
Seperti biasa di sela-sela sepi pelanggan sambil menunggu toko tutup, Zea akan mulai mencatat barang-barang yang sudah habis agar nanti koh Chang tinggal mendatangkannya di hari Minggu.
"Banyak yang habis ternyata!" matanya fokus memindai satu per satu barang yang ada di rak sekalian memeriksa tanggal kadaluarsa.
Beberapa barang yang sudah cukup lama dan belum sampai tanggal kadaluarsa akan di taruh di tempat yang paling depan agar cepat terambil.
Saat sedang fokus pada rak di depannya, terdengar suara pintu kaca yang terbuka hingga menghentikan kegiatannya, ia segera menoleh ke arah pintu karena pasti ada pelanggan yang datang.
Senyum langsung mengembang dari bibir tipis Zea, ia menyakukan buku kecil ke dalam saku seragam minimarketnya dan berjalan cepat menghampiri pelanggan barunya itu.
"Ardi, kamu ke sini?" pria yang baru ia temui lagi semalam setelah dua tahun Zea sengaja menyembunyikan diri.
Bukannya langsung menjawab pria itu malah tertarik untuk mengamati minimarket tempat kerja Zea,
"Lumayan juga di sini, cukup rapi!"
Bukannya membalas sapaan Zea, ia memilih berkeliling dari rak ke rak.
"Duduk Di, aku capek mengikutimu. Aku tadi sudah berkeliling dua kali di sini dan sekarang kau ingin aku mengikutimu!?" keluh Zea.
"Siapa juga yang suruh, duduk saja di balik kursi kasirmu!"
"Ya udah, biar aku buatkan kopi panas untukmu, gratis!" Zea memiliki ide lain dari pada mengikuti pria itu.
"Nggak perlu repot seperti itu, aku ke sini bukan mau minta kopi gratis kok!"
"Nggak pa pa, itung-itung semalam sudah mau mengantarku pulang!"
"Siapapun yang melihat wanita seperti itu juga akan kasihan!"
"Jangan mulai meledek deh, duduklah!"
"Kalau serius oke lah kopinya!"
"Sungguh aku tidak becanda, cepatlah duduk! Aku capek lihat kamu kayak nggak pernah datang ke minimarket."
"Issstttt ....!" walaupun tidak suka dengan yang di katakan Zea tapi pria itu pun memutuskan untuk duduk.
Zea segera membuatkan kopi untuk Ardi dan mengambilkan beberapa camilan untuknya, ia akan membayar dengan mengambil sebagian gajinya.
"Minumlah!"
Satu cap kopi yang masih terlihat asap mengepul di atasnya, aroma kopi mulai menyeruak di hidung.
"Ini pasti nikmat!" dengan perlahan Ardi menyesap kopi panas itu. Zea hanya bisa menatap pria itu tanpa berkomentar, sekuat apapun dia bersembunyi akhirnya satu persatu orang tetap akan menemukannya.
"Ternyata ini ya yang di namakan luar negri!?" pria itu bicara sambil mengerutkan keningnya meminta penjelasan pada gadis yang tidak banyak bicara itu.
"Jangan menggodaku!"
"Apa ini menurutmu semacam godaan?"
Zea hanya tersenyum, ia belum bisa menjelaskan banyak hal pada temannya itu.
"Ngomong-ngomong bagaimana bisa sampai di sini?" ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Tadi aku ke rumah kamu, ternyata nggak ada! Kata tetangga kamu, kamu kalau jam segini masih kerja di minimarket depan!" ternyata Ardi cukup mengerti, ia tidak mau memaksa Zea. Mungkin belum saatnya untuk dia bercerita.
Ia memberi jeda pada ucapannya dan kembali menatap tulisan besar di depan, 'Seamart'.
"Minimarket depan kan cuma ini!" lanjutnya.
"Ada apa?" Zea begitu penasaran kenapa sampai pria itu datang lagi mencarinya, "Maksudku, kamu bisa menghubungiku melalui pesan kan?"
"Lili ngundang kamu buat makan malam terserah waktunya kapan kamu bebas nentuin, sekalian bawa suami kamu, bisa kan?"
Zea terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa jika menyangkut suaminya, suami rasa pacar.
"Aku nggak janji!"
Ardi segera mengerutkan keningnya begitu mendengar jawaban zea yang tidak terlalu bersemangat,
"Kamu nggak lagi bertengkar kan dengan suami kamu?"
"Nggak tahulah!" lagi-lagi Zea menjawab sekenanya, setiap mengingat Rangga ia kembali teringat dengan apa yang Rangga lakukan padanya, itu begitu menyakitkan.
