
Udara pagi di desa begitu sejuk, Felic terlihat begitu bersemangat untuk mulai melakukan aktifitas. Ia juga sudah mengenakan afronnya dan akan membantu bi molly untuk memasak.
"Sekarang masak apa bi?" tanya Felic dan bi Molly tersenyum dan menoleh padanya.
"Tadi ada tetangga yang memberi terong untuk kita nyonya!" ucap bi Molly.
"Wah baik sekali tetangga di sini, nggak seperti tetangga Felic!" ucap Felic sambil mengingat kembali bagaimana kelakuan tetangganya dulu. Mereka hanya sibuk menggunjing saat ada yang kesusahan bukan membantu tapi malah memperbesar masalah nya dengan membicarakan setiap saat setiap waktu.
"Iya nyonya, kalau di desa hal ini sudah biasa nyonya!"
"Kalau begitu kita juga harus memberi sesuatu untuk para tetangga sebagai oleh-oleh dong bi!"
"Tuan dokter sudah melakukannya nyonya, Richard sudah membagikannya ke tetangga atas perintah tuan dokter ( Richard adalah pengawal pribadi dokter Frans, dia juga bersikap sebagai kepala keamanan rumah besar bersama Wilson dan beberapa anggota lainnya, usianya lebih muda lima tahun dari bi Molly).
"Ihhh curang banget Frans, padahal aku juga pengen keliling di sini!"
"Nanti setelah sarapan, tuan akan mengajak nyonya jalan-jalan!"
"Lalu sekarang Frans nya di mana?"
"Tuan Frans ada pekerjaan sedikit nyonya!"
"Pekerjaan?" tanya Felic dan bi Molly pun mengangguk,
"Pekerjaan apa yang ia bisa kerjakan di sini?!" gumam Felic dan bi Molly hanya tersenyum sambil melanjutkan memasaknya.
"Aku harus apa sekarang?" tanya Felic saat sadar ia belum membantu bi Molly sama sekali padahal ia sudah berseragam lengkap untuk memasak.
"Tidak perlu nyonya, biar saya selesaikan sendiri!"
"Tidak bisa seperti itu dong ...., aku kan juga mau membantu!"
"Sebaiknya nyonya meminum susu nyonya saja sebelum dingin!"
Felic pun terpaksa melepas kembali afronnya dan duduk di bangku kecil yang berbuat dari kayu dengan warna senada dengan meja dapurnya, yang di dominasi dengan warna putih. Sebuah dapur minimalis, sebenarnya dapur itu tidak jauh berbeda dengan dapur di rumah besar hanya saja ukurannya tiga kali lebih kecil dari dapur di rumah besar.
Walaupun kecil tapi perabotan dapur juga sudah modern, kompor listrik, ada oven, pemanggang roti dan beberapa panci yang tertata rapi di dalam lemari dapur.
Felic pun meminum susunya sambil terus memperhatikan yang di lakukan oleh bi Molly, ia juga ingin bisa masak seperti bi Molly suatu saat nanti. Jika anaknya sudah lahir, ia harus belajar mandiri.
"Bi ....!" panggil Felic membuat bi molly yang sedang memasukkan sayuran ke dalam panci pun mendongakkan kepalanya menatap Felic.
"Apa yang di kerjakan Frans di desa ini?" tanya Felic yang terlihat begitu penasaran.
"Itu bisa nyonya tanyakan langsung nanti saat tuan sudah pulang, nyonya!" ucap bi Molly dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Iiihhhhhhhh selalu gitu jawabnya!" gerutu Felic kesal, ia pun segera meminum habis susunya dan beranjak meninggalkan bi Molly yang masih sibuk di dapur.
Felic pun memilih keluar ke teras, ia melihat sekeliling.
"Kalau terang gini kan jadi keliatan semua!" gumam Felic sambil berjalan turn dari teras rumahnya yang ada tiga tangga untuk turun kemudian berbalik memperhatikan kembali rumah yang semalam ia tinggali.
"Ternyata rumah ini lumayan besar, padahal tadi malam terlihat kecil!" gumam Felic.
__ADS_1
"Wahhh ternyata ada lantai duanya, aku kok nggak liat tangganya ya ....!" gumam Felic lagi saat melihat dari bawah di atas sebelah kiri ada sebuah teras kecil di lantai dua, ada kursi kecilnya juga dengan penutup atap transparan.
"Dari mana naiknya ya itu?!" ucap Felic sambil memperhatikan rumah itu. Sepertinya rumah itu adalah rumah lama yang di renovasi kembali.
Jika di lihat-lihat rumah mereka terlihat menonjol dari pada rumah di sekelilingnya, lebih besar dan juga ada pagar, saat di perhatikan rumah-rumah lainnya tidak ada pagar depannya.
Jalan masuknya juga sudah berpaving, berbeda dengan rumah yang ada di sekeliling rumah itu, hanya rumput atau bahkan masih tanah.
"Nyonya ....!" sapa seseorang membuat Felic terkejut, Felic pun segera menoleh ke arah suara ternyata Richard sudah berdiri di belakangnya.
"Pak Richard, Kau membuatku terkejut saja!"
"Maafkan atas ketidak sopanan saya nyonya! Tapi apa yang nyonya lakukan di sini?" tanya Richard.
