Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Nafkah batin


__ADS_3

Pagi ini Tisya sudah siap untuk berangkat kerja, mau bagaimana pun ia tetap harus bekerja. semua orang di jam paginya Tisya juga sudah melakukan aktivitas sedari tadi, bahkan mungkin sudah menghasilkan uang banyak, misalnya para menjual koran pagi, para pedagang bubur ayam, pengambil sampah, orang yang menjual sayuran.


Bahkan Wilson sepagi ini sudah melakukan banyak sekali kegiatan, tapi wanita yang baru dinikahinya kemarin itu masih sibuk di dalam kamar.


Wilson memang sudah terbiasa bangun pagi, ia bangun jam setengah empat, sholat lalu olahraga sebentar, mengatur jadwal dan membaca koran hari ini.


Tapi semenjak Tisya di rumahnya, ia jadi punya tambahan kegiatan, biasanya ia akan membeli sarapan di luar sambil berangkat kerja,


Semenjak Tisya di rumahnya, ia tidak tega meninggalkan Tisya dalam kondisi lapar.


Tisya begitu terkejut saat keluar dari kamar ternyata Wilson sudah siap dengan makanan di atas meja.


"Wil, makanan dari mana?"


"Makanya jangan suka bangun siang, bangun tuh pagi-pagi di depan banyak penjual makanan yang bisa kamu pilih!"


Tisya pun segera duduk di depan Wilson, di antara meja itu.


"Memang ada apa aja?"


"Banyak, salah satunya ini!"


Dua mangkuk bubur ayam sudah tersaji di atas meja, secangkir kopi untuk Wilson dan segelas air putih untuk Tisya.


"Baik banget sih kamu!"


Dengan senyum manisnya Tisya segera memulai makannya, ia begitu bersemangat karena semalam ia belum kenyang.


Wilson kembali menatap Tisya, "Tapi ingat, nggak gratis!"


Seketika bubur itu tiba-tiba saja sulit untuk di telan, menjadi seperti batu dan Tisya kesusahan untuk menelannya, ia pun mengambil air putihnya untuk membantu menelan bubur itu.


"Apa?"


Wilson tersenyum, "Ya kamu harus ngelakuin pekerjaan rumah!"


Wilson memberi jeda pada ucapannya, "Ingat sepulang kerja bersih-bersih rumah, nyapu ngepel, cuci piring, tanpa gaji!"


Tanpa gaji ......


Seketika Tisya melotot, "Kamu kok gitu sih?"


"Ya mana ada seorang istri yang melakukan pekerjaan rumah minta gaji!" ucap Wilson dengan entengnya sambil menghabiskan buburnya yang tinggal satu suapan.


Dia sengaja nih kayaknya mau mengerjai ku ...., aku gantian kerjain aja ...., batin Tisya, ia tersenyum smirtt.


"Okey baiklah! Kalau gitu aku nggak minta gaji!"


Tisya terus tersenyum membuat Wilson heran, Wilson sampai mengerutkan kening nya menunggu kelanjutan ucapannya.


"Tapi_, aku minta nafkah!"


Kali ini Wilson yang terjebak kata-katanya sendiri, "Nafkah?"


Dari mana dia tahu soal nafkah ....?


Tisya kembali tersenyum melihat wajah terkejut Wilson.


Kena kan dia ....., he he he ....


"Kamu kan suami aku, wajib tahu hukumnya kasih nafkah istri!" ucap Tisya dengan begitu meyakinkan.


Dia tahu hukum pernikahan dari mana ....


"Jangan di kira aku nggak tahu ya, kemarin pak penghulu kan udan mengatakan kalau suami wajib kasih nafkah pada istrinya, nafkah lahir dan batin!" ucap Tisya lagi dengan sok tahu nya.


Ohhh jadi kayak gitu, dia nggak benar-benar tahu kan, dia mau mengerjai ku rupanya .....


Wilson meneguk kopinya yang sudah tidak panas lagi, hingga kopi itu habis.


"Emang kamu tahu apa nafkah batin?" tanyanya kemudian, ia mencoba menyembunyikan senyumnya di balik wajah seriusnya.

__ADS_1


Apa aku tidak mendengarkannya kemarin? Iya deh kayaknya ...., batin Tisya, ia pun kembali mendongakkan kepalanya menatap Wilson.


"Apa?" tanyanya.


Bukannya menjawab Wilson malah mendekatkan mangkuk bubur milik Tisya yang memang masih banyak.


"Makan dulu, nanti sepulang kerja aku kasih tahu karena ini sifatnya rahasia!"


Tisya pun kembali menyantap buburnya, tapi dengan wajah yang penuh penasaran karena Wilson memberinya teka-teki.


"Masak sih, nggak semua orang tahu?" tanya Tisya.


"Sudah jangan banyak bertanya, cepetan habiskan sarapan mu dan aku akan mengantarmu, itu salah satu bentuk nafkah lahir, mengerti!"


Wilson yang sudah menyelesaikan sarapannya lebih dulu segera meninggalkan meja makannya tanpa menunggu Tisya selesai.


"Wil, mangkuk kotor kamu!" teriak Tisya.


