Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Jangan remehkan


__ADS_3

Wilson yang memberi pekerjaan pada Tisya, tapi ia sendiri sedang mondar mandir di dalam kamarnya. Dengan kemeja yang masih melekat di tubuhnya, tapi lengannya sudah di Selingsing kan sebatas siku, dua kanci kemeja paling atasnya juga sudah ia buka.


"Kira kira apa ya isi surat perjanjian itu?" gumam Wilson, ia harus tahu karena ini cukup penting baginya.


"Bagaimana caranya biar aku tahu isi dari surat itu?!"


Wilson pun mendengus kesal karena beberapa kali mencari cara tapi belum terpikirkan olehnya.


Wilson pun memilih untuk pergi ke kamar mandi, membersihkan diri dan beribadah. Ia juga harus segera masak, ia tidak mungkin membiarkan Tisya memegang kompornya.


Wilson keluar dari kamar dengan celana pendeknya dan juga kaos tipis, ia juga harus tahu sudah sejauh mana Tisya bekerja.


"Astagfirullah Tisya ...!" pekik Wilson begitu terkejut dengan rumahnya. Setelah di sapu bukannya bersih tapi malah semakin berantakan saja. Barang-batang tidak berada di tempatnya.


Tisya yang mendengar suara Wilson segera menoleh, "Ada apa? Aku sudah membersihkan semuanya!" ucapan Tisya bingung.


Benar-benar bisa mati berdiri aku kalau kayak gini ....., batin Wilson. Ia melihat rumahnya yang barang-barang awalnya sudah berada di tempatnya malah berpindah semua.


"Bagaimana ini semua bisa terjadi? Mau kamu apain rumahnya?" tanya Wilson dengan begitu kesal.


"Ya aku bersihin lah ...., susah bersihin bagian bawahnya makanya aku geser semua ke tempat yang sudah bersih!" ucap Tisya memberi alasan, yang sebenarnya memang masuk akal, tapi sayangnya ada cara yang lebih mudah.


"Tapi ini namanya bekerja dua kali Tikuuuuus ....! Siniin sapunya!" ucap Wilson sambil menarik sapu yang masih berada di tangan Tisya.


"Lihat nih!" Wilson pun mempraktekkan cara menyapu yang benar dengan hanya merogoh bagian bawah kursi dan lemari menggunakan sapu dan sampah pun akan ikut terbawa.


"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau caranya nyapu kayak gitu, kan aku nggak perlu pindah-pindah in meja, kursi dan selama almari juga udah aku pindahin ....!"


"Kamu ini ya. .....!" ucap Wilson begitu gemas ingin meremas wajah polos Tisya, tangannya sudah terangkat dengan gaya meremasnya tapi di udara tepat di depan wajah Tisya hingga Tisya sedikit memundurkan kepalanya.


"Aku kan nggak tahu ....!" ucap Tisya yang merasa bersalah.


"Memang di rumah rumah lama kamu nggak ada orang nyapu? Kamu nggak pernah lihat orang nyapu?" tanya Wilson heran dengan makluk Tuhan yang ada di hadapannya.


"Ada ...! Asisten rumah tangga ada yang bertugas menyapu, tapi buat apa coba aku memperhatikan mereka menyapu?!"


"Ya buat ini ...., makanya jangan suka meremehkan pekerjaan orang!"


"Trus sekarang gimana dong?" tanya Tisya bingung dengan rumah yang semakin berantakan itu. Lantai memang bersih tapi perkakas rumah berada di tempat yang tidak semestinya.


"Ya kita harus balikin semua kembali ke tempatnya ...!" ucap Wilson dengan berat hati, ia tidak mungkin mengandalkan Tisya untuk memindahkan kembali semua barang-barang itu.


Ia sampai melupakan niatnya untuk memasak, ada pekerjaan yang lebih berat dari memasak.


Mereka mengembalikan semua barang-barang itu ketempat nya, butuh waktu hampir dua jam untuk mengembalikan semuanya.

__ADS_1


Kini mereka sudah duduk di lantai dengan kaki yang berselonjor, keringat saling berlomba untuk keluar dari pori-pori kulit mereka. Tisya sampai harus mengibas-ngibaskan kerah kaosnya agar leher dan dadanya sedikit lebih dingin.


