
Setelah menunggu sepuluh menit di depan gedung rumah sakit, akhirnya rombongan Rendi dan Nadin datang.
Mereka datang bersama pengantin-pengantinya juga.
Dokter Frans dan timnya segera menerima Nadin, menaikan ke atas ranjang dorong itu.
Rendi terlihat begitu panik, kini Nadin sudah memasuki ruang persalinan, dokter Frans masih berada di luar ruangan.
"Siapa yang akan menemani di dalam?" tanya dokter Frans.
"Saya ...., saya yang akan di dalam!"
"Lo yakin ...., ini nggak sama sama menangkap penjahat atau melakukan penyamaran loh Rend!"
"Jangan membuatku kesal ya, di dalam Nadin sudah kesakitan!" ucap Rendi kesal.
"Baiklah ...., tapi gue sudah memperingatkannya padamu!"
"Iya bawel!" ucap Rendi sambil menerobos tubuh sahabatnya itu. Dokter Frans pun mengikuti Rendi ke dalam.
Beberapa suster sudah menyiapkan segala peralatannya, dokter Frans hanya memberi aba-aba dan dokter Sifa yang bekerja.
Rendi sudah berada di samping Nadin, ia terus mengusap pelipis Nadin yang berkeringat, dan meninggalkan kecupan beberapa kali.
"Sudah berapa dok?" tanya dokter Frans pada dokter Sifa.
"Sudah enam dok!" ucap dokter Sifa.
"Baiklah ...., tunggu setengah jam lagi! Jangan mengejang dulu ya Nad!" ucap dokter Frans dan Nadin hanya mengangguk sambil beberapa kali melenguh kesakitan.
Berbeda dengan Rendi, "Lo bagaimana sih, ini istri gue sudah kesakitan kayak gini dan lo masih nyuruh nunggu, kalau nggak bisa jadi dokter nggak usah jadi dokter!" ucap Rendi kesal, tapi dokter Frans hanya tertawa melihat wajah panik sahabatnya itu.
"Nggak nyangka kamu bisa panik juga ....!" ucap dokter Frans sambil tertawa.
"Memang ada yang lucu ...? Apa yang kamu tertawakan? cepat keluarkan bayinya, kenapa kamu cuma diam saja!" ucap Rendi dengan begitu geram.
"Massss .....!" Nadin pun segera menarik tangan suaminya itu,
"Iya sayang ...., apa? bagaimana? Mana yang sakit?" tanya Rendi begitu panik.
"Percaya sama dokter Frans ...., dokter Frans tahu apa yang harus dia lakukan!" ucap Nadin.
"Tahu apanya, dia belum pernah melihat istrinya melahirkan!" ucap Rendi.
"Tapi mas ...., ini juga untuk yang pertama buat mas Rendi!" ucap Nadin yang masih cerewet saja meskipun dia sudah kesakitan.
Dokter Frans hanya menggaruk kepalanya yang memang tidak gatal.
"Dokter ...!" panggil dokter Sifa.
"Iya dokter Sifa?"
"Sudah sembilan!"
__ADS_1
"Ya sudah ...., sekarang bersiap-siap! Siapkan semuanya!" ucap dokter Frans, terlihat pihak dokter sudah mulai sibuk, mulai dari menyiapkan baju bayi dan sebagainya.
"Ayo ...., siap-siap ya bu Nadin, tarik nafas yang panjang dan mulai mengejang ...!" ucap dokter Sifa mulai memberi aba-aba.
Nadin begitu kesusahan, bahkan ia memegangi tangan Rendi dengan begitu erat, melihat istrinya yang terus mengejang dan kesakitan tiba-tiba tubuh Rendi tumbang juga.
"Rend ....!" Dokter Frans segera menghampiri sahabatnya itu.
"Rend ...., lo kenapa?" tanya dokter Frans sambil menepuk pipi sahabatnya itu.
"Yahhh dia malah pingsan lagi!" gumam dokter Frans.
"Gimana dok?" tanya salah satu perawat.
"Dia pingsang, segera bawa dia ke ruangan lainnya!"
"Baik dok!"
Akhirnya Rendi pun di bawa ke ruangan lain untuk mendapatkan perawatan, kini dokter Frans mengantikan Rendi untuk meminjamkan tangan dan rambutnya sebagai sasaran cakaran dan jambakan dari Nadin.
"Ayo Nad ...., kamu pasti bisa, mengejang yang kuat!" ucap dokter Frans sambil menahan sakit karena Nadin terus menjambak rambut dan juga kuku-kuku nya melukai tangannya.
