
Akhirnya Maira dan Tisya menghabiskan waktunya di tempat kerja nyonya Tania.
Ia tidak tahu aja di rumah Wilson terus uring-uringan karena ponsel Tisya tidak bisa di hubungi.
Wilson pun akhirnya memutuskan untuk menyusul Tisya ke Bactiar group.
Ia menanyakan tentang Tisya kepada orang-orang yang ada di sana tapi tidak ada yang melihatnya.
"Ahhh terpaksa masuk nih! Tapi tadi Tisya keluar kan dari sini!" gumam Wilson.
"Lalu setelah keluar?" Ia bertanya-tanya sendiri dan mencoba mencari kesimpulannya sendiri.
"Ke pihak keamanan gedung! Iya ....!"
Wilson pun menuju ke pos satpam dan menanyakan tuang pusat cctv. Gedung sebesar ini pasti banyak cctv terpasang.
"Bisa tunjukkan saya ruang pusat cctv!?" ucap Wilson pada satpam yang sedang berjaga.
"Ada apa ya mas?" tanya satpam itu.
"Teman saya menghilang setelah keluar dari gedung ini, mungkin saya bisa melacak keberadaannya melalui angkutan yang di tumpanginya!"
"Baiklah ..., mas bisa naik melalui tangga ini, trus di sisi kiri, dua pintu dari arah luar! Di dalam sudah ada penjaganya!"
"Baik pak terimakasih!" ucap Wilson.
Wilson pun mengikuti arahan dari satpam yang bertugas. Ia naik melalui tangga yang ada di belakang pos satpam.
Hanya ada satu lantai di sana, ada banyak pintu yang berhadap-hadapan, Wilson menghitung pintu ke dua dari arah luar.
Semua bentuk pintunya sama, tapi mungkin memiliki ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda.
Tok tok tok
Wilson mengetuk pintu itu, ia melihat di dalam ada satu orang yang sedang berjaga.
"Permisi, boleh saya masuk?" tanya Wilson dan pria itu pun menatap Wilson.
"Anda siapa ya? Kenapa bisa masuk ke sini?"
"Maaf pak, saya mau ijin melihat cctv!"
"Maaf jika tidak berkepentingan, tidak boleh sembarang orang masuk dan melihat cctv mas!"
"Tapi saya berkepentingan mas!" ucap Wilson sambil berjalan masuk ke dalam ruangan itu dan mendekat ke arah monitor.
"Maksud anda apa?"
"Jadi gini pak, teman saya setelah keluar dari gedung ini menghilang, jadi saya harus tahu mobil atau angkutan umum apa yang membawanya, hanya bagian depan saja pak, janji!"
Pria itu pun terlihat menimbang, ia tidak bisa sembarangan memberi informasi, tapi kalau bagian depan saja mungkin boleh.
"Baiklah, tapi bagian depan saja!"
"Terimakasih pak, terimakasih!"
Wilson pun segera berdiri di samping pria itu dan melihat cctv.
"Tolong di kebalikan ke sekitar tiga jam yang lalu pak!" ucap Wilson.
Pria itu pun menuruti permintaan Wilson, setelah menunggu sekitar lima menit akhirnya ia melihat Tisya keluar dari gedung itu.
"Yang ini pak, tolong di perlambat!"
Pria itu pun memperlambat kecepatannya. Wilson bisa melihat Tisya yang keluar lebih dulu dan tidak berapa lama Maira menyusul dan mereka terlihat mengobrol sebentar lalu Tisya ikut bersama Maira.
__ADS_1
"Mereka kemana?" gumam Wilson tapi masih bisa di dengar oleh pria itu.
"Ada apa?"
"Maaf pak, bukan bapak! Terimakasih ya pak atas bantuannya, saya permisi!"
Wilson pun dengan cepat meninggalkan ruangan itu, ia merogoh ponsel yang ada di saku jaketnya. Jika Tisya tidak bisa di hubungi mungkin Maira bisa.
Tapi beberapa kali Wilson menghubungi Maira, aktif tapi tidak di angkat.
Wilson menghubunginya hingga berkali-kali tapi hasilnya tetap sama.
Wilson pun memilih kembali ke mobilnya dan berputar-putar daerah yang mungkin di kunjungi Tisya dan Maira.
...****...
Maira ternyata meninggalkan ponselnya di meja, ia memilih membantu nyonya Tania untuk meracik bakso saat banyak pelanggan yang datang sedangkan Tisya membersihkan meja setelah di tinggal pelanggannya.
Tisya yang mendengar ponsel Maira terus bergetar pun sudah memberitahunya tapi jawabannya tetap sama.
