Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Kenapa dia di sini


__ADS_3

“Gue pulang ya!” ucap dokter Frans saat sampai di ujung gang rumah Felic. Ia


menyerahkan sepeda yang semula berada di tangan dokter Frans. Saat pulang


bergantian dokter Frans yang membonceng, sedangkan Felic di bonceng dengan


sepedanya.


“Iya…., jangan lupa lusa ke rumah gue, gue tunggu. Sudah tahu kan rumah gue di


mana?” ucap Felic mengingatkan lagi pada dokter Frans.


“Udah …, ya udah sana pulang ….!”


Dokter Frans meminta Felic untuk meninggalkannya terlebih dulu. Setelah Felic dan sepedanya menghilang di balik gang lainnya. Dokter Frans segera menghubungi


sopirnya.


“Halo …, jemput saya di daerah ….!”


“baik tuan!”


Dokter Frans tidak menjelaskan tentang dirinya pada Felic karena ia sudah nyaman


dengan sikap Felic yang seperti itu, yang blak-blakan itu. Ia takut jika Felic


tahu siapa dia sebenarnya, sikap Felic akan berubah padanya.


Sudah banyak orang yang ia kenal, biasanya jika mereka tahu tentang dirinya ada dua


kemungkinan. Mereka akan menjauhinya karena ia tidak punya keluarga, atau


menjauhinya karena merasa takut bergaul dengannya dan kemungkinan yang ke dua


adalah mereka akan mendekatinya karena ia dekat dnegan orang yang sangat


berpengaruh di dunia bisnis dan memanfaatkan kedekatannya.


Sopir pun tak berapa lama datang dengan mobilnya, dokter Frans segera meninggalkan


tempat itu bersama mobilnya.


Felic terhenti di tengah jalan saat sepedanya lagi-lagi berpapasan dengan mobil yang


sama yang pernah ia serempet beberapa waktu lalu. Felic tidak turun dari


sepedanya sampai mobil itu berhenti dan pemiliknya keluar dari mobilnya.


“Rangga!”


ucap Felic tanpa mengeluarkan suaranya. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan


pria itu. Moodnya seketika naik drastis, tapi kembali anjlok saat ia mengingat


wanita yang di bawa Rangga ke acara reoni itu.


“Fe….., dari mana? Tadi aku …!” ucapan Rangga menggantung karena Felic


memotongnya.


“Rangga …, aku dari jalan-jalan saja …!” ucap Felic terlihat salah tingkah, ia masih


belum bisa mengendalikan perasaannya setiap kali bertemu dnegan pria itu.


“Mau mengobrol denganku!”


“Ehh….!” Lagi-lagi Felic terkejut, ia tidak menyangka Rangga mau mengajaknya


mengobrol.


“Kita ke sana!” ucap Rangga sambil menunjuk pada pos ronda yang berada di seberang


jalan. Felic pun hanya mengangguk seperti kerbau yang di colok hidungnya, nurut

__ADS_1


aja gitu. Rangga mengulurkan tangannya meminta Felic untuk berjalan di depan.


Mereka duduk berdua, hanya berdua saja di pos ronda itu, sudah lama sekali Felic


menginginkan hal ini. Sudah lama sekali sampai takdir memisahkan mereka.


“bagaimana kabarmu?” Tanya Rangga, sepertinya pria itu juga sama gugupnya.


“Oh …astaga …,


aku sudah berkali-kali menanyakan hal ini!”


“Tidak pa pa, setidaknya itu menandakan kalau kamu memperhatikanku!” ucap Felic


spontan, tapi ia segera menyadari jika yang di katakan nya salah.


Apa yang aku katakan …, sudah cukup


jangan mengharapkan lebih …, ini tidak baik untuk hatimu …


“Maaf…, bukan itu maksudku!”


“Tidak pa pa, aku suka mendengarnya!” ucap Rangga dengan senyumnya yang begitu lembut.


Mereka kembali terdiam beberapa saat. Mereka menyelam di dunia pemikiran mereka


masing-masing. Hingga Rangga memulai bicara kembali.


“Fe…!”


“Hemmm?”


“Beberapa tahun yang lalu aku sempat mencari mu di alamat rumah lamamu!”


Ucapan Rangga benar-benar berhasil membuat hati Felic terobrak-abrik. Ia tidak tahu


harus apa, hatinya begitu senang hingga tanpa sadar bibirnya melengkung ke


atas, ia begitu sulit untuk mengendalikan perasaan seperti ini. Felic berusaha


perasaannya.


