Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (25. Pengaruh Miska)


__ADS_3

Zea terus menggerutu saat melihat Rangga dengan entengnya meletakkan semua baju-bajunya ke dalam lemari.


"Memang dia pikir rumahnya apa ini? Enak aja dia mau menguasai rumahku!"


"Sudah beres!" Rangga menunjuk lemarinya yang sudah rapi.


"Sudah kan?"


"Iya!"


"Sekarang keluarlah!"


"Kenapa?"


"Keluar dulu!"


Rangga pun menuruti ucapan Zea, ia segera keluar dari kamar. Tapi tanpa di duga, ternyata Zea menutup pintu kamar dari dalam,


"Tidur saja di luar!"


"Hahhh, yang benar sayang, di sini banyak nyamuk dan lagi tidak ada alas tidur, sofa itu terlalu sempit untuk kakiku yang panjang!"


"Ambil aja lagi spon tidur yang lama!"


Beruntung ia masih belum membuang spon tidur lama Zea,


"Baiklah, sekarang bagi aku selimut dong sayang!"


Zea pun kembali membuka pintu kamarnya dan melemparkan sebuah selimut untuk suaminya,


"Jangan harap ya aku semudah itu luluh!"


"Aku tahu!"


"Bagus!"


Zea kembali menutup pintu kamarnya, walaupun begitu tetap saja ia kepikiran dengan pria yang sekarang sudah berstatus sebagai suaminya itu.


"Nyaman juga tempat tidur baru ini!" ia menepuk-nepuk tempat tidur baru yang lebih empuk,


"Aku keterlaluan nggak ya sama dia?"


Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, "Nggak, nggak! Sekali-kali dia juga perlu di kasih pelajaran!"


"Tapi kalau dia di gigit nyamuk gimana? Di luar kan nggak ada kipas angin!?"


"Tapi kan aku belum siap berada dalam satu kamar dengan dia, lagi pula hubungan kita juga belum jelas, dia juga tidak berniat kan mendaftarkan pernikahan kami ke kantor catatan sipil!"


"Gimana kalau ternyata dia sudah punya istri, apalagi anak?"


Tiba-tiba kesan menjadi pelakor kembali muncul dalam benaknya,


"Nggak, nggak!"

__ADS_1


Sepanjang malam Zea malah tidak bisa tidur, ia sudah membayangkan bagaimana nasib kedepannya.


...***...


Zea terus menetap Rangga yang tengah sibuk menyantap sarapannya. Ia masih kepikiran dengan apa yang ia pikirkan semalam.


"Kenapa menatapku seperti itu? Aku begitu tampan ya? Aku tahu itu!"


"Lupakan!" Zea masih belum yakin dengan apa yang ia pikirkan saat ini, ia lebih memilih mengabaikannya dan melanjutkan makannya.


"Mau sampai kapan kamu di sini?"


"Sampai kamu mau aku ajak tinggal di apartemen dan membiarkan aku yang bekerja!"


"Hehhhhh!"


"Kamu nggak percaya? Nanti akhir bulan aku akan mendaftarkan pernikahan kita ke kantor catatan sipil!"


"Nggak perlu!"


Seperti biasa, kini mereka menikmati berangkat dan pulang bersama dengan jalan kaki.


"Mobil kamu ke mana?"


"Aku taruh di kantor!"


"Kenapa? Kamu memerlukan mobil kan?"


"Jangan mulai deh!"


Rangga segera membantu Zea untuk membuka toko sebelum berangkat kerja.


"Kamu tidak perlu melakukan ini, jas dan kemejamu sungguh tidak cocok dengan pekerjaan ini!"


"Kenapa harus meributkan jas dan kemeja! Masuklah dan jangan lupa bekal makan siangnya di makan!"


"Hmm!"


"Sampai jumpa nanti malam!" seperti biasa Rangga tidak pernah pula memberikan kecupan di kening Zea dan berlalu masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan.


Tanpa mereka sadari di seberang jalan ada yang sedang mengawasi mereka.


"Kamu pikir sudah menang dengan melakukan hal itu, aku tidak terima!"


