerang tapi di halangi oleh Wilson.
“jangan cari gara-gara! Sebaiknya anda pergi dari sini!” ucap Wilson memperingatkan
Tisya.
“Jangan kurang ajar ya, saya bisa membuat hidup kalian berantakan dengan sekali
perintah ya!” ancam Tisya tak mau kalah.
“Tisya …, sudah! Lebih baik kita pergi saja dari sini! Tempat ini sudah sangat tidak
nyaman!” ucap Tania memperingatkan putrinya.
Akhirnya wanita muda yang di panggil Tisya itu segera mengibaskan mendorong tubuh Wilson walaupun tidak membuatnya bergeser dan menyambar tas branded nya yang berada di atas meja dan segera menggandeng
tangan Rizal.
Mereka pergi begitu saja meninggalkan Felic dan Wilson. Felic masih begitu emosi, ia
menjatuhkan tubuhnya ke kursi kecil itu.
__ADS_1
Seorang manajer kafe mendatangi mereka Karen mendengar laporan jika ada keributan di
ruang privat room.
“Ada apa ini?” tanya manajer kafe saat melihat tamu istimewa mereka meninggalkan
kafe.
Wilson segera mendekati sang manager kafe, “Maaf atas ketidak nyamanan ini, tapi kami
akan menggantinya dengan harga yang sebanding!”
Tapi sepertinya manager itu masih kurang puas dengan pertangungjawaban yang di
lakukan Wilson, kemudian Wilson mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah cek kosong.
“Silahkan tulis sendiri nominalnya sesuai dengan kerugian yang kami timbulkan!”
Sang manager pun menerimanya dnegan senang hati kali ini, “terimakasih tuan,
silahkan bersantai tuan, kalau begitu saya permisi!”
Setelah sang manager meninggalkan Wilson dan Felic. Wilson pun kembali mendekati Felic
yang masih duduk di tempatnya.
“Nyonya …, nyonya tidak pa pa?” tanya Wilson sambil menyerahkan segelas air putih yang
telah sengaja ia siapkan.
Felic pun dengan cepat menyambar air itu dan meneguknya dalam sekali tegukan.
“mereka benar-benar membuatku darah tinggi!”
“Apa sebaiknya kita pulang saja, nyonya?”
“Pulang aja sendiri!” ucap Felic ketus dan meninggalkan tempat itu kembali ke mejanya.
Untung Wilson orangnya sabar, dia hanya bisa mengelus dada menghadapi nyonya-nya
yang labil itu.
Tepat saat Felic kembali ke mejanya, Ersya masuk ke dalam kafe.
‘Untung mereka sudah pergi!” gumam Felic sambil menatap sahabatnya itu.
“Hay Fe …!” sapa Ersya sambil melambaikan tangannya saat melihat felic, Felic pun
membalas lambaikan tangannya.
Dengan cepat Felic memeluk sahabatnya itu, tapi Ersya juga dengan cepat melepaskan
pelukannya karena melihat hal yang begitu janggal dari sahabatnya itu.
“Fe…, lo ngapain berantakan gini? Abis perang sama siapa?” tanya Ersya sambil
mengacak-acak rambut Felic.
“Mas Rizal!” ucap Felic sambil menatap Ersya. Ersya begitu terkejut setelah mendengar nama itu.
Bersambung
Siapa yang kemarin penasaran? Terjawab sudah kan?
Banyak banget yang ngarep itu Frans sama Zea ya ternyata!!!!!
😎😎😎😎
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1