"Saya sedang melihat-lihat ...., ternyata rumah ini besar juga saat dilihat dari luar!"
"Lebih baik nyonya masuk ke dalam, nyonya!"
"Kenapa memangnya?"
"Tuan dokter sedang tidak di rumah!"
"Aku tahu ....!"
"Akan bahaya juga nyonya di luar sendiri!"
"Kan ada kamu!" ucap Felic yang tetap tidak mau kalah tapi saat melihat wajah Richard yang terlihat keberatan membuat Felic tidak tega.
"Baiklah aku masuk!"
Felic pun memilih berkeliling, ia melihat seluruh ruangan dan benar saja, selain ada empat kamar, Ternyata rumah itu juga ada ruang kerja dengan banyak buku di dalamnya.
Sepertinya dulunya pemilik rumah itu sangat suka membaca, terlihat dari banyaknya buku dengan berbagai macam jenis buku, mulai dari bisnis, buku perjuangan, religius, dan juga beberapa novel best seller di jamannya. Tapi anehnya Felic sama sekali tidak menemukan buku-buku tentang ilmu kedokteran di raka buku besar itu.
"Kayaknya ini bukan bukunya Frans, di rumah bacaan Frans cuma tentang ilmu kedokteran!" gumam Felic sambil melihat-lihat buku itu.
Saat ia mengambil sebuah buku, ada yang terjatuh dari selipan buku itu. Felic pun segera melihat apa yang jatuh, ternyata selembar Foto.
Felic pun mengambilkan buku itu dan tertarik untuk melihat Foto itu. Dengan begitu hati-hati Felic pun membungkuk, ia memegangi perutnya yang sedikit susah untuk membungkuk.
Akhirnya ia dapat mengambilnya, ia melihat foto lama itu.
"Aku sepertinya pernah melihat pria dalam foto ini, di mana ya?"
Felic pun mengingat-ingat kembali. Ia teringat waktu itu saat dia di panggil nyonya Ratih untuk datang ke rumahnya. Ia masuk ke dalam ruang kerja nyonya Ratih dan melihat foto pria yang sama dengan foto yang ia pegang saat ini menggantung di salah satu sisi dinding ruang kerja itu.
"Iya ...., di sana! Tapi perempuannya bukan ini!" gumam Felic.
"Fe ...., lagi ngapain?" tanya seseorang membuat Felic begitu terkejut. Felic pun segera menyembunyikan foto itu di balik buku yang ada di atas meja.
"Frans ...., kamu sudah pulang?" tanya Felic yang hendak menghampiri suaminya itu, tapi dokter Frans lebih dulu menahan dengan tangannya.
"Di situ saja Fe, biar aku yang ke situ!"
__ADS_1
Dokter Frans pun segera menghampiri Felic dan memeluknya.
"Aku merindukanmu!" ucap dokter Frans sambil terus memeluk istrinya itu.
"Dari mana saja?" tanya Felic.
"Ada sedikit pekerjaan, sedang apa di sini?" tanya dokter Frans sambil melepaskan pelukannya, tapi tangannya rasanya tidak bisa berhenti untuk mengusap rambut istrinya itu.
"Aku penasaran dengan rumah ini, ternyata cukup besar ya! Ada balkon juga di atas!"
"Iya ...., rumah ini istimewa sekali buat aku!" ucap dokter Frans.
"Kenapa?" tanya Felic.
"Ceritanya nanti saja, kita sarapan dulu! Aku sudah sangat lapar!" ucap dokter Frans.
"Yahhh...., aku kan penasaran, pembaca pasti juga sangat penasaran!"
"Biar tambah penasaran dong pembacanya, biar tetep setia baca ceritanya author yang cantik ini ....!"
"Weeekkkkkk ....!"
"Ayo sarapan dulu ....!"
Dokter Frans pun menuntun Felic meninggalkan ruang kerja itu. Bi Molly sudah siap dengan semua masakan khas orang desa itu. Ada terong goreng, sambel belut, ikan asin kesukaan Felic, sayur daun singkong. Semua itu memberi an tetangga, bi Molly tinggal memasaknya saja.
"Silahkan tuan!"
"Silahkan nyonya!"
Ucap Bi Molly saat melihat dokter Frans dan Felic menghampiri meja makan.
"Ayo bi kita makan sekalian, nggak akan ada yang nyalahin bibi di sini kan cuma ada kita berempat!" ucap Felic agar bi Molly mau makan bersama mereka.
"Tidak nyonya, biar saya makan di dapur bersama Richard!"
"Jangan lah bi, lebih baik panggil pak Richard juga buat makan baren di sini, iya kan Frans?"
Dokter Frans pun menyetujuinya.
"Iya bi, panggil paman Richard juga, ini perintah! Kita makan dalam satu meja!" ucap dokter Frans.
Kalau sudah yang namanya perintah maka bi Molly pun tidak bisa menolaknya.
Bersambung
...Besar atau kecil itu relatif bagaimana kita memandangnya. Besar menurut kita belum tentu besar menurut orang lain, syukuri saja apa yang kita punya karena kita tidak tahu orang lain mungkin sangat menginginkan apa yang kita punya saat ini...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