
Seharian ini Felic memang sengaja menghapus kesabaran dokter Frans, dengan terus
menjadikan Wilson sebagai sasarannya.
“Tinggalkan kami Wil!” ucap Felic,
“baik nyonya!”
Wilson bisa bernafas lega sekarang, seakan keluar dari kandang macan. Lebih baik di
tugaskan untuk melawan musuh daripada berada di antara perang dingin. Lebih
menakutkan, hidup nggak hidup, mati juga enggan.
“Cukup Fe …!” ucap dokter Frans lagi setelah kini hanya tinggal mereka berdua di dalam
kamar itu, “Ini sudah keterlaluan!”
Bukannya menjawab, Felic malah menenggelamkan wajahnya di balik selimut tebalnya membuat dokter Frans malah semakin kesal. Dokter Frans mendekati Felic dan menarik selimut itu hingga selimut yang tidak bersalah pun jadi kena getahnya, dokter
Frans melempar begitu saja selimut itu ke lantai.
“Ok …, aku minta maaf! Aku salah! Tapi jangan diemin aku terus!”
“Ngeliat lo, mood gue jadi jelek Frans, jadi jangan ngajak ngomong gue!” ucap Felic
ketus sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Membuang mukanya.
Dokter Frans pun duduk mendekati Felic, ia menggeser duduknya dan memegang tangan
Felic, mencoba meluluhkan hati yang sedang terluka itu.
“Ayo lah Fe …, jangan cari alasan terus! Kamu keterlaluan ......
Ya ...., kamu berhasil kalau mau
buat aku cemburu,
Aku memang cemburu, kamu mau aku bakar rumah sakit ini gara-gara kebakar cemburu?” ucap dokter Frans dengan menunjukkan wajah penuh penyesalan.
Cemburu …, tapi masih meluk-meluk cewek lain …., nggak gue nggak boleh luluh …, nggak
boleh kemakan rayuannya ….
“Ayo lah Fe jangan diem terus …, mau aku botak gara-gara nggak bisa ngomong sama
kamu? Mau punya suami botak?”
“jangan ngelucu di depan gue, nggak mempan!” ucap Felic dengan begitu kesal. Ia kembali
merebahkan tubuhnya dan memunggungi dokter Frans.
Dokter Frans pun tiduran di samping Felic dan mengusap kepala Felic persis seperti saat
Wilson mengusap kepalanya.
“Ya udah nggak pa pa, diemin aku tapi jangan keterlaluan, jangan minta Wilson buat
megang-megang kamu!”
Pengen banget nolak tapi ternyata Felic nggak sanggup, ia memilih membiarkan saja
perlakuan dokter Frans hingga ia tertidur di dalam pelukan dokter Frans.
***
Di panti asuhan itu seorang gadis muda sudah bersiap-siap dengan sepeda motornya.
Ia sudah lengkap menggunakan helmnya dan juga tas samping yang bertengger di
__ADS_1
atas bahunya.
“Kak Zea mau kemana?” tanya seorang anak laki-laki yang membawa bola di tangannya,
sepertinya ia salah satu penghuni panti itu, “Ini kan hari libur kak?”
Gadis dengan rambut panjang yang sudah duduk di atas motornya itu segera menoleh
kepada anak laki-laki itu, “Kak Zea mau njengukin kak Felic dulu ya!”
“Emang kak Felic kenapa, kak?”
“kak Felic masuk rumah sakit, ya udah keburu siang! Kakak berangkat dulu ya!”
“Hati-hati di jalan kak, salam buat kak Fe, semoga cepet sembuh!”
“Pasti!”
Zea mulai menghidupkan mesin motornya dan meninggalkan halaman panti, motor itu
dnegan lincahnya menyusuri jalanan ibu kota yang terlihat sedikit senggang di
banding biasanya, mungkin karena hari ini hari libur jadi banyak orang memilih
menghabiskan waktu liburnya di rumah saja.
Setelah setengah jam akhirnya ia sampai juga di rumah sakit tempat Felic di rawat,
awalnya ia ragu untuk datang tapi ia punya tanggung jawab untuk meluruskan
sesuatu. Dia memang masih mencintai pria gondrong itu tapi ia juga tidak bisa
mengabaikan jika pria yang telah membuatnya menghabiskan sebagian umurnya untuk
merindukan nya itu sudah memiliki keluarga.
miliknya itu sebuah kesalahan. Lebih baik menepi dari pada terus berlari dan
mengajar yang tak pasti.
