Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Menemui Maira


__ADS_3

Wilson menurunkan Tisya di depan kantor kecil tempat kerja Tisya. Karena pengerjaan rumah Wilson sudah hampir selesai jadi Tisya harus melaporkan hasil kerjanya.


"Kalau sudah pulang langsung pulang, nggak usah kemana mana!" ucap Wilson saat Tisya turun dari mobil , tapi Tisya segera membalik badannya kembali menatap Wilson yang tetap duduk di balik kemudi.


Tisya pun melongok kan kepalanya masuk ke dalam mobil, sambil mengerutkan keningnya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Wilson. Ia tidak merasa salah dengan ucapannya.


"Kamu sungguh tidak merasa salah bicara?" tanya Tisya.


"Memang aku ngomong apa?"


"Saat aku turun, kau memberitahuku seolah-olah aku ini istrimu!" ucap Tisya,


"Atau jangan-jangan kamu berharap seperti itu ya?!" kali ini Tisya berencana menggoda.


"Ye ...., jangan Ge Er ya, aku ngomong kayak gitu karena kamu juga punya pekerjaan di rumah, jadi jangan mikir macam-macam ....!" ucap Wilson yang ternyata jadi salah tingkah sendiri. Tapi Tisya tetap kekeh dengan pendapatnya.


"Nggak percaya ....!"


"Nggak percaya ya udah ....., husttttt sudah sana menyingkir, aku sudah terlambat!"


Tisya pun terpaksa kembali mengeluarkan kepalanya sedikit memundurkan tubuhnya saat Wilson kembali menutup kaca mobilnya. Dan mobil itu perlahan-lahan meninggalkan Tisya.


"Wilson .....!" ucap Tisya sambil membayangkan bagaimana Wilson, "Hehhh ....., apa istimewanya!" gumamnya lagi sambil berjalan masuk ke dalam kantor.


Sementara di dalam mobil itu, Wilson terlihat memegangi dadanya.


"Kenapa juga aku tadi ngomong kayak gitu! Kurang kerjaan banget!" ucap Wilson dengan masih memegangi dadanya yang bergetar. Setiap melihat senyum manja Tisya tiba-tiba saja jantungnya bekerja lebih keras.


"Dia benar-benar sudah seperti racun .....! Stop mikirin Tisya, aku harus cari tahu tentang surat perjanjian itu kan!"


Wilson pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang dengan nama 'Maira cantik'.


"Hallo .....!" sapa dari seberang sana tampak bersemangat karena baru sekian detik dan telpon sudah tersambung.


"Hallo Maira!" sapa Wilson balik. Ia masih dengan fokus menyetir, ia hanya menggunakan aerophone di telinganya.


"Wil ...., aku senang sekali akhirnya kamu hubungi aku duluan!" ucap Maira yang begitu bahagia mendapatkan telpon dari Wilson.


"Apa kamu punya waktu?" tanya Wilson.


"Punya! kapan?"


"Sekarang, bagaimana kalau kita jalan?"


"Jalan?"


"Aku mau!"


"Baiklah aku tunggu satu jam lagi, aku serlok tempatnya!" ucap Wilson lalu segera menutup sambungan telponnya.

__ADS_1


Maira terlihat begitu senang sampai ia lompat-lompat di atas tempat tidurnya.


"Mimpi apa aku semalam ...., nggak nyangka Wilson ngajakin aku jalan, this is so amazing ( ini sangat luar biasa) ....!"


Maira pun dengan cepat berlari ke kamar mandi, mandi dan mengganti bajunya. Ia mengoles bedak tipis pada wajahnya juga lipstik merahnya,


ting


Notif pesan masuk, dengan cepat Maira menyambar ponselnya dan melihat serlok yang di kirimkan oleh Wilson.


"Dia sudah sampai!"


Maira pun segera berlari keluar kamar, langkahnya terhenti saat melihat papa nya ternyata masih di rumah.


"Pa ....., papa nggak kerja?" tanya Maira.


"Papa ada janji dengan seseorang di rumah, kamu mau ke mana buru-buru sekali?" tanya tuan Bactiar.


"Maira ada janji pa, ya udah ya pa, Maira jalan dulu, da da papa ...!" ucap Maira sambil mencium pipi tuan Bactiar lalu berlalu begitu saja.


"Ada apa dengan Maira, apa dia sedang jatuh cinta?" gumam tuan Bactiar melihat wajah sumringah putrinya itu.


...****...