"Kak ...., ponsel kakak bergetar lagi!"
"Biarkan saja, itu pasti papa!"
"Kalau bukan bagaimana?"
"Nggak mungkin!"
Tisya yang sudah selesai membersihkan meja pun segera mengecek ponselnya.
"Ihhh ponsel ku mati lagi!" gumamnya.
"Ma ...., pinjam chargernya ya!"
"Iya ambil saja di meja itu!"
"Kak ponsel kakak terus berbunyi, siapa tahu penting loh!" ucap Tisya lagi.
"Baiklah sebentar!"
Maira pun melepas afronnya dan menghampiri tasnya. Ia mengeluarkan benda pipih itu dan menyalakan layarnya,
"Wilson!" gumamnya.
"Ada apa kak?" tanya Tisya yang seperti mendengar kakaknya menyebut nama Wilson.
"Wilson ternyata yang menelpon ku beberapa kali!" ucap Maira.
Wilson kenapa menelpon kakak ..., ada apa antara kakak dan Wilson ...., batin Tisya terbengong.
"Aku telpon dia balik ya!" ucap Maira dan Tisya hanya bisa mengangguk.
Maira pun segera melakukan panggilan pada Wilson.
"Hallo Wil!"
"Kalian di mana? Maksudku kamu bersama Tisya kan?" tanya Wilson yang terdengar begitu panik.
"Iya ...., aku di kedai mama Tania!"
"Baiklah jangan ke mana-mana, tunggu sampai aku datang!"
"Kamu mau ke_?" pertanyaan Maira menggantung saat tiba-tiba Wilson mematikan sambungan telponnya begitu saja.
"Kebiasaan deh!" gumam Maira.
__ADS_1
Tapi Wilson tadi sepertinya sangat mencemaskan aku kan ...., dia sangat mencemaskan aku ...., batin Maira sambil tersenyum-senyum sendiri membuat Tisya yang melihatnya jadi penasaran.
"Kak ...., kakak ...., kak Maira tidak pa pa?" tanya Tisya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Maira.
"Nggak pa pa! Cuma pengen senyum aja!"
"Anehhh!" ucap Tisya lalu meninggal kan kakaknya sendiri.
Tidak berapa lama, mobil Wilson pun sampai. Ia dengan cepat menghampiri kedai dan mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.
"Hai Wil ....!"
Maira begitu senang melihat Wilson datang, ia segera berlari menghampiri Wilson dan memeluknya.
Wilson hanya diam terpaku saat Maira memeluknya.
"Kamu sangat mencemaskan ku ya?" tanya Maira yang berada di dalam pelukannya.
Tisya yang baru saja mengambil ponselnya dari dalam pun keluar dan melihat Maira memeluk Wilson.
Wilson menatap ke arah Tisya begitupun dengan Tisya. Mereka saling menatap sedangkan Maira memeluknya pinggangnya.
"Tisya!" gumam Wilson.
Maira pun segera melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Tisya.
"Tisya tadi aku yang aja ke sini!" ucap Maira.
Ponsel Tisya yang baru di hidupkan pun menunjukkan berpuluh kali panggilan dari Wilson. Tisya kembali menatap Wilson.
Dia juga menelpon ku beberapa kali ....
"Ehhh nak Wilson sudah datang!" sapa nyonya Tania.
"Selamat sore nyonya!"
"Sore Wil ...., masuk lah, aku akan membuatkan semangkuk bakso untukmu!" ucap nyonya Tania.
"Iya ...., ayo Wil!" Maira menarik tangan Wilson dan memintanya untuk duduk di salah satu bangku yang ada di sana, Maira pun juga ikut duduk. Tangannya seperti tidak mau melepaskan tangan Wilson.
Tisya pun berjalan mendekat, mata Wilson tetap menatap Tisya, Tisya pun juga demikian.
"Duduk lah Tisya ...!" perintah Maira untuk duduk di bangku kosong yang ada di seberang meja mereka.
"Kamu kenapa ke sini Wil?" tanya Tisya setelah duduk.
"Aku_!" ucapan Wilson menggantung karena Maira segera memotongnya.
"Dia ke sini mencari ku, dia sampai meneleponku beberapa kali, kamu pasti cemas sekali ya sama aku ..., iya kan?" tanya Maira pada Wilson.
Belum sempat Wilson menjawab pertanyaan Maira, nyonya Tania sudah kembali dengan semangkuk baksonya.
"Makanlah ...., kamu pasti lapar!" ucap nyonya Tania dan duduk di samping Tisya.
"Terimakasih nyonya!"
"Sama-sama!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