Kini Zea sudah berada di depan kamar tempat Felic di rawat, di luar terlihat sepi
mungkin memang dokter Frans sengaja tidak memberitahu keluarganya tentang
keadaan Felic.
Ceklek
Seseorang keluar dari dalam kamar itu, langkah Zea terhenti tepat saat ia melihat siapa
yang keluar. Pria yang tangannya masih menggantung di gagang kunci pun
melakukan hal yang salam. Sejenak waktu seperti terhenti, hanya ada mereka
berdua di sana, tapi Zea segera mengendalikan kembali perasaanya, ia tidak boleh
terus memendam perasaannya pada orang yang sudah tidak memprioritaskan namanya
di hatinya.
“Zea …, ngapain kesini?” tanya dokter Frans yang sudah menutup rapat pintu itu
kembali.
“Maaf Frans …, aku mau jenguk Felic!” ucap Zea yang masih berdiri di tempatnya.
Dokter Frans sedikit ragu untuk mendekat, tapi akhirnya ia memutuskan untuk berjalan sedikit mendekat, mengikis jarak antara mereka, “Tapi aku nggak yakin dia mau menemui mu! Jadi aku mohon lupakan saja keinginanmu itu!"
“Tapi ada alasan besar kenapa aku harus menemuinya Frans!”
__ADS_1
Melihat kesungguhan di wajah Zea membuat dokter Frans tidak tega, “Tapi, Plisss …., kalau Felic mulai emosi kamu pergi aja ya, soalnya akan bahaya buat anak kami!”
“Anak ..?”
“Iya …, Felic mengandung anak kami!”
Sebenarnya hatinya begitu terasa sakit, ia tidak menyangka ternyata Felic lah yang akan
menjadi sumber kebahagian pria di depannya itu. Padahal baru beberapa bulan
lalu ia masih berharap dialah yang akan menjadi ibu dari anak-anak pria itu,
berharap bisa memilikinya seutuhnya.
“Selamat ya Frans!”
Dokter Frans tersenyum tipis, “Terimakasih …!”
Setelah melakukan kesepakatan akhirnya dokter Frans mengajak Zea masuk ke dalam ruangan Felic, Felic yang membelakangi pintu tidak menyadari kedatangan Zea.
“Ngapain balik lagi …, sudah gue bilang, gue lagi nggak mood liat muka kamu, jadi jangan
ganggu gue dulu …!” ucap felic tanpa melihat ke belakang.
“Fe …!” ucap Zea, membuat Felic terdiam. Ia segera membalik badannya.
“Zea …!”
Zea berjalan mendekati felic sedangkan dokter Frans segera berjalan mendahului Zea
dan berdiri di sebelah lain ranjang Felic,
“Biar aku bantu duduk ya!” ucap dokter Frans
sambil membangunkan Felic dan menyanggah punggungnya dengan memberikan bantal.
“bagaimana keadaanmu Fe?” tanya Zea.
Felic masih enggan untuk menjawab pertanyaan Zea, hatinya masih begitu sakit
mengingat bagaimana kedekatan wanita itu dengan suaminya.
“Maafkan aku ya Fe, aku sadar aku salah …! Aku ke sini cuma mau ngomong sama kamu kalau
aku nggak akan menggangu hubungan kamu sama Frans lagi, aku sudah terlalu lama
menjadi duri dalam rumah tangga kamu, sudah cukup dan aku akan menyerah!
Tapi setelah ini aku ingin kamu mengenang ku sebagai wanita terhormat, aku bukan
wanita yang mencintai suami wanita lain, aku hanya ingin kita bisa berteman setelah ini …!” ucap Zea panjang lebar.
Hehhh….
Felic menghela nafas dalam, ia harus bisa mengendalikan emosinya sendiri demi
kandungannya,
“Mudah bagiku memaafkan Ze, tapi tidak mudah untuk melupakan …, sakit ini sudah terlalu dalam! Kaca yang terlanjur retak tidak bisa diperbaiki dan utuh kembali, begitu juga dengan hatiku!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1