Wilson sudah duduk di salah satu bangku yang ada di kafe itu, ia masih tidak berniat memesan sesuatu sampai orang yang di tunggunya datang.


Setelah duduk selama lima belas menit akhirnya orang yang sudah di tunggunya itu datang juga.


"Maaf ya Wil, telat!" ucap Maira.


"Astaga ...., kamu juga belum memesan apapun?" tanya Maira melihat tidak ada apapun di meja mereka.


"Aku ingin kamu aja yang pesan, ladies first, aku samaan aja sama kamu!"


"Kami kok gitu sih, aku kan jadi nggak enak!"


"Di enakin aja!"


"Ihhhh kamu suka becanda ya ternyata! Baiklah kalau begitu!"


Maira pun mengangkat satu tangannya, hingga salah satu pelayan kafe menghampiri mereka.


"Milk shake nya dua ya!" ucap Maira dan pelayan pun mencatat pesanannya.


Setelah pelayan kembali ke tempatnya, tidak berapa lama pelayan pun kembali datang dengan pesanan nya.


"Terimakasih ya!" ucap Maira, Maira memang lebih ramah di bandingkan dengan Tisya karena ia sudah terbiasa hidup mandiri di luar negri.


Setelah pelayan kafe meninggalkan mereka, Maira pun segera menatap Wilson.


"Aku seneng tahu Wil kamu ngajakin aku jalan, rasanya seperti mimpi!" ucap Maira.

__ADS_1


"Jangan seperti itu, aku bukan orang yang pantas mendapatkan keistimewaan itu!" ucap Wilson yang merasa tidak enak karena memang bukan itu tujuannya.


"Nggak pa pa ...., apapun niatmu buat ketemu sama aku, aku tetap senang! Sejak pertama kali liat kamu, aki tahu kamu orang baik!"


"Terimakasih atas pujiannya, minumlah ...!"


Mereka pun mulai menyesap minumannya, Maira mulai cerita banyak hal tentang kehidupannya, mamanya, papanya kehidupannya di luar negri jauh dari sang papa.


Mama dan papanya yang menikah lagi, mamanya dengan kehidupan barunya dan papa dengan kehidupan baru nya juga.


"Lalu kehidupanmu dengan Tisya?" tanya Wilson yang penasaran melihat kemarahan Maira saat ini, seberapa dekat mereka dulu sebelum semua ini.


Hehhhhhh .....


Terdengar Maira menghela nafasnya dalam.


"Aku menyesal ...., semua bisa menjadi seperti ini, dia sudah menjadi adik ku sejak kecil, bahkan walaupun aku tahu mama Tania membenciku dan mengirim ku ke luar negri, aku tetap menyayangi Tisya sebagai adik perempuan ku!"


"Lalu sekarang?" tanya Wilson yang melihat kesedihan di mata Maira.


"Mama Tania sudah membohongi papa, Tisya bukan akan kandung papa, aku begitu marah! Kemarahan ku semakin besar saat mereka memilih meninggalkan papa saat papa sedang terpuruk!"


"Apa kau sudah mencari tahu kebenaran nya?" tanya Wilson.


"Maksudnya?"


"Ya semuanya, kenapa kamu tidak mencari tahu dari sudut pandang yang berbeda, apa yang kamu dengar dari satu orang itu belum tentu kebenarannya karena kamu belum mendengar dari sisi satunya, atau mungkin dari sumber lainnya!" ucap Wilson.


"Aku percaya sama papa aku ...!"


"Tapi apakan kamu yakin jika papa kamu bisa di percaya?"


"Kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu sih ...?" tanya Maira yang menjadi berubah kesal.


"Ya karena aku tahu dari sudut pandang yang berbeda itu!"


"Maksudnya Tisya?" tanya Maira dan Wilson pun mengangguk, "Sudah ku duga!"


"Kamu bisa memulai menyelidikinya dari surat perjanjian antar papa kamu dan Tisya jika tidak percaya!"


"Tapi aku tidak mau meragukan papa aku ..., aku tahu siapa papa aku, papa sangat menyayangi Tisya dan mama Tania, bahkan sekarang papa sering melamun mikirin Tisya sama mama Tania!"


"Aku tidak memintamu meragukan papa mu, tapi aku hanya menyarankan padamu untuk mencari tahu kebenarannya, agar nanti kamu tidak menyesal!"


Bersambung


...Kebenaran yang di dengar dari satu arah bukanlah sebuah kebenaran tapi sebuah pembenaran...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2