"Mas Rendi?" tanya Nadin di sela-sela mengejangnya.
"Jangan khawatir, dia hanya pingsan, badannya aja gede, tapi nungguin istri melahirkan pingsan!" ucapan dokter Frans berhasil membuat Nadin tersenyum sambil mengejang.
Egggggghhhhhhhh .....
Setelah mengejang panjang akhirnya....
Tangisan bayi akhirnya memenuhi ruang persalinan itu, semua yang menunggu di luar begitu senang.
Tidak berapa lama, dokter Frans keluar dengan bayinya yang sudah bersih.
Paman Salman sudah ada di sana bersama keluarga yang lainnya.
"Dokter ....!"
"Paman ....!"
"Bagaimana?" tanya paman Salman.
"Bayinya lahir dengan sehat, cewek!"
"Lalu Rendi?" tanya paman Salman. Karena ia heran kenapa bukan Rendi yang keluar dengan bayinya.
"Rendi pingsan paman!"
"Pingsan ...?" tanya paman Salman tidak percaya begitu juga dengan semua yang hadir. Seorang Rendi yang tidak terkalahkan bisa tumbang gara-gara menunggui istrinya melahirkan.
Akhirnya Nadin di pindahkan ke ruang perawatan bersama bayinya. Semua keluarga sudah berkumpul semua untuk memberi selamat pada Nadin, Rendi juag sudah sadar dari pingsannya dan menjadi bulan-bulanan Agra, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mencari kelemahan sahabatnya itu.
"Lalu kenapa dengan tanganmu ini?" tanya Agra pada dokter Frans.
__ADS_1
"Seharusnya yang dapat ini Rendi bukan aku, tapi dia malah pingsan!" keluh dokter Frans sambil memperhatikan tangannya banyak luka cakaran.
"Wahhhh ternyata Nadin ganas juga, bisa gawat nih kalau sampai Nadin marah, habis nih Rendi!" ucap Agra. Tapi Rendi hanya diam tidak mau menanggapi celotehan sahabat-sahabatnya.
Nadin juga hanya tersenyum melihat betapa indahnya jika tiga sahabat itu berkumpul pasti akan sangat seru.
"Ahhh iya ....!" Dokter Frans menepuk jidatnya, ia teringat sesuatu. Ia lupa jika ia sudah menguncikan istrinya di dalam ruangannya agar istrinya itu tidak berkeliaran saat di tinggal.
"Ada apa?" tanya Agra.
"Aku lupa kalau Felic aku kunci'in di ruangan ku!" ucap dokter Frans lalu berlari meninggalkan sahabat-sahabatnya dan menuju ke ruangannya.
Semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat kelakuan dokter Frans.
Ceklek
Dokter Frans membuka pintu itu dan istrinya itu sudah berdiri di depan pintu dengan tatapan tajamnya, ia sudah mondar-mandir sedari tadi, karena sudah lebih dari dua jam dan suaminya itu tidak juga kembali. Kalau tidak di kunci pintunya tidak akan masalah, tapi masalahnya bahkan suaminya itu mengunci pintunya.
"Fe ...., maaf ya ...., aku beneran nggak sengaja tadi!" ucap dokter Frans.
"Maksudnya tidak sengaja mengunci pintunya?" tanya Felic tidak percaya.
"Bukan ...., maksudnya tidak sengaja lupa!" ucap dokter Frans bingung harus beralasan apa dengan kesalahannya.
"Lupa ....? Bahkan kamu sampai melupakan istrinya? Benar-benar tidak percaya!" ucap Felic sambil memegangi kepalanya sedangkan tangan kirinya memegangi pinggang belakangnya.
Felic pun berbalik dan duduk di sofa. Dokter Frans pun ikut duduk di samping Felic.
"Fe ...., maaf ya, ini nggak akan terjadi lagi, janji ....!" ucap dokter Frans sambil menjewer daun telinganya sendiri, Felic yang melihat tangan suaminya penuh dengan cakaran segera menarik tangan suaminya itu.
"Ini kenapa?" tanya Felic.
"Kena cakar!"
"Siapa yang sudah mencakarnya sampai seperti ini?" tanya Felic khawatir.
"Nadin ....!"
"Nadin?" tanya Felic dan dokter Frans pun mengangguk.
"Kok bisa?"
Dokter Frans pun menceritakan semuanya. Setelah mendengar cerita dari suaminya akhirnya Felic tidak jadi marah, ia malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Aduh ...., aduh ..., aduh ...., perutku sampek sakit!" ucap Felic sambil memegangi perutnya yang kram akibat terlalu banyak tertawa.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