
Ersya berlari cepat menghampiri suaminya yang baru datang dana segera memeluknya,
"Apa sebegitu merindukannya kamu pada suami tampanmu ini!?" Div tidak pernah keberatan dengan sikap manja sang istri, di kehamilan keduanya ini sang istri jadi lebih manja dan dia suka.
"Isssttttt ...., aku hanya ingin menagih janji!" gumam Ersya pelan dalam pelukan suaminya.
"Janji?"
"Jadi mas Div lupa?" dengan cepat Ersya melepaskan pelukan sang suami kemudian berlalu dan duduk di tepi tempat tidur.
Memang dia minta apa tadi pagi? Div berusaha keras untuk mengingat apa yang sudah ia lupakan. Biasanya Rangga yang membantunya mengingat, tapi hari ini Rangga tidak masuk.
Bagaimana ini? Div tidak membawa apapun hari ini, ia lupa juga istrinya meminta sesuatu.
Div pun dengan cepat menghampiri istrinya dan berjongkok di depan sang istri dengan tangan yang ia letakkan di pangkuan istrinya.
Ersya sudah mengerucutkan bibirnya, ini tanda kalau Div melakukan kesalahan.
"Maaf sayang, sungguh aku lupa! Tadi sibuk sekali, Rangga tidak masuk!"
"Tapi mas, mintaku nggak banyak! Aku tadi cuma minta di bawakan cilok di depan kantor mas Div, masak gitu aja lupa!"
Ahhhh iya, aku benar-benar melupakannya ...., semua gara-gara Rangga tidak masuk!!
Div pun beralih melingkarkan tangannya di pinggang sang istri yang sudah mulai berisi.
"Maaf sayang, tapi sungguh ini bukan salahku! Andai saja Rangga nggak ijin, pasti aku ingat!"
"Kok jadi nyalahin Rangga sih mas, jelas-jelas mas Div yang lupa!"
"Biasanya kan Rangga yang mengingatkan!"
"Jadi tetap saja mas, salahnya mas Div!" Ersya menatap suaminya kesal, "Senengnya cari kambing hitam!"
"Baiklah, baiklah, mas yang salah, Rangga yang benar!" Div memilih mengalah dari pada berdebat dengan istrinya.
"Ya emang, trus sekarang gimana dong?"
Div tampak berfikir, ia harus bisa membuat istrinya tidak kesal lagi.
"Bagaimana kalau kita keluar sekarang, Atha sudah tidur kan?"
"Hmm!" Ersya menganggukkan kepalanya.
"Aku akan mengantar kamu kemanapun kamu mau, kalau perlu kita cari penjual cilok terbaik di kota ini, bagaimana?"
"Mau!" Ersya begitu bersemangat sekarang.
"Bagus, jadi ambil jaket dan pakek celana panjang, aku akan menunggu di bawah!"
__ADS_1
"Siap!"
Selagi Ersya memakai jaket dan mengganti bajunya dengan baju yang lebih tebal, Div meminta anak buahnya untuk kembali mengeluarkan mobil. Kali ini Div memilih untuk tidak pakai sopir, hanya ada satu mobil yang mengawasi mereka nanti di belakang dan Div juga memberi instruksi agar menjaga jarak. Istrinya sangat tidak suka pengawalan, tapi tetap saja ia tidak bisa mengabaikan keamanan apalagi ini berhubungan dengan istrinya.
Tepat saat mobil sudah siap, Ersya pun sudah turun dengan jaket dan celana panjang, ia lebih memilih baju yang tidak perlu membuat suaminya bawel karena ini dan itu.
"Bagus!" Div yang melihat Ersya dari ujung rambut sampai ujung kaki pun mengacungkan jempol. Saat ini Ersya sudah seperti akan berlibur ke tempat yang bermusik dingin, jaket tebal, celana tebal panjang, sendal lengkap dengan kaos kakinya.
Div segera membukakan pintu untuk istrinya, setelah istrinya masuk ia pun berlari mengitari mobil dan membuka pintu lainnya lalu duduk di balik kemudi.
"Sudah siap?"
"Hmmm!" Ersya mengangukkan kepalanya dengan cepat.
Mobil pun segera melaju dengan kecepatan sedang, beberapa kali Div memperhatikan istrinya dan menanyakan apa dia nyaman. Walaupun ini kehamilan Ersya yang ke dua, Div begitu perhatian.
