
Waktu sudah menunjukkan pukul setelah dua belas, sudah waktunya untuk makan siang. Felic
sudah terbiasa untuk tidak pergi makan siang, ia hanya akan membuat mie instan
di pantry kantornya.
Tapi kali ini sepertinya berbeda, tiba-tiba saja Ersya sudah berada di belakangnya
saat ia hendak meletakkan peralatan bersih-bersihnya. Ia tidak pernah
meninggalkan kantor karena mungkin saj akan ada karyawan yang membutuhkan
bantuannya untuk di belikan makanan.
“Ersya …, lo ngagetin gue aja!” Felic memegangi dadanya saat berbalik dan mendapati
Ersya sudah berdiri di belakangnya.
“Makan siang bareng gue yuk!”
“Nggak biasanya, ada apa?” felic sudah sangat hafal dengan sahabatnya itu, jika
seperti itu pasti sahabatnya itu ada maunya.
“Gue traktir deh!”
‘kalau di traktir mau deh …!”
‘nah gitu dong!”
Akhirnya Felic memilih ikut dengan sahabatnya itu, mereka memilih sebuah restaurant
cepat saji sebagai tempat makan siang.
“Pilih apa aja yang lo mau!” ucap ersya lagi sambil menyerahkan buku daftar menu.
“beneran nih …, nggak mimpi kan gue?”
“Mau gue pukul biar bangun dari mimpi!”
“Nggak perlu!”
Akhirnya Felic memilih beberapa makanan membuat Ersya hanya bisa melongo melihat begitu banyak makanan yang akan di makan oleh sahabatnya itu.
“Lo serius mau habisin semuanya?”
“Nggak ikhlas nih ceritanya?”
“Baperan banget sih lo …, sudah sana cepetan makan. Setelah habis gue bakal interogasi
lo!”
Akhirnya Felic begitu lahap memakan semua makanan yang telah ia pesan, Ersya hanya bisa
menggelengkan kepalanya tidak percaya.
“Sebenarnya lo udah nggak makan berapa hari sih? Apa suami lo ngajak olah raga terus setiap
malam? Gila ya emang pengantin baru, semalam abis berapa ronde?”
“Huuussstttt …!” Felic segera membekap mulut sahabatnya itu, “Nggak di saring banget sih
mulutnya!”
“Abis lo makannya kayak orang kesetanan begitu!”
“Gue beneran lapar Er!”
“Er?”
“Nama lo Ersya kan, suka suka gue mau panggil lo, Er atau Sya!”
“Ihhhh …, jijay tau Fe, jangan panggil gue kayak gitu!”
Felic hanya tersenyum, ia kembali melanjutkan makannya. Sedangkan Ersya sudah
__ADS_1
menghabiskan makanannya.
“Kata Lisa, lo udah ke rumah suami lo ya? Gimana rumah suami lo? Dia beneran kaya ya?”
Mendengarkan pertanyaan Ersya, Felic jadi kehilangan nafsu makannya, ia segera menghentikan makannya dan menutupnya dengan meminum jusnya.
“Iya Sya …!”
“Lemes banget jawabnya!”
“gue bingung Sya, harus seneng atau malah sedih!”
“Kenapa gitu?”
“Gue ngerasa nggak pantes aja bersanding dengan seorang Frans, dia punya segalanya
dan gue hanya office girl,
"Lo tahu apa yang di tanyakan sama bi Mo?”
“Siapa bi Mo?”
“Asisten rumah tangga yang sudah mengurus semua keperluan rumah itu, semacam orang
kepercayaan di rumah itu!”
“lalu dia ngomong apa?”
“Saat liat gue berangkat kerja, dia nanya gue kerja di mana, dia bilang gue punya
butik lah, restauran lah, perusahaan fashion lah, artis lah , model lah …!” Felic terdiam kemudian
menghela nafasnya bersiap untuk berbicara kembali, Ersya begitu mencermati
ucapan Felic,
“Mungkin benar yang di katakana bi Mo, Sya …! Bukan OG seperti aku yang seharusnya
menjadi istri seorang Frans, setidaknya istri seorang Frans adalah dokter yang
“Fe …!” Ersya menatap sendu pada sahabatnya itu, ia pun mengusap lengan sahabatnya
itu mencoba menyalurkan kekuatan.