Wanita itu segara turun dari mobilnya setelah taksi yang di tumpangi Rangga berlalu.


Zea sedang memulai kegiatan paginya dengan menata beberapa barang yang berantakan di rak hingga ia mendengar suara pintu di buka.


Zea dengan cepat menghampiri,


"Selamat da_!" ucapannya terputus saat melihat siapa yang datang, hanya dengan sekali bertemu ia sudah hafal siapa orang yang berdiri di depannya itu.


"Ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


Bukan menjawab pertanyaan Zea, wanita itu berjalan mendekati Zea. Ia menatap Zea dari atas hingga ke bawah.


"Tidak ada yang istimewa dari kamu, berapa harga tubuhmu dalam satu malam?"


"Maaf mbak, saya tidak kenal dengan anda, jadi jangan membuat masalah di sini!"


"Begitukah? Tapi sayangnya saya begitu mengenal siapa kamu!"


"Saya tidak peduli, jika anda di sini ingin berbelanja silahkan tapi jika hanya ingin mencari masalah, lebih baik anda pergi, atau perlu saya panggilkan satpam untuk mengusir anda dari sini!?" ancam Zea. Tapi sepertinya ancaman Zea tidak mempan untuk wanita itu.


"Tidak perlu, saya juga tidak akan lama di sini, terlalu lama sama wanita rendahan sepertimu, takut aja jadi ketularan!"


"Baguslah, jadi lebih cepat pergi akan lebih baik!"


"Saya akan pergi setelah mengungkap fakta mencengangkan ini, Zea, siapa ya nama panjangnya? Aku rasa tidak penting. Yang terpenting adalah Zea adalah bayi yang telah di buang kedua orang tuanya di panti asuhan, bahkan kedua orang tuamu saja tidak menginginkanmu jadi jangan sok jadi orang!"


"Cukup ya!?" Zea sudah mulai terpancing emosinya.


Miska tersenyum licik terhadapnya, "Eits ...., tunggu! Zea adalah wanita yang bahkan di tinggal menikah oleh cinta pertamanya, dan saat ini sedang melakukan persembunyian dari kasusnya menjadi pelakor, bahkan orang yang sangat bertanggung jawab atas peristiwa menyedihkan itu!"


"Apa yang kamu mau dariku?"


"Nah saya suka kalau kamu mulai cerdas begini! Bagaimana ya kalau kemudian kamu menjadi penyebab Rangga kehilangan pekejaannya jika hubungan kalian sampai di ketahui oleh atasan Rangga! Kamu tahu kan siapa atasan Rangga?"


Kini Zea baru menyadari semuanya, ia bahkan sebelumnya tidak pernah berpikir tentang hal itu. Melihat Zea tidak menanggapi ucapannya lagi, Miska merasa menang. Ia merasa sudah berhasil mempengaruhi Zea.


"Jadi lepaskan Rangga jika kamu mau Rangga tidak kehilangan pekerjaannya!"


Miska pun meninggalkan zea. Zea masih tertegun di tempatnya, kakinya bahkan terasa tidak mempu menopang berat tubuhnya lagi. Ia menjatuhkan tubuhnya begitu saja di lantai, air mata yang sedari tadi ia tahan seakan tertumpah begitu saja.


Rasanya baru beberapa menit yang lalu ia akan memutuskan untuk memberi kesempatan pada Rangga memulai semuanya tapi semua yang baru saja ia pikirkan itu hilang sudah.


"Apa aku memang tidak pantas bahagia, apa aku memiliki kesalahan besar di masa lalu?"


Zea selalu menyalahkan apapun yang terjadi pada dirinya dan orang-orang yang berada di sekitarnya adalah kesalahannya.


Jika saja, seandainya saja, mungkin jika. Kata-kata itu yang selalu muncul untuk menyudutkan dirinya sendiri.


"Aku harus apa sekarang?"


Tangisnya segera terhenti ketika pelanggan datang, dengan cepat ia menghapus air matanya dan memaksakan bibirnya tersenyum.


Kebiasaan membohongi dirinya sendiri seperti sudah melekat dalam hidupnya, ia bahkan bisa tersenyum dalam tangis.


Bergabung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2