"Mas, Divia sudah lama loh di rumah paman Roy, apa dia tidak ingin pulang?"
"Ini masih satu Minggu sayang, biarkan saja agak lama! Lagi pula paman Roy juga kakeknya!"
"Aku tahu, tapi_!"
Ersya tidak melanjutkan ucapannya saat tangan sang suami mengusap puncak kepalanya,
"Sabar ya sayang!"
Div memang tidak bisa memaksa Divia untuk pulang, Divia juga punya hak tinggal di sana, di sana ada nenek dan kakeknya. Setiap tahunnya dalam satu bulan Divia selalu menyempatkan diri untuk menginap di rumah sang kakek, bulan di mana dia di lahirkan tepat saat ibunya meninggal.
"Kalau kamu mau, biar nanti aku minta Divia buat telpon kamu!"
"JANGAN! Nanti pasti Divia akan telpon kalau sudah kangen!"
"Kamu adalah ibu terbaik untuk Divia, jadi jangan khawatir ya!"
"hmmm!" walaupun selalu merasa ragu, Ersya tetap berusaha untuk tersenyum. Bagaimana pun dia menyayangi putri sulungnya itu, dia tetaplah ibu sambung.
"Itu mas, aku mau cilok yang itu aja!" Ersya menunjuk penjual cilik pinggir jalan yang masih menjajakan dagangannya. Sudah hampir jam sepuluh malam, dan tampak dagangannya masih tersisa.
Div pun segera meminggirkan mobilnya, membantu Ersya untuk keluar.
"Duduklah, biar aku yang pesan!" Div membantu Ersya untuk duduk di bangku berbahan plastik berwarna hijau berbentuk lingkaran yang sepetinya sengaja di bawa penjual cilok untuk duduk para pelanggannya.
Setelah memastikan Ersya aman, Div pun segera memesan cilok pada penjualnya.
"Dia porsi ya mang, satu pedas dan satunya tidak!"
"Baik mas, silahkan duduk!"
Div pun kembali menghampiri Ersya yang tengah melamun di sana,
__ADS_1
"Sayang kamu mau yang pedas atau yang enggak?" tanya Div sengaja untuk mengalihkan perhatian Ersya dari melamun.
Walaupun di rumah sudah ada baby Zhoe, tetap saja ketidak hadiran Divia membuat rumah terasa sepi.
"Aku mau pedas aja!"
"Jangan ya!"
"Tadi tanya, sekarang kok jangan sih!?" Ersya merasa kesal dengan suaminya sekarang.
"Ya aku cuma tanya tadi, tapi tetap nanti boleh makan yang nggak pedas. Kalau mau pedas boleh deh, minta punyaku satu saja!"
"Issstttt!" Ersya memilih mengamati jalan yang sudah mulai sepi dari pada berdebat dengan suaminya.
Penjual cilok pun datang dengan membawa dua porsi cilok di tangannya.
"Ini yang pedas mana mang?"
"Yang ini mas!" penjual itu menunjuk pada satu mangkuk berwarna merah, sedangkan yang mangkuk berwarna hijau sudah pasti tidak pedas. Ersya hanya bisa menatap kesal pada suaminya, walaupun ingin tetap saja ia tidak bisa membantah suaminya.
Ersya pun terpaksa memakan yang tidak pedas, Walaupun ia sangat suka pedas.
Mereka menikmati ciloknya sambil sesekali berdebat. Ersya hingga meminta satu porsi lagi untuknya.
"Oh iya mas, tadi mas bilang Rangga ijin, ada apa?"
"Kenapa?" Div malah menatap istrinya curiga.
"Enggak mas, Rangga kan nggak biasa ijin!"
Walaupun kesal karena istrinya menanyakan pria lain, tetap saja ia tidak bisa untuk tidak menjawab pertanyaan sang suami,
"Katanya istrinya sakit!"
"Istri?" Ersya begitu terkejut sampai hampir tersedak, dengan cepat Div pengisap punggungnya.
"Pelan-pelan dong sayang, minum dulu!" Div segera menyodorkan air mineral pada sang istri.
Setelah merasa lega, ia pun kembali menatap sang suami,
"Siapa istri Rangga?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...