“Bahkan mas ojek online pun mengatakan hal yang sama, aku lebih pantas tinggal di rumah
itu sebagai anak asisten rumah tangga atau istri seorang sopir!”
“Fe …, jangan berfikir seperti itu, jangan memikirkan perkataan orang, yang
terpenting bagaimana suami lo!”
“Dia tidak pernah mengeluh tentang apapun, dia bukan orang yang suka mengeluh
tentang hal-hal seperti itu, bahkan di jamuan makan itu aku selalu membuta
kesalahan tapi dai hanya tersenyum padaku! Dia pasti menyimpan malunya sendiri
Sya!”
“ya ampun Fe …, di mana Felic yang selama ini gue kenal, Felic yang selama ini gue
kenal tidak pernah memperdulikan orang bicara apa, tapi kenapa sekarang jadi
begini?”
“gue hanya insecure saja Sya, gue ngerasa berada di tempat yang kurang tepat saja,
gue seperti terjebak di dunia yang tidak pernah gue bayangin sebelumnya!”
“Kalau begitu mungkin lo butuh perubahan sedikit, Fe!”
“Perubahan?”
“Iya …, sedikit merubah penampilanmu aku rasa ide bagus kan?”
__ADS_1
“Apa lo yakin?’
“Yakin banget!” Ersya begitu yakin, ia tahu sahabatnya itu begitu cantik tapi tidak
mementingkan penampilan sama sekali.
Ersya pun memutuskan untuk ijin sore ini, mereka tidak kembali ke kantor, ia
beralasan ada urusan di luar mengenai nasabah.
Tidak lupa Ersya juga meminta ijin untuk Felic, ia bilang jika Felic sedang tidak enak badan, alasan itu adalah alasan yang paling ampuh untuk pak Bima.
Ersya mengajak Felic ke pusat perbelanjaan, mengecek saldo yang berada di kartu yang
di berikan Frans untuk Felic, ersya begitu tercengang saat melihat begitu
banyak nol yang menghinggapi angka di depannya.
“Ya ampun Fe …, kalau tahu sebegini banyak saldo lo, gue nggak ikhlas traktir lo fe!”
“Mau gue muntahin lagi nih makanannya!”
“Gila aja lo!”
Mereka pun akhirnya berbelanja semua keperluan Felic, Ersya juga membawa Felic ke
salon, memermak nya sedemikian rupa hingga felic terlihat lebih feminim.
“harganya mahal banget Sya!” Felic benar-benar di buat tercengang saat melihat bandrol harga di setiap baju di toko yang di datangi mereka.
“Nggak masalah Fe, lagian suami lo juga nggak bakal marah Fe!”
“Mana berani dia marah, mau gue nggak kasih jatah apa!” gumam Felic sambil tersenyum
mengingat betapa ganasnya suaminya di malam hari, ia jadi tersenyum sendiri
dengan pipi yang memerah.
“Nah itu tahu sendiri Fe!”
Uppppsssss
Felic segera menutup mulutnya sendiri saat menyadari jika Ersya bisa mendengarkan
ucapannya.
Ha ha ha
Ersya tertawa begitu kerasa melihat kepolosan sahabatnya itu. Setelah menyelesaikan
belanjanya, mereka pun memilih untuk segera pulang, tapi kali ini Ersya ikut
bersamanya, ia begitu penasaran melihat sebesar apa rumah suami Felic.
Felic juga menggunakan uangnya untuk menaiki taksi, tidak seperti biasanya yang lebih
suka naik angkot atau ojek yang lebih murah.
Ersya begitu tercengang saat melihat gerbang rumah Felic yang menjulang tinggi,
“Di sini aja mas!” ucap felic saat taksi sudah berada di depan gerbang.
‘Baik neng!”
Taksi pun berhenti di depan gerbang, ia tidak mau memasukkan kendaraan yang jelas-jelas bukan kendaraan pribadi mereka, Felic masih begitu takut membuat kesalahan.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘❤️
__ADS_1