“Apa kau tidak ingin bertanya kenapa aku mencariku?” Tanya Rangga lagi. Tapi mulut


Felic seperti terkunci. Ia berusaha keras untuk menghilangkan perasaan itu,


tapi begitu sulit.


‘Ngga …., aku harus pulang. Maaf ya …., sampai jumpa lagi!”


Felic benar-benar tak berniat untuk menjawab pertanyaan Rangga. Ia memilih segera


kabur dari tempat itu, ia tidak mau ada masalah baru dalam hidupnya, apalagi


jika memikirkan ia jadi perebut pacar orang, namanya akan semakin buruk saja di


masyarakat.


Rangga masih berdiri menatap punggung felic yang berlalu bersama sepedanya, wanita itu


begitu terburu-buru.


Felic tidak mau berlama-lama lagi dengan Rangga, ia takut jika perasaannya tak bisa


di kendalikan lagi dan ia akan meminta Rangga untuk menjadikannya istrinya.


Felic tidak langsung pulang, ia memilih untuk berhenti di gang buntu yang sepi, ia


segera meminggirkan sepedanya dan berjongkok di sana. Ia membuang air matanya


di sana. Ia menutupi semua air matanya dari orang lain, tempat ini adalah


tempat yang paling nyaman untuknya menangis, tak akan ada siapapun yang melihat

__ADS_1


air matanya ini.


Hatinya begitu rapuh tapi ia tetap berusaha tersenyum pada semua orang. Tetap pura-pura


kuat di depan semua orang.


“hiks hiks hiks …., hiks hiks hiks ……, hiks hiks hiks ….!” Felic terus menangis ia


menumpahkan semua air matanya. Menghilangkan semua kesedihannya, ia tidak mau sampai keluarganya mengetahui kesedihannya ini, sudah cukup luka yang di


berikan untuk keluarganya, tidak lagi.


“Sudah cukup …, semua sudah berubah …., berhenti mengharapkannya …., kau bodoh Felic


…., kau bodoh …..!” Felic terus menyalahkan dirinya sendiri, ia menyalahkan


perasaannya yang tidak bisa beralih mencintai pria yang bernama Rangga.


Felic mengembuskan nafas beratnya, menata kembali perasaannya. Ia mengambil air minum


yang berada di dalam tasnya, ia gunakan air minum itu untuk menyiram wajahnya


agar kembali segar dan menghilangkan sisa air matanya.


“Mungkin ide Frans ada benarnya…., setidaknya aku tidak merasa di rugikan dengan


pernikahan itu!”


Felic memasukkan kembali botol minumnya ke dalam tas, ia berdiri dan memutar


sepedanya kembali, kayuhan demi kayuhan ia lakukan hingga sampai di depan


rumah. Ayahnya sudah berdiri di teras rumah, sepertinya sedang menunggu


sesuatu.


“Ayah…, nunggu apa?” Tanya Felic setelah memarkirkan sepedanya berjejer dengan


sepeda ayahnya.


“Menunggumu Fe …, dari mana aja tadi?”


“Tadi kan Fe sudah pamit sama ayah, ada apa?”


“Abi ke sini tadi, dia nunggu kamu lama …!”


“Ayah …, kenapa dia ke sini? Bukankah Fe sudah menolah perjodohan itu!”


“Masih ada waktu dua hari Fe, sampai kamu membawa calon mu itu. Tadi dia sempat pulang dan di jalan melihatmu sudah pulang jadi dia kembali ke sini, tapi sampai di


sini kamu nggak sampai rumah. Mampir ke mana aja?”


“ketemu aku? Kapan yah? Felic nggak liat tuh yah!”


“ya mana ayah tahu …, mungkin kalian berpapasan tapi kamu tidak mengenalinya! Ya


sudah sana bersihkan dirimu, kau ini sudah besar masih saja bau matahari!”


“Baiklah …, ayahku yang tampan. Kau menggemaskan sekali dengan perut buncit mu itu!” ucap Felic sambil berlari meninggalkan ayahnya.


‘Astaga….., jangan mengejek ayahmu ini!” teriak ayahnya, tapi sepertinya Felic sudah


biasa mendengar teriakan ayahnya itu.



Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 😘❤️❤️


__ADS_2