Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (128. Makanan ter enak)


__ADS_3

Rangga tidak ada pilihan lain selain mengikuti Divta ke tempatnya. Tapi sebelum itu ia juga harus menemui zea. Ia ingin memberikan kotak makan siang yang di berikan oleh mamanya.


Zea pasti senang .....


Ia sudah bisa membayangkan bagaimana sikap Zea nantinya.


Rangga berjalan cepat menuju ke tempat Zea. Pengerjaan proyek bersama Zea Sudah sampai sembilan puluh delapan persen, sudah hampir selesai tinggal menunggu penyelesaian berkas dan peresmian saja membuat Rangga bisa sedikit santai.


Sesampai di ruangan Zea, ia tidak menemukan wanita itu. Padahal ini sudah lebih dari jam makan siang,


"Zea kemana ya?" gumamnya.


Ia pun akhirnya mengambil sebuah kertas kosong dan menuliskan sesuatu. Menitipkan rantang itu begitu juga dengan kertasnya.


Ia harus segera kembali menemui Divta, ini pasti sangat penting.


Ternyata di tempat lain, Zea dan tuan Seno baru saja keluar dari kantor polisi.


Mereka harus memberi banyak keterangan untuk semua laporannya.


"Setelah ini mau ke mana?"


"Zea mau ke suatu tempat dulu pa, nggak pa pa kan?"


"Tapi sama bodyguard kamu ya!"


"Iya pa!"


"Papa duluan ke kantor."


Akhirnya Zea dan tuan Seno pun berpisah. Zea naik mobil lainnya dengan sang bodyguard.


"Kita ke mana nona?"


"Kita ke taman itu."


"Baik nona."


Akhirnya mobil pun berjalan meninggalkan kantor polisi, ini untuk kesekian kalinya Zea mendatangi tempat itu. Tempat di mana kecelakaan itu terjadi.


Ternyata selain Rangga, Zea juga sedang menyelidiki perihal kecelakaan itu. Ia tahu kecelakaan itu sepertinya sudah di rencanakan.


Zea sudah menyelidikinya cukup lama, bahkan saat kasus itu masih di tangani oleh polisi.


Tapi nyatanya Zea tidak sehebat Divta ataupun Rangga, ia tidak punya kemampuan untuk mencari tahu lebih lanjut. Apa yang ia dapat selalu saja terhenti di tempat seperti sudah tidak ada kelanjutannya.


"Aku harus bagaimana lagi sekarang, ini sudah terlalu lama!" ucapnya dengan penuh penyesalan. Seolah apa yang ia lakukan saat ini tidak ada gunanya.


"Mau sampai kapan?"


Kini Zea dalam keputus asaannya, hingga membuat bodyguard nya kembali mendekatinya,


"Nona, sebaiknya kita pergi dari sini."


"Baiklah, aku mengerti."


Akhirnya Zea tidak ada pilihan lain selain mengikuti permintaan bodyguard nya.


Tidak ada tempat lain selain datang ke kantor, ia berharap bisa menemui Rangga di sana, setidaknya dengan melihat Rangga hari ini membuat suasana hatinya menjadi baik.

__ADS_1


Hingga sesampai di kantor, ia bergegas ke ruangaannya. Tapi wajahnya berubah kecewa karena ia tidak bisa mendapati Rangga di sana.


Tok tok tok


Hingga pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang. Seorang wanita yang bertugas sebagai petugas resepsionis sudah berada di balik pintu itu.


"Nona Zea, boleh saya masuk."


"Iya, silahkan!"


Wanita itu pun masuk dengan membawa rantang dari Rangga,


"Ini ada titipan dari pak rangga."


"Jadi Rangga tadi ke sini?"


"Iya nona!"


Zea pun segera menerima rantang itu,


"Dan ini yang di tinggalkan pak Rangga!" wanita itu juga menyerahkan kertas yang di lipat rapi yang di tulis oleh Rangga tadi.


"Terimakasih ya!"


"Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi!"


"Silahkan!"


Setelah wanita itu pergi, Zea pun segara kembali duduk. Kakinya rasanya sudah mudah lelah kalau terlalu lama berdiri.


Ia membuka rantang itu satu persatu, ternyata sebuah masakan rumahan,


Lalu Zea kembali melihat kertas yang dilipat rapi itu. Ia mulai membuka perlahan.


Zea, maaf ya aku tidak bisa menunggumu datang.


"Ya aku marah padamu. Aku merindukanmu tapi kamu bahkan tidak mau menungguku!" keluh Zea, ia pun kembali melanjutkan membaca surat dari Rangga itu.


Aku ada urusan lain yang harus segera aku selesaikan, tapi aku hari ini datang sengaja untuk membawakan makan siang untuk kamu.


"Tapi kan akan lebih enak kalau makan siangnya sama kamu."


