Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Dasar kolon (Wilson)


__ADS_3

Dokter Frans segera mengakhiri sambungan telponnya dan kembali menghampiri Felic dan duduk di sampingnya.


"Apa yang di rasakan?"


"Kepalaku cuma pusing aja sayang!"


"Biar aku ambilkan air putih ya, kamu tidur aja!"


Dokter Frans segera bangun dan keluar dari dalam kamar, ia meminta air hangat untuk Felic dan membuatkan susu hamilnya.


"Bagaimana tuan? Apa nyonya sudah lebih baik?" tanya bi Molly.


"Badannya masih panas bi!" ucap dokter Frans sambil menuangkan air putih untuk ia minum sendiri.


"Oh iya tuan, tadi orang tua nyonya Fe menelpon!" ucap Bi Molly sambil membuatkan susu untuk nyonyanya.


Dokter Frans menghentikan minumnya dan menatap bi Molly, "Benarkah?"


Ia lupa juga tadi memang ada panggilan lain di ponselnya, tapi ia lupa mengecek siapa yang melakukan panggilan, ia terlalu fokus pada keadaan istrinya.


"Iya tuan, pak Dul menanyakan apa tuan sama nyonya sudah pulang? Kenapa tidak menelpon?"


"Lalu bibi bilang apa?"


"Bibi bilang kalau tuan sama nyonya sudah pulang, karena nyonya sakit jadi mungkin tidak sempat menelpon!"


"Lalu?"


"Mereka akan ke sini nanti siang untuk menjenguk nyonya!"


"Baiklah kalau begitu minta koki untuk menyiapkan jamuan makan siang ya bi, sekalian nanti jika ada tamu lainnya, jadi suruh masak yang banyak!"


"Baik tuan! Ini susunya tuan dan ini juga bubur untuk nyonya!"


"Terimakasih ya bi sudah di buatin!"


"Iya ....., tuan!"


Dokter Frans pun membawa nampan yang berisi segelas susu, segelas air putih dan juga semangkuk bubur ayam.


...*""""*...


Di tempat lain, Wilson tampak sudah sangat rapi berbeda sekali dengan gadis yang menumpang tidur di rumahnya itu.


Dia benar-benar baru bangun tidur dengan rambut yang seperti sarang lebah.


"Bangun tidur mau ngapain?" tanya Wilson yang melihat Tisya masih awut-awutan dengan mata yang belum terbuka sempurna sudah ke dapur.


"Aku lapar ...., ada makanan nggak?" tanya Tisya sambil menguap. Untung bajunya sekarang sudah lebih rapat dari kemarin.


"Ada!" ucap Wilson dengan santainya sambil melihat ponselnya.


"Mana?" tanya Tisya karena ia hanya melihat semangkuk mie di situ, ia berharap satu mangkuk lagi sengaja Wilson simpan untuk dirinya.


"Tuh di seberang jalan, tinggal bilang aja sama mang mangnya suruh buatin bubur ayam atau soto ayam, beres ....!"


"Jangan dong ...., aku lagi mau ngirit, ngumpulin dwit satu M!"


"Maksudnya satu M apaan sih?" tanya Wilson yang pura-pura tidak tahu. Ia mencoba memancing Ersya untuk mulai bercerita.


"Ya satu M, Milyar dalam satu bulan!"


"Hahhhh satu milyar dalam satu bulan, lo abis kalah taruhan atau kalah judi?" tanya Wilson lagi sambil memasang wajah yang di buat seakan-akan ia sedang begitu terkejut.


"Ntar kamu juga tahu sendiri, sekarang kasih aku solusi buat aku bisa dapetin 1 M dalam satu bulan!?"

__ADS_1


"Kenapa nggak minta sama tuan dokter saja, satu M bukan jumlah yang besar buat dia!"


Hehhhhhhh


Tisya menghela nafas begitu panjang, "Nggak mungkin aku minta sama kak Frans!"


"Kenapa?"


"Dia itu udah baik banget sama aku, dia nggak masukin aku ke penjara gara-gara sudah buat istrinya keguguran, lagian kami juga baru ketemu, baru tahu juga kalau saudaraan!"


"Tapi kan tuan dokter juga bakal ngasih kalau tahu kamu butuh!" ucap Wilson mencoba menggali bagaimana sikap Tisya sebenarnya.


Dia masih ingat bagaimana arogan dan judesnya gadis itu, sombong dan sok kaya. Bagaimana gadis di depannya itu menghina istri tuan dokter nya di beberapa kejadian.


"Pokoknya aku nggak mau ngrepotin dia lagi! Kamu cariin aku pekerjaan apa aja deh yang bisa menghasilkan sepuluh juta sehari!"


"Ngrampok bank kali ...., bisa tuh seratus juta satu hari!"