"Kan udah ada istri!" ucap Wilson dari kejauhan, ia tidak berhenti tersenyum saat meninggalkan istrinya itu.


"Itu salah satu kewajiban istri!"


Wanita yang menurutnya dulu sangat arrogant itu ternyata sangat polos.


Wilson kembali merapikan barang bawaannya, ia sudah mulai bekerja normal. Datang dulu ke rumah dokter Frans menunjuk an berkas-berkas yang harus di kerjakan hari ini dan berangkat dari sana.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Tisya dan Wilson berangkat dengan satu mobil. Wilson mengantar Tisya lebih dulu ke kantornya, tidak terlalu jauh dari rumah mereka.


"Oh iya, nanti pulangnya langsung aku jemput!" ucap Wilson saat Tisya hendak turun dari mobil.


"Kenapa?"


"Kita harus belanja bulanan, jadi nggak usah ada acara keluar-keluar segala!"


"Siap bos!" ucap Tisya sambil meletakkan tangannya di depan kening persis seperti orang memberi hormat.


Wilson yang gemas mengusap kelapa Tisya, "Bagus!"


"Kenapa sih Wil!"


Tisya berusaha melepaskan tangan Wilson dari kerah bajunya.


"Lakukan seperti yang biasa seorang istri lakukan!"


"Apa?"


"Ya apa gitu!"


"Kamu yang minta, tapi kamu malah bingung sendiri! Anehhh!"


Wilson pun terpaksa melepaskan kerah baju Tisya.


"Baiklah saat kamu sudah di luar lambaikan tangan saja, mengerti!"


Tisya terlihat berpikir.


"Sudah jangan kebanyakan berpikir, cepet turun!"


"Itttssss, dia yang nahan sekarang dia juga yang ngusir!" gerutu Tisya sambil turun dari dalam mobil.


Seperti yang di inginkan Wilson, Tisya pun berdiri di bahu jalan dan melambaikan tangannya sambil tersenyum semanis mungkin.


Wilson juga melakukan hal yang sama lalu mobil mulai berlaju meninggalkan Tisya.


"Pagi Tis!"


Seseorang tiba-tiba menyapa Tisya dari belakang, Tisya tidak menyadari jika sedari tadi ada yang mengawasinya.


Tisya pun segera menoleh dan tersenyum.


"Pagi Sari!"

__ADS_1


"Itu tadi siapa, ganteng banget, maco, suami kamu ya? Katanya kamu kemarin nikah ya? Kok nggak undang undang sih?" tanya wanita yang bernama Sari itu, dia adalah rekan kerja Tisya di kantornya.


"Kenapa kamu cerewet sekali sih?" gerutu Tisya lalu berlalu meninggalkan Sari, Sari yang masih sangat penasaran pun terus mengekori langkah Tisya.


"Jawab satu aja nggak pa pa deh, dia suami kamu?"


"Iya!"


Tisya segera duduk di tempatnya, tapi Sari masih mengikutinya, Sari duduk di depan mejanya, menggeser bangku kecil yang ada bilik lainnya.


"Bisa tiba-tiba nikah kenapa? Itu kayaknya bukan tunangan kamu yang masuk tv itu kan?"


Sari tahu jika Tisya adalah putri Bactiar karena dia aktif di media sosial.


"Husssshttt, jangan keras-keras!" Tisya segera meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sambil mengedarkan pandangannya memastikan tidak ada yang mendengarnya selain mereka.


"Maaf maaf kelepasan ...! Ya udah jelaskan kenapa bisa tiba-tiba menikah?"


"Memang semua orang kantor tahu ya?"


"Ya tahu lah, wong suami kamu yang ijin nikah!"


Wilson ......., dia sengaja ya ....


"Nanti aja aku ceritanya, sekarang kita kerja dulu, pas makan siang aku bakal cerita!"


"Okey, aku tunggu ya!"


Sari pun meninggalkan Tisya dan kembali ke tempat duduknya.


Hingga jam makan siang tiba, Sari pun langsung menghampiri Tisya kembali dan mengajaknya untuk makan siang di kantin kantor.


"Ayo cerita!"


"Ya kami menikah karena kami merasa cocok!" ucap Tisya berbohong agar temannya itu tidak banyak bertanya lagi.


Cocok dari mananya ....., batin Tisya, rasanya mau muntah saat mengatakan hal itu.


"Dia ganteng banget, jadi iri! Pengen tuker suami!"


"Ada-ada aja!"


Kayaknya Sari paham deh masalah soal nafkah, tanya dia aja kali ya ....


"Oh iya Sar, tanya dong!"


"Apa?"


"Nafkah batin itu apa?"


"Nafkah batin ya?"


"Kamu juga nggak tahu ya?"


"Ya tahu, pokoknya kalau nafkah batin itu paling di sukai oleh pasangan suami istri!"


"Iya, yang paling di sukai itu apa?"


"Minta aja sama suami kamu, nanti juga di kasih!"


Bersambung


...Bahagia itu bukan tentang tersenyum di depan semua orang, tapi bahagia adalah bagaimana kita bisa menangis saat bahagia dan tersenyum melihat orang lain bahagia...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2