"Jadi benar, bertengkar? Masalah semalam?" karena tidak mendapat jawaban pasti dari Zea , Ardi pun kembali bertanya. Apalagi saat ini ia bisa melihat buliran bening itu mulai jatuh membasahi pipi bersih Zea.
Zea langsung menelungkup kan kepalanya hingga menggunakan meja untuk menyandarkan kepala, terlihat punggungnya mulai bergetar dan Ardi hanya bisa mengusap punggung Zea.
Hingga beberapa saat akhirnya Zea sudah bisa mengendalikan dirinya.
"Jika kamu mau cerita, aku tidak keberatan untuk mendengarnya! Siapa tahun aku bisa membantumu!"
Setelah mempertimbangkan banyak hal dan memang dia butuh untuk bercerita akhirnya Zea pun menceritakan semuanya pada pria di depannya itu.
"Tapi aku belum siap bertemu dengan dia untuk saat ini, aku butuh waktu buat menyembuhkan luka ini!"
"Tidak pa pa tapi jangan lama-lama!" ucap Radi sambil kembali mengusap punggung Zea.
Tanpa mereka sadar ternyata sedari tadi ada sebuah mobil yang berhenti di depan minimarket, mobil yang sangat familiar, Zea dapat dengan mudah untuk mengenali mobil itu.
Rangga ....
Tapi saat Zea menyadarinya dan hendak berdiri, mobil itu sudah lebih dulu berlalu.
"Siapa?" Ardi yang mengetahui hal itu pun tak urung bertanya.
Zea kembali duduk dan bersikap baik-baik saja, ia melengkungkan senyumnya tipis,
"Bukan siapa-siapa, minumlah nanti keburu dingin!"
Kenapa dia tidak masuk?
Walaupun hatinya sakit, tapi tetap saja ia tidak bisa mengingkari kalau saat ini ia ingin melihat wajah pria itu.
"Kamu sendiri di sini?" setelah terdiam cukup lama, Ardi pun kembali bertanya saat menyadari tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua.
"Iya!"
"Jam berapa tutupnya?"
__ADS_1
"Sembilan!"
"Setengah jam lagi!"
"Baiklah aku akan menunggumu hingga tutup toko!"
"Nggak perlu repot Di!"
"Nggak pa pa, itung-itung nunggu jam malam."
"Kamu tetap saja ya!"
"Ya dari pada nganggur sambil nunggu, buatin aku mie deh!"
"Semua kok sukanya mie, memang apa istimewanya mie?"
"Jadi si dia juga suka mie, kalau kangen ngomong dong nggak usah di Pendem jadi bisul tau rasa ntar!"
Zea tidak mau menanggapi ucapan Ardi, ia memilih berlalu untuk membuatkan mie.
...***...
Setelah berbicara dengan Ersya, Rangga pun memutuskan untuk meluruskan salah fahamnya dengan Zea sepulang dari kantor.
"Mungkin benar, aku harus menemuinya dan bertanya langsung padanya!"
Tapi saat mobilnya sampai di depan minimarket, Rangga mengurungkan niatnya saat melihat pria yang sama yang memeluk Zea semalam berada di sana.
"Dia siapa? Kenapa begitu dekat dengan Zea?"
Tapi saat menyadari Zea juga melihatnya, Rangga pun segera melajukan mobilnya. Memilih mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan zea.
Berkali-kali ia memukul stang stir mobilnya untuk menyalurkan kekesalannya.
Dengan wajah kesal ia segera masuk ke dalam rumah tidak menghiraukan sapaan dari papa atau mamanya.
Melihat sang putra begitu suntuk, mamanya pun segera mengikutinya di belakang. Meninggalkan papanya yang sedang asik menonton tv.
"Ga, kamu ada masalah ya sama Miska!" mama Rangga langsung membrondonginya dengan pertanyaan tentang Miska dan itu semakin membuatnya kesal.
"Apaan sih ma, semuanya di hubungkan dengan Miska. Rangga nggak suka mama terus menjodohkan aku sama Miska!" Rangga bicara dengan nada tinggalnya membuat sang mama sampai menghentikan langkahnya.
"Jangan macam-macam ya Ga, mama nggak mau kamu terus menyakiti Miska!" tetap saja sang mama tidak mau kalah.
"Ya sudah kalau begitu mama saja yang menikah dengan dia, Rangga nggak mau!"
Rangga pun segera menutup pintu kamarnya. Dari pada mendengarkan mamanya ia memilih menutup telinganya dengan headset.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...