"Jangan ngaco deh ...., aku bicara serius kamu becandain!"


"Hehhhh ...., lagian kamu aneh-aneh sih ...., gaji aku sebulan aja nggak nyampek sepuluh juta, kamu minta sepuluh juta!"


"Seriusan ....!!!?????" tanya Tisya terkejut.


"Iya ...., pengen tahu banget!"


"Ya kan aku cuma nanya, lagian nggak mungkin lah nggak nyampek sepuluh juta gaji kamu, bohong pasti!"


"Nggak percaya ya udah ....!"


Di depan Wilson sudah ada semangkuk mie instan yang bahkan asapnya masih mengepul sempurna.


Wilson mulai menyendok mie nya yang tidak sempat ia makan gara-gara Tisya terus bicara.


"Minta dong ....!"


"Buat sendiri!" ucap Wilson sambil menggeser mangkuknya menjauh dari Tisya.


Tisya pun segera menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan mangkuk mie dan menatap mie di depan Wilson itu.


"Kamu buatnya cuma satu ya?" tanya Tisya dengan wajah melasnya.


"Iya! Dan jangan harap aku akan membaginya dengan mu!" ucap Wilson sambil mulai menyantap mie instannya.


"Tega banget sih ...., bagi dong!" ucap Tisya sambil menyodorkan sendoknya beberapa kali hingga membuat Wilson mendekap mie nya.


"Nggak boleh ....!"


Hehhhhhhh


Akhirnya Tisya menyerah juga, ia memilih mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalam gelasnya.


"Kembung ...., kembung deh .....!"


Tisya hanya mengisi perutnya dengan air putih hingga dua gelas besar ia habis kan.


"Ahhhh kenyang kan!" ucap Tisya sambil memegangi perutnya yang sudah begah karena kebanyakan air.


"Ehhhh ...., ngomong-ngomong pagi-pagi udah rapi mau ke mana? kerja ya? Aku ikut doong, sekalian nyari kerja sampingan!"


Wilson memang sudah rapi dan sepertinya setelah sarapan dia akan segera bersiap untuk pergi.


"Aku nggak kerja hari ini!"


"Kok rapi kalau nggak kerja?"

__ADS_1


"Aku mau ke rumah tuan dokter!"


"Ngapain? Emang kakak Frans udah pulang dari kampung?"


"Kamu tahu?"


"Mama yang bilang!"


"Iya ...., aku ada pekerjaan sama tuan dokter, karena tuan dokter tidak bisa ke rumah sakit jadi tuan dokter minta aku yang datang ke sana!"


"Kenapa?"


"Nyonya Fe sakit!"


Apa aku ikut aja ya ke sana, njengukin Fe sama sekalian minta sarapan gratis di sana ...., batin Tisya sambil cengar cengir sendiri.


"Kenapa kamu seperti itu?" tanya Wilson yang heran melihat kelakuan Tisya.


"Aku ikut ya!"


"Kemana?"


"Ke angkasa!!! Ya ke rumah kak Frans lah jengukin Fe!"


Tanpa menunggu persetujuan Wilson, Tisya pun segera berdiri dari duduknya dan berlari menuju ke kamarnya untuk mandi dan mengganti bajunya.


Wilson hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Dasar memang si tikus ya ...., bilang boleh aja belum udah kegirangan banget!" gumam Wilson.


Wilson pun akhirnya bisa menghabiskan mie nya dengan tenang karena tidak di ganggu oleh Tisya.


Setelah lima belas menit akhirnya Tisya keluar dengan penampilan yang lebih segar dengan rok jauh di atas lutut.


"Kamu mau ke mana?" tanya Wilson yang menatap tajam pada Tisya.


"Ya mau ikut lah!"


"Boleh ikut tapi ganti rok kamu dengan yang lebih panjang!"


Tisya pun memperhatikan roknya, "Apa yang salah sama rok ku?"


"Cari rok yang lebih panjang!"


"Tapi aku suka rok ini!"


Dengan rok itu paha putih mulus Tisya terekspos dengan begitu sempurna.


Bisa-bisa aku kena pelanggaran sama tuan dokter kalau adik perempuannya tinggal di sini dengan penampilan yang seperti itu .....


"Ganti ...., atau nggak usah ikut aku saja!" ucap Wilson dengan penuh penekanan membuat Tisya begitu kesal dan kembali ke kamarnya.


"Dasar kolon ....!" gerutu Tisya.


Spesial visual Wilson



lagi suka banget sama tokoh ini, kayaknya cocok sama karakternya Wilson, kalian bebas memilih visual sendiri ya ...., ini hanya berdasarkan imajinasi ku saja


Bersambung


...Kita memang tidak boleh memandang seseorang dari penampilannya, tapi pepatah jawa mengatakan "Ajine rogo soko busono" seseorang bisa diharga dari penampilannya...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2