Krukkkkk kuuukkkkkk


Krukkkkk kuuukkkkkk


Tisya dan Wilson sama-sama memegangi perut mereka yang berbunyi bersamaan kemudian mereka saling menatap dan tersenyum.


"Lapar ....!"


"Lapar ....!"


Mereka berbicara bersamaan lagi kali ini bukan hanya senyum, mereka tertawa.


Ha ha ha ....


Wilson pun segera mengambil ponselnya yang ia letakkan begitu saja di atas lantai di samping tempatnya duduk saat ini.


"Mau ngapain?" tanya Tisya.


"Mau pesan makanan, lapar ....!" ucap Wilson.


"Kenapa nggak masak mie aja?" tanya Tisya lagi.


"Ada yang bilang kalau makan mie setiap hari itu tidak baik!"


"Kenapa nggak masak lainnya aja kalau gitu?" tanya Tisya lagi.


"Aku nggak bisa masak!"


Ihhhh ternyata sama aja sama gue ...., sama-sama nggak bisa masak ..., batin Tisya sambil menatap Wilson.


"Tapi masih mending aku ya, aku masih bisa masak mie, tadi pada masak mie instan aja gosong!"


"Ye ...., emang aku mikir kayak gitu apa?" protes Tisya.


"Sudah keliatan dari mata kamu, sudah ah kamu ngomong terus kapan mau pesennya! Mau makan apa?" tanya Wilson.


"Terserah kamu aja deh, samaan aja!" ucap Tisya yang memang tidak terlalu tahu jenis-jenis makanan nusantara. Walaupun pakek layanan pesan antar, dulu Tisya hanya memesan makanan internasional.


Wilson pun mulai memilih milih makanan yang cocok di makan untuk makan malam.


Setelah selesai dengan urusannya, Wilson pun segera berdiri dari duduknya.


"Cepetan mandi, lalu kita makan!" ucap Wilson sambil berlalu meninggalkan Tisya.

__ADS_1


Tisya pun melakukan hal yang di perintahkan oleh Wilson. Tubuhnya memang sudah lengket karena seharian terus bekerja.


Wilson oun juga melakukan hal yang sama. Ia mandi lagi karena kembali berkeringat gara-gara ulah Tisya.


Bedanya Wilson lebih dulu melaksanakan sholat, ia memang bukan pria yang benar-benar taat beragama tapi ia tidak pernah mengabaikan sholatnya.


Tepat saat mereka sudah kembali keluar dari kamarnya masing-masing, suara bel pintu berbunyi.


"Biar aku saja!" ucap Tisya dan berjalan begitu lincah menuju ke depan.


"Dia benar-benar seperti tikus, cepet banget jalannya!" gumam Wilson saat melihat tingkah Tisya.


Ia pun memutuskan untuk ke dapur dan menyiapkan peralatan makan, tidak berapa lama Tisya kembali dengan bungkusan makanan dengan merk makanan dari salah satu restauran.


Tisya meletakkan bungkusan itu di atas meja dan membuka bungkusnya.


"Nggak usah macam-macam!" ucap wilson sambil menahan tangan Tisya.


"Ada apa lagi sih Wil?"


"Aku nggak mau kelaparan gara-gara kamu pegang-pegang makanan ini!" ucap Wilson sambil menarik bungkus makanan dan mulai membukanya.


"Gila aja, emang tanganku penuh dengan kutukan apa!?" gerutu Tisya kesal sambil mencibirkan bibirnya dan duduk di salah satu kursi yang ada di samping meja makan.


"Kamu itu kalau pegang apa-apa bukannya tambah bener malah tambah berantakan, aku nggak mau kelaparan gara-gara makanan ini tumpah di tanganmu ya ....!"


Wilson kembali menuangkan makanan itu ke dalam piring mereka.


"Nih makan!" ucap Wilson sambil menyodorkan makanannya.


"Ini makanan apa?" tanya Tisya saat melihat makanan yang terlihat begitu asing.


"Ini namanya semur jengkol!"


"Semur jengkol? Baunya aneh gini sih ....?"


"Di coba dulu ...., jangan banyak ngeluh ....!"


Bersambung


...Mencintaimu butuh kesabaran tapi mendapatkan cintamu adalah buah dari kesabaran itu...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2