Dan kamu tahu apa yang paling istimewa dari semua itu?


"Apa?" Zea mulai bertanya apa yang istimewa. Tapi menurutnya semua yang di bawa oleh Rangga untuknya semua adalah hal yang istimewa.


Makan siang yang aku bawa ini adalah makan siang yang di buat khusus oleh mama. Kamu tahu kan bagaimana mama?


"Mama?" Zea benar-benar di buat terkejut, "Iya aku tahu mama kamu, dia sangat membenciku. Bagaimana bisa?" Zea pun dengan cepat melanjutkan membaca suratnya.


Aku juga terkejut, lebih terkejut dari kamu. Tapi hari ini sikap mama begitu manis. Mungkin lain hari kita harus bertemu mama, supaya kamu percaya.


"Jangan khawatir, aku percaya kok dengan semua yang kamu katakan. Ini pasti akan jadi makanan paling nikmat sepanjang masa!"


Ya udah itu aja yang ingin aku kasih tahu, selamat makan ya. Salam buat dedek bayi♥️♥️♥️♥️


Rangga sengaja menggambar hati di bagian akhirnya membuat Zea semakin berbunga-bunga.


"Ihhhh dia menggemaskan sekali, pengen cubit pipinya."

__ADS_1


Setelah membaca surat dari rangga, Zea segera menyantap makanannya. Hari ini ia berjanji akan menghabiskan semua makanannya hingga tidak bersisa.


Di tempat lain, Rangga dan Divta tengah memandangi rekaman cctv dari berbagai sudut.


Nampak mereka begitu serius dan berharap tidak akan ada yang terlewat sedikit pun. Hingga sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka.


"Abang Div panggil saya?" seorang pria dingin tengah berdiri di depan pintu dengan baju rapinya. Ia selalu tampak sempurna di manapun.


Divta tersenyum melihat kedatangan Rendi di sana, "Syukurlah kamu datang!"


Rangga yang awalnya duduk segera berdiri menyambut kedatangan Rendi.


"Selamat datang pak Rendi!"


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


Divta segera menarik Rendi dan memintanya duduk, "Lihat, matanya sudah mau copot memandangi cctv ini. Coba kamu periksa sekali lagi, apa menurutmu ada yang mencurigakan di sini?"


"Ini cctv apa?"


"Cctv yang kami ambil saat Rangga mengalami kecelakaan. Saya rasa ada yang mencurigakan!"


Rendi pun mulai serius menatap cctv itu, ia memutar ulang beberapa kali, menandai beberapa mobil yang menurutnya cukup mencurigakan.


"Apa kamu sudah dapat sesuatu?" tanya Divta setelah hampir setengah jam Rendi memutar berulang cctv itu.


"Ya, sedikit. Di sini, ini mobil yang menabrak Rangga. Kita lihat dari mana mobil itu berasal. Dari cctv pemilik kedai ayam geprek mobil itu berhenti tepat di samping mobil yang tengah di parkir di sana.


Sepertinya pemilik mobil itu keluar sebentar dan menyapa seseorang di dalam mobil. Jarak tempat kejadian dengan kedai ayam geprek cukup jauh, jadi mereka merasa aman jika di sana.


Lanjut, setengah jam kemudian, mobil itu melaju dan berhenti di bawah pohon besar. Sepertinya menunggu laporan dari seseorang.


Hingga ia memastikan jika Rangga dan istrinya mulai meninggalkan taman, tampak dari cctv di sebelah sini." Rendi menunjuk sebuah rekaman cctv yang lain yang memperlihatkan Zea dan Rangga yang tengah berjalan.


"Mobil itu masih tidak bergerak saat mereka berjalan berdua, tapi saat Rangga meninggalkan istrinya. Tiba-tiba mobil itu melaju dengan begitu kencang. Dari sini dapat di simpulkan kalau target mereka yang sebenarnya adalah istri Rangga."


Rangga yang mendengarkan penjelasan dari Rendi, hanya bisa mengangukkan kepalanya. Ia belum ingin berkomentar. Ia menunggu hingga penjelasan Rendi benar-benar selesai.


"Lalu?" tanya Divta.


"Dan ini detik-detik saat Rangga tertabrak dan mobil itu berlalu begitu saja meninggalkan lokasi saat warga mulai berkerumun.


Kita lihat lima belas menit kemudian, saat Rangga dan istrinya di bawa ambulan. Mobil yang tadi berada di depan kedai ayam geprek mulai meninggalkan lokasi."


Rangga mulai memperhatikan mobil itu, itu adalah mobil yang cukup familiar baginya,


"Aku tahu itu mobil siapa!" ucapan Rangga berhasil membuat Divta dan Rendi menoleh padanya. Yang awalnya hanya dugaan dari Rendi kini menjadi sebuah bukti baru.


"